
Apa yang ingin diketahui selama ini sampai membuat Wirasti sangat penasaran, tetap saja tidak bisa mengubah historis di hari lampau asal muasal rumah tinggalnya. Realitasnya rumah villanya berdiri di atas bekas tanah kuburan, bahkan tanpa dibongkar terlebih dulu?
Dalam penglihatan Wirasti, berdasar kemampuan ekstra berintereksi secara metafisik? apa yang nampak olehnya? area sekitar tempat tinggalnya tidak lebih sebagai komplek pemakaman yang bertahun-tahun terbengkalai.
Bahkan, para ahli warisnya pun tidak jelas siapa? itu semua logis mengingat berapa puluh tahun tanah di areal tersebut seakan tidak bertuan. Dibiarkan hanya berupa lahan kosong, terbengkalai, ironisnya sebagai tanah tidak produktif dan berkonotasi sebagai suatu lahan kritis.
Kondisi buruk sedemikian rupa tersebut, tidak ubahnya suatu pembiaran. Tetapi setelah puluhan tahun kemudian pemerintah desa setempat turun tangan, untuk sementara waktu menjadi hak dan diklaim oleh pemerintah setempat.
Hingga? secara meyakinkan dan sah hitam di atas putih lahan kritis tersebut telah berpindah kepemilikan.
"Salah satunya, lahan yang berdiri sebagai rumah tinggalku!" berkata seperti itu Wirasti tahu persis orangtuanya telah mengantongi legalitas kepemilikan tempat tinggalnya sah secara hukum.
Jelas, sudah? didukung temuan dan beberapa hal yang terpampang sebagai satu realitas. Wirasti semakin meyakini rumah tinggalnya memang tidak lepas dari aura-aura negatif yang melingkupinya.
Awalnya memang tidak mudah mendeteksi, seakan ada penghalang ketika dirinya mencoba menguak. Kecuali ketika visual sang nenek tua disusul dengan ghost belanda yang tiba-tiba muncul, keduanya tersebut seakan membuka portal!
"Yah, sepertinya begitu!" desis Wirasti, tidak perlu memastikan lagi karena kedua entitas berbeda latar tersebut seakan mendominasi spot rumah tinggalnya.
Sang nenek tua seolah sebagai dedengkot meski Wirasti tidak tahu persis apakah perannya sebagai penguasa teritori sekitar lokasi rumahnya? karena sempat tertangkap satu kesan, ketika ghost tersebut sempat menyatakan bahwa dirinya seakan dari tempat lain. Saat berkunjung, sempat mengatakan tempat istirahat istrinya berada tepat di bawah pembaringan atau tempat tidurnya.
"Elke keer als ik hier kom, is het echt lastig," sang ghost mengatakan demikian, bisa diartikan tiap saya datang kemari sungguh repot. Itu katanya.
"Waarom, meneer?" tanya Wirasti, kenapa tuan?
"Ja, ik heb te maken met het grondgebied van dit gebied," ujarnya. Ya, harus berurusan dengan teritori daerah ini.
Wirasti baru paham ketika mencoba mengetahui lebih jauh tentang problem yang dihadapi sang ghost tersebut, masalahnya tentu saja karena ghost belanda tersebut datang dari wilayah yang berbeda sementara tempat peristirahatan istrinya kebetulan berada di wilayah lain.
"Beda wilayah," gumam Wirasti membenarkan sang ghost tidak bisa semudah itu keluar masuk, memberi kesan ada teritorial tersendiri.
Namun hal itu memastikan betapa sebenarnya puluhan tahun lalu, meski mereka telah sebagai entitas polecy suatu wilayah memang berlaku!
Suatu hari? secara aneh Wirasti merasa tengah berada di atas ketinggian, mengapung? kurang lebih begitu.
Sekelilingnya? kegelapan malam disertai hawa dingin apalagi ketika angin bertiup sangat kencang.
Dirinya merasa harus menggigil kedinginan di atas ketinggian, entah berapa ratus kaki dari permukaan tanah. Setahunya? lebih tinggi lagi dari pohon kelapa, yep setinggi itulah Wirasti merasa terapung-apung namun di udara.
Kadang, meski sambil menggigil dirinya masih sempat iseng? dalam gulita malam, seakan ruang hampa yang hitam semata. Rasanya? ingin sekali memetik bintang gemintang!
"Kalau saja aku bisa mengambil satu dan bisa kubawa pulang?" pikiran childnya mendistraksi dirinya, amat jahilnya!
Ia tidak tahu siapa yang membawanya terbang tinggi? tahu-tahu seakan diterbangkan bersama angin dan hanya berasa beterbangan, terayun-ayun dan yang jelas bibirnya gemelatuk. Untuk kesekian kalinya, Wirasti diserang hawa dingin membeku.
Ketika seolah dirinya mendarat di suatu tempat? "Lebih tepatnya didaratkan, yah karena semua itu bukan keinginanku!" cebik Wirasti, sambil ingin menjelaskan kalau dirinya seakan dibawah komando!
Apa kalau bukan komando, meski si pemberi komando tengah di belakang layar!
__ADS_1
"Entah, aktor intelektualnya masih ngumpet!" seloroh Wirasti, mengartikan ngumpetnya? entah dia itu siapa? namun yang jelas dirinya sedang berteleportasi dengan cara unik!
Didamparkan pada suatu tempat terasing, tetapi sebelumnya seolah diajak terbang ke sana kemari.
"Hiih, pakai muter-muter dulu!"
"Nggak tahu maksudnya apa?"
Ketika tiba di satu tempat pun Wirasti makin dibuat aneh!
Sebuah tempat tinggal, entah di mana? semua panca indranya tidak dalam posisi off terlebih jika tengah mendeteksi sesuatu, "Jangan sampai kecolongan aku tuuu ... " dengus Wirasti, sambil memonyongkan bibirnya.
Sepi sekeliling? Wirasti menggerakkan langkah setelah sepersekian terbengong sendiri di tepian jalan. "Heran, tidak ada siapapun di sini?" hati Wirasti diliputi berbagai tanya.
Baru dirinya ngeh kala muncul bayangan yang cukup dikenalnya, ingatan Charissa sungguh cespleng karena seakan mudah sekali mengenali seseorang, eh entitas!
Wirasti terdongak, entitas yang dikenalnya tersebut seakan memberi isyarat supaya dirinya tidak kaku, seolah memberi kode padanya untuk mendekat.
"Aku?" ujar Wirasti, sambil telunjuknya mengarah pada dirinya sendiri.
"I, meneer?" ulangnya, sekadar memastikan. Entitas atau ghost belanda itu hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Huft, dasar hantu!" Wirasti ngedumel sendiri.
Rumah? ya, sebuah rumah. Layaknya sebuah rumah jadul masa lampau, tidak jauh beda dengan yang singgah di kepalanya tentang satu rumah dengan sedikit sentuhan arsitektur kebelanda-belandaan!
Memang tidak terlalu mencolok memunculkan model miniatur unsur belanda. "Model bentuk rumah lancipnya!" tunjuk Wirasti.
"Kom hier," suara laki-laki itu memecah keheningan. Pintanya, diartikan sebagai kata kemarilah.
Wirasti pun menghampiri, entitas tersebut sudah berada di satu ruangan. Dalam pandangan Wirasti, seperti ruang kerja!
"Ik heb je hierheen gebracht," entitas itu mengatakan, aku yang membawamu kemari.
"Weet je, toch? Jouw territorium moeilijk?" ucapnya jika diartikan, kamu tahu bukan? teritori daerahmu sulit?
Wirasti mengangguk, tiap entitas tersebut mengajak dirinya bercakap-cakap dengan bahasa dari negeri kincir angin tersebut, seolah sudah mode tersetting!
Dengan sendirinya terbawa fasih bukan hanya lidahnya tetapi sekaligus pemahamannya begitu, tokcer!
"Dat is de enige manier waarop ik u hier kan krijgen, mevrouw." ujarnya, jika diartikan, cara satu-satunya yang kutempuh mengajakmu kemari nona.
"Dengan membawaku terbang?" timpal Wirasti, sengaja menyela pembicaraan orangtua tidak peduli dianggap tidak sopan karena memang dirinya harus bertanya seperti itu daripada penasaran sedari tadi!
"Ja, je weet het!"
"Ja, ik heb je meegenomen!"
__ADS_1
Huft? entitas tersebut nyerocos bahwa dirinyalah yang membawanya terbang di awang-awang mengarungi gulita malam?
"Wat bedoel je met me hierheen te brengen?" protes Wirasti, maksud tuan apa membawaku kemari?
Pria tersebut terdengar terkekeh pelan, sambil katanya? "Ik ben blij met je vraag!" artinya, aku senang dengan pertanyaanmu itu!
Uhlaa laaa? tiba-tiba telinga Wirasti menangkap sayup-sayup suara musik! tetapi, itu mendayu-dayu dan sangat kuno sekali!
Oh iyaa? "Hoi, hou jij ook van muziek?" seru Wirasti, sudah tidak peduli dengan bermanner! hei anda suka musik juga?
Laki-laki tersebut tersenyum kecil, nampaknya merasa senang diapresiasi begitu!
"Hey meener, u woont al lang in mijn land?" tergelitik Wirasti melontar tanya, hei tuan anda sudah lama tinggal di negeriku?
"Ja, zoals je kunt zien!"
What? laki-laki itu menanggapi pertanyaannya dengan kata-kata mengandung teka-teki? katanya, ya seperti yang kau lihat.
Hahh? pikir Wirasti, darimana aku tahu?
"Nee, nee! Ik weet het niet!" tukas Wirasti artinya, tidak! tidak! aku tidak tahu!
"Meneer als wat hier, eh ik bedoel baan meneer?" selidik Wirasti, tuan sebagai apa di sini, eh maksuku pekerjaan tuan?
"Wow, het lijkt erop dat je veel wilt weten, mevrouw?" laki-laki tersebut seakan merasa excited namun kembali melontar kata-kata seperti itu pada Wirasti, wow rupanya kamu mulai ingin tahu banyak nona?
Wirasti pun tidak bisa mencegah kata-kata lain meski sekadar bertanya? "Hoe oud was je voordat je stierf?" maksud Wirasti ingin mengetahui usia berapa si tuan ghost tersebut sebelum meninggal?
Percakapan demi percakapan antara dirinya dengan entitas berasal dari kurun lampau zaman kolonialis, mungkin residu atau sisa-sisa energi dia yang masih tertinggal dan lekat dari zaman ke zaman tersebut seolah juga melalang serta mencuat ke dimensi manusia!
Anehnya pula? tertangkap oleh radar gaib hingga Wirasti terhubung dengannya, laki-laki yang mengaku memiliki seorang istri dan mengklaim pula tempat pembaringannya di ruang kamarnya tersebut sebagai tempat istirahat istrinya, alamak!
Si entitas tersebut sialnya mengetahui bahwa dirinya berkemampuan ekstra, dengan sendirinya memicu satu transmisi yang mungkin hanya berupa kedap-kedip menjadi mode on! awalnya Wirasti memang tidak menyadari tengah diincar, sumpah!
Lewat pemunculan visual vortex larut malam itu? Wirasti mulai terkoneksi dengannya. Mulanya langsung lewat akses mimpi, dan mimpi lagi? mimpi lagi?
Ketika dirinya dibawa dalam sebuah mimpi yang lebih, ekstrem? yep, entitas tersebut seakan menculik dirinya membawanya keluar dari yang dia maksud teritorial di mana dirinya tinggal.
Hem, aneh juga? sekalipun di dunia perhantuan ada tapal batas wilayah segala? "Batas demarkasi, hem?" desis Wirasti, memaksanya berpikir jauh dan kritis.
Satu hal yang membuat Wirasti tercengang dan merasa excited sekali, manakala dirinya mulai tersetting olehnya! "Itu kan aneh?" pikirnya, sejak kapan otaknya mampu mencerna dan lidahnya lumayan fasih hingga tidak merasa asing dengan bahasa asal muasal sang entitas tersebut?
"Nah, itu dia!" pikir Wirasti heran sekali dengan terobosan semacam itu?
Tiap kali bertaut dengan entitas dengan wujut ras bule belanda tersebut feelnya meyakini dialah yang menyetting semuanya!
Kadang dirinya berpikir penglihatan ekstranya hanya sekadar menampung hal-hal aneh semata, namun ternyata suatu hari mendistraksi dirinya dengan sesuatu yang menimbulkan kesan mendalam?
__ADS_1
Huft? seakan tak sabar menunggu sesuatu, meski ada sedikit tekanan psikis ketika merangsek via akses teleportasi di alam lain dengan melintas awan, melawan hawa dingin sangat ekstrem, dalam gulita malam hampir mencapai bintang-bintang? semua itu pengalaman mencekam.
Tetapi akan ada sesuatu yang ia nanti-nanti dari semua itu? banyak hal yang ingin ia tahu? menggali dari entitas yang pernah hidup di era kolonial secara lintas dimensi? lintas babak historis? lintas generasi pula?