
Wirasti dan croissantjes? tidak selamanya kudapan asal negerinya itu memberi kenangan dan sisi terburuknya. Artinya? bolehlah dirinya tetap membawa dendam, tetapi tidak ada salahnya mengatupkan semua kenangan buruk itu walau hanya sejenak?
Umphh, betapa eloknya bukan? seandainya tiap segaris dendam kesumat mampu ditelungkupkan sesaat? atau, mengatupkan kenangan terburuk dari rongga hati si empunya tiap masalah serius yang telah berkarat.
Tidak terkecuali, sang mavrouw? beliau sudah sekian rius bongkahan rasa sakit hatinya, terlanggar harga dirinya sebagai seorang nyonya, merasa disepelekan oleh sang bedinde-nya, kecewa dan sakit hati kronis terhadap suaminya.
"Logis jika beliau merespon dengan tindakan yang sebenarnya tidak dibenarkan,"
"Meski beliau sadar itu tindakan melawan hukum pada masanya!"
"Tidakkah solusi yang lebih elegan bisa ia lampiaskan? tidak perlu seolah tengah menggali kuburannya sendiri ... " sedikit sarkas Wirasti melontarkan penilaian, karena sungguh disayangkan bukan? seorang perempuan berkelas seperti beliau merendahkan martabatnya sendiri dengan perbuatan tercela.
"Menunjukkan sikap se-bar bar itu? apalagi sengaja mencelakai orang lain ... " heran Wirasti, tentu saja tidak terduga samasekali ketika perempuan berkelas menggeser level sampai sepsikopat itu.
Wirasti membayangkan, meski dianggapnya zaman kuda gigit besi era penjajahan. Toh perbuatan melawan hukum semacam itu juga akan menjadi satu hal yang mencengangkan masyarakat sekitar, terlebih nyonya tersebut bukan istri dari kalangan biasa.
"Bukan hanya skandal rumah tangganya yang terekspos, lebih serius perilaku menyimpang sang mavrouw pun auto tidak luput dari hujatan masyarakat setempat, bukan?"
"Rumah tangga mode kamuflase!"
"Kepura-puraan berujung konflik, hingga maut taruhannya!"
"Lalu, siapa yang salah dong?"
"Heh!" bentak Wirasti, tak senang!
"Siapa yang salah?" ulangnya, setelah aksi main bentak sekenanya karuan membuat yang mendengar ya kagetlah, masak enggak?
Cetus Wirasti dengan suara datar ekstra tenang,"Dalam gelar tiap perkara rasanya kok nggak adil, yaaa ... jika hanya menyalakan secara sepihak padahal tiap persoalan itu terjadi pasti ada beberapa pihak, kan?"
Lanjutnya,"Kurasa ketiganya punya kans atau peluang yang sama, andil punya salah. Nggak sekadar si bedinde semata, si tuan dan nyonya juga kontributif kok!"
"Ketiga-tiganya?"
"Yah, itu baru adil dong nggak berpihak!"
Owhh?
Berbagai argumentasi akan bermunculan antara pro dan kontra, bukan? namun persoalan pelik itupun tetap bergulir. Wirasti sekalipun belum sepenuhnya dewasa, sudah tentu memiliki satu sudut pandang. Wow, apakah akan meringankan serangan para haters, ups? biasanya si paling jahil akan punya kesempatan bercuap-cuap, melontar kata paling pedas? biasanya tidak peduli berada di pihak yang mana? yang penting koar-koar sampai suara serak, eh?
"Paling aman sih jangan komen dah!"
"Kalau hanya bikin runyam,"
__ADS_1
Wirasti tidak berpihak ke kiri maupun ke kanan, begitu kilahnya. POV-nya memilih yang serba netralis, jika ada pro kontra dirinya malah memilih posisi netral.
Demikian ketika kasus sang mavrouw mencuat, beliau memberi impressi atau memorinya terlacak oleh Wirasti dengan terlihat gamblang. Bahwa sang nyonya non pribumi tersebut tengah kalut tatkala dirinya menemui suatu kenyataan amat getir mengobrak-abrik rumah tangganya, apa pasal?
Rupanya ada intrik di balik semua itu, perempuan nahas tersebut? "Woiyy, si bedinde! iya, dia. Padahal belum tentu seratus persen kesalahan dia, kan? perhitungkan dulu dong kelakuan si tuan, iya tuh suami sang nyonya tersebut!"
"Nah, ya kan?"
"Ulah laki-laki mata keranjang bisa jadi begitu!"
"Perempuan seperti si bedinde malah jadi kambing hitam, kebanyakan sih begitu!"
Wirasti memberengut! merasa geram tatkala suami sang nyonya nyaris luput dari jangkauan prejudice, "Iya, itu betul sekali!" seru Wirasti, gerakan bola matanya seketika mendelik pertanda dirinya tengah emosi.
Begitu barangkali pertanyaannya? yah, mana mungkin sang nyonya selekasnya dipenuhi emosi memuncak, hingga mengubah dirinya menjadi psikopat?
"Ah, mana mungkinlah!" dengus Wirasti menahan gejolak yang nyaris keluar dari rongga dada panasnya, ada titik tolak pembelaannya tercermin dari gestur yang secara refleks mukanya sedikit berubah merah padam!
Paparan kisah traumatis sang mavrouw menimbulkan empati meski di sisi lain dalam tempo bersamaan membuat Wirasti tidak mentolerir tindak dan aksi nekad sang nyonya yang begitu bar bar hingga klimaksnya malah memberi kesan, psikopat!
"Tragis," gumam Wirasti, masih berusaha mengikuti memori sang mavrouw. Entah kemudian? apakah itu sebagai ujung dari konflik kejiwaan sang nyonya ataukah?
Telah terjadi tindak crime lebih serius dari perkiraannya semula, sungguh sadis dari apa yang ia bayangkan, "Psikopat," lirih Wirasti membatin, perasaannya sedih dan kecewa terhadap sang mavrouw!
Sebuah rumah besar megah yang sebelumnya nampak, tenang? telah menjadi ajang kericuhan. Sang suami awalnya mengelak dari semua tuduhan sang istri, "Mana ada maling ngaku?" sarkas Wirasti, ngedumel tidak tentu arah!
Pada adegan demi adegan mempertontonkan bagaimana kedua suami istri tersebut tidak sekadar adu argumen, lalu saling menyalahkan, lalu keributan besar itu terjadilah!
Wirasti? seakan hanya bisa berdiam namun terus mengikuti adegan demi adegan.
Hingga, pada saat terjadi? hal yang samasekali tidak terduga? Wirasti berada diantara keduanya meski Wirasti sebenarnya tidak ada di posisi itu. Wirasti hanya dihadirkan oleh memori sang mavrouw saja.
Jeritan Wirasti, membahana! sosok perempuan yang ia kenal sebagai sang mavrouw tersebut awalnya mondar-mandir kelihatan amat gelisah, Wirasti tidak perlu harus bertanya? "Ada apa?"
Sebuah senapan ala jadul, berada dalam jangkauan sang mavrouw? seakan perempuan berambut blonde bermata keabuan bersinar tajam itu sudah amat terlatih. Dengan mengokang senjata tersebut, ekspresinya nampak geram!
Sekian detik kemudian, seakan tanpa pikir panjang?
Doorrr!
Sosok yang lain? laki-laki berkemeja putih yang tengah duduk membelakangi posisi sang mavrouw? seketika, dari tempat duduknya terpental dengan erangan mengerikan. Jangan tanyakan lagi? apakah darah muncrat di mana-mana?
Wirasti terpaku sekian detik, dengan kesadaran penuh mengatupkan kelopak mata. Sekalipun dirinya sadar tidak akan banyak membantu? karena indra penglihatannya telah menatapnya lekat-lekat semua pemandangan memilukan terjadi di depan mata.
__ADS_1
"Si tuan, suami nyonya? kemudian tersungkur bersimbah darah. Kemeja putihnya, sekejap berubah warna ... "
"Nyonya telah membidik dan jelas sekali menembak area dadanya!"
Bagi Wirasti, meski semua visual tersebut nampak tak nyata tetapi, sebetulnya nyata? "Beda kurun waktu, beda dimensi ... " ucapnya dengan bibir bergetar, akibat rasa kagetnya luar biasa.
"Aa ... aa-ku, sempat ah, tidak!" tepisnya, seketika mengalihkan pokok pembicaraan. Ingatan Wirasti masih fresh, suatu pemandangan horor sempat ia lihat!
Posisi sang tuan tertelungkup persis di sisi kaki meja, darah menggenang di sekelilingnya. Ia tahu seandainya terekspos media pasti sudah ter-blur?
"Aku yakin bidikan sang nyonya tepat mengenai jantung, dan mengoyak rongga dada dan seisinya?"
Wirasti menggigit bibirnya, ingatannya seketika pada sang oppa? yah, oppa serdadu Dai Nippon. "Dia pun menjemput ajalnya dengan cara mengerikan sekali," tunjuk Wirasti.
"Yang aku lihat, ahh?" ujarnya, tanpa meneruskan kata-katanya. Sabetan pedang samurai? lalu, rongga perut yang menganga?
Wirasti seketika memejamkan matanya. "Sayang sekali, pada tiap insiden aku tidak bisa memilih satu hal saja misalnya jauh dari kesan horor dan amat miris, kok selalu begitu?" ujarnya lagi, sering merasa tidak habis pikir.
Masih dalam gestur setengah membungkuk, sementara senapan berdarah itu belum ia lepaskan. Memang tangannya sempat gemetar, namun seraut wajah penuh dendam itu refleks menunjukkan senyumnya begitu laki-laki tersebut rebah bersimbah darah.
"Maak een einde aan je geschiedenis," suara perempuan itu bergetar. Tamatlah riwayatmu, kira-kira seperti itu yang ia katakan, terlontar sinis pada laki-laki sejatinya adalah suaminya!
Wirasti melihatnya hanya bisa terpaku dan ber-istighfar dalam hati. Ia pikir perempuan akhirnya akan mengaum seperti singa betina, bahkan mampu mengoyak mangsanya!
Wirasti tidak habis pikir, dalam perfomance sosok secantik sang mavrouw? terlihat sebagaimana perempuan berkelas, namun ketika merasa terlanggar harga dirinya? seakan tidak peduli pada apapun, termasuk? sanksi hukum menantinya? oh, nyonya? jauh di lubuk hatinya Wirasti sungguh merasa iba.
Dalam termangu? Wirasti sambil berkali-kali menyeruput secangkir teh lemonnya, walau sesekali lidahnya serasa kebakar! "Huh," pekik kecilnya sambil melempar pandang jauh ke batas cakrawala. Sore cerah di penghujung hari, ketika nyaris sekian hari perasaannya teraduk-aduk sesuatu hal yang tidak kasatmata. Lelah rasanya?
Sejak kepulangannya dari hotel tempatnya menginap karena permintaan sang paman? Wirasti seakan mendapati dirinya tertelikung dihampiri sang mawrouv dengan beberapa reka adegan, pengulangan-pengulangan berupa serpihan kisahnya baik lewat akses seakan dirinya memasuki satu lorong menelusuri tiap memori, atau kadang terakses via semacam telepati?
Tiba-tiba Wirasti seolah diingatkan sesuatu, lalu katanya? "Di malam itu? ketika paman masih pamit ada breifing sehabis tugas seharian di lapangan," batin Wirasti, situasi sepanjang lorong lantai 6 dengan kamar masing-masing terkunci rapat.
"Hening, sepi ... itulah?"
"Aku kok merasa merinding,"
"Tapi yang paling aneh?"
"Entah kamar yang mana? beberapa saat tuh terdengar jelas sekali seperti suara kursi diseret-seret, tapi kok berkali-kali ... "
"Sekian menit hanya begitu? Suara kursi diseret-seret, apaan sih?"
"Itu yang membuatku keheranan!"
__ADS_1
Jika kemudian? dikaitkan dengan keanehan yang ditimbulkan oleh aktivitas virtual semacam itu? Apalagi, kisah tragis merenggut jiwa seorang caranya amat mengenaskan. Tidak ada kata lain, yah? selain mendoakan yang terbaik, bukan?