
Wirasti masih termangu, tidak ada percakapan sedikitpun.
Antara dirinya dan entitas tersebut tidak banyak keluar percakapan apapun, sepersekian detik dalam kebisuan.
Ya, pria yang ditemuinya tempo hari itulah sang penolong hingga dirinya luput dari target letupan? yah, timah panas yang diarahkan padanya.
"Huft, bisa mati konyol dah!" gerutu Wirasti. Tetapi, apa iya sih?
"Aduh?" seru Wirasti, seakan diingatkan sesuatu. Alam bawah sadarnya sedari awal mengingatkan dirinya, "Kenapa harus sekhawatir itu?"
"Iya juga sih!" sentak Wirasti pada dirinya sendiri. Bukankah semua yang tengah dialami tidak lebih, hanya mimpi? ups, mimpi tetapi lebih hidup. Iya, mimpi seakan teralami. Benar-benar seakan, nyata!
Sering dirinya merasakan jika sekadar mimpi, terasa serba acak!
"Ini ... emphh, tidak tuu!" ujarnya, mimpi yang dialami sementara dirinya bagai tetap terjaga dan setiap scene dalam mimpi tersebut seperti punya alur!
"Itu, yang mengherankan!"
"Anehnya lagi seperti satu kisah,"
"Serba nyambung, lagi!"
Keheranan Wirasti pun beralasan. Apa hubungannya dengan sebuah bunker dan proses eksekusi di lokasi tersebut antara dirinya atau pria itu? apakah ada sesuatu? setidaknya tautan, atau?
Wirasti seakan merasa di suatu tempat, sendiri, senyap dan bernuansa serba kelabu diliputi kabut. Tidak tahu apa yang bisa ia perbuat kecuali mengayun langkah kecil sambil meraba-raba sebenarnya dirinya di mana? iya, dirinya tengah terdampar di mana?
Situasi atau kondisi serba muram seperti yang tengah dialami, "Huft," lenguhnya pendek!
Dalam senyap dan suasana sekeliling yang mulai berkabut, Wirasti menangkap satu bayangan mendekat!
Siapa? pikirnya rada penasaran, "Aku seperti mengenalnya?" bisik Wirasti, postur seperti itu? membuat dirinya hapal karena beberapa hari terakhir Wirasti merasa cukup mengenalinya.
"Nggak salah, hem?" batin Wirasti, sebetulnya Wirasti merasa enggan bertemu atau menemui pria muda secara tidak sengaja ia kenal lalu diperjelas dengan adegan seru kala dia sebagai dewa penolongnya pada situasi amat genting!
Yep, pria bule ternyata dari kalangan army itulah yang menolong dirinya dari ancaman melesatnya timah panas di lokasi rubanah atau ruang bawah tanah ternyata di situ merupakan sebuah bunker!
"Mana bunker eksekusi lagi!" ujar Wirasti, miris!
Di kesempatan yang lain, eh? dirinya malah bertemu kembali? "Apa ini namanya nasib ya?" bisik Wirasti, terbesit perasaan tidak enak.
Ck, tidak enak? tetapi Wirasti berusaha menepis bayangan buruk yang melintas,"Positif thinking sajalah!" pikirnya tidak mau direcoki anggapan buruk apapun.
Feelnya tentang pria army nederlander tersebut sedari awal sudah baik, "Dia juga nggak aneh-aneh kok!" bantahnya sendiri, beda lagi jika sampai Wirasti menemukan ketidakberesan atas sikap yang ditunjukkan.
"Huh, gue gibeng tahu rasa!" sungut Wirasti, siaga penuh dari kemungkinan buruk? untungnya tidak.
"Jij weer?" celetuk Wirasti, kamu lagi?
Pria itu tidak langsung menjawab, tetapi malah memamerkan senyum kecilnya seolah mengatakan, "Yah, seperti yang kamu lihat?"
"Bedankt ... " lontar Wirasti, rasanya pantas diucapkan meski berselang sekian hari? terima kasih.
"Bedankt voor wat?" sahutnya dengan nada tanya, terima kasih untuk apa?
Ck, decak pelan Wirasti. "Hey, je hebt me geholpen, toch?" ujar Wirasti, hei kamu telah menolongku, bukan?
Sambut pria army tersebut kali ini dengan senyuman lebar, "Oh, dat?" sahutnya, oh itu?
Pria bule belanda itupun mengajaknya terus berjalan sambil sesekali ada sedikit obrolan ringan, hingga tiba pada satu tempat di bawah rindang pohon.
__ADS_1
Batin Wirasti, "Itu seperti tanaman, eh pohon flamboyant?" bukan menebak sebetulnya, tetapi sebetulnya Wirasti tahu dilihat dari warna dan bentuk bunganya yang cantik. Tidak kalah dengan tebubuya atau bunga sakura.
"Flamboyant juga cantik!" batin Wirasti sambil masih mengagumi kuntum-kuntum bunganya sepanjang ranting pohon, warna kejinggaan atau kuning cerah sama cantiknya!
"Hou je een beetje van bloemen?" tanya pria itu, kamu agaknya suka bunga?
"Ja," jawab Wirasti, ya.
"In mijn land zijn er heel mooie bloem, je moet het weten ... " katanya, di negeriku ada bunga yang sangat cantik, kamu pasti mengenalnya.
"Hem, ik weet het!" sahut Wirasti.
"Tulpen toch?" tambah Wirasti, tidak berharap direspon cepat. Pria tersebut langsung kembali tersenyum lebar, semula nampak jutek ternyata bisa sefamiliar itu?
Wirasti pun berusaha mengalihkan perhatian dan obrolan, "Je hebt me nooit een idee gegeven waarom je stierf," ujar Wirasti hati-hati, kamu pernah memberiku gambaran kenapa dirimu meninggal.
"Blijf je hier voor altijd?" tanya Wirasti bukan tanpa dipikir, apakah selamanya kamu akan di sini?
Pria itu bereaksi dengan mengeryitkan alisnya, namun terlihat wajahnya kemudian muram.
"Het was niet mijn bedoeling om je verdrietig te maken ... " ucap Wirasti menunjukkan etiked baiknya. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.
"O, het is oke!" katanya, oh tidak apa-apa.
Di mata Wirasti entitas pria army bule tersebut, tergolong entitas yang tidak macam-macam. Buktinya dia nampak selalu anteng, bahkan kalau bukan dari corak atau style seragam army, mana hapal Wirasti?
"Dia army," jelas Wirasti, iya seorang serdadu belanda di zamannya.
Psstt, untungnya bukan seorang marsose? ups, korps Marechausse atau pasukan khusus atau korps maut pasukan yang dibentuk kolonial Hindia Belanda merupakan pasukan anti gerilya terhadap perlawanan rakyat Aceh bersifat pasukan bayaran atau disebut mercanaries atau soldier of fortune.
"Orang ini nggak seperti model tentara pada umumnya," batin Wirasti, intens memberinya penilaian. Sadar ada yang mengamati secara khusus laki-laki itu berpaling menatap Wirasti seakan tengah menyelami jalan pikirannya.
"Ik moet soldaat zijn!" cetusnya, kedengaran oleh Wirasti ada suatu letupan emosi yang diredam. Aku terpaksa jadi serdadu!
Reaksi Wirasti sontak menunjukkan gestur empati, berminat sekali mendengar kisahnya lebih banyak. Serdadu muda tersebut mulai menarik perhatiannya!
"Maar niet om een moordenaar te zijn ... " katanya, tetapi bukan untuk menjadi pembunuh.
What? Wirasti kaget, "Ya, mana ada? tentara tanpa membunuh?" pikirnya, seketika kacau!
"Nggak ada ceritanya begitu, ah! mana dia diterjunkan di kancah invasi? sebagai negara kolonialis? musuh rakyat negeriku pula?" gerutu Wirasti, agak emosional!
"Ik weet dat je boos moet zijn," timpalnya menanggapi gerutuan pedas Wirasti. Aku tahu kamu pasti marah.
Ck! kepala Wirasti rasanya ngebul, entah? mungkin karena dirinya pecinta sejarah? sejak SD, SMP, SMA hingga usia gerang daplok begini kecintaannya terhadap sejarah tidak pernah luntur!
"Wat wil je dan nu?" lontar Wirasti, napasnya naik turun. Emosinya sudah nyaris sampai di ubun-ubun, lalu maumu sekarang apa?
"Hm, wil ik?" sahutnya, kalem. Hem, mauku?
Percakapan via akses mimpi tersebut meski belum tuntas, namun Wirasti seolah kecipratan suatu gambaran seputar saat-saat terakhir pria muda berseragam army selalu berwajah muram tersebut.
"Itu, memori dia!" tunjuk Wirasti, jika dirinya seakan terbawa situasi atau kondisi pria tersebut bagaikan curhat sekaligus curcol padanya.
"Apa keluhan dia?" satu pertanyaan terlontar, setidaknya akan memberi gambaran secara gamblang bagaimana pria bule tersebut pernah eksis di penghujung akhir hayatnya?
"Sebagaimana kehidupan keras serdadu!" jelas Wirasti.
"Apalagi serdadu serba jadul," ujar Wirasti tanpa maksud menyepelekan, sekadar ingin menghidupkan vibes jadulnya!
__ADS_1
"Dari cara dan pakaian mereka saja?" dengus Wirasti, terbayang kembali sosok tiap mereka yang ketika itu berada di lokasi bunker.
Hiihh? Wirasti sesaat berdecih, terbayang olehnya? betapa keras ritme internal mereka, "Pasti sengsara banget?" pikir Wirasti mencoba seobyektif mungkin mencermati mereka.
"Logis dah kalau mereka sadis!" tuding Wirasti, tidak omdo atau omong doang? buktinya juga apa, banyak laskar rakyat yang dihadapkan pada regu tembak.
Atau, jangan-jangan dari kalangan sendiri banyak yang di-dor di rubanah atau ruang bawah tanah karena aksi pembelotan dan sebagainya!
"Hem, bisa jadi begitu sih!" cibir Wirasti.
Pesakitan yang terjerat kasus pelanggaran fatal hingga sebagai pihak tervonis lalu nasib mereka di-dor dengan timah panas seakan luput dari perhatian HAM apalagi masyarakat awam.
Pria army tersebut? berdasarkan memori yang sampai padanya, kadang seakan menyampaikan telepatinya. Bagi Wirasti memberi satu petunjuk clear tentang dirinya dan lingkup yang mengepungnya!
Berlatar sebagai serdadu itulah? dia begitu open atau secara blak-blakan menguliti cacat cela kebijakan di zamannya yang dia rasakan sekali membuatnya terpuruk.
Oh, sungguh scene seperti ini? membuat Wirasti terlibas oleh rasa iba!
"Dia nggak subyektif, hanya melulu kepentingan bangsanya yang diekspos!" tukas Wirasti.
"Malah kadang memperlihatkan kepedulian pada inlander," imbuh Wirasti.
"Setidaknya dia mampu menyikapi situasi zamannya secara arif, taruhlah meski tidak seratus persen obyektif paling tidak masih punya nurani ... " tutur Wirasti.
Dia pun pernah menyampaikan ungkapan kata-kata kurang lebih jika ditranslate akan menimbulkan suatu empati, "Bangsamu sudah cukup menderita oleh kami, aku pun sebetulnya sudah lelah di sini ... "
Kalimat selanjutnya sudah bisa ditebak, bahwa dirinya sebagai individu merasa otoriter suatu tirani yang berkuasa di bumi pertiwi antara penjajah dan terjajah tidak balance.
Banyak hal membuatnya kecewa bahkan terluka, perasaan antimainstream tersebut jelas amat bertentangan.
"Serdadu macam apa dirimu?" tudingan sarkas yang terarah padanya jelas menimbulkan kontroversi.
Pria itu tidak seambisius serdadu lainnya, perasaannya terlalu halus atau sensitif bagi serdadu sekelas dirinya. Perlahan rasa antipati ******* habis di rongga nurani jernihnya, pria itu merasa ada suatu keanehan yang semakin hari semakin menggumpal!
Lalu, pertanyaannya? Masihkah dirinya pantas sebagai seorang serdadu dengan segenap kekerasan yang harus dihadapi? dijalani? sementara di sisi lain jiwa kerasnya mulai keropos?
Memori pria army muda tersebut memberi satu petunjuk, ketika terjadi insiden penggerebekan justru dirinya tidak bertindak taktis. Dia, pria tersebut menjadi terlalu lamban bergerak dan terkesan lembek, hingga?
Membiarkan baku tembak terjadi, dan meloloskan buruan dalam aksi penggerebekan tersebut menyangkut sekelompok pribumi pembakang. Sebetulnya aksi tersebut terpicu sekelompok masyarakat yang mengabaikan kebijakan pemerintah setempat terkait masalah upeti atau wajib pajak semacam itu!
Dalam kurun yang hampir berkelanjutan, terjadi aksi lain justru membahayakan keselamatan jiwa para serdadu yang berdiam di markas kecil pinggiran desa.
Markas tersebut diserang dari berbagai penjuru, kali ini mengerahkan massa. Ketidaksiapan para serdadu yang berdiam di markas sebagai satu titik kelemahan, dan pria army tersebut? Terkepung!
Api berkobar-kobar membakar gedung markas, laskar rakyat jumlahnya tidak seimbang? mereka beringas meluapkan amarahnya. Sekian orang tewas, tersisa hanya beberapa termasuk dirinya. Karuan saja menjadi tawanan, tetapi sayang? nahas membekapnya. Dia tewas di tangan beberapa laskar rakyat yang bertindak sebagai sang eksekutor, interograsi yang mengalami dead lock itukah penyebab nyawanya melayang?
"Ik denk het wel," mengatakan seperti itu tanpa ekspresi, Wirasti langsung terperangah! dia mengatakan, kurasa begitu.
Astaga?
"Zo is het beter, juffrouw!" masih tanpa ekspresi, lebih baik begitu nona.
Hahh?
"Laat het zijn om het goed te maken ... " ujarnya, suaranya begitu meyakinkan. Wirasti tidak tahu harus ngomong apa? karena dia mengatakan secara ambigu, biarlah untuk menebus kesalahan. Begitu katanya seakan menandaskan, atau jelas seperti menggarisbawahi kata-katanya sendiri.
Perasaan Wirasti menjadi trenyuh, kata-kata terakhirnya tersendat dan terdengar memelas, "Laat het zijn om het goed te maken ... "
"Fout zeg je?" batin Wirasti, tidak terucap. Kesalahan katamu? oh, mungkinkah kata terakhirnya itu sebagai satu simbolis? dia seperti serdadu yang lainnya dikorbankan sebagai tumbal demi keselamatan mereka yang berada di atasnya dan kepentingan negerinya.
__ADS_1
Senyum pria muda army itu nampak samar, sorot sepasang bola mata abu-abu itupun meredup dan nampak berkaca-kaca, ada sesuatu yang nyaris tumpah. Wirasti ingin berseru keras-keras memanggilnya? namun kabut tebal itu membawanya pergi?