
Wirasti terkesiap! detik berikutnya langsung mual, iya mual! visual mengerikan itu? dengan genangan darah disekelilingnya dan seorang oppa terkapar merenggang nyawa dengan cara mengenaskan.
Yah, si oppa mati mengenaskan. Samurai yang sehari-hari nempel pada tubuhnya kemana pun dia pergi seketika beralih peran? menikam, menyobek, memburaikan isi rongga perutnya. Celakanya justru dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan atas dorongan siapapun. Di situ tragisnya!
"Bukan hanya tragis, eh!"
Sedih rasanya, demikian Wirasti antara kaget, tercengang dan merambat menjadi shock! "Aa ... aa-kuu tuu nggak mengira, akan begini jadinya?" sesal Wirasti, karena merasa telah sedikit mengenali sosok laki-laki kurun pendudukan Jepang kala itu.
"Dia rela bersimbah darah mengakhiri hidupnya demi kepentingan negaranya sebagai wujut loyalitasnya, keteguhannya dan tentu saja kultur serta indoktrinasi semacam ajaran bushido, bisa pula karena jiwa ksatria samurai sejatinya telah merasuk dalam darahnya!" tutur Wirasti berdasarkan bisikan yang sampai padanya.
Lama Wirasti tercenung, begitu dirinya memperoleh view dan telepati, gambaran utuh tentang laki-laki ras mongoloid tersebut berlumur darah dengan luka sobek menganga di bagian perutnya, itukah yang membuatnya mual? ya, karena bau anyir darah terendus tajam olehnya.
Belum lagi pemandangan memilukan terpampang nyata di depan mata?
"Siapa tega," cicit Wirasti, sulit menepis apa yang telah dilihatnya!
"Aa ... aa-ku tidak biasa melihat pemandangan miris seperti itu!" ujar Wirasti tidak tahan jika berlama-lama disuguhi visual mengerikan semacam itu!
Berkali-kali Wirasti harus memalingkan muka meski indra penciumannya sulit mengalihkan aroma amis darah yang masih benar-benar basah, terbit iba dan pikirannya menelusur serta mereka-reka?
"Inikah yang menjadi sebab musabab seseorang menjadi entitas? mereka membinasakan diri mereka sendiri, sebelum waktunya? melawan takdir?" lontar Wirasti terbata-bata, karena rasa iba dan keharuan itu telah mengepungnya. Intuisinya menukik tajam, melewati batasan intoleran.
"Ada kalanya seseorang berada pada titik nadir, titik paling bawah? hingga tidak mampu berpikir jernih? orang bilang itu suatu depresi?"
"Seakut-akutnya suatu depresi?" rabaan Wirasti pada satu hal menyangkut bagaimana seseorang memutuskan satu tindakan, hingga yang mereka lakukan justru?
"Depresi dan bundir, iya bunuh diri? tidak serta merta didorong oleh suatu keadaan, kalau bukan keadaan kritis atau kondisi kepepet itu muncul dan menggencet yang bersangkutan!"
Tetapi, oh tidak! tidak!
Wirasti berpikir lain tentang kematian sang oppa, ada yang patut ia apresiasi?
"Ada beberapa kasus, karena itu sudah mendarah daging dalam keyakinan utuhnya? kultur yang melatarbelakanginya? bahkan bukan sekadar tradisi namun lebih dari semua itu ... "
"Siapapun di luar sana tidak mungkin bisa membelokkan haluannya,"
Wirasti sesaat menghentikan serentetan sudut pandang dan argumentasinya. Napasnya mulai naik turun, darahnya seakan melambat berdesir.
Sepersekian detik merasa perlu dirinya membuang napas, namun yang ia lakukan secara perlahan hingga dengus hidungnya mulai ia rasakan menghangat. Sejenak pikirannya terdistraksi, bayangan raut muka oppa serdadu sekian detik lalu tertangkap olehnya sungguh membuatnya miris?
"Apalagi yang harus kukatakan, hem?" desisnya, resah!
"Ekspresi kesakitan? ketika meregang nyawa? iya, sakaratul mautnya bisa dipastikan ... " lirih kata-kata itu tidak tuntas, apa yang terucap dari bibir Wirasti seakan penuh tekanan. Sensasi menegangkan seumur-umur baru ia alami, sebuah tragedi menyedihkan.
Bibir Wirasti mengatup, kedua alisnya berkerut. Bola mata belok itu terus menyipit. Ada yang terus dipikirkannya, iya tentu saja terkait sang oppa yang telah dikenalinya, perasaan iba itu terus menjalar dalam dirinya!
Panas tiris, yep itu sinonim panas dingin muasalnya dari daerah setempat di mana Wirasti tinggal. Tidak bisa dipungkiri memang itulah yang ia alami. Dalam satu tempo bersamaan terasa sekali suhu tubuhnya abnormal, Wirasti merasakan sekali ada hal yang kurang beres terjadi atau melanda dirinya. Lebih tepat tengah menyerangnya!
__ADS_1
Dalam kondisi tertentu kerap dirinya memang merasakan sesuatu yang tidak biasanya, apalagi jika terkait hal-hal di luar nalar seperti yang tengah berlangsung.
Entitas muasalnya dari ras mongoloid itu tidak memberi clue ingin menakut-nakuti dirinya, sedari awal sudah menunjukkan sesuatu yang tidak mencemaskan makanya Wirasti selalu merasa cukup tenang menghadapinya meski sesekali menemui semacam shock terapy yang kerap mengagetkan dirinya.
"Itu, lebih mirip scene!" ujarnya, tiap kali mendapat impressi hingga membuatnya terhenyak dengan tiap adegan.
"Mending jika visual yang kuperoleh biasa-biasa, ini ... eng? iya, enggak!"
"Siapa yang nggak ngeri sih?"
Adegan sang oppa ketika memberi impressi dengan segenap memorinya perihal kejadian menegangkan? yah, apa yang dilakukan sang oppa serdadu tersebut praktis membuat nyalinya kecut bukan ciut lho!
"Aku sih sudah biasa diperlihatkan yang serem-serem gitu!" tepis Wirasti enggan disebut, penakut?
"Adegan berbahaya, ketika oppa tengah menghunus samurainya dan ... "
Mak, cress! creeess!
"Bayangkan sendiri olehmu!"
"Mana scene seperti itu di depan mata kaliii!"
"Emphh, dan aku bisa apa?"
Yep, betul juga? Wirasti bisa apa? tidak lebih sepanjang pertunjukkan tersebut tengah berlangsung, dirinya hanya terkesima dengan perasaan tidak menentu. Sementara? sang oppa tengah membabi buta bahkan terkesan brutalis menghabisi dirinya sendiri?
"Sekalipun akhirnya kusadari bahwa itu semua virtual belaka, tetapi semuanya seakan emang nyata!" kilah Wirasti terkait sikap ambigunya.
Tidak ambigu bagaimana, coba? satu sisi sosok entitas tersebut sudah jelas-jelas hanyalah entitas yang tiba-tiba menghampiri, terkoneksi, lalu memberinya impressi. Sedangkan Wirasti mana bisa menampiknya? dengan kata lain menolaknya.
"Kuasaku tidak ada samasekali, ah mana bisa?" tuturnya.
Entitas yang kemudian selalu ingin dipanggil oppa tersebut jelas mempunyai kuasa penuh atas dirinya ketika terkoneksi, makanya tindakannya baik berupa menyampaikan impressi, memberi gambaran keadaan dirinya lewat memori atau telepati. Semuanya memberi kesan bahwa Wirasti berada pada situasi dikendalikan olehnya, pada saat terhubung!
Dari situkah Wirasti lantas, cenderung bersikap sesekali ambigu? dalam menyikapi tiap hal terpaut sepak terjangnya ubek-ubek seputar jagat mereka yang ia rasakan tak lazim.
"Tak lazim karena yang kurasakan tiap kali terhubung dengan mereka jelas tidak masuk akal," decih Wirasti, tidak berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang kerap ia alami memang serba virtual!
Ia sadari sejak dulu, ketika mulai merasa sering terhenyak. Pemandangan di depan mata, atau yang tengah berputar-putar di kepalanya. Semuanya begitu tiba-tiba dan memaksa dirinya menghadapi seorang diri? atau, ketika seolah terseret arus besar menguak dimensi lain meninggalkan raga yang tengah terbaring di malam buta. Menemui serentetan kisah? "Yah, aku seperti sedang menelusur ... " desis Wirasti, mulanya amat takut-takut.
"Memori, merekalah ... " desisnya lagi.
"Mereka seakan membawaku masuk ke kisahnya, mereka memperlihatkan padaku banyak hal!"
"Dengan impressi sedemikian rupa mempengaruhi sudut pandangku,"
"Bisa menebar kesan subyektif atau sebaliknya obyektif!"
__ADS_1
"Kalau sudah begitu? akan timbul sikap atas kisah mereka, bukan?"
"Yah, akan timbul kesan berikutnya sebagai penyerta atas kisah mereka. Empati? atau, apriori? bagaimanapun suatu penilaian atas keadaan tergantung dari mana kita memiliki kesan yang ditimbulkan ... "
Sampai di situ, Wirasti kembali menghembuskan napas pelan. Kadang dirinya merasa terjebak situasi rumit? pelik? seakan segala sesuatunya tidak terpecahkan. Atau, kadang timbul sesalkah? bahwa sisi lain hidupnya dipenuhi hal-hal musykil samasekali tidak masuk akal?
"Nggak enaknya harus kuhadapi sendiri," keluhnya, menerawang!
Apalagi ketika dirinya terlempar pada situasi sekian dekade lalu? vibes yang amat kental pada zamannya? dirinya dipaksa melongok sisi konflik historis, sementara ia sendiri mempunyai sudut pandang obyektik terhadap bentukan semacam puzzle yang tercecer namun berpaut dengan sosok yang menariknya pada satu pusaran!
"Iya, si oppa!" tunjuk Wirasti, tidak mudah baginya lepas tangan manakala kisah sang oppa melibasnya.
"Keberadaan oppa dalam putaran waktu, memberi impressi demi impressi? meski diriku sudah terlanjur antipati pada episode kisah pendudukan militer negerinya di sini sekian dekade silam?"
"Tak urung ... " bisik Wirasti, tertangkap nada kata ragu-ragu?
"Secara, emphh .... kemanusiaan?" ujarnya kemudian namun kalimatnya diliputi keragu-raguan, karena dalam waktu bersamaan seakan dirinya menjatuhkan sikap antipatinya sendiri? lantas bertukar posisi dengan, empati? yang membalutnya secara perlahan-lahan?
"What?" satu nada tanya penuh tekanan?
Berasa, seketika dirinya terjungkal!
Wirasti terdiam beberapa saat sambil sesekali menepuk-nepuk dahinya yang mulai menghangat! tidak pernah terbayangkan, bukan?
Petualangan dirinya dengan satu kemampuan ekstranya tersebut sempat mendamparkan dirinya pada realitas dan paparan kurun dipenuhi konflik historis. Sementara dirinya terjebak pada pusaran dan intensitas terkoneksi dengan pelaku atas obyek historis meski sang oppa hanya berperan kecil, karena dia hanya seorang serdadu.
"Aku melihat sejarah mereka lewat memori sang oppa, meski dia hanya serdadu tentu saja tidak banyak peran kecuali harus mematuhi polecy keras bahwa dirinya hanya seorang serdadu bertugas di garis depan!"
Iba rasanya ketika Wirasti menyingkap tabir gaib yang menyelimuti sang oppa? bahwa di balik indoktrinasi ala bushido di mana sang oppa wajib mengerahkan jiwa raganya untuk kemudian rela berkalang tanah, dan kematian yang merenggutnya hanya akan dipandang sebelah mata?
"Eh, ngapain lo? pakai jurus pamungkas mati segala?" cibiran tidak enak kedengaran mampir di kuping, Wirasti terkesima.
"Eits, dia bukan bosan hidup apalagi depresi. Kultur mereka rata-rata begitu, apalagi zaman itu!" kilah Wirasti sedikit meluruskan.
"Sungguh primitif amat? " celetuk sinisme, berarti kurang paham soal kultur yang menguat lebih-lebih pada kancah peperangan era itu!
"Berapa puluh, atau ratusan nyawa mereka melayang demi berjibaku? berharakiri? berkamikaze? astaga, bukan?"
"Sikap super heroik mereka luar biasa, tetapi diteropong pada sisi lain?" ungkapan kata Wirasti seakan suatu pukulan jika saja mereka rata-rata membuka diri dan masing-masing memiliki ranah berpikir logis sesuai tuntutan satu keyakinan padu dan tidak sekuleris?
"Mereka kan tidak? kalau toh misalnya ada, baru seuprit! yah, itu kecil sekali pemirsah!" ujar Wirasti sengaja kata-kata terakhirnya nyaris menggelitik!
Wirasti sengaja mengatakan begitu? walau sebetulnya untuk sekadar mengurangi suatu ketegangan dan beban seakan telah berkilo-kilo melingkupi dirinya. "Aku telah dibikin ngap oleh keadaan oppa," jelas Wirasti, kali ini tidak ingin diulik-ulik lebih detil.
Di benaknya pun masih terbayang-bayang bagaimana dirinya ketika menemukan jasad membeku namun sekelilingnya dipenuhi genangan darah, dengan kondisi yang amat mengerikan pula? sang oppa terlihat dengan kondisi luka sabetan samurai memburaikan hampir isi rongga perutnya. Cipratan darah di mana-mana, memerah dan selalu tercium aroma anyir darah yang membasah, Wirasti amat shock dan dibikin mual olehnya!
Yah, dalam konteks seperti itu? masihkah dirinya ingin ngotot mengklaim si paling sebagai dipertuan atas sejarah negerinya? sontak gelengan kepalanya mengisyaratkan bukan hanya menuruti intoleran, antipati atau apa sajalah yang merujuk pada istilah war crime dan segala imbasnya tetapi ada sisi lain yang kadang menyentuh nurani dan nyaris patut dipertimbangkan? babak ambigu dalam dirinya dimulaikah?
__ADS_1
"Tetapi, tentu saja itu perkecualian bukan?" sentak Wirasti. Justru nyatanya jika dirinya akan ngeyel begitu malah akan terjerembab pada satu konteks yang bertolak belakang? menjudge seratus persen konflik historis justru bagaikan makan buah simalakama, beuh!