Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Obyek Penderita


__ADS_3

Bukan salah fokus, tetapi Wirasti nyaris terlambat menyadari. Ketika visual itu selalu mencoba mengusiknya, dengan dalih ndusel saat dirinya ancang-ancang berangkat tidur? tengah bersiap mengatupkan kelopak mata? shitt, tahu-tahu yaitu tadi? ada yang serta merta menggeser posisinya dari balik punggungnya!


Dia? tanpa permisi, sumpah sempat membuatnya kaget setengah mati.


Posisi dirinya menghadap tembok ketika itu, tahu-tahu terasa ada yang usel-usel di balik punggungnya. "Itu, terasa sekali ... " desis Wirasti tak senang!


Bukan Wirasti kalau tidak bisa merasakan secara mata batin, "Siapa dia?" pikirnya, sambil terus menajamkan penglihatan ekstranya.


Dia akan terlihat jelas? dalam arti agak samar karena mustahil fisik suatu entitas biasanya hanya berupa bayangan, tersamar, atau virtual semacam itu tidak akan berlangsung lama tergantung power energi yang menyertainya.


Yep durasi singkatnya tergantung dari seberapa kuat energi yang menyertainya, atau tak jarang suatu energi yang terambil dari sekelilingnya. Biasanya memang begitu!


"Hem, dia tidak cukup kuat memiliki power ... " gumam Wirasti, terbukti begitu terasa ndusel di balik punggungnya perlahan raib!


Temponya terlampau singkat, tetapi memang begitulah aktivitas tak kasatmata jika ingin mengusik dengan atau tidak memperlihatkan secara visual namun cukup dengan hanya memberi impressi.


Oh-ho kesan itu pun akan terasa sekali olehnya dan seakan, nyata!


Gokil? ah, bukan gokil lagi tuh! "Merinding, tahu!" tukas Wirasti langsung, manyun!


"Heh, nona! bibir jangan mecucu, gitu! nggak bisa balik ke posisi semula tahu rasa tuh!"


Wirasti tidak bereaksi kecuali hanya mencebik, bukan masalah karena gestur dirinya sudah pasang muka not good loking dengan bibir terlanjur mecucu begitu.


Wirasti sedang kepikiran visual dengan satu rangkaian kisah pilu tentang sang junfun ianfu, tetapi kemudian menautkan dengan yang pernah dialami pada suatu malam?


"Itu, diakah?"


"Sedramatis itukah hingga menjadi satu entitas,"


"Ah, sayang malah berupa ghost lokal yang paling tidak kusukai selain satu lagi, si poci tuuu ..." decit Wirasti, karena dua ghost lokal itulah yang biasanya paling viral, eh familiar!


"Miss K dan poci, huh!" dengus Wirasti sebal bukan main, terbayang keduanya jika sok menakut-nakuti orang? rasanya sudah biasa dan bukan rahasia lagi.


"Kurasa populasi dua entitas tersebut benar-benar overloads!" cibir Wirasti, dengan mencermati keadaan terkini seakan begitu gampangnya menjumpai atau memergoki mereka, dua spesies tersebut berseliweran di sekitarnya!


Tumbuh dan dibesarkan dengan latar ruang hidup pinggiran kota kecil, sudah jelas sekian persen hidupnya diliputi kultur amat kental seputar hal-hal mistis, mau tidak mau, percaya tidak percaya?

__ADS_1


"Wir, sumpah aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Di suatu malam aku harus mengalirkan irigasi kecil dari sawah ke arah kolam ikan dekat rumah. Sekitar rumahku tuh kebun bambu, di situ aku melihat perempuan bergaun putih kedodoran dengan rambut ... Hihh!" Fahri teman sekelasnya kala sama-sama di bangku SMP, dia paling getol berbagi cerita perihal mistis yang mengusiknya.


Neng Azizah beda lagi, dia teman sebangku di SMA. Sejak awal kenal ketika masa oreintasi Wirasti sudah mengendus sesuatu tentang temannya tersebut. Tidak meleset ternyata dia termasuk anak indihome, eh indigo!


"Yah, aku pernah mati suri. Itu sebabnya aku jadi bisa melihat yang tidak bisa dilihat orang lain!" akunya, Neng Azizah langsung berterus terang. Rupanya dia merasa nyaman berkawan dengannya, hingga sering curhat curcol!


"Emang bener ya jika orang mati suri lantas punya kelebihan begitu?" pikir Wirasti, namun sebagaimana lazimnya rata-rata mereka yang punya pengalaman mati suri konon mengalami hal serupa seperti teman SMAnya tersebut.


Ya, setidaknya aura batinnya menjadi terbuka. Intensitas kuat dan tidaknya memang tidak bisa dipukul rata, demikian yang kemudian ia tahu.


"Kamu pernah lihat apaan?" todong Wirasti tanpa tedeng aling-aling!


"Banyaklah, Wir!" sahutnya.


"Oh yaa? apaan tuh?" desak Wirasti, penasaran.


Neng Azizah pun nyerocoslah dengan beragam cerita dari A sampai Z, mulai dari pertama bisa melihat terjadi di skope rumahnya sendiri. "Ngeri ah, Wir! macam-macam penampakan mereka tuh, ada yang pincang, muka jelek menakutkan, ah serem ajaaa!" tutur teman sebangkunya di SMA ketika itu!


"Miss K dan poci?" ujar Wirasti, kalau dua spesies tersebut tidak asing atau tidak aneh lagi di kalangan teman-teman sekolahnya ketika itu.


"Sudah kukatakan tidak menutup kemungkinan dua spesies tersebut mengalami populasi fase eksplosif, perkembangbiakan dengan lonjakan tinggi tuh!" lagi-lagi Wirasti mencibir penuh arti!


"Sebetulnya sih nggak heran dengan pemunculan mereka di manapun, masyarakat sudah familiarlah dengan mereka. Laah ngapain takut segala, kan?" ujar Wirasti, sering mendengar desas desus bagaimana orang merasa tercekam atau dilanda ketakutan gara-gara pemunculan keduanya yang menyebalkan itu!


Tidak terkecuali, entitas yang main ndusel seenak udel! tanpa ba bi bu tanpa permisi, tahu-tahu sudah di belakang punggungnya? eh, tetapi dalam pantauan lebih lanjut nampaknya dia mulai beretika lho?


Terbukti? "Ikut rebahan di sini, boleh?" begitu katanya, karuan Wirasti terjengit tetapi segera menolak dengan bersungut-sungut meminta entitas itu segera pergi!


Setelah dipikir-pikir? itupun setelah jeda sekian, entah? sejak dirinya merasa diusel-usel punggungnya oleh di entitas menyebalkan tersebut. Yep, begitu Wirasti dengan mata kepala sendiri seolah sebagai saksi bisu atas insiden penyiksaan yang menimpa dia tersebut, barulah semuanya nyambung!


Langsung feel Wirasti tertuju padanya! "Kaukah itu?" Wirasti ingin melontar tanya seperti itu!


Rupanya kecurigaan Wirasti pun mulai atau hampir, terjawab?


Pada satu kesempatan yang lain? Wirasti melihat bagaimana dia setelah insiden penyiksaan atas dirinya berlaku, perempuan tersebut diseret-seret kemudian seperti memperlakukan pesakitan seperti seonggok benda tak berharga. Di depan sebuah lubang itulah jasad perempuan malang tersebut dilemparkan begitu saja bagai binatang?


Tak ayal kisah memilukan itupun menjadi sesuatu yang akhirnya menghantui sekitar lokasi 'bak ladang pembantaian, karena bukan hanya terhenti sampai di situ? meski jeda waktu insiden penyiksaan pun masih terus berlanjut di lokasi itu!

__ADS_1


Perempuan itu tidak pernah mengatakan apapun padanya, feel Wirasti memastikan bahwa seraut wajah duka yang pertama kali muncul di balik jendela? entah, perasaannya yakin itulah, dia?


Juga, tentang entitas miss K yang tahu-tahu menyelinap masuk ruang kamarnya larut malam lalu ia rasakan ikut ndusel di balik punggungnya, itu siapa?


Wirasti termangu!


"Aku merasa residu-residu tentang malapetaka itu, masih tertinggal semuanya di sini ... "


"Atau, bisa jadi mereka semua setelah mati berada dan terkubur di area ini?"


"Kalau tidak? kenapa bisa memberiku impressi tentang banyak hal tersebut?"


Lama Wirasti masih, termangu!


Memori entitas perempuan tersebut itulah yang telah banyak memberikan satu kontribusi, dengan begitu Wirasti menjadi tahu suatu kejadian miris pernah menimpa seorang perempuan jugun ianfu!


"Problem yang dihadapi pasti pelik," tebak Wirasti, mengingat dia hanya sekadar pemuas nafsu para serdadu di sebuah tangsi atau semacam kamp militer Dai Nippon.


Heran?


Wirasti menggeleng, namun dengan ketusnya ia berkata, "Bukan sangat disayangkan dia dijadikan jugun ianfu, sudah direndahkan martabatnya, kematiannya pun masih direndahkan seperti binatang ..." mengatakan seperti itu walau dengan nada ketus tidak bisa menutupi kekecewaannya sekaligus ikut merasa tersakiti.


"Maafkan aku," ucap Wirasti tersendat, mengingat kembali bagaimana dirinya memperlakukan dia larut malam itu?


"Aku mengusirnya," lirih Wirasti mengatakan itu!


"Iya, aku mengusirnya ..." ulangnya lagi.


Meski dia entitas berupa salah satu ghost lokal yang ia anggap spesies menyebalkan? "Umphh, benar juga kata pepatah? tak kenal maka tak sayang?"


Hei, astaga? oh, really? empati atas kemalangan yang menimpanya? meski dia seorang jugun ianfu?


"Kadang empati melunturkan segalanya, bukan?"


"Orang yang dianggap kotor atau terhina sekalipun? jika ketulusan hati tertoreh, apapun dan siapapun dia? akan mengikis antipati menjadi empati, bukan?" perasaan Wirasti seolah ingin menggugat atas ketidak perpihakkan hingga sering mereka yang bernasib nahas seperti kisah di balik nestapa sang jugun ianfu hingga ajal merenggutnya akibat siksaan yang tidak berperikemanusiaan itu terjadi.


Seberat apapun masalahnya? Wirasti bukan saja merasa sebagai sesama perempuan, tetapi lebih dari itu? ada sisi kelam dari rentetan konflik historis era penjajahan yang membuat dirinya selalu meradang tiap kali menemukan kasus-kasus memilukan!

__ADS_1


Sesak napas Wirasti tiap mengingatnya, namun satu hal yang kerap menjadi suatu ganjalan? why, kenapa, mengapa, tidak jarang ia temui satu kasus membuat suatu hal yang fenomenal adanya fase bertransformasi dari wujut biasa sebagaimana gambaran utuh sebelum meninggal, tetapi kemudian berubah bentuk contohnya seperti wujut entitas, miss K atau po ... poci, eh!


__ADS_2