Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Sang serdadu Nippon


__ADS_3

Wirasti mengangguk, setengah ragu? dalam pikirannya mulai tergerak memprediksi bahwa akan ada atau terjadi suatu kelanjutan sejak dirinya kedistract sang oppa serdadu?


Sang oppa serdadu? well, amat konyol rasanya membuat sebutan agak ngawur begitu. "Elo, Wir? Antara Japan dan Korea elo blend macam es campur ajee lo!"


Wirasti meringis, sadar kalau sebutan oppa asalnya dari Korea, "Kenapa nggak pakai onii-san?"


"Nggak ah!"


Menurut Wirasti sebutan oppa jauh lebih populer dibanding onii-san sekalipun sebetulnya melekat sebagai satu sebutan terhadap laki-laki yang memiliki hubungan dekat, akrab dan sebagai bentuk kekeluargaan. Orisinilnya memang begitu dari kultur asalnya!


"Sebutan oppa kok lebih familiar ya, si mata sipit lebih mengingatkan pada si oppa-oppa dari Korea, iya kan? laah pasti konotasinya dari negeri ginseng tuh. Jadi tahunya ya si oppa-oppa saja!" timpal Wirasti, memberi alasan ketika menolak mencomot istilah onii-san.


Astaga, tabok jidat dah! "Hei, nona? tetapi jangan karena sentimen negatif kronis ya, akibat konflik historis di masa lampau, ups!"


Karuan Wirasti mendelik? "Jij, mencoba memancing emosiku?" celetuk Wirasti.


Di rongga kepala Wirasti memang kerap mendidih? meluap? atau emosi meletup-letup tiap kali penelusuran suatu historis mencapai level tertentu, contohnya ketika dirinya mencermati beragam referensi. Alih-alih berniat menggali sejarah lampau, tetapi Wirasti yang pecinta hal-hal berbau historis tersebut berasa kena mental!


Makjleb, begitu rasanya?


Yup, tiap kali mencermati, menyimak, menelusuri dari inci ke inci? terkait imperialis, kolonialis, berikut imbas yang menorehkan guratan pedih bagi bangsa ini. Wirasti pun sering meradang sendiri!


Lalu, apa hubungannya dengan si oppa serdadu tadi? "Heh, kenapa seolah ada kesan sinisme?"


Wirasti kaget, namun buru-buru menutupi dengan senyum tipisnya. Hih, itu sih senyum liciknya, karena menyembunyikan senyum yang sebenarnya.


Kata Wirasti, "Kita lihat saja nanti. Serdadu Dai Nippon tersebut ngapain memvisualkan diri?"


"Suatu yang musykil tiba-tiba muncul jika tanpa maksud, kecuali kalau niatnya sekadar lewat atau untuk menakut-nakuti itu lain perkara!" terang Wirasti sepintas menandaskan, dan seolah menggarisbawahi satu hal yang fenomenal terkait pemunculan astralis seperti si tuan belanda, de jongen army, dan terakhir oppa serdadu Nippon.


Ketiga entitas tersebut bagi Wirasti sungguh istimewa, mengingat cara mereka datang padanya 'bak kisah yang beruntun. Anehnya kisah mereka berkesinambungan, hingga Wirasti seakan begitu mudahnya mengikuti kisah ketiganya.


Tentang si tuan belanda dan de jongen army meski telah sama-sama berlalu, tetapi Wirasti merasa impresi yang diberikan oleh keduanya masih lekat-lekat dalam ingatannya.


"Seperti si tuan belanda tempo hari, atau sang de jongen army? mereka memberi memori, menunjukkan padaku tentang kehidupan mereka sebelumnya!" ujar Wirasti.


"Itulah gambaran mereka di masa lalu, yah lewat memori yang sampai padaku!" imbuhnya.

__ADS_1


Selanjutnya bagaimana tentang pria muda usia sekitar 25 tahunan itu? jika laki-laki sebelumnya seperti si tuan belanda kemudian menyusul de jongen army keduanya terlebih dulu terkoneksi dengan Wirasti, memori keduanya sempat memberi gambaran utuh tentang diri mereka masing-masing. Kini giliran seorang tentara Dai Nippon, julukan yang diberikan Wirasti yakni si oppa. Yah, si oppa serdadu begitu Wirasti memberinya sebutan.


Si oppa serdadu mulai caper-caper? yang jelas memori tentara Dai Nippon itu datang menyeruak, nyaris serupa dengan sebelumnya. Seperti puzzle atau kepingan kisahnya seakan minta dicermati olehnya?


"Sebetulnya sih melelahkan mengikuti mereka!" keluh Wirasti, namun Wirasti sadar. "Mana bisa mengelak, bukan?" ujarnya kemudian.


Intuisi tajam Wirasti mencermati si oppa serdadu mulai detil, bukan hanya gerak geriknya menyita perhatiannya tetapi lebih jauh Wirasti mengarahkan radar gaibnya agar maksimal memindai tiap memori si oppa yang sampai padanya.


"Aku perlu tahu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan ... " tuturnya, karena mustahil jika suatu entitas melancarkan aksi dengan mulai membuka satu portal untuknya tanpa sedikitpun maksud!


Seperti pengalaman sebelumnya, Wirasti biasanya tinggal mengikuti apa kemauannya? dengan sendirinya akan mengarah pada satu maksud lewat konektivitas berkelanjutan hingga nanti ketahuan apa maunya.


"Biasanya sih begitu!" tandas Wirasti.


Pada kesempatan yang lain? Wirasti seakan didamparkan pada satu tempat? ugh, itu sebuah lokasi? tetapi, entah di mana? vibesnya asing. Begitu kesan Wirasti pertama kali berada di satu tempat yang membuatnya sempat kebingungan.


"Psstt, shitt? kenapa aku harus di sini? andai bisa memilih lokasi?" lontarnya, langkahnya terayun ringan namun masih ada keraguan di sudut hatinya.


Wirasti seperti diarahkan memasuki suatu pemukiman dengan melewati jalanan berupa lorong namun di kiri kanan jalan dipenuhi rumah warga,"Ini? seperti suatu perkampungan tapi di mana?" tebaknya, dipenuhi tanya.


Wirasti pun sempat tersentak ketika mulai memindai satu demi satu apapun yang ia temui di sana, hingga langkah kakinya sampai di depan sebuah rumah? sekilas bentuk bangunan rumah setelah dari jarak dekat terlihat jelas olehnya.


Memori si oppalah yang mengarahkan ke sebuah rumah tersebut tanpa repot-repot layaknya orang asing masuk teritori orang lain.


Tanpa cakap, berarti dalam kebisuan? Wirasti menyelinap masuk setelah mendorong sebuah pintu utama pelan-pelan.


Pemandangan di dalam rumah kecil tersebut, mencengangkan?


"Dii ... dii-a? siapa?"


Pandangan Wirasti langsung terantuk pada anak perempuan yang tengah tergolek pada sebuah ranjang tua dan sudah kusam catnya.


Seorang perempuan sudah tua nampak menungguinya, pakaian mereka amat jadul dan berciri khas? langsung ingatan Wirasti tidak perlu menebak-nebak lagi. "Bukankah perempuan tua dan anak kecil itu?" ujar Wirasti, memastikan sekali lagi bahwa dirinya tengah didamparkan pada lingkup dan suasana di salah satu lokasi entah desa, pinggiran kota kecil? di negeri matahari terbit.


Lantas, yang ada di kepala Wirasti? seperti satu sinyal masuk dan bagai aktivitas telepati? karena Wirasti langsung begitu paham pada keadaan yang tengah dihadapi.


Impresi yang sampai padanya? "Oh, itu saudara perempuan satu-satunya yang dimilikinya. Iya, si anak kecil itu!"

__ADS_1


Rupanya si oppa ingin menyampaikan sesuatu? bahwa adik kecilnya itu telah ia tinggalkan ketika dirinya mulai tergabung sebagai anggota korps militer negerinya yang kemudian diterjunkan di medan Asia Pasifik tepatnya menduduki wilayah bumi pertiwi.


"Huft, sinkron juga dengan sejarah pendudukan militer Jepang ... " celetuk Wirasti, karena tiba-tiba dirinya mengkaitkan dengan konflik historis zaman itu!


Lalu, si oppa serdadu tersebut? setelah impresinya tentang dirinya eksis sebagai tentara Dai Nippon, terkait adik kecilnya tersebut apa yang terjadi?


Penelusuran virtual Wirasti pun alurnya step by step memaparkan satu kesan menyedihkan, "Adiknya yang terbaring sakit itu akhirnya meninggal," tunjuk Wirasti.


Dari penelusuran berikutnya nampak begitu besar rasa kehilangannya terhadap adik perempuan satu-satunya, " Kono sekai ni watashi wa daremoinai," ucapnya, pilu. Wirasti langsung merasa iba sekali karena ia sempat melihat dengan mata kepala sendiri, sosok anak kecil yang sedang sakit keras.


"Nintaidzuyoi ... " hibur Wirasti memintanya, yang sabar ya.


Wirasti tahu, pasti rasanya berat sekali ketika menghadapi realitas bahwa saudara satu-satunya yang dia miliki telah tiada.


"Oh, pantesan dia kadang terlihat amat cool!" pikir Wirasti, ternyata benang merahnya sedramatis itu? Di saat dirinya diberangkatkan ke front? tidak terbayangkan beratnya derita yang ditanggung olehnya harus kehilangan seorang adik yang sangat dicintainya.


Apakah deritanya lantas terhenti sampai di situ? oh, tidak!


Berikutnya penelusuran Wirasti masih lanjut! beralih alam seperti biasanya lewat akses teleportasi itulah Wirasti didamparkan kembali ke sudut kota kecil, tetapi? Ketika guncangan dahsyat terjadi!


"Hei, gempa!"


Guncangan itu begitu kuatnya, entah berapa skala righter? karuan saja Wirasti begitu paniknya. Sempat berlarian menuju tempat terbuka diantara lalu lalang orang sekitarnya, semua orang teriak-teriak panik!


Berkali-kali Wirasti komat-kamit ber-istighfar, meski alam bawah sadarnya mengingatkan bahwa dirinya tidak real berada di sana kala itu!


"Hei, nona? keep calm, ini hanya semacam ilusi. Kamu hanya berada di alam yang tidak benar-benar nyata, ok?"


Wirasti masih tidak percaya, karena semua yang ia alami terasa amat nyata!


Sekian detik kemudian semuanya mereda, barulah Wirasti merasa perasaannya tenang kembali. Tetapi, satu hal yang membuatnya seketika amat sedih?


Visual yang nampak tidak jauh darinya? entah, bagaimana dirinya memulai menghitung berapa jumlah orang yang menjadi korban? ya, akibat gempa! Wirasti tahu kala itu, tehnologi belum secanggih sekarang. Era dulu warga atau masyarakat masih terlalu lugu dan amat awam hingga belum sepenuhnya bersentuhan dengan suatu kemajuan tehnologi. Bahkan peringatan terjadinya gempa lebih-lebih jika terjadi tzunami untuk sebuah negara yang rawan gempa? seakan masih jauh dari harapan.


Sosok perempuan tergeletak di muka sebuah rumah, Wirasti merangsek menghampirinya. Agak panik begitu tahu denyut nadi perempuan muda itu? tidak ada samasekali!


"Innalillahi ..." bisik Wirasti, belum sempat melakukan sesuatupun untuk sekadar menolongnya? gempa susulan pun kembali mengguncang.

__ADS_1


Segalanya kembali, kacau! Wirasti masih sempat berlarian mencari tempat paling aman sambil terus berpikir? kenapa dirinya didamparkan pada situasi terjadi gempa? kenapa? ada apa sebenarnya? seketika ingatannya kembali pada sosok perempuan yang tergeletak depan rumahnya tadi, iya dia itu siapa? pikiran Wirasti makin kalut sementara dirinya harus menyelamatkan diri dari lokasi bencana?


__ADS_2