
Si tuan Morris ternyata, bisa mengambil hatinya? ishh, melunakkan perasaan Wirasti yang semula sekaku sapu ijuk? senyum Wirasti langsung kecut diledek sedemikian rupa seperti itu.
Aww, sebuah pelukan hangat sehangat dan semanis teh pucuk daun buatannya sore itu? Wirasti tidak berhenti mengenang detik-detik sang tuan muda mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan? sambil mengatakan, "Boleh aku memelukmu sejenak?" pintanya, dikedua bola matanya Wirasti menangkap sesuatu yang sulit diungkapkan. Hati kecil Wirasti menggelepar!
Eits, mendekapmu beberapa saat? astaga, Wirasti merasakan pelukan hangat itu memenuhi dirinya. Ngap? yeah, seumur-umur baru kali itu dirinya mendapat pelukan dari seseorang, eh entitas!
"Jihaa? mana sang empunya pelukan cowok kece lagiii? tuh kaaan? hmm, yeah mana tahan?" sindiran telak!
Seketika tanggapan refleknya hanya menyimpan senyum, Wirasti tidak berminat samasekali mengatakan sesuatu pun. Males ah, pikirnya!
"Hih, nggak ngeri apa?" celetukan tiba-tiba mengguncang keheningan, sekian menit lalu? Wirasti mengeryitkan kedua alis lalu menyipitkan mata.
"Dia kan hantu, Wir?" terlontar tanya, berharap respon kilat dari yang ditanya?
"Lo sungguh aneh deh, orang lain ketakutan eh lo malah enjoy banget?" nyaris tak sabar malah menggiring pada satu asumsi pukul rata bahwa setiap orang pasti penakut
Wirasti cuma meringis, tidak menggubris komentar sana sini, seolah? anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Pikir Wirasti? "Ah, antara aku dan dia atau ... mereka? hanya beda alam!"
What? lama-lama illfeel dah! "Merinding, tahu!" memahami Wirasti sambil menggeser POV jelas menjadi satu persoalan tersendiri, lihat saja bagaimana doi tidak keder samasekali. Nyalinya luar biasa tuh? orang lain berurusan dengan beda alam sudah dibikin keder setengah mati, Wirasti tidak tuh!
"Mana? sempat ... dipeluk-peluk lagiii!"
"Heh!" hardik Wirasti, langsung doi mengomel? "Dipeluk-peluk? orang dia keluarga gue sendiri meski sekian generasi dan tidak secara rules satu garis lurus genetik, tetep saja ada pertalian darah. Iya kan?"
Kicep?
Plot twist dah? tetapi kemudian Wirasti sempat disalahkan, sekian waktu lalu? doi uring-uringan. Perkara tuan muda sang sinyo Morris berlaku tidak santun, abai terhadap adat istiadat setempat. "Iya tuh minus adab!" tunjuk Wirasti kemudian ingatannya merebak kembali pada memori dan impressi yang ia dapatkan.
"Apa gue bilang? tak kenal maka tak sayang ... "
"Iyee iyeee aku tahu!"
"Makanya jadi orang tuh jangan nge-judge dulu!"
"Iyee!"
"Nggak semua yang kamu lihat ... "
"Iye, iye! aku tahu," bolak-balik mengatakan itu? potong Wirasti ogah terus menerus dicecar kata-kata yang membuatnya kian tersudut terkait sang garis keturunan dari pihak ibunya, dan sialnya apa yang tidak disukainya justru harus ditelannya bulat-bulat?
Wirasti tentu saja sempat mangkel jika merasa terus-menerus disudutkan bab dirinya salah persepsi, akibat anggapan umum tidak berdasar itu telah mencekoki pikirannya? "Iya juga sih, nggak selamanya stigma buruk semacam itu selamanya tetep buruk!" ujarnya, dan pandangannya pun perlahan luntur!
Oh-ho? apakah lantas artinya kemudian Wirasti sejauh ini telah mampu melakukan satu aproach, pendekatan dan mengedukasi pada sang sinyo Morris? adab yang tidak pada tempatnya tersebut terkikis perlahan, menyadarkan sang entitas patuh pada kemauan yang dipancarkan secara gaib oleh seorang Wirasti?
"Aku berharap sih begitu!"
"Ada suatu keajaiban,"
"Doi main peyuk-peyuk gitu? menunjukkan satu clue bahwa doi punya kesadaran tuh!"
"Ohh yaaa?" sahut Wirasti cepat, telinganya sontak memanas!
"Sumpah, lihat saja nanti!"
Alhasil, tindakan shock terapi yang dilakukan Wirasti berupa? perlakuan sarkas secara refleksitas, kadang cibiran? kadang dari visual gestur tak senang? tetapi bukan playing victim lho? apalagi niat bullying. Oh, nee! tidak samasekali. Sikap apriori unsimpatik yang ia tunjukkan secara terang-terangan rupanya lama-lama tertangkap olehnya?
Yep! doi bisa mencerna sikap Wirasti yang memusuhinya? "Maybe," decih Wirasti, tidak terlalu peduli pada point bahasan rinci semacam itu. Baginya? sadar atau nyadar syukur, tidak pun no problem!
Memang di sisi lain geregetannya sudah sampai ambang batas normal, sebalnya sudah meluber! bisa saja kalau alamnya tidak beda? "Biar aku tantang duel tuh bule!" sungut Wirasti dongkol.
__ADS_1
As ... Asta? "Mau bilang astaga, kan?" sambar Wirasti kocak!
Sambil mendelik Wirasti memperjelas situasi bahkan kondisi yang tengah dihadapi tersebut selama ini sudah sedemikian menjengkelkan, "Sueer, sumpah!" dengusnya.
"Aku tuh paling nggak bisa tinggal diam, masak kalau bener dia salah satu yang terbilang ada pertalian keluarga terus didiemin gitu? biar pun sudah awarahum," ujar kocak di akhir kalimatnya memplesetkan kata almarhum menjadi awarahum, huh dasar si komedian kesiangan tuh!
BTW, Bay The Way? tuan muda sang sinyo Morris itu pun bukan hanya kesentil jurus mematikan hingga telak? membuatnya klepek-klepek meski tidak secara langsung sportif mengakui dirinya fatal membuat onar sisi lain kehidupan seorang Wirasti yang anti orang mengacuhkan adab? yeah, setidaknya cara ekstrem seorang Wirasti mampu menggiring semacam sinyo Morris yang semula pongah bin songong jadi nyadar dengan sendirinya, begitu?
Well, bolehlah Wirasti berbangga hati. Misi impossiblenya membuahkan hasil, bukan? mengedukasi lewat cara paling frontal, yuhuu!
"Ah, lo sih agak keterlaluan Wir?"
"Gue?"
"Ya!"
"Eh, lain kali? bikin lebih ekstrem tuh, lebih konyol! haha ...haaa!"
What? kepala Wirasti sontak pening! sial, model begini saja sudah bikin fluktuatif emosi tidak stabil melulu? Wirasti nyaris tiap saat dihinggapi darah tinggi, tahu?
"Sinyo Morris dengan kelakuan menjengkelkan begitu saja sudah bikin nyesek!" keluh Wirasti, berseloroh.
"Huh, bisa-bisanya ulah entitas kemudian akibat impressi yang nyampe padamu? belum tentu real, kan? ngapain juga lo-nya serius amat menanggapi, heh?"
"Buang-buang energi, tahu?"
"Sshh, diamlah!" pinta Wirasti dengan mengerucutkan bibir tipisnya. Rupanya tidak ingin berlarut-larut membahas point yang sudah lewat?
Bagi Wirasti kemudian? yang penting tuan muda sinyo Morris terlihat bukan kapok lombok artinya tobat tetapi masih diulang-ulang kembali, alias tobat sambal? biasa orang kepedasan tetapi masih antusias mengganyang sambal walau mulut sudah nggaber-nggaber kepedasan, biasanya kan begitu?
"Untungnya sih enggak!" ujar Wirasti, menangkap gelagat berkonotasi baik!
Sampai di sisi itu? cukup melegakan, yang tadinya bisa bikin naik darah? tensinya perlahan menurun, yang tadinya bikin nyesek? sudah perlahan membuat Wirasti ambil napas lega.
Kontan Wirasti terkekeh, "Nggak segitunya kaliii?" sahutnya dengan masih terkekeh.
"Tuh buktinya juga apa?"
"Apa coba?"
"Dapat pelukan hangat ciee?"
Wirasti bukannya tersipu justru terbahak!
"Nggak boleh ya orang mengekspresikan kerinduannya atau rasa sayangnya?" ujar Wirasti seolah ingin mengingatkan sesuatu? namun terjebak dalam pemikirannya sendiri, karena cowok sekece sinyo Morris kelewat berani mengekspresikan rasa kangennya?
"Serindu dan sesayang apa? hingga melampiaskan dengan, peyuk-peyuk?"
"Hei!" hardik Wirasti.
Buru-buru menjelaskan," Doi tuh? rindu pada mommynya, rindu pada vibesnya, rindu ketika si momnya berada di dapur, lalu aroma asap dapur dengan wangi yang tercium dari pastry bladerdeeg yang tengah dioven ... "
"Ohh, yaa ... yaaaa?"
"Setahu itukah dirimu?"
"Kenapa enggak?"
"Cespleng juga tuh kemampuanmu!"
__ADS_1
Percakapan lebih menyerupai debat kusir itu, meski muter-muter namun terkandung pelajaran dan pembelajaran sisi lain? yep ketika seseorang tidak menyukai sikap orang lain yang dianggap keterlaluan bukan berarti selamanya harus dimusuhi, "Rangkul dia," sentil Wirasti pada dirinya sendiri terkadang memang kurang memiliki stock kesabaran. Sering terlihat sesekali grusah grusuh tidak karuan.
Untungnya di balik sikap kepala batunya tersebut? Wirasti sedikit-sedikit bisa mengimbangi dengan sikap dan bawaan kedewasaan yang sudah mulai memenuhi perkembangan dan kematangan emosionalnya.
"Dewasa secara fisik nggak cukup, Wir?"
"Harus disertai kematangan secara emosional,"
Bukan Wirasti baru ngeh atau mengerti, tetapi umumnya begitu. Namun satu hal adakalanya antara teori dan praktek itu tidak sama, bahkan tidak jarang bisa bertolak belakang. Kali ini? perkecualiaan yeah, Wirasti bisa tampil meyakinkan pasca atau setelah uring-uringan 'mulu?
"Ngaku sajalah, Wir!"
Wirasti sontak bingung harus jawab apa? ada sekian detik berlalu seakan statemen yang menyudutkan dirinya itu dibiarkan merebak lalu menguap dengan sendirinya?
Malam itu? di meja tulis di ruang kamarnya. Posisi? letak paling sudut arah pukul dua belas, Wirasti menaruh sebuah wadah atau stoples plastik premium yang biasa dikoleksi ibunya. Di situ penuh satu stoples berisi kuker atau kue kering buatannya bersama sang ibu tadi siang.
"Pastry bahan bladerdeeg tapi dibentuk model genji pie!" pamernya sambil mencomot sekeping dari wadah stoples warna hijau greentea!
Oh, laalaaa? tangan seseorang ikut menjangkau stoples berisi genji pie, Wirasti langsung menepisnya. Punggung telapak tangan dengan jemari terlihat bukan sebagaimana dimiliki orang pribumi, tidak perlu mengandalkan feelnya yang tajam pun Wirasti bisa segera menebak?
"Huh, sinyo Morris!" desisnya, bibirnya langsung mengerucut!
"Dia lagi?" gumam pendeknya, Wirasti tahu entitas seperti dirinya mungkin juga punya klangenan terhadap camilan di masa lalunya?
"Jelas itu sejenis pastry-pastryan," tebak Wirasti.
Sinyo Morris tidak mengatakan tetapi feel Wirasti mendapat pesan gaib?
"Itu yang biasa mommy buat untukku ... "
"Genji pie?"
"Semacam itulah!"
"Kau lebih suka yang mana?"
"Strudel aku suka!"
"Oh?"
"Aku suka strudel isian daging dan sedikit sayuran,"
"Oh yaa?"
"Isian selai pineapple aku juga suka!"
Langsung terbayang pastry semacam kuker, dibuat agak kecil-kecil bentuk segitiga lalu diberi isian selai nenas atau selai peanut? "Sama enaknya," ujar Wirasti suaranya sengaja dikeraskan, dalam pandangan mata batin Wirasti nampak sosok tak jauh di sampingnya itu tengah melakukan gerakan sedikit membungkuk. Rupanya dia tengah mencermati stoples pastry kuker simpanannya di atas meja tulis posisi di pojok kamarnya.
"Nona, kau mengizinkan aku membuka tutup stoples ini kan?"
"Bolehkah setiap saat aku nanti ... " pintanya melontar tanya dan persetujuan, tentu saja Wirasti menjadi dipenuhi haru!
Sahut Wirasti. "Boleh, boleh, sesukamulah!" ujar Wirasti, ada iba menjalar. Ia tahu sinyo Morris pasti kangen berat pada orang yang disayanginya di kalangan internal keluarganya di masa lalu?
"Terima kasih, nona!" suara itu mengejutkan dirinya, Wirasti menoleh cepat sambil tertuju ke arah samping. Jika bukan karena sinyo Morris tak kasatmata mungkin posisi dirinya di sisi entitas tersebut bisa bersentuhan lengan.
Wirasti langsung tertegun sambil mendongak, postur jangkung itu tengah menatapnya dengan senyum. Ah, pikir Wirasti? Seperti tidak ada bedanya antara astral dan manusia biasa. Hanya dia transparan dan selalu terlihat berwajah pucat!
Buru-buru Wirasti mengatakan, " Oh, silakan saja ... " ketika pandangannya bersirobok sinyo Morris masih tersenyum samar padanya, Wirasti mengangguk sopan.
__ADS_1
Wirasti pun merasa tidak perlu susah payah buang-buang energi? sinyo Morris sudah dianggap telah jinak, eh?
Haiisshh, dirinya sudah membuang perasaan sebalnya? apakah artinya gumpalan dongkol sekian lama bercokol di sudut hatinya mulai melted? sudah tidak ada alasan mempertahankan rasa sebal yang pernah luar biasa membebat dirinya, si gunung es itu telah mencair rupanya? amarah di hati Wirasti perlahan sirnakah?