Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Tak Cukup Sedih


__ADS_3

Segalanya kembali, kacau! Wirasti masih sempat berlarian mencari tempat paling aman sambil terus berpikir? kenapa dirinya didamparkan pada situasi terjadi gempa? kenapa? ada apa sebenarnya?


Seketika ingatannya kembali pada sosok perempuan yang tergeletak depan rumahnya tadi, iya dia itu siapa? pikiran Wirasti makin kalut sementara dirinya harus menyelamatkan diri dari lokasi bencana?


Sungguh, bukan hanya seperti mimpi buruk. Justru mimpi buruk itu seakan nyata!


Merasa tidak tenang, pikirannya masih tertuju pada menit-menit yang kian berlalu. "Kasihan perempuan itu," ucap Wirasti lirih. Sedari tadi rasanya berulang-ulang dirinya mengatakan seperti itu, ironisnya tanpa melakukan apapun.


"Aku tidak ada di zamannya kala itu!" imbuhnya menahan rasa sedih, dengan begitu?


Yah, itu bukan suatu alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Wirasti pun ingin sekali menepis bayangan menyedihkan tentang apa yang sempat ia lihat, memang bukan suatu insiden tetapi menjadi kisah dramatis detik-detik terjadinya gempa hingga merenggut nyawa seorang perempuan muda yang malang! dia tergeletak bukan tanpa daya melainkan? itu, sebuah jasad yang telah terbujur kaku diantara reruntuhan ketika terjadi bencana gempa dahsyat melanda wilayah tersebut.


Perasaan iba Wirasti terus mendistraksi, "Aneh?" pikirnya, yah? sedemikian aneh kenapa jasad perempuan malang itu masih melekat dalam ingatannya serta berputar-putar di kepalanya.


"Ada apa, ya?" bolak-balik Wirasti dicecar pertanyaan yang sama.


Barulah semua teka teki pelik itu mulai terungkap sedikit demi sedikit, ketika?


Muncul sang serdadu, iya si oppa! "Apa kaitannya?" ujar Wirasti amat penasaran.


"Jangan-jangan?" terkaan Wirasti tak berdasar namun feelnya seakan memberi satu kode, bahwa si oppa serdadu dan perempuan muda yang telah terbujur kaku tersebut ada suatu keterikatan meski belum jelas?


"A, anata wa?" sapa Wirasti menyembunyikan rasa terkejutnya karena tiba-tiba pria itu muncul begitu saja, oh kamu?


"Hai, mita koto ga arimasu ka?" ujarnya, ya kamu sudah lihat?


Ingatan Wirasti langsung tertuju pada situasi kacau akibat gempa yang melanda suatu wilayah di negeri sakura dan jasad mengenaskan yang sempat mendistraksi pikirannya. Tetapi bibir Wirasti begitu kelu ingin menanyakan sesuatu, aneh?


"Sore ga watashi ga keiken shite iru kanashimidesu," dia berkata-kata seperti itu tanpa diminta, kesedihan itu yang kualami.


"Jishin saigai ga atta koto wa shitte imasu ... " lirih ucap Wirasti mengimbangi kesedihannya yang terpancar dari raut mukanya, aku tahu telah terjadi bencana gempa.


"Oku no gisei-sha," lanjut Wirasti, suaranya parau karena rasa sedih itu menyergapnya!


"Kyokan shite kurete arigato," balasnya, terima kasih untuk empatimu.


Dialog antara dirinya dan pria yang selalu ingin dipanggilnya oppa serdadu tersebut berlangsung tidak terlalu lama namun diliputi perasaan sedih, empati Wirasti begitu mudah terulur? padahal sebetulnya merasa belum terlalu mengakrab.


"Untuk sebuah empati, nggak ada tuh istilah harus kenal dan mengenali terlebih dulu, kan?" desis Wirasti tak senang jika ketulusan hati dan empatinya dicampur adukkan dengan satu proses yang tengah bergulir misalnya.


"Empati ya empati sajalah! nggak usah pandang bulu dengan siapa?" terdengar Wirasti mulai ngedumel sendiri, meski bukan suatu protes? ganjalan atas tudingan semacam itu menimbulkan kontravensi secara kecil-kecilan.


Oh-ho? memori pria serdadu Dai Nippon itupun menggelinding tanpa diminta. Sebagaimana kisah lainnya ketika dirinya bersentuhan dengan alam astralis, impressi apapun akan mereaktifkan kemampuan ekstranya.


Memori sang oppa serdadu itupun memberinya panduan tentang kisahnya, kadang seperti telepati sempat sampai padanya. Dari situ Wirasti seolah diajak menelusur kepingan atau puzzle masa lampaunya!


"Aku jadi tahu sedikit kisahmu," batin Wirasti begitu dirinya seakan mendapat satu paparan memori sang oppa.

__ADS_1


"Hem yah menyerupai suatu film dokumenter? cuplikan video?"


"Yeah, nyaris seperti itulah!" ujar Wirasti, mencermati tiap puzzle kisah sang oppa terkait perjalanan hidupnya dengan memutuskan melarikan diri meninggalkan negerinya dengan bergabung sebagai anggota tentara Dai Nippon yang terjun ke kancah pertempuran Asia Pasifik PD II atau Perang Dunia II kala itu hingga sampai di Indonesia.


"Aku pecinta sejarah," aku Wirasti, sejak dirinya mulai minat terhadap koleksi buku-buku tebal milik ibunya note bene sang ibu punya basic pendidikan Sejarah dan seorang guru di sebuah SMA swasta di kota kecilnya.


Alasan seperti itu sudah menjadi satu pondasi baginya, sedari SMP minat besarnya terhadap hal-hal berbau sejarah cukup kental!


Lalu, sekarang dirinya dibenturkan pada sesuatu yang cenderung tak kasatmata namun terasa sekali reelnya. "Berasa bukan sesuatu yang virtual, sumpah!" ujar Wirasti dengan kemampuan ekstranya telah terkoneksi dengan hal-hal di luar nalar!


"Aku sadar, semua itu dari alam lain!" jelasnya.


"Pun mereka entitas semua!"


"Mereka rata-rata seperti, yah? curhatlah, curcol, semuanya memperjelas eksistensi masing-masing di masanya setelah kehidupan yang lain ... "


"Kurasa bukan halusinasi ya," sergah Wirasti, tiap kali dirinya malah kedistract sesuatu yang menyudutkan posisinya.


Kadang orang lain yang mungkin awam tidak mengerti dunia permistisan? belum tersentuh atau tidak samasekali berkecimpung serta memiliki suatu pemahaman atas banyak hal yang terjadi dari sisi lain keunikan fitrah yang diberikan pada manusia semi indigo, indigo maksimal dan mereka yang diberi kelebihan sedemikian tidak masuk akalnya ketika bersentuhan dengan metafisik.


"Mereka nggak paham," sesal Wirasti bilamana ada yang memandang sebelah mata.


"Pembelaanku yah karena aku sendiri mengalami sih!" sangkal Wirasti, rasanya ingin ******* kenyinyiran mereka yang menganggap sepele hingga terbentuk satu stigma miring di masyarakat terkait mereka yang berkemampuan ekstra tersebut.


Yep, alhasil? "Bodo amat," akhirnya Wirasti harus menunjukkan sikap. Memang tidak ekstrem tetapi sedari kecil menyadari dirinya berkemampuan aneh, Wirasti sudah pasang badan enggan membuka diri, hingga kesan dirinya introvert pun melekat kuat-kuat!


Berteleportasi secara diam-diam pun kerap menjadi suatu hal yang biasa setelah sebelum-sebelumnya merasa luar biasa. Pindah ke alam lain seperti ia rasakan dirinya, flip! iya sekejap mata seakan berada di satu vibes yang beda, dengan situasi atau keadaan yang bertolak belakang dengan alam reel!


"Menjumpai orang-orangnya pun sungguh beda,"


"So pastilah bukankah mereka telah sebagai, entitas?"


"Satu hal lagi, dari hari ke hari aku merasa lebih peka!"


"Yah, itu karena terlatih!"


"Iya, tepatnya terasah secara terus menerus tak ubahnya mata pisau!"


"Bagus, tidak tumpul lagi tuh!"


Wirasti merasa pada kasus semacam kisah si oppa serdadu, impressi yang ia dapat sedemikian clear. Clear ketika sang oppa memberinya satu puzzle memorinya, bagaimana dirinya memberi gambaran tentang adik perempuannya. Dari situ Wirasti bisa menarik satu kesimpulan akan kebermaknaan sebuah hubungan atau pertalian darah antara sang oppa dengan saudara perempuannya. Anak perempuan itu meninggal dalam kepapaan, latar keluarga sang oppa hidup di bawah garis kemiskinan di masa-masa negeri matahari terbit itu terkepung aktivitas perang!


"Rumah tinggalnya saja di sebuah perkampungan kecil dan terlihat kumuh untuk ukuran Jepang di masa itu!" tunjuk Wirasti memberi gambaran utuh.


"Sedangkan jasad perempuan tergeletak sebagai korban bencana gempa ... " ucapan Wirasti tersendat, rasanya tidak kuat menahan haru. Empatinya langsung luruh!


"Dii ... dii-a, salah satu korban ... "

__ADS_1


"Itukah sebabnya oppa memutuskan pergi?"


"Mana sebagai tentara di garis depan lagi!"


Impressi yang sampai padanya, secara acak pun bernuansa sedih. Serba diliputi sedih dan rasa muram!


Sang oppa serdadu nampaknya sudah berada pada titik zenith, "Kesedihan yang baginya tidak bisa ditolerir?" ujar Wirasti, empatinya kembali menyeruak!


"Kasihan juga sang oppa merasa sebatang kara, sejak kecil hanya hidup bersama neneknya yang semakin menua dan seorang adik perempuan satu-satunya!"


"Lalu perempuan itu? iya, visual jasadnya yang ditunjukkan padaku?"


"Kanojo wa watashi no shorai no tsumadesu," suara oppa tiba-tiba dekat sekali di telinganya, Wirasti langsung kaget! kira-kira oppa telah mengatakan, dia calon istriku.


"What?" jerit Wirasti, tertahan!


"Ternyata dia tidak lain, dia kekasih oppa!"


Blaaar!


"Tidak bisa kubayangkan kesedihan yang bertubi-tubi, menggempur kehidupan oppa ... " sendat Wirasti, ikut merasakan duka laranya.


OMG, Wirasti merasa amat trenyuh. Orang yang dikenalnya walau secara virtual mempunyai suatu kesedihan yang bukan alang kepalang. "Oh, betapa dramatisnya ... " sesal Wirasti, kenapa begitu bertubi-tubi cobaan menimpa sang oppa?


Sumpah, sering terjadi ketika bersentuhan dengan kisah para entitas yang menghampirinya lantas mereka mengusung kepingan kisahnya. Kerap memberinya impressi yang bervariatif tergantung kisah apa yang mereka sampaikan.


"Kadang terbawa sedih, marah, emosi meluap ... " jelas Wirasti.


"Mereka seakan menularkan sesuatu," imbuhnya? hal seperti itulah yang perlu digaris bawahi, dalam pikiran Wirasti tiba-tiba hal semacam itu sudah jadi toxid. Sungguh itu, menular!


"Cepat menyebarnya," imbuhnya, "Alias gampang sekali menular!" tegasnya, semua berdasar karena pengalaman selama ini tiap dirinya terkoneksi dengan entitas yang bermasalah maka Wirasti pun terbawa perasaan alias baper.


"Nggak bisaan tuh diam tepekur seperti orang kurang darah, alias nggak merespon samasekali. Aku nggak bisa seperti itu, apa yang dialami mereka seolah memancing emosiku biasanya sih begitu!"


"Perasaan mereka pun seperti hama, ketika mereka emosional? marah? atau sebaliknya, begitu cepatnya menular ... " tunjuk Wirasti, sisi lemahnya gampang baperan!


Sang oppa yang kehilangan orang-orang yang amat dicintainya menjadi semakin hari semakin merapuh benteng pertahanan terakhirnya, eits menjadi seperti kisah historis bangsanya ketika dua kota penting di Jepang di bom atom oleh pihak sekutu, apa yg terjadi kemudian?


Mental down, itu pasti ya? sedemikian mengejutkan realitas akibat perang. Jepang kian kepepet dari yang semula menduduki tiap jengkal bumi pertiwi dengan pongahnya bersikap ofensif lalu drastis berubah defensif, hanya sebatas bertahan tanpa perlawanan yang berarti.


Keadaan pun berbalik menyakitkan pasca PD II atau Perang Dunia II berakhir, "Menyerah tanpa syarat, sudah bukan rahasia lagi ... " demikian setiap Wirasti mencermati sejarah berakhirnya pendudukan Jepang seumur jagung di wilayah Indonesia.


Oppa serdadu pun? lewat impressi yang disampaikan pada Wirasti, jalinan kisah sedihnya yang dibawanya pergi sebagai tentara Dai Nippon tidak lain merupakan kemauan hatinya agar bisa lari dari kenyataan.


"Mengeyahkan kegetiran hidupnya namun kegetiran itu tidak kunjung raib dari hidupnya, kecuali ... " bisik Wirasti menjeda kata-katanya sendiri?


Yah, kecuali? dirinya merasa tak cukup sedih dengan tidakperpihakkan guratan nasib yang selalu menjerembabkan dirinya pada tiap hal yang paling menyedihkan. Kehilangan selamanya adik perempuan dan si kekasih calon istrinya? tekanan hidup yang sedemikian menyakitkan itu seolah tiada pernah berakhir? hingga akhir derita hidupnya? hingga, suatu hari dirinya memutuskan berharakiri?

__ADS_1


__ADS_2