
Akibat gagal mendapatkan air sumur yang jernih, karena tempo hari penggalian sumur bor di rumahnya dihentikan setelah tahu persis bahwa air sumur keruh, berminyak dan berbau menyengat!
Keluarga Wirasti pun harus pasrah dengan jatah atau pembagian bergilir dari pihak PDAM setempat terkait debit air yang sering terganggu akibat cuaca kering, sehingga mata air tidak melimpah. Yah, apa boleh buat?
Hal itukah yang menjadi sebab musabab kadangkala di rumah keluarga Wirasti benar-benar minus air bersih, bahkan sering harus berhemat.
"Astaga, bukan? hidup di tengah alam pedesaan dekat sumber mata air. Lihat saja lingkar kehidupanku dikelilingi perbukitan, bahkan siapa yang tidak kenal destinasi wisata sumber air panas di beberapa lokasi. Itu, bukankah geografisnya pegunungan? tetapi, why? kenapa kerap air PDAM malah suka mampet-mampet? " protes Wirasti, namun tidak tahu harus dilayangkan pada siapa?
Huh, gokil dah! suka ngomel-ngomel sendirian? yah, siapa yang tidak dongkol tiap kali menjumpai kasus air PDAM mampet sekian hari tidak mengalir ke rumah.
Akibat sering mendapat giliran air mampet tersebut, keluarga Wirasti menjadi terpola sedemikian rupa menghadapi air PDAM mati total berhari-hari.
"Maksimal hingga lima hari tuh!" ketus Wirasti, suaranya memang terdengar ketus!
Seketus raut mukanya ketika tahu air bersih berhenti mengalir akibat anomali kebijakan yang jelas merugikan konsumen, Wirasti lantas pasang muka ketus seketus-ketusnya.
Ada satu hal yang memberatkan dirinya dan seluruh penghuni rumahnya ketika air PDAM mati total, tetapi suatu hari kebijakan baru diberlalukan. Air tidak dimatikan secara total melainkan, rumah-rumah yang mendapat giliran mati hanya sepanjang pagi hingga petang. Malam hari hingga dini hari menjelang pagi, air pun dialirkan secara normal. Itu berlaku seminggu sekali!
Itukah sebabnya demi tidak mau kekurangan air bersih, Wirasti tidak kehilangan akal bagaikan ronda setiap malam pada saat-saat tertentu ketika air PDAM mampet!
"Begadang," cetus Wirasti, memberi gambaran bahwa dirinya terbawa situasi ketidaknyamanan dikala di rumahnya minus air bersih lantas harus sukarela melek larut malam sambil begadangan demi air pula? Iisshh, sungguh tidak enak sekali!
"Berember-ember," dumalnya. Wirasti dibantu si bibik pembantu atau art juga Wisnu adiknya harus mondar mandir memindahkan air dari luar rumah karena debitnya kecil, dengan beberapa ember disimpan pada bak penampungan sementara dalam rumah.
Suatu ketika si bibik dan Wisnu selesai bantu-bantu, mereka sudah bersiap masuk rumah, tinggal Wirasti masih bertahan di luar sendirian, "Tanggung!" pikirnya, sambil masih sibuk mengisi satu ember lagi.
Dalam kondisi dan situasi dirinya sendirian mendekati waktu tengah malam itulah? atau, mungkin sedari tadi dirinya telah jadi incaran?
Dalam senyap hampir tergelincir menuju jam tengah malam itu? Wirasti bukan lagi menangkap suara sayup misal dari kejauhan, tetapi sungguh begitu jelasnya!
Suara perempuan meski tidak menyerupai lengkingan, suara itu mendendangkan lagu, berirama. Namun sesekali suara nada tinggi tersebut kadang terdengar aneh, "Mengingatkan irama seriosa!" ujar Wirasti, nada suara sopran itu terus mendayu-dayu memecah keheningan hampir tengah malam!
Lama-lama? seakan tiada berjeda. "Residu yang pernah di sinikah?"
Awalnya Wirasti memang bergidik, yep merinding!
Suara perempuan? nada meninggi dengan intonasi meski tidak jelas itu apa? karena yang tertangkap telinga Wirasti hanya hentakan birama seriosa, jika dicermati sedikit kata yang tertangkap oleh telinganya? "Tidak salah, lagu dalam bahasa Belanda!" tebak tepatnya, karena Wirasti mulai terbiasa mencerna bahasa dari negeri kincir angin tersebut!
Wirasti pun kemudian pura-pura tidak mendengar dan memang tidak mau dengar?
Jika dirinya menaruh respek akan terjadi aksi dan reaksi secara berlebihan, Wirasti tidak mau terjadi hal demikian. Bergegas setelah satu ember telah penuh, Wirasti segera menutup kran sambil seolah tidak terjadi atau mendengar apapun.
Hingga dirinya masuk rumah setelah memastikan pintu pagar rapat-rapat tergembok dengan benar, Wirasti melangkah tenang masuk rumah.
Di luar suara desau angin malam masih terus terdengar olehnya, dan suara sopran perempuan entah tersebut? seperti lengkingan kecil semakin lama semakin menghilang?
"Dia? bersuara merdu juga meski nada tingginya bikin merinding, huh!" puji Wirasti, pure memuji kemerduan suara soprannya!
Telinga Wirasti sudah hapal, sejak sekian bulan tinggal di pemukiman baru di tengah area kebun sebagai lahan kosong masih berkavling-kavling sepi peminat itu? yep, telinganya bisa membedakan. Mana suara lengkingan binatang malam? mana pula yang bukan!
"Suara luwak di malam hari, melengking-lengking?"
__ADS_1
"Sekawanan luwak biasanya turun dari rimbun pohon besar atau dari semak-semak?"
"Mencari makan hingga dekat rumah,"
"Suara luwak kadang seperti melengking atau merintih panjang dengan irama seriosa yang dinyanyikan seseorang , sungguh beda kok!"
Itu sebabnya Wirasti hapal, mana yang orisinil? gangguan mistis? atau, hanya sekadar suara binatang malam?
Suara binatang luwak dari kejauhan, sering terdengar seperti rintihan. "Orang yang nggak tahu persis, akan menyangka yang tidak-tidak!" ujar Wirasti, awalnya memang sempat membuatnya terkecoh juga!
Berada di suatu tempat? satu pemandangan yang tidak ia peroleh di manapun kecuali hanya tempatnya berpijak kini, "Sial, ini di mana?" tanya Wirasti masih berusaha menerka-nerka.
Di saat Wirasti agak kebingungan lantaran tidak jelas siapa yang mendamparkan dirinya ke sebuah tempat yang asing samasekali, di sana pula Wirasti menjumpai suatu kejanggalan?
Dimensi lain? yah, seperti pada umumnya akan terasa olehnya begitu masuk atau menerobos ke dalamnya seakan langsung disambut situasi atau vibes yang beda.
"Ah, barangkali bukan suatu rahasia lagi ... " gumam Wirasti, masih sambil menerka-nerka.
Senyap! kedap! suram!
Kadang timbul isengnya? Wirasti begitu merasa terperosok ke sana seakan, pek! pek! pek! pertama yang paling ia rasakan, langsung sunyi!
Eits, tunggu! Wirasti nyaris terpekik. Tidak jauh di mukanya, nampak sosok perempuan tengah melenggang dengan santainya. Dalam pandangan ekstranya perempuan muda bergaun sexy menggoda itu dengan genitnya sedang berjalan?
"Dia memang cantik," puji Wirasti seketika takjub!
Suasana seperti tengah siang hari, tetapi tidak seterang di alam nyata dirinya berpijak. Pada dimensi astral beda lagi, perempuan cantik kelihatan orisinil belanda non blasteran tersebut seperti tengah berjalan di catwalk, sambil berpayung kecil kain dengan tepi renda-renda!
"Lama-lama kelihatan lebay, huh?"
Rupanya? perempuan inilah yang suka mendendangkan irama seriosa di tengah malam hingga tertangkap telinganya!
Dia tidak mengajaknya berinteraksi sebagaimana si tuan belanda tempo hari, tidak samasekali. "Kelihatan rada pongah sih iyaaa!" ujar Wirasti, sengit!
Ditatapnya lama-lama gerak-geriknya dari jarak aman, tidak perlu harus mendekat!
"Sudah jadi hantu saja masih kelihatan sombong tuh!"
Lantas Wirasti berpikir, "Gimana dulunya? ketika masih eksis sebagai manusia?"
Perempuan muda tersebut, entah? feel Wirasti tiba-tiba bisa merasakan suatu energi yang tersisa. "Iya, dia sudah pasti dimakamkan di sekitar sini ... "
"Karena itu, dia mulai muncul menunjukkan eksistensinya?"
"Akibat terpicu oleh yang lainnya?"
"Hem, aku tahu di saat yang nyaris sama ketika satu portal terkuak maka yang lainnya ikut-ikutan terseret?"
"Yah, diawali dengan kemunculan tuan belanda tersebut,"
"Karena satu lokasi areal eks kuburan mereka?" timpal Wirasti, tiba-tiba timbul khawatirnya?
__ADS_1
Why? iya, kenapa?
Perempuan muda cantik tersebut akhirnya setiap kali terlihat oleh penglihatan ekstra Wirasti selalu dengan dandanan yang sama, sambil tidak lupa bawaannya payung kain berenda khas perempuan European ketika siang hari tengah jalan-jalan di bawah terik matahari tropis.
"Aku suka gaun cantik yang dikenakannya," ujar Wirasti, perempuan itu mempunyai kelebihan body goals. Gaun berimpel press body tersebut serasi dengan posturnya yang semampai, rambut digerai nyaris menyentuh pinggang berwarna blonde!
"Sempurna," bisik Wirasti, memberi pujian.
Entah, tahu-tahu? tetapi kemudian Wirasti tidak banyak heran terkait visual yang muncul berikutnya. Tentu saja tentang perempuan itu tadi? Wirasti merasa memori dia mulai memberi view padanya, satu paparan semacam opening atau, warming up?
Uhuyy? "Aku rasa itu tentang dirinya, yah kisahnya di masa lalu?" batin Wirasti, seolah dipaksa mencermati runtut kisahnya?
Perempuan, itu? yep, sebut dia di noni kece tersebut menguak sisi memorinya. Bagai hologram? "Yah, kadang sih emang gitu!" jelas Wirasti.
Bukan saja visual berupa ectoplasma, vortex atau? berupa hologram menjadi satu varian ketika seseorang atau siapapun ketimpuk satu kelebihan bersentuhan dengan alam gaib!
"Harus siap lewat akses apapun,"
"Yah, itu perlunya gede nyali!"
Wirasti seakan tengah digandeng oleh perempuan bule kece tersebut, "Mau dia seperti apapun?" tutur Wirasti, awalnya paling sebal dengan tingkah ganjennya yang bukan main!
"Huh, menyebalkan banget!"
"Bikin jantung semua laki-laki bisa copot!" seloroh Wirasti, asal!
Memori yang sampai padanya pun? "Tidak jauh-jauh dari ulah keganjenannya!" imbuh Wirasti mulai ada sinyal terhubung dan saatnya Wirasti mengulik-ulik kisahnya!
Tiap-tiap terkoneksi dengan wujut astral seperti apapun, dirinya harus rela mengadaptasi diri? mau suka atau tidak itu perkara nanti. Contohnya, seperti si noni kece yang keganjenan tersebut.
"Itu bukan mauku," dengus Wirasti. Siapapun atau apapun yang datang padanya, yah? mesti diterima tanpa penolakan. "Aturan mainnya gitu!" jelas Wirasti, tanpa bisa berbuat banyak.
"Gaat het goed, mevrouw?" sapa Wirasti, karena merasa saat itu berjarak sekian centi meter saja dari tempatnya berdiri. Perempuan berpayung kain berenda itu menajamkan penglihatannya, senyum kecilnya langsung nampak!
"Oh?" dia kelihatannya agak terperanjat? begitu tahu, mungkin sedikit heran? ada perempuan pribumi nyaris seumuran tetapi dengan beraninya memberi sapaan?
"Dulu, bisa jadi? yah, begitu! dari kaum pribumi sendiri sepi peminat bahasa. Kalau toh ada? mereka katagori berkemampuan finansial dan manusianya belum merambah tehnologi modern!" kilah Wirasti, subyektif membela kaum perempuan tempo dulu!
"Bahasa belanda itu sendiri, hanya diminati mereka yang disebutkan tadi,"
"Hey, je spreekt redelijk Nederlands?" sahut perempuan kece tersebut, hei kamu lumayan bisa berbahasa belanda?
Wirasti mesti tahan harga, kalau dulu mungkin kaum pribumi bisa digencet semaunya. Uhlaa laaa? "Hey, wacht!" batin Wirasti, hei tunggu!
Wirasti langsung pasang muka jutek! "Nee, nee! Je kunt nog niet eigenwijs zijn!" desis Wirasti, tidak! tidak! kamu tidak bisa sepongah dulu!
Entah, terselip perasaan ingin mengimbangi kesombongan mereka di masa lalu? bukankah moyang mereka penindas yang pongah di masanya?
"He, waarom voel je je hier zo op je gemak?" usil Wirasti mengatakan seperti itu, hei kenapa kamu betah amat di sini?
"Ik ben hier begraven, we zijn allemaal onder u dame!" sahutnya, aku dikubur di sini, kami semua berada di bawahmu nona!
__ADS_1
Nah? "Ya, kan?" pekik Wirasti, secara tidak langsung menemukan jawaban atas teka teki yang selama ini nempel di jidatnya!
Itu, baru seuprit! yah, maksudnya baru sebagian kecil kejelasan perihal teka teki tempat tinggal dan area sekitar rumahnya terjawab! rahasia atau misteri apalagi yang masih diliputi selubung tebal, dan Wirasti apakah harus menyingkapnya?