Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Moyang Buyutku?


__ADS_3

Siapa sangka, bukan? sikap Wirasti yang rada rasis tatkala dihadapkan pada realitas apapun wujutnya, tentang sebuah bentuk perkawinan antar ras. Kala itu? Di era kolonialis antara warga non pribumi dan pribumi, karena yang tiba-tiba menarik perhatian dan terekspos untuknya adalah visual pernikahan antar dua anak manusia berbeda latar, asal muasal dan kebangsaan yang kerap jadi pergunjingan.


Bukan saja dilihat dari sisi kewarganegaraan yang bertolak belakang, satu sebagai penguasa di zamannya dan satunya ketidakberuntungan sebagai bangsa tertindas di masa itu.


Lantas kenapa Wirasti sedemikian kesal hingga jatuhnya menimbulkan ketidaksukaannya secara ekstrem?


Apa pasal?


"Aku banyak memahami dari intrik-intrik history, tentang detil lain yang mengisahkan ekses yang timbul dari unsur perubahan sosio culture ... " ujar Wirasti, dirinya jelas tidak asal mengatakan seperti itu.


"Ada hukum sebab akibat yang berlaku tuh!" ujarnya lagi mulai terpancing, ketika kesenggol suatu hal yang tiba-tiba merisaukan hati dan pikirannya!


"Aku hanya bilang tentang ketidaksukaanku," tandas Wirasti.


"Iya, tentang perkawinan campuran antar ... " seruan kecilnya terjeda sampai pada kalimat akhir yang memberi clue mengenai sebuah bentuk mereka yang menikah secara campuran.


Kawin campuran? antar ras? hingga menimbulkan kedua belah pihak padu, sebagaimana telah ia jumpai dalam historis internal keluarganya konon sempat terjadi perkawinan antar ras begitu rupa? meski bukan garis keturunan langsung sebagai kakek nenek buyutnya tetapi jelas beliau internal keluarga besar Wirasti di masa lalu!


Sebutlah mbah nyonyah demikian perempuan yang diperistri tuan belanda di masa kolonialis dulu, secara garis keturunan sebetulnya bukan genetik langsung karena si mbah nyonyah tersebut hanya terkait hubungan saudara perempuan nenek buyutnya.


Dengan begitu secara hierarkis tidak menurunkan garis secara langsung dengannya, namun tak ayal Wirasti kerap bersungut-sungut sendirian? "Ihh, aku paling males kalau sudah ngomongin dan topiknya hal itu!" sergahnya, tiba-tiba merasa gerah!


Lho, kok? "Nggak boleh gitu dong, Wir?"


Hem? desah Wirasti, tidak terbujuk sedikitpun ketika diingatkan agar menarik asumsinya.


"Masalah lo apaan sih, Wir?" didesak seperti itu Wirasti malah nyengir!


Aneh saja, bukan? kalau tidak ada hujan tidak ada angin, Wirasti nampak demonstratif menunjukkan sikap yang cenderung antipati.


Meski ingin menutup-nutupi alasan dirinya seapriori itu, toh tidak akan mudah berkelit setelah berkali-kali didesak agar mau mengungkap hal yang sebenarnya.


"Alasan subyektif karena termakan unsur konflik history?" tebak langsung membuat Wirasti belingsatan, sikap salting atau salah tingkah ketika nyaris ketangkap basah tuh bagaimana?


Wirasti mencoba tidak gelagapan menuturkan sesuatu? sudut pandang Wirasti mengarah pada sebuah circle? namun, semakin jelas membentuk lingkaran setan?


Wirasti pun keceplos, "Aku cuma kurang respek," tuturnya terkandung maksud, menelan tiap scene konflik historis yang sudah melekat di jidatnya. Jujur dirinya tidak ingin dianggap seperti stigma, pahlawan kesiangan? "Tidak, tidak, tidak!" tepisnya nyolot!


"Aku paling nggak bisaaa ..." sambil mengatakan seperti itu Wirasti menerawang jauh melewati pembatas antara yang real dan yang virtual di masa silam.


Betapa perasaannya teraduk-aduk tiap menemukan kisah lampau terkait ekses-ekses sosial yang ditimbulkan oleh rembesan suatu konflik horisontal antar pribumi dan non pribumi, "Ekses negatif yg timbul akibat gesekan sosial budaya menjadikan masyarakat yang eksis di masa lampau?" pikir Wirasti membuatnya ngap!


"Timbul perlakuan semena-mena, kerap akibat upeti-upeti yang diberlakukan penguasa daerah di bawah tekanan mereka yang dipertuan. Terutama kebijakan ekonomi sebagai pemicunya, pemerintah koloni yang memberlakukan secara ketat entah itu berupa UU Agraria, swastanisasi, sistim sewa tanah, tanam paksa dan sebagainya akibatnya pun fatal!" cicit Wirasti seakan tidak terbendung dirinya ingin terus nyerocos tidak tentu rimbanya!


"Bukan suatu persoalan mikro melainkan makro, berakibat pada banyak lini!" tuding Wirasti, sengit!


Lebih sengit lagi tatkala mengatakan ketidaksetujuannya dari sekian ekses timbul paradikma dalam bentuk pelecehan terhadap harkat dan martabat perempuan, "Memang tidak mengarah pada bentuk semacam jugun ianfu seperti di zaman Jepang," mengucapkan kalimat panjang seperti itu bibir tipisnya nyaris mencibir.


Di era kolonialis belanda justru memperlakukan fenomena? perempuan pribumi dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan-perkebunan teh seperti yang terjadi di daerahnya, namun tidak jarang sebagian dari mereka dijadikan gundik para laki-laki belanda tersebut.


Gundik? tahu, kan? sebutan bagi perempuan yang diambil seakan istri selir atau simpanan para tuan belanda. Mereka mempunyai citra kurang sedap, "Mendinglah diperistri secara baik-baik, bukan gundik namanya tuh!" sarkas Wirasti geregetan!

__ADS_1


Itukah sebabnya sisi pencitraan yang kurang sedap membuat Wirasti kecewa berat? karena dalam anggapannya kemudian terbingkai satu realitas, "Kenapa sih mereka merendahkan martabatnya sendiri?" ujar Wirasti mulai ada letupan-letupan.


"Tidak sekadar kecewa berat," cebik Wirasti, memberi bantahan kecil. Setiap hal berbau konflik history, selalu akan membuat Wirasti tercabik-cabik.


"Salah satunya, di beberapa zona timbul hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, tetapi perempuan pribumi tersebut tidak pandai menjaga diri dan kehormatannya. Bagaimana mungkin? sementara mereka diantaranya tak ubahnya melacurkan dirinya atau bersedia totalitas yaitu tadi? menjadi gundik atau selirnya, iya rela sebagai simpanan si tuan-tuan belanda!" geram Wirasti.


Lalu, bagaimana dengan sang kakek nenek buyutnya?


Hasil kawin silang tersebut, eh? lahirlah dua anak blasteran laki dan perempuan, namanya non Anne dan tuan muda Morris.


Itu terjadi sekian dekade silam, zaman neneknya masih belia di masa penjajahan belanda. Entah, apakah salah satu keluarga neneknya tersebut sebagai korban trend kala itu, atau lebih ke faktor lain dengan sekian alasan? antusiasme jika diperistri tuan belanda? ataukah sebaliknya para tuan tengah berkeliaran mencari mangsa perempuan pribumi untuk diperistri sebagai istri sah atau sekadar perempuan gundiknya? entahlah, namun yang jelas paradikma pun terus bergulir mewarnai geliat zaman kala itu.


"Internal keluargamu tidak sebagai korban kan, Wir?"


Wadidaw, makjleb dah!


Wirasti bengong sesaat? lontar kalimat tersebut amat menusuk dalam kondisi dirinya tidak siap mental samasekali, bahkan menanggapi lontar kata-kata menohok tersebut belum sempat terpikirkan olehnya apa yang harus keluar dari bibirnya sebagai responsif atas celetuk kecil tersebut.


Wirasti tiba-tiba berasa, oleng! sungguh, dirinya merasa tercabik-cabik tiap kali dihadapkan pada titik tumpu tentang satu hal yang membuatnya terpojok.


Wirasti merasa tak berkutik, "Ah, aku nggak suka deh yang namanya kawin-kawin begitu karena alasan materi, huh!" semburnya, perasaannya amat kesal!


Jelas Wirasti langsung menyoroti alasan perempuan pribumi mengemukakan buntut dari persoalan yang memanas dengan sendirinya menyeret dirinya.


"Sudah gitu kesannya jadi? ah, tahu sendirilah gimana. Jadi kalau antara majikan dan ... aahh?" ujarnya ketika sampai di ujung lidah kata-kata berikutnya terhenti seketika, pikiran Wirasti agak kalut.


"Apalagi sampai mengorbankan martabat diri, keluarga, bangsa ... " ngedumelnya Wirasti yang terjeda tersebut menandakan dirinya tengah kusut dalam menyikapi perihal keadaan yang mulai ia ketahui secara persis dan detil!


"Aku penginnya obyektif!" tandas Wirasti.


Itukah sebabnya begitu dirinya menguak sisi lain sejarah moyangnya? bahkan sang ibu nyerocos mengisahkan sekelumit cerita, bahwa meski disadari itu bukan keturunan secara langsung orangtuanya, karena yang mengalami secara langsung memutuskan menikah dengan orang belanda tersebut merupakan pihak saudara perempuan sang nenek dari pihak ibunya. Nah, kenapa musti dicemaskan? astaga, bukan?


"Garis keturunan nenekmu toh pure nggak kecampur, kan?" begitu Wirasti meyakinkan dirinya terkait apa yang dianggapnya momok baginya secara tiba-tiba?


"Ah, kamu tuu ... kelewat berlebihan, tahu!"


"Ee ... eng?" sahut Wirasti, gagu! merasa langsung tidak enak hati begitu dirinya menunjukkan argumen dan sikap yang beda samasekali?


Wirasti sadar kalau dirinya dalam tekanan un empati, atau antipati? yah, sekelumit kisah moyang buyutnya diperistri tuan belanda sekian dekade silam menorehkan kekecewaan besar di rongga hati dan pikirannya, bagaikan noktah!


Iya, Wirasti merasakannya begitu!


"Ah, Wir? sudahlah ... "


"Bukankah kemudian di era berikutnya terulang kembali? kisah serupa kendati berlangsung jauh setelah masa penjajahan berlalu?"


Deg! sontak Wirasti bagai diingatkan sesuatu, namun yang jelas dirinya bukan merasa sebagai suatu kutukan.


"Eumphh," desisnya, lidahnya berat ketika ingin mengatakan sesuatu?


"Apakah itu suatu, pengulangan?" cebiknya, yeah akhirnya keluar juga kata-kata itu!

__ADS_1


Terbayang olehnya, ibunya mempunyai saudara sepupu dari pihak neneknya. Seorang laki-laki konon sejak usia muda di tahun-tahun jauh setelah pasca meletusnya peristiwa G30S/PKI beliau ditempatkan tugas di daerah pedalaman Papua ketika itu, di sanalah sepupu neneknya tersebut bersua dengan true love-nya.


"Perempuan yang menawan hatinya itu adalah seorang missionaris,"


"Dia perempuan asal Jerman!"


Aww liku-liku perjalanan cintanya begitu klasik dan dramatik. Pemahaman Wirasti terhadap cinta mereka yang bukan main rumit, kendati menyisakan suatu kekaguman atas kegigihan keduanya yang harus menghadapi sanksi internal keluarga masing-masing walau pada akhirnya keduanya bisa menempuh hidup bersama tetapi bertahun-tahun kemudian. Alamak, apa pasal?


"Biasa cerita klasik tuh!" ujar Wirasti, kali ini tidak mengurangi rasa hormat pada para moyang alias pendahulu internal keluarganya yang masih ber-POV puritan.


Kran demokratif dalam value keluarga besarnya belum mengalami keterbukaan, kalau pinjam istilah haluan politik dari sisi sejarah negeri Sovyet atau yang sekarang Rusia. Presiden pembaharu mereka bernama Gorbacev kala itu, beliaulah penebar ide politik yang semula tirai besi menjadi glasnot dan perestroika dengan kata lain politik kebebasan dan keterbukaan. Huh, ngaco? Kenapa merembet-rembet ke sana?


"Yeah, setidaknya ada kemiripan dari sisi ketertutupannya!"


"Huh, ngaco lagi tuh!"


"Memberi gambaran paling mudah, emang salah?"


"Yah, enggak sih!"


"Lalu letak kemiripannya di mana?"


"Mirip banget sih enggak, tetapi ... " ujar Wirasti terjeda.


Tidak berapa lama kemudian ujarnya, "Betapa ribetnya, apa yang kemudian mereka alami?" berkata seperti itu Wirasti mencoba menyelami detil kisahnya!


"Yeah, namun untungnya semua berbuah manis ... "


"Oh yaaa?"


Tiba-tiba terpaku pada hal lain, demi menyelamatkan sesuatu yang?


Wirasti mengungkit suatu kisah lama? "Sang tuan belanda tidak sepenuhnya bisa diterima dikalangan internal keluarga," Wirasti tidak bisa berhenti nyerocos!


Apa yang diungkap Wirasti meski itu suatu kebenaran? kakek moyangnya yang satu ini tipe penyayang, iya true love yang terjadi pun sungguh luar biasa!


"Eumphh, denger baik-baik yeah! dua sejoli tersebut melawan arus, tahu! orangtua masing-masing beda ras, beda adat, bedaaa ... eh? maksudku karena beda keyakinan. Mereka ditentang, hingga keduanya sama-sama masih bertahan hingga orangtua keduanya dari pihak sepupu nenekku dan orangtua perempuan Jerman tersebut yaitu satu-satunya tinggal ibunya. Ketika orangtua keduanya meninggal?"


Lanjut Wirasti, "Bisa dipastikan langsung married!"


"Aww so sweet!"


"Hiihh!" decih Wirasti, sontak dengan nada main gertak. Wirasti mencoba tidak menaruh empati apapun, sebaliknya ingin menepis segenap bentuk empati yang secara spontanitas menyeruak.


Ada sedikit kepanikan melanda dirinya, sebetulnya bukan lari dan tinggal gelanggang? Wirasti pun menolak disebut pecundang, meski yang terjadi adakalanya mengarah pada vonis akhir terhadap si pesakitan.


Si pesakitan? ups, yang dimaksud mungkin ending yang kemudian terjadi pada diri pelaku sebelumnya telah mengalami ujian berat atas cinta mereka yang sejatinya tidak mendapat restu orangtua.


Beda ceritanya dengan sang pendahulu si moyang buyut, Wirasti hanya menangkap sisi lain. "Hanya ekses sosial saja," desis Wirasti. Karena toh tidak terlalu dipersoalkan menjadi suatu polemik? sekalipun ada harga diri atau prestise yang terlanggar. Merendahkan diri, ibaratnya turun level atau dekadensi namanya?


"Bukankah nenek buyutmu, si mbah nyonyah bukan diperlakukan sebagai gundik, kan?"

__ADS_1


Oh-ho, suatu hari setelah melewati sekian dekade? ternyata ada cucu buyutnya termakan konflik history, menjadi sosok si paling merasa terlanggar martabatnya? ketika mencermati kasus per kasus sisi lain dan intrik seputar nasib perempuan pribumi sebagai hanya gundik-gundik si tuan belanda. Tahu, bukan? arti gundik tak ubahnya selir, atau kadang bernuansa negatif sebagai perempuan simpanan semata. Konotasi buruk semacam itulah yang menghantui pikiran Wirasti, wahai?


__ADS_2