Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Si Blasteran, Huh?


__ADS_3

Setiap kali Wirasti terbawa memori seseorang, namun seseorang yang ia maksud adalah entitas. Memang kemampuan ekstra Wirasti masih seputar itu? yah, apapun itu bagi Wirasti merasa dirinya terseret pada satu pusaran. Pusaran yang memposisikan dirinya seolah ada dalam situasi di mana sang entitas pernah eksis mengalami hal rumit, teror, penganiayaan, stres bahkan hingga tingkat depresi? semua itu seperti puzzle atau kepingan-kepingan semacam kisah mereka yang tersaji secara runtut, bahkan tidak jarang ditengahi dengan kondisi Wirasti menangkap sinyal telepati.


"Kisah pun sering menjadi lebih gamblang!"


"Tapi tidak jarang pula ada yang terpenggal di tengah jalan, kalau yang seperti itu yaa ... tidak akan terlacak. Karena sudah terputus begitu saja, mungkin yang bersangkutan si entitas tersebut entah karena faktor apa? enggan melanjutkan ceritanya?"


Namun sejauh ini? Wirasti merasa lebih sering mendapatkan puzzle atau kepingan cerita mereka runtut hingga sampai ending, "Ada memang beberapa yang terpenggal ... " jelasnya, tidak rinci menyebutkan kisah yang mana saja?


Dari sejak dirinya ketiban suatu kemampuan ekstra, hingga perlahan terasah meninggalkan ketumpulannya, Wirasti pun kerap mengalami hal di luar dugaan. Terlebih kian hari luas jangkauan kemampuan ekstranya semakin berkilat, bahkan seperti magnet dirinya seakan mempunyai daya tarik tertentu hingga mulai bersentuhan secara intens dengan mereka.


Sekalipun begitu Wirasti tidak mau jumawa atas kemampuan yang melekat padanya, dara manis bermata belok itu? masih tetap pribadi yang sama, hanya watak yang jutek sudah jadi bawaan aslinya itu saja yang tidak pernah berubah seinci pun!


Oh-ho? setiap kali dirinya mendapatkan impresi, kemudian secara susah payah harus mengikuti kemauan atas memori seseorang atau sang entitas yang telah memilih dirinya meski bukan sebagai mediumisasi, namun impresi yang sampai pada Wirasti tidak jarang akan berproses selama berhari-hari.


"Nggak secara kontinyu sih, kadang terjeda!"


"Malah yang secara kontinyu lebih menyingkat waktu, nggak harus makan waktu berhari-hari ... "


"Kisah oppa serdadu contohnya,"


"Juga termasuk yang kemarin itu!"


Yep, sejak kepulangannya dari Bandung kemudian sampai rumah? langsung selama berhari-hari dirinya terimpressi. "Nyonya non pribumi sang mavrouw tersebut seakan membombardir dengan semua kisah yang dialaminya!"


"Ada kesan, merasa kebetulan ketemu yang bisa diajak curhat maupun curcol? eh!"


"Rasanya berhari-hari sampai aku bosen!"


"Tapi bagusnya beliau itu semuanya disampaikan secara, fair!


"Termasuk entitas yang tidak berbelit-belit!"


"Hanya saja, kadang kita musti sambil mikir sendiri. Urusannya sudah bukan dengan manusia, kan? mereka entitas walau ada satu sisi cara menceritakan versi mereka seperti yang ada pada memorinya, tetapi kadang harus diluruskan." ujar Wirasti.


Siapa bilang hal terhoror mereka yang telah mengubah atau menjadikan diri mereka dengan cara bertranformasi semacam itu, "Kupikir mereka seperti itu karena satu dan lain hal!" imbuh Wirasti, karena sempat menangkap satu celoteh yang memperjelas bagaimana mereka berproses demikian.


"Aku tidak mau mengatakan, cukuplah aku tahu saja!" tandasnya, menghindari anggapan seolah nanti dirinya si paling?


Salah satu entitas pernah curcol padanya, terkait hal yang membuat dirinya tertawan tidak bisa kemana-mana. "Aku terlalu melenceng jadi manusia, ada banyak hal yang tidak termaafkan? terampunkan? ketika aku tengah diproses, justru tereleminasi. Aku bisa apa? aku sangat terkutuk, yaah pasrah kujalani yang seperti ini hanya bisa, bergentayangan tidak tentu arah dan pijakan ... "


Deg! puzzle, atau kepingan cerita semacam itu pernah tersampaikan impresinya padanya. "Dii ... dii-a? perempuan ronggeng di era penjajahan belanda," batin Wirasti tiba-tiba, baper.


Iba juga! herannya, "Dia tipikal cengengesan, walau getir yang ia alami tetapi terlihat selalu cuwawakan ala zamannya!"


"Aku nggak terseleksi," mungkin maksudnya dia ingin mengatakan seperti itu!


Entah, jalur seleksi pun terlewatkan begitu sajakah? lantas sebagai entitas yang bernasib nahas akan selamanya tidak ada pijakan antar dimensi?


Wirasti pun berpikir jauh, bahwa karena dia sempat sebagai perempuan penari atau ronggeng, diperparah dengan keadaan dirinya selalu ringan hati sebagai perempuan begajulan bahkan sebagai permainan laki-laki hidung belang rata-rata tentara belanda di era itu!


Wirasti hanya bisa mengelus dada, sambil berkali-kali terlompat kata-kata istigfarh. Sungguh memilukan nasib perempuan pribumi yang tidak berkelas seperti dirinya menjadi salah satu korban kebiadaban dan penindasan kolonialis di masa silam.


Itukah salah satu ekses-ekses yang ditimbulkan oleh penguasaan di era penjajahan? secara sosial keterpurukan bangsa dan negeri ini seakan bukan menjadi tuan di negeri sendiri, justru penguasa yang menanamkan koloninya. Hingga timbul batasan dan diskriminatif antara inlander dan nederlander, bukan?

__ADS_1


Wirasti hanya bisa menoleh ke belakang dengan gambaran masyarakat pada umumnya hidup di bawah garis kemiskinan, inlander yang mereka maksud tidak lebih sebagai jongos atau bedinde. Jika tidak karena terjaring kebijakan sebelumnya di bawah tekanan sebagai pekerja rodi.


Di masa berikutnya ketika seiring bergulir waktu, tekanan sosial dan eksesnya kadang menempatkan perempuan pribumi sebagai gundik para tuan belanda, misal ketika mereka dipekerjakan di perkebunan-perkebunan semacam tanaman teh di beberapa wilayah bumi pertiwi.


"Nasib mereka masih nahas," pikir Wirasti, meradang!


Atau jika tidak, cukuplah dipekerjakan di rumah-rumah tuan dan nyonya belanda sebagai bedinde atau art. Posisi sebagai pembantu rumah tangga, atau beberapa laki-laki sebagai jongos.


"Hingga, kerap terjadi insiden atau kasus seperti ... " ungkap lirih Wirasti, perasaannya langsung terbawa sedih dan melayang jauh?


Seperti, kisah yang dipaparkan sang mavrouw, Wirasti tidak menghakimi sebagai satu kesalahan tunggal. "Kurasa ada sebab akibat di sini," ujarnya, memposisikan dirinya pada pihak yang netral!


"Bukan sepenuhnya kesalahan si bedinde,"


"Karena ada peran si tuan!"


"Sang mavrouw terlalu emosional?"


"Kesannya membabi buta dengan perasaan jealousnya? harga diri yang terlanggar dan sebagainya, bukan tidak mungkin banyak hal menjadi pemicu dalam rumah tangganya,"


"Sempat menimbulkan depresi?"


"Mungkin saja!"


Semuanya terimpresi akhirnya, Wirasti menjadi tujuan sang nyonya tersebut untuk menunjukkan memorinya. Dari A sampai Z hingga kisah tersembunyi tersebut terungkap, "Beliau hanya menunggu dan butuh untuk curhat dan curcol?"


"Selama itu? melampaui lipatan waktu?"


Wirasti kembali seakan diingatkan oleh sesuatu? "Mungkin aku sendiri sedang tidak sensitif?"


"Sekian menit hanya begitu? Suara kursi diseret-seret, apaan sih?"


"Itu yang membuatku keheranan!"


Jika kemudian? dikaitkan dengan keanehan yang ditimbulkan oleh aktivitas virtual semacam itu? Apalagi, kisah tragis merenggut jiwa seseorang? ugh, lebih dari satu orang? caranya amat mengenaskan. Lokasi hotel tempatnya menginap merupakan TKP, meski telah dikaburkan oleh lipatan waktu silam? setidaknya energi-energi berupa residual tidak akan pernah sepi atau lekang oleh bergantian zaman.


Wirasti pun bergidik? tetapi, makjleb! masalahnya dalam pikirannya ada aroma pertikaian perihal sudut pandang, terkait rasa sentimen yang mulai menjalar dalam dirinya?


"Senjata makan tuan?"


Wirasti pun sempat ternganga? demi diperlihatkan bahwa salah satu generasi terdahulu, lebih tepatnya mereka? "Moyangku?" seru Wirasti, entah tiba-tiba merasa tertampar!


"Why?"


"Why, why!" gerutu Wirasti, menirukan kata why dengan berulang-ulang. Kelakuan seperti anak kecil. Begitu? tahu ada garis genetik alias diantara moyangnya tidak sebagaimana yang ia harapkan.


"Bangsa Arya saja nggak mau kecampur dengan bangsa asli India, yaitu suku dravida kala itu!"


"Konon semua demi kemurnian ras arya yang dianggap lebih mulia,"


"Iya sih ada unsur diskriminasi!" ngedumelnya bukan tidak tentu arah, justru arahnya menguliti ketidaksukaannya? perihal cara pandang yang tidak sesuai dengan kata hatinya.


"Heh, Wir? kenapa sewot begitu sih?"

__ADS_1


Wirasti memberengut, roman mukanya nampak kusut karena menahan kesal.


Yep! ubek-ubek trah, alias garis keturunan? atau, entahlah apakah ada sedikit genetik menurun pada garis kakek nenekku lalu ibuku?" demikian Wirasti seandainya mau berandai-andai?


Sayangnya Wirasti serba tak peduli, ia lebih suka leumpeung atau memilih jutek saja? "Daripada bertele-tele!" dengusnya mulai tak senang mengulik-ulik hal semacam itu!


Tempo hari dirinya mencomot pastry croissantjes, itukah biang keroknya? "Diih, croissant?" cibir Wirasti pada dirinya sendiri.


Lalu, apa ya hubungannya Wirasti dengan pastry dalam bentuk croissant?" Umph, sudah tentu berlatar, berhistoris dan tersembunyi kisah klasiknya!" seloroh Wirasti, meski tidak nampak serius tetapi ada sesuatu yang tersimpan di balik selengeannya!


Ups, selengean? iya, apalah namanya kalau bukan selengean. Wirasti dengan muka tidak serius berkata-kata secara guyonan, artinya jauh dari kesan serius.


Well, sekian dekade silam tepatnya zaman kuda masih gigit besi? ups. "Maksudnya zaman baheula, zaman jadul, zaman kolo bendu. Ah, aduh? sebutan apalagi ya?" ringis Wirasti malah bingung sendiri ketika ingin menjuluki sesuatu yang lebih excited, excited yang mengarah pada kesan lucu bahkan terkonyol!


"Ah, ya begitulah!" ujar Wirasti sambil memamerkan kekehan pelannya beberapa detik, terkait sang mavrouw lalu, croissantjes? Wirasti seakan diingatkan pada satu hal yang terhubung dengan historis genetik keluarganya tempo dulu.


Hahh? why, kenapa harus hahh? realitasnya Wirasti memang memiliki kaitan panjang jika diubek-ubek perihal sejarah keluarganya, semua diawali dengan keadaan zaman yang membersamainya.


Nah, lho? ada istilah muncul lagi tuh! "Zaman yang membersamainya?"


Pasti pertanyaannya, "Apaan tuh, ya kan?"


Ssttt, zaman yang penuh liku. Ente semua belum lahir pada? kilasan konflik historis moyang kalian dengan sang penguasa diawali dari history panjang, monopoli rempah-rempah akibat dari jatuhnya Konstantinopel tahun 1415, terus berlanjut ekspedisi pelayaran kuno menuju ke dunia timur, berturut-turut adanya pertikaian di tanah asal rempah-rempah antara Portugis vs Spanyol kemudian disusul para saudagar Belanda hingga monopoli rempah-rempah pun dikuasai para pedagang belanda.


"Belanda lebih tangguh, berhasil menghalau Portugis dan Spanyol, sejak itu terpikirlah membentuk perserikatan dagang bernama VOC. Sejarah koloni pun dimulai, dari VOC estafet kelak menjadi pemerintahan Hindia Belanda hingga kolonialis Belanda yang sebenarnya ... " kenang Wirasti, ternyata suka mengotak-atik buku sejarah milik ibunya note bene basic pendidikannya S1 prodi Sejarah.


Wirasti cukup respek dengan kisah klasik konflik historis yang ditimbulkan, hingga satu hal melekat dan menjadi catatan di sudut hatinya.


"Satu sisi aku suka, sisi lain aku nggak suka!"


"Nggak suka? nggak suka alasannya apa?"


"Nggak ya nggak suka, kalau nanya alasannya? Eummphh ..." sahut Wirasti sambil mikir dulu, karena disitu ada pertanyaan tentang alasan jelas dirinya tidak asbun, asal bunyi atau asal jawab kan?


Refleks pikiran Wirasti pun menerawang jauh? tadi mencoba mengatakan, " Suka dan tidak suka?" ulangnya lagi, tidak sadar justru kata-kata tersebut seolah boomerang baginya. Wirasti harus kerepotan akhirnya menjawabnya sendiri, alih-alih dirinya tidak mau dianggap asbun alias ngomong tidak dipikir betul-betul, apa kata dunia?


"Siapa yang disuka atau justru sebaliknya!"


Wirasti sontak mendelik, "Heh, dipikir hanya ngaku-ngaku apa? enak aja!" celetuknya sengit!


Sungguh tidak gampang membuat tiap pandangan ngeh saat itu juga ketika kita ingin sekali membuat pihak lain satu prediksi dengan kita. "Itu nggak mudah," gumam Wirasti, karena apa yang dituntut seputar topik yang dikehendaki justru akan berakhir menjadi petaka.


Lantas, apa yang membuat Wirasti muter-muter seolah ingin mengalihkan perhatian tetapi malah, kacau?


"Emphh, moyangku tuh ..." cebiknya ragu-ragu sekali mengatakannya.


"Heh, Wir? ngomong yang jelas dong!"


"Ii .. ii-ni aku sudah ngomong jelas!"


"Iya, apaan sih?"


Cebik Wirasti memberanikan diri, katanya? "Dari pihak ibuku tuh aa ... aa-da, si blasteran ternyata!"

__ADS_1


Hah, serius? Wirasti mengangguk lesu. Jadi? itu, masalahnya? kenapa dirinya sempat gugup setelah memberi statmen ketus perihal percampuran ras, sialnya Wirasti malah mendapat impressi dari sosok laki-laki blasteran berparas tampan, siapakah dia?


__ADS_2