
Wirasti merasa itu suatu hoki? yep, "Kurasa emang begitu," ujarnya dengan muka sumringah. Beuh, betapa tidak? sebuah mobil warna putih lumayan ciamik telah terparkir persis depan rumah. Sedari sekian jam lalu dirinya pun telah prepare segalanya, termasuk tas pakaian ukuran besar dan itu artinya Wirasti telah siap pergi, let's go!
Eits, tunggu! tunggu!
Hah? "Pa'an sih?" gerutu Wirasti, baru juga selesai pamit ibunya. Cipika cipiki sejenak? lalu refleks tangannya meraih punggung telapak tangan ibunya dan, cup!
Refleks pula sang ibu mengusap kepala putrinya, "Be careful," ucap sang ibu, melepas dirinya pergi sore itu!
Oh-ho? Wirasti tidak sempat pamit pada adik laki-lakinya? hanya pamit pada mom tercintanya juga bibik art di rumahnya, kebetulan karena tidak sempat pamit langsung pada Wisnu adiknya. Cowok remaja itu pasti pulangnya telad dari bubaran sekolah biasanya langsung melesat ke tempat bimbel, "Yah, mana sempaaat?" cebik Wirasti, menyayangkan situasi yang membuatnya musti buru-buru akibat mobil grab sudah sekian menit telah menunggu.
Berabe, pikirnya. Urusan rental merental yaah harus on time, bukan?
"Setiba di sana nanti segera kabari," pesan ibunya. Wirasti mengangguk sambil berbalik arah. Tas besarnya tadi sudah diangkut ke bagasi oleh pak driver, Wirasti pun melambaikan tangan setelah masuk mobil dan duduk manis di sana.
Di dalam mini bus umumnya go car didominasi mobil serupa yang tengah melaju tidak seberapa kencang, Wirasti yang berada di dalamnya sesaat terlihat mengotak-atik ponselnya. Rupanya tengah meninggalkan sebaris kalimat pendek, nge-chat sang adik?
Wirasti
("Wisnu, aku sedang otw ke Bandung. Bantu-bantu ibu di rumah ya!")
Pelan, sesaat kemudian Wirasti mematikan data selulernya. Sore itu grab pesanan sang paman secara khusus memang diminta menjemput dirinya.
Paman adalah saudara kandung ibunya, tepatnya beliau adik bungsu sang ibu. Kebetulan tengah bertugas di wilayah belahan satu provinsi memang tidak jauh dari kota kecilnya. Sedekat bin seakrab apa hingga sang paman merasa keponakan perempuannya begitu spesial?
Paman
("Wir, kamu nggak pengin kemari?")
Wirasti
Tentu saja awalnya sempat kebingungan, "Hah, paman?"
Sontak terjengit, seakan? yep, langsung mengejarnya! "Hei, tunggu! tungguuu, paman sedang di mana nih?"
Paman
("Kamu kemarilah, paman di Bandung anak bawel!")
Wirasti
(Wirasti karuan tidak yakin. "Ah, paman pasti mau nge-prank?")
Paman
("Yaelaa ini anak? apa paman bilang, kamu datanglah dengan Wisnu. Bukankah besok weekend, kamu dan Wisnu libur pendek, kan? pergilah biar paman minta grab menjemputmu, ok?)
Wirasti nyaris tidak percaya, kalau saja sang paman tidak terus membujuknya.
Paman
("Masih juga tidak percaya?)
Wirasti
("Oh, tidaklah!")
Paman
(Sesaat tertawa kecil,"Kamu sekarang di mana?")
Wirasti
__ADS_1
(Karena sudah hampir 2 jam otw, Wirasti mulai menunjukkan rasa jenuh. "Oh iyaa paman, ini sudah melintas kawasan Nagrek sebentar lagi masuk tol!)
Paman
("Kamu nanti ke resepsionis saja Wir, mereka sudah tahu kalau keponakan paman cek in!")
Wirasti
("Oke paman,")
Paman
("Paman pulangnya agak malam masih ada acara evaluasi dulu dengan team!")
Wirasti tahu sang paman sebagai satgas yang diterjunkan di wilayah fire disaster akibat kebakaran TPA atau Tempat Pembuangan Akhir, team work heli water bombing tengah berlangsung mengatasi keadaan darurat.
Sudah hampir sekian hari paman dan teamnya ditugaskan di wilayah fire disaster. Hotel tempatnya menginap di tengah kota, itu sebabnya mengajak dua keponakannya agar datang mengunjunginya. Sayang Wisnu masih ribet dengan sekolah dan les bimbelnya, Wirasti pun hanya datang sendiri.
Hampir tiga jam lebih? karena keadaan jalanan macet dan mengular, mahfum hari weekend. Arus dari arah kota menuju wilayah tempat tinggalnya, juga kepadatan jalanan ibukota provinsi dipenuhi kendaraan berplat luar kota. Sudah tidak aneh lagi!
Sebuah hotel, "Waw," begitu dirinya diturunkan di muka tangga menuju pintu masuk. Sambil menggelindingkan roda kopor kecilnya Wirasti bergegas menemui resepsionis.
Salah seorang memberi semacam card, Wirasti pun kembali meraih serta mendorong kopor dan barang tentengannya kemudian bergegas melenggang menghampiri lift di ujung lantai satu. Seseorang mengangguk padanya, rupanya salah satu staf di hotel tersebut.
Wirasti menggeser langkahnya masuk lift yang terbuka, di dekat bibir pintu tangannya memasukkan card dari resepsionis tadi pada satu celah hingga tombol merah berubah hijau.
Segera dipencetnya tombol petunjuk ke lantai 6 di mana kamar hunian yang disewa paman dan teamnya berada pada satu lantai.
Sepatu casualnya mengetuk lantai dan menyisir sepanjang lorong yang lengang sore itu?
"Oh, ini dia!" desis Wirasti begitu nomor kamar yang ditunjukkan sang paman tepat di muka hidungnya!
Kembali card tersebut dimasukkan lalu ditarik perlahan tepat pada sisi atas daun pintu, nyala hijau dan pintu pun bisa didorongnya pelan.
"Oh-oo?" pekiknya. Dilemparnya slingbagnya tepat di atas kasur, sambil mulai menarik kopor dan tentengan barang lainnya. Itu, satu kantong jelas oleh-oleh khusus untuk paman titipan dari ibunya.
Wirasti meraih kantong plastik tersebut dan menaruhnya hati-hati di atas meja, "Ah, dasar paman?" desisnya, ia tahu sang paman punya satu keanehan penyuka camilan jadul berupa rempeyek kacang. Itu Wirasti tahu betul!
Makanya sang ibu dibela-belain membuatkan rempeyek kacang tersebut demi adik laki-lakinya. Alhasil Wirasti pergi kali ini sambil membawa sekantong camilan jadul kesukaan pamannya.
Hampir menjelang waktu Isya sang paman baru nongol, "Hei, anak bawel?" sapa sang paman begitu nampak dan melongok di muka pintu.
"Paman ...!" sambut Wirasti, karuan menghambur ke arah pamannya.
"Bagaimana perjalananmu tadi?"
"Lama menunggu?"
Wirasti mengangguk tetapi sambil mencebikkan bibirnya, "Paman lama banget? aku sudah laper nih?"
Karuan sang paman tertawa lebar, "Astaga, paman lupa kalau keponakan yang satu ini si tukang makan enak!"
Wirasti hanya nyengir kuda!
"Baiklah, ayo bersiap kita keluar makan yuk!"
"Asyik!" sambut Wirasti, tinggal menyambar jaket rajut tipisnya yang ia pakai ketika berangkat tadi dari rumah.
Sambil jalan keluar paman sempat menanyakan keponakan satunya, "Ngapain Wisnu tidak kamu ajak serta?"
"Tadi itu dia belum pulang dari bimbel tuh!"
__ADS_1
Yep, sayang sekali memang. Coba Wisnu adiknya tadi bisa ikut serta? paman memintanya menginap di hotel keren tersebut karena menurutnya sayang juga jika tidak dimanfaatkan fasilitasnya, mengingat jarak tempuh cukup dekat, maka Wirasti dan adiknya diminta datang.
Terhitung sudah sekian hari sejak team satgas demi menangani fire disaster sebuah TPA di Bandung barat dengan heli water bombing, dan team satgas diinapkan di hotel tersebut untuk beberapa waktu ke depan.
"Wir, kalau kamu nggak ada kegiatan apapun ya sudah tinggal saja di sini beberapa waktu. Hitung-hitung menikmati fasilitas, pagi-pagi besok manfaatkan tuh makan di resto hotel sekenyangnya!"
"Hahh?" seru Wirasti, heran? tetapi matanya langsung berbinar, sesaat ia menggembungkan pipinya sambil menahan napas.
"Yah? tahu begitu, aku tadi ..."
"Kenapa?" tanya paman.
"Eng ... eh, anu paman! tahu begitu aku tadi nunggu Wisnu dulu yaaa ... " rajuk Wirasti.
"Yah, itu maksud paman!"
"Biar kalian tahu situasi di sini, mana tinggal dan makan gratis!" gurau paman.
"Emang ... " samber Wirasti kemudian, tetapi sang paman langsung menjelaskan team worknya harus berangkat pagi-pagi bahkan tidak akan pernah sempat breakfast di resto hotel!
"Aaww," seru Wirasti senang. Paman langsung mengacak pucuk kepala keponakannya yang berhijab.
Antara Wirasti dan sang paman sejak kecil dulu sudah terlalu akrab dan lengket dengan pamannya, seingatnya ketika keluarga mereka masih tinggal bersama di rumah mereka nun ketika di Malang Selatan!
Sejak Wirasti dibawa kedua orangtuanya nomaden alias berpindah-pindah mulai menetap di daerah Yogyakarta untuk kemudian hijrah ke daerah Jawa Barat, sejak itu pula sang paman juga melalang setelah menyelesaikan studinya langsung kerja jauh. Awalnya tinggal di daerah Riau, karena kantor pusatnya di sana namun kemudian berpindah sesuai tugas yang diembannya.
Fire disaster yang ditangani sang paman dan teamnya ternyata harus selesai lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, itu kata paman. Praktis Wirasti telah menginap di hotel keren tersebut hampir tiga hari, namun yang sehari terakhir tidak full hanya setengah hari, why?
"Wir, besok paman malah tugas lain ke Malang!" demikian sang paman, ia tahu sehari lalu paman mengatakan ada kemungkinan satgas heli water boombing akan segera diterjunkan dan bertolak menuju daerah Malang.
Ketika itu baru kawasan gunung Arjuno yang disinyalir mengalami karhutla, tetapi justru kawasan gunung Bromo menyusul kemudian akibat prewedding tanpa mengindahkan alam sekitar di musim kemarau panjang!
"Paman cek out pagi ini ya, Wir?" pamit sang paman. Sedangkan Wirasti diminta limit waktu hingga pukul 12.00 nanti untuk cek out, "Manfaatkan breakfastnya, Wir! nggak perlu terburu-buru ... " imbuh sang paman sebelum meninggalkan dirinya.
Wirasti pun mengikuti anjuran sang paman, sayang bukan? melewatkan sarapan pagi di hotel keren. Sebagaimana selama tiga hari berturut-turut, Wirasti sudah hapal dengan situasi resto pada jam sarapan pagi.
Dengan santainya Wirasti ambil tempat atau posisi mojok sendiri, dengan begitu? dirinya bisa leluasa mengamati sekitarnya!
Area resto sebesar itu berada di lantai 3, tatanan atau interior di resto tersebut sedemikian menarik bagi Wirasti yang baru seumur-umur masuk resto di sebuah hotel besar di jantung kota. "Hiih? jangan kelewat udik ah!" teguran telak, Wirasti menahan senyum tetapi hanya berupa ekspresi meringis?
Mula-mula sedari kemarin? dirinya pun bergegas mengembat sepiring kecil dipenuhi irisan buah dan segelas air lemon. Lalu mondar-mandir ambil sepiring snack berupa roti croissant, kue sus vla vanila dan kue tradisional dua potong kelepon wangi pandan.
"Tetapi, eits? aku pengin banget menikmati bubur ketan hitam dan kacang hijau dulu, ah!" tanpa ba bi bu melesat ke stand bubur di sudut arah pukul dua belas!
Gokil, Wirasti juga masih sempat ambil piring ceper prasmanan kemudian mengisinya dengan satu centong nasi, ca sayur masak capcay, mie goreng telur, fillet ayam tidak lupa kerupuk!
Balik ke tempat duduk semula, dirinya dibuat tertegun?
Sial, batinnya. Seseorang sudah menempati salah satu tempat duduk yang dipilihnya sedari awal masuk resto! "Siapa dii ... iya, sii- siapaaa dia?" Wirasti agak tergagap, semula dirinya mengira itu pasti pengunjung resto yang lain.
Langkahnya karuan maju mundur, Wirasti sempat terkesiap!
Belum hilang rasa gemetarnya, sepintas Wirasti menatap sosok tersebut duduk santuy.
Pelan Wirasti ber-istighfar, sosok perempuan ala-ala perempuan? pakaian dan style-nya? alamak, dia mungkin berasal dari era penjajahan Belanda.
Langsung dirinya merasa semriwing! "Mevrouw wie?" tanya Wirasti takut-takut. Nyonya siapa?
Perempuan itu, eh entitas tersebut hanya balas menatapnya? mengangguk dan memberinya senyum?
Sudah, hanya itu!
__ADS_1
Scene berikutnya Wirasti hanya perlu sarapan pagi sendirian dengan semua hidangan yang sudah tersedia di mejanya, namun perasaannya menjadi agak was was.
Lalu, perempuan paruhbaya dengan rona kulit memucat bergaun broken white itu? sekian detik lalu sempat duduk tepat di muka, seberang depan mejanya, tanpa berkata-kata apapun? ke mana dia? yah, entahlah?