
Setelah, Jae-hoo si angin Joseon itu pergi? Wirasti mencoba sedemikian rupa berupaya mengatasi keadaan perasaannya. Yep, yang jelas dirinya hampir berhari-hari merasa letih kehilangan si empunya mata sipit.
Mencoba, move onkah? "Hei? Move on apaan? emang dia siapaku?" sungut Wirasti, karuan gusar sendiri. Tentu saja merasa kesentil, tidak terima dikatakan move on.
"Elo bilang move on tuh kalau posisiku di pihak yang ditinggalkan oleh kekasih, gitu! laah aku kan enggak?" sangkal Wirasti, karena merasa dirinya bukan kekasih Jae-hoo!
Posisi dirinya? toh tetap utuh. Sepenuhnya Wirasti yang tidak dislokasi, tidak tengah dimiliki seseorang, tidak sedang menjalin dan terjalin, tidak? tidak? tidak semuanya.
Semuanya, aman! kondusif, terkendali. Mana bisa dirinya dituding seolah tengah, move on misalnya. Yah, jelas yang namanya Wirasti sontak meradang.
"Noted!" tekan Wirasti, seakan meminta dicatat apa yang ingin ia utarakan.
"Catat dah, Jae-hoo hanya kawan baik! perkara hal lain yang timbul akibat pertemanan tanpa batas ... "
"Heh, nona? kok penjelasanmu ambigu gitu sih?"
Wirasti langsung kena protes atas kalimat terakhirnya tersebut, huuu!
"Heh, kan kalimatku belum selesai kenapa langsung elo cut?"
Hah, bukan? jangan cari gara-gara dah. Nada bicara Wirasti sudah mulai kedengaran naik sekian oktaf, alamat tuh? bisa-bisa dirujak. Mengingat betapa galak bukan main si macan betina, eh!
"Aku juga bilang apa, huft? pertemanan tanpa batas yang kumaksud konotasinya tuh aku sama Jae-hoo sekalipun tersekat beda alam, gitu maksudnya!"
"Ohh?"
"Huft, sudah ke sana kemari mikirnya? dasar otak udang! kotor 'mulu yang ada di kepala, iya kan?"
Aduh, alamak? langsung kesemprot, "Otak udang segala?"
Wirasti memang begitu, mudah meledak seperti bom molotov, eh!
Jae-hoo si angin Joseon pun agaknya telah pergi, entah? terawangan Wirasti lewat penglihatan mata batinnya menyisir tempat parallelnya juga tidak nampak. Raib, tidak diketahui rimbanya?
Tinggallah Wirasti berteman sepi, eh? sepi-sepi saja kelihatannya. Namun, jika diteliti lebih seksama? andai setiap orang memiliki mata batin yang sama tajamnya.
"Kata siapa sepi?" tantang Wirasti, dari melek sampai mau merem lagi tidak ada sepi-sepinya. Mahfum, kan? rumah dan sekeliling tempat tinggal keluarga Wirasti juga apa?
Secara awam, dengan pandangan mata biasa memang lingkungan sekitar rumahnya nyaman, tenang dan lengang. Tetapi di balik semua itu?
Kavling lahan atau tanah yang masih kosong, dibiarkan hanya ditanami beberapa tanaman keras berupa pepohonan bahkan rumpun seperti hutan bambu. Selebihnya berpetak-petak untuk areal sawah terutama persis seberang depan rumah, karena menyerupai jurang landai maka dibuat terasiring untuk tanam padi dan sebagian petak berupa kebun sayuran.
Nah, yang rawan lahan di balik benteng areal pemukiman. Benteng tinggi tersebut demi sebagai pembatas antara wilayah tanah kavling sebagian sudah dimiliki orang dan lahan di balik tembok tinggi tersebut berupa, lahan kuburan umum!
Rawan bukan secara terlihat fisik kasatmata, tetapi secara metafisik!
Dari sanalah? yah, masuk akal dong! "Tahayul?"
Ck, suka-suka mau memberi label apapun. Mereka yang hanya bisa bilang tahayul, menurut Wirasti mereka yang serba rasionalis. Sebaliknya yang tahu persis bagaimana sesuatu karena pengalaman mistis, batasan rasional dan irasional menjadi kian terkikis.
Tanah pemakaman umum apalagi di bawah keteduhan pohon beringin ada tiga pohon besar di sana, merupakan lokasi wingit nyaris dihindari siapapun.
Klop, sudah! kesan angker yang terpola dalam pikiran tiap orang. Bahkan, seakan adanya arus bolak balik aura negatif pun berseliweran. Wirasti dengan kemampuan ekstranya hanya perlu terbawa arus bukan melawan arus.
__ADS_1
Sekalipun begitu sekuat kemampuannya berusaha sebagai Avatar, si pengendali api dan air? kali ini dirinya sang avatar pengendali aura negatif yang melingkupi rumah tinggal dan sekitarnya.
Menelusur historis rumah tinggalnya, sedikit banyak membuat Wirasti berusaha tidak mudah kaget!
Terlebih dalam pikiran Wirasti terbesit dugaan menguat, bahwa tempat tinggal keluarganya memang sinergis dengan hawa dan energi di sekitarnya.
Mustahil sebuah rumah zonder atau tanpa dugaan mistis, bagi yang mampu merasakan secara mata batin. Rumah tinggal keluarga Wirasti telah memenuhi syarat atas dugaan itu!
Shitt!
"Jangan bilang baru dugaan,"
Beberapa gangguan tehnis telah gencar mengusiknya, sejak sebelum ditempati hingga secara permanen sekeluarga menempati eks rumah kosong terbengkalai tersebut.
"Nggak akan percaya bagaimana?" papar Wirasti, tidak sekadar main tunjuk. Tetapi semua itu real ia rasakan dan ia alami.
Gangguan itu tidak menimpa keluarganya yang lain, melainkan hanya tertuju padanya. "Sial, mereka telah mendeteksi siapa yang bisa terkoneksi dan siapa yang tidak!"
"Elo tuh jadi orang pilihan," celetuk asal, bikin Wirasti bibirnya maju satu centi!
Alhasil? Wirasti tidak perlu risau, bukan?
"Maksudnya tuh apa?"
"Biarpun elo sendirian misalnya, tinggal di rumahmu sekarang berasa banyak teman. Iya, kan?"
"Teman?"
"Iya tuh!"
"Elo tuh gulanya,"
Tabok jidat dah, mending gula dikerubuti semut. Laah, Wirasti? ada saja yang menyeruak dari yang mulai intip-intip, menakut-nakuti, berkelibat, nongol langsung bahkan terlibat obrolan dan sebagainya. Seru, bukan?
Sepanjang pengalamannya menetap di rumah tinggalnya tersebut, Wirasti merasa sudah kenyang dijejali bermacam polah tingkah mereka.
Larut malam? bukan sekadar simphoni alam yang seperti suara kodok atau krik, krik, krik di seputar rumah tinggalnya. Atau, suara seakan jeritan merintih-rintih dari kejauhan?
Sial! Wirasti pun sempat terkecoh. Suara jeritan tersebut? kata sementara orang, dianggapnya entitas yang suka kelayapan sambil menakut-nakuti orang. Ah, nonsens?
Huft, siapa sangka? kenapa tidak ada azas praduga. Main tunjuk bahwa suara-suara yang bikin merinding, tidak lain dan tidak bukan?
"Ishh, suara-suara binatang luwak berkeliaran di malam hari!" jelas Wirasti, terbahak!
Konon ada yang bilang suara ribut mereka kedengaran dari arah jauh di luar benteng, tidak lain kawanan luwak binatang yang menjadi icon kopi hingga dikenal sebagai kopi bercitarasa spesial tersebut umumnya sedang musim kawin.
Sial, suara kawanan luwak tersebut mengecoh siapapun yang mendengarnya!
"Bodoh amat sih!"
"Nggak cek ricek lebih dulu,"
"Ck, terkecoh tuh!"
__ADS_1
Tetapi, kalau merambah ke yang lain? saat bagaimana teror demi teror teralami olehnya sendiri. Merasa seolah berjibaku sendiri, terintimidasi, was was tiada bertepi?
"Nggak serem tuh?"
Wirasti langsung meringis. Rasa semacam itu? " Normal, ahh!" ungkapnya. Barangkali orang lain akan tidak normal kalau tidak merasakan merinding, takut dan sebagainya.
Pada akhirnya? karena biasa menghadapi hal-hal ganjil, atau kadang merasa ke-distract. Tetapi semua itu tidak berlanjut berjilid-jilid. Justru Wirasti mengantisipasi agar dirinya tidak bertekuk lutut terhadap energi apapun yang mengerubutinya.
Mulai dari gangguan kecil tatkala dirinya mulai berpijak, kemudian menetap di rumah itu dan semua yang teralami olehnya satu persatu dihadapi Wirasti tanpa gentar, yah bisakah?
"Hem, mau nggak mau ya harus bisa ... " ujarnya tanpa maksud sok!
Dari mulai kemunculan fase vortex untuk pertama kalinya, sang nenek tua tak ubahnya dialah dedengkot. Mulanya keder juga harus berhadap-hadapan dengan mereka, tetapi semakin kerap diperlihatkan beberapa kemunculan semakin membuat Wirasti terbiasa dan kebal.
Menghadapi suatu yang gaib, meski baru bagian kecilnya. Wirasti mulai mencoba mengadaptasi diri, mencoba memahami mereka tanpa harus memusuhi.
"Biarkan toh mereka juga berhak punya space masing-masing, asal tanpa mengganggu secara berlebihan sih!" terang Wirasti, mahfum.
Ulah, atau tingkah mereka di mata Wirasti masih katagori wajar. Kalau hanya suara-suara, berkelibat sat set tidak secara terang-terangan menampakkan diri, atau seperti tiba-tiba ada yang ikut-ikutan tidur di pembaringannya, atau yang mulai intensitasnya meningkat terobosan mereka terkoneksi menghampirinya kemudian mode curhat atau curcol!
"Kalau yang terakhir, itu yang mulai mereka lakukan ... " terang Wirasti, memberi gambaran rinci bagaimana entitas dalam bentuk miss K tersebut menyampaikan keluh kesah, sedih dan sesalnya, dan memberi visual latar dirinya mengalami kematian yang mengenaskan.
Wirasti tahu semua itu sebetulnya residu-residu, atau energi mereka yang masih tersisa di masa lalu. Namun kebanyakan mereka yang menghampiri dirinya dalam bentuk entitas miss K rata-rata sekadar numpang lewat, "Logislah, depan rumah dan sekitar rumahku masih bulak!" lontar Wirasti bukan asal, karena realitasnya istilah bulak yang dicomotnya tersebut menunjukkan area bukan hunian manusia melainkan sepanjang mata memandang hanya terlihat kebun, sawah dan lereng tepi jurang di bawahnya seperti ceruk dengan sungai mengalir.
Kalau hanya mahluk tak kasatmata semacam miss K umumnya memang suka berkeliaran di area lokasi seperti itu, bukankah sempat Wirasti menginterograsi. "Ngapain kamu ke sini?"
Jawabnya enteng, "Ameung ... " itu ungkapan bahasa setempat, mengingat domisili Wirasti di tatar pasundan. Kata ameung artinya main.
Woahh?
Bukan hanya bangsa kita yang kasatmata menghilangkan boring, jenuh, suntuk dengan refresh, healing, kongkow dan sebagainya. Mereka juga melakukan hal yang sama tuh!
Dalam pandangan Wirasti mereka yang orisinil dari suatu refleksitas adanya residu-residu, atau energi masa lalu. Biasanya menempati suatu lokasi tertentu, misalnya bekas atau eks berupa TKP tempat kejadian perkara dengan catatan suatu tragedi, insiden-insiden mengerikan, miris, serem, merinding? hingga menimbulkan terpicunya sesuatu di lokasi itu.
"Di area rumah elo?"
"Huft, sudah tahu kok nanya?"
Eits tidak perlu dipertanyakan lagi, bukan? sudah jelas bahwa areal tempat tinggal Wirasti dan sekitarnya jika ditarik secara garis lurus ya memang satu lingkup dengan lahan di luar benteng, simpan dah rasa kaget secara tiba-tiba, what misalnya?
"Tempat tinggalku lebih dari suatu, TKP!" begitu Wirasti berkata tandas tuntas!
Hahh? lalu, apa dong? jika definisi residual adalah sisa-sisa energi masa lalu, sepenuhnya itu betul. Jika rumah tinggal Wirasti adalah lokasi suatu TKP, yah tidak salah! lantas apanya yang salah?
"Yang salah, eh si error jelas manusianya!" tuding Wirasti, tidak asal!
Kenapa tudingan Wirasti tidak asal? sesuatu yang awalnya musykil, seolah satu persoalan pelik belum terpecahkan. Toh, lama kelamaan?
Siapa sangka, bukan? kecurigaan Wirasti mulai mengandung suatu kebenaran. Tidak harus mengerahkan segenap kemampuan ekstranya, secara nalar saja sudah bisa dipastikan.
"Tarik garis lurus dari arah lokasi atau areal kuburan di balik benteng atau tembok setinggi dua meteran lebih tersebut,"
Mata awam pun tahu, tidak harus berkemampuan penglihatan seekstra Wirasti dah! bahwa historis daerah tersebut memang bekas lokasi kuburan besar di masanya.
__ADS_1
"Termasuk sebagai, buangan korban orang-orang zaman belanda hingga jepang!" terawang Wirasti, akhirnya mau tidak mau mengerahkan kemampuannya.
Nah, lho? bagaimana tidak merasa kerap kesepian? "Nggak akan," timpal Wirasti. Karena hampir sepanjang hari jika mengacu difinisi residual yang ada di intern rumahnya saja, sudah ngap dah! tetapi Wirasti pun punya cara mengatasi tiap keadaan. Alone but never lonely, hem?