Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Semisterius Apa Dirimu?


__ADS_3

Sejak sampai di rumah hingga sekian hari kemudian? "Bukan tanpa gangguan!" jelas Wirasti, terkait keanehan yang muncul menyatroni dirinya di food court siang bolong kemarin itu?


Wadidaw, sekali? Wirasti merasa meski terganggu tak ayal dirinya merasa, nambah lagi? begitukah? "Iya, nambah pengalaman tuh!" tunjuknya.


Antara harus uji nyali dan bakal mengantongi beberapa pengalaman, itu sudah pasti!


Lantas? Wirasti pun merentangkan kedua tangannya ditingkah angin siang menjelang sore bertiup agak kencang menerobos daun jendela setengah terbuka, dan sosok transparan dengan kilatnya ikut terbawa hembusan angin masuk ke ruang kamarnya. Mana Wirasti sadar kalau sedang diikuti sesuatu?


Ruang kamar Wirasti lumayan tidak terlalu sempit juga tidak terlalu luas, "Biasa saja sih!" jelasnya, memberi gambaran jelas. Kelambu double yang mengatup rapat bila malam tiba, lapisan tebal dan vitrase sebagai lapisan tipisnya melambai-lambai ketika tertiup angin cukup kencang karena jendelanya ia biarkan terbuka lebar-lebar. Jika sesuatu yang menguntitnya, kemudian terbawa angin masuk ke dalam ruang kamarnya sungguh itu suatu ketololan!


Siang menuju sore? Wirasti hampir tidak merasakan apapun, kepekaannya apakah tengah tumpul? kenapa tidak merasakan samasekali tatkala sesuatu yang terbawa angin hinggap di ruang kamarnya? bukankah Wirasti cukup bisa merasakan sesuatu? namun, kali ini?


Yep, seakan tersekat? hingga dirinya tidak bisa mendeteksi. "Itu, bahaya Wir!" seseorang pernah secara gamblang menarik simpatinya? mengutarakan hal-hal terkait kemampuan ekstra, ada saatnya mana-mana yang terkoneksi dan memunculkan suatu kepekaan dan mana yang tidak.


Entah? sedari pulang dari rileks dan nongkrong di food court siang tadi Wirasti seperti tidak mempunyai beban apapun, hingga? dikuntit sesuatu seakan tidak berasa?


Aduh, nona? tabok jidat dah! segitunya rileks dirimu? tidak biasanya berlaku tidak mawasdiri sedikitpun. Cercaan yang sifatnya menyayangkan sikap Wirasti dianggap sebagai satu bentuk keteledoran, "Heh, bukannya kepekaanmu sudah teruji nona?" terlontar kata teguran.


Wirasti pun sesaat kicep, sembari? dalam hati membenarkan.


Malam merangkak larut? di ruang kamarnya lampu belum padam samasekali, Wirasti hanya akan memadamkan dan mengganti dengan lampu redup 3 watt jika dirinya sudah mulai tidak tahan mendapat serangan hama kantuk. Di luar suara gemerisik dedaunan bergesek ketika ada tiupan angin, sesekali suara deru angin bertiup kencang.


Wirasti telah menutup rapat-rapat kelambu kamarnya, tidak berkeinginan menyibak kelambu double yang mengatup memenuhi bingkai jendela kamarnya. Biasanya? sebelum berangkat tidur dirinya sering iseng melongok ke arah luar baru kemudian mematikan lampu utama.


Huft? dengusnya. Wirasti masih di muka meja tulisnya di sudut kamar. Sesekali tangannya masih membolak-balik sebuah buku tebal dan sepintas masih kuat membacanya, namun selebihnya sempat membolak-balik buku yang lainnya dalam satu tumpukkan yang ia biarkan dalam posisi persis di sebelah lengannya saat dirinya bertumpu pada meja sisi kanan.


Sesaat? sembari menggeser pelan tumpukan yang sedikit menggunung, "Lagakmu, Wir? sok kutu buku!" terlontar ejekan telah mengusiknya?


Malam makin larut? Wirasti pun berniat membaringkan diri setelah merasa lelah dan mata cukup pedas telah sekian menit? yeah, hampir sejam dirinya menekuni satu buku yang sempat ia beli secara online, kini buku bertajuk sejarah Hindia Belanda yang sudah sekian lama menarik perhatiannya itu sempat terbeli olehnya.


"Harta karunku bertambah," bisiknya, Wirasti pun menyeret langkah berniat menuju arah pintu karena di situlah persis sisi pintu nampak colokan dan saklar listrik berada di sana.


Shitt? belum tiba di muka pintu, langkahnya sedikit mundur. Wirasti bagai terpaku, dan terhipnotis? "Sial," batinnya, sempat bergetar.

__ADS_1


"Haa ... han-tu?" seru Wirasti, sempat mengagetkan dirinya. Sial nggak tuh? protesnya, kenapa harus menemui lelucon model begitu?


" Ka ... ka-mu siapa?" sapa Wirasti spontan mulutnya tergerak langsung ia lemparkan sebuah tanya.


Itu, sosok secara visual nongol di mukanya, mana mengagetkan bikin deg deg- kan?


Wajah pias? si pucat pasi, ingatan Wirasti langsung tertuju pada sekian hari lalu? ia, dirinya kongkow tetapi sendirian di lokasi food court. Rupanya dialah orangnya, eh entitasnya!


Feel Wirasti seakan langsung tertuju padanya, meski ketika itu Wirasti tidak terlalu memperhatikan? saat itu memang hanya sekilas. Ia pikir meski pemunculan visual yang tiba-tiba tersebut sekadar muncul lalu pergi, Wirasti sendiri bawaannya cuek saja!


Oo-ho? rupanya dugaan itu, salah? suatu entitas yang memperlihatkan dirinya tidak terduga samasekali, "Hm, ternyata malah menguntitku?" batin Wirasti, dan kini dirinya tengah berhadap-hadapan dengannya? chuaks.


"Apa hendak dikata?" batin Wirasti, malah usil! meski sekian detik lalu merasa kaget setengah mati, jantung nyaris copot? eh. Tetapi untuk urusan beginian? Wirasti musti challenging dah!


"Laah aku kan wajib menghadapi sendirian, apa-apa musti sendiri?" gerutunya, mendadak ada perang batin berkecamuk nih?


"Ini, hantu Nippon? yeah mesti kuhadapi sendiri. Ya, kaaan?" celetuk kecilnya tertahan di pojok rongga hati, hingga tidak kedengaran siapapun? nyamuk atau semut pun tidak mungkin mendengarnya, begitu!


Sosok atau entitas berwujut laki-laki asing ras mongoloid tersebut tengah menatapnya intens dari pojok ruang, Wirasti pura-pura tidak atau belum bereaksi. "Dia orang Jepang rupanya?" pikir Wirasti, sekian detik kemudian beringsut memilih tempat duduk yang nyaman feelnya sempat menebak bakal menghadapi beberapa kemungkinan?


Ketika itu, lampu kamarnya sudah mulai redup. Sekian menit lalu Wirasti memadamkan lampu ruangan yang terang benderang. "Anatahadaredesu ka?" sapa Wirasti, memecah keheningan larut malam di bawah temaram lampu 3 watt yang agak redup. Sumpah, meski agak merinding tetapi mencoba menebalkan keberaniannya.


Sosok itu masih berdiri mematung di sudut ruang, ekor mata Wirasti sempat meliriknya sekilas dan entitas itu nampak tidak bergeming. Ia tahu tidak mungkin terdengar langkah kaki mendekat, entitas tersebut pasti dengan entengnya akan berpindah tempat. Kapanpun dia mau, Wirasti membayangkan dia toh seringan kapas? sudah tentu akan hinggap atau melayang-layang sekadar pindah posisi dengan mudahnya?


Hih, siapa tahu? tiba-tiba sosok tersebut sudah menghampirinya? berdiri tidak jauh-jauh dari meja tulisnya di mana dirinya masih duduk di situ. Huft, sempat merinding lagi!


Sedetik, dua detik pun berlalu? tidak ada tanda-tanda, bahkan merespon sapaannya saja tidak!


Untuk kedua kalinya Wirasti berniat menyapa dengan pertanyaan, "Koko de nani ga shitai nodesu ka?"


Masih hening? tidak ada suara apapun, Wirasti masih berniat menanya baik-baik. Meja tulisnya berderit, sengaja Wirasti menggesernya sedikit!


"Anatahadaredesu ka? koko de nani ga hitsuyodesu ka?" ucap Wirasti nadanya amat terjaga karena ia tahu sekalipun tidak mengenalnya sikap santun tersebut perlu ia tunjukkan.

__ADS_1


Aneh? yah, tentu saja aneh. Sapaan dirinya beberapa kali seolah tidak digubris, "Dianggap angin lalu, kali?" gerutu Wirasti, karuan dirinya memang ingin menggerutu.


Wusss ...!


Wuussss!


Seperti, hembusan angin di luar masuk ke dalam ruangan? tiba-tiba ruang kamarnya seakan ada aliran udara cukup kencang? "Juga, tidak ada AC di sini!" tepisnya, masih dilanda heran.


Wirasti tersentak, ekor matanya dibiarkan mengikuti arah di mana entitas tadi dalam pandangan mata batinnya tengah berdiri mematung, "Mana, eh maa ... ma-na dia?" bibir Wirasti yang sedari tadi terkatup seketika ganti ekspresi, seperti orang bengong?


"Kemana perginya?"


"Perasaan ada di situ?" Wirasti hampir berseru demi dilihatnya dengan pandangan memutar menghadap persis ke arah sudut. Ternyata? tidak ada siapapun di sana?


Wirasti pun celingukan, memastikan. Untuk beberapa saat, apakah itu artinya hembusan angin yang baru saja ia rasakan suatu clue atau pertanda? bahwa entitas tadi benar-benar telah pergi?


Belum yakin dengan penglihatannya, Wirasti pun mengucek-ucek matanya. Sekitarnya cahaya lampu 3 watt masih terlihat redup, hembusan angin sudah tidak terasa lagi. Pandangan Wirasti menyapu ke seluruh ruangan, "Hm, ke mana perginya? sekilat itu tanpa menimbulkan jejak?" keheranannya masih memuncak!


Beberapa kali ia alami kejadian yang sama, ketika entitas seolah ingin menghampiri? seolah ada maksud padanya? baik yang langsung terucap atau tidak, namun kemudian seperti sengaja tiba-tiba main cancel semaunya.


Wirasti pun jadi ingat, "Datang tak diundang? pergi tanpa pamit? " tunjuknya ketus tetapi dibumbui selera humoris, kalimat terakhirnya diplesetkan seharusnya, pulang tak diantar.


"Astaga itu mah jaelangkung!" seru Wirasti, tiba-tiba ingin terkekeh!


Perihal entitas yang tiba-tiba nyelonong masuk kamarnya?


"Nyebelin banget!" omel Wirasti, paling tidak senang kamar pribadinya teracak-acak.


"Harusnya tahu ini ruang kamar perempuan!" protes Wirasti, sungguh tak enak jika ada yang tiba-tiba nyelonong ke kamarnya. Mana dia entitas wujut laki-laki pula?


"Salah masuk kali, Wir?"


"Ah, masak?" sahut Wirasti masih terlihat kesal. Malam pun bertambah larut, Wirasti sudah siap berbaring dan berangkat tidur. Tahukah, entitas tersebut sebenarnya tidak benar-benar pergi, melainkan?

__ADS_1


__ADS_2