Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Sebodoh Amat!


__ADS_3

Kadang, Wirasti merasa antara enak dan tidak enak. Ketika dirinya dihadapkan pada satu paparan, realitas yang selalu harus dihadapi sendiri. Tanpa seorangpun tahu sisi aneh dalam dirinya, semua terkait kemampuan ekstranya.


Sejak sekian hari berlalu, yah sejak secara tidak sengaja dirinya dipertemukan dengan entitas pria bule sekaligus dia seorang army di masa lalunya? Wirasti sesekali pikirannya masih simpang siur!


Ada, bercak? umph, Wirasti merasa itu suatu kesan. Pria bule nederlander itu memberi kesan sedih, apalagi seakan sengaja memberi ending memilukan bahwa dirinya meninggal sebagai tawanan laskar rakyat kemudian dieksekusi.


"Kasihan juga sih!" desisnya, sore itu Wirasti berada di balkon atas serambi samping rumahnya. Desau angin langsung menyapanya, mengibarkan ujung hijab tipis pasminanya. Tangan kirinya mencekal kuat mug berisi kopi susu hangat kesukaannya, sungguh nikmat menyeruput kopi susu hangat di sore yang cerah.


Mata bulat Wirasti berkerjap ketika sekawanan burung emprit melintas dan mulai hinggap di pucuk ranting pohon di seberang rumah, cericit nyaringnya memecah hening sore itu di sekitar rumahnya.


Di balkon yang tidak seberapa luas itu Wirasti biasa menikmati sore hingga senja menjelang ketika dirinya rileks tidak ada kesibukan, lebih-lebih saat tidak ada atau kosong jadwal perkuliahan. Seperti sore hampir tergelincir menuju rembang petang itu?


View sekitar rumahnya sungguh menawan, meski senyap?


Yah, kesenyapan sedari tadi menyergap. Wirasti sedang tidak melakukan apapun kecuali sesekali menyeruput kopi susu hangatnya, sambil menebar pandangan ke seantero penjuru. "Hem," dehemnya, pelan sekali. Ketika angin bertiup lembut untuk kesekian kalinya? gurat wajah Wirasti nampak menegang, karena ada sesuatu yang masih dipikirkan?


Iissh, sesuatu? yep, itu mengganggunya dan simpang siur di rongga kepalanya sedari awal dirinya menapak tangga dari lantai satu menuju balkon di lantai atas rumahnya.


Pikirannya sarat? karena betapa sulitnya menepis sekian hal yang terus menerus mendistraksi dirinya kadang seperti tanpa memberi jeda!


"Aneh," begitu pikir Wirasti. Semakin dipikirkan? semakin dirinya merasa didera rasa sedih, seingatnya sejak menapak rumah villanya dan sejak dirinya menangkap secara samar seraut wajah sedih dari balik jendela tidak berkelambu itu?


"Siapa?" satu pertanyaan terlontar secara refleks, begitu mata telanjangnya menangkap bayangan transparan dari balik jendela tak bertirai.


"Dia, perempuan!" gumam Wirasti, ishh perempuan yang mana?


"Dialah yang pertama kali muncul di mukaku!" gumam Wirasti lagi, kala itu memang seraut wajah perempuan itulah yang muncul pertama kali dan memperlihatkan diri padanya.


Wajah atau ekspresi sedihnya tidak akan terlupakan olehnya, sejak itu sosok yang tidak dikenalnya tersebut langsung memberi impressi seolah menularkan rasa sedihnya pada Wirasti.


Feel Wirasti semakin sering tidak enak tiap kali mendatangi rumah villanya sebelum ditempati secara permanen oleh keluarga, saat itu Wirasti masih mondar-mandir karena rumah kosong terbengkalai tersebut tengah masuk tahap renovasi.


Wirasti pun kian rajin datang ke sana, meski hanya sekadar memperhatikan beberapa orang tukang yang tengah bekerja.


Keanehan kecil tidak jarang menghampiri dirinya, "Hem, emang sih ada saja yang aneh-aneh!" tunjuknya, ketika ada sesuatu mulai ia rasakan.


"Huh, bukan sembarang rumah sih di sini!" kecurigaan Wirasti mulai menyeruak!

__ADS_1


Ternyata, akhirnya terbukti. Setelah renovasi rumah villanya beres, rumah pun ditempati. Feelnya yang tidak enak itupun satu persatu mulai nyata ia alami, "Gangguan?" ujar Wirasti, seharusnya tidak perlu mempertanyakan lagi!


Tanpa bertanya pun Wirasti langsung mengalami setiap gangguan demi gangguan, hingga yang terakhir kemarin? yep, bersentuhan dengan astralis meski lewat mimpi.


Wirasti kerap sekali mengalami mimpi panjang semacam itu, yah suatu mimpi seakan beralur. Tentu saja itu sangat aneh!


"Bahkan mimpi yang kualami sering berlanjut!" jelasnya.


"Bisa jadi berasa berjilid-jilid!" ungkap Wirasti menambahkan.


Maksud Wirasti suatu mimpi yang berkelanjutan, adakalanya antara satu mimpi dan mimpi lainnya ada keterkaitan topik.


"Contohnya yang kualami tentang tuan belanda, terus nyambung dengan mimpi berikutnya seakan membuka portal yang terkatup!" terang Wirasti.


"Dari situ bisa kusimpulkan sendiri, kisah tuan belanda tersebut lantas secara kontinyu menstimulasi kisah lain. Mereka seakan berada pada satu pusaran? atau karena satu area yang sama? mengingat satu lokasi pemakamannya di situ? hingga mimpi yang kualami seolah berkelanjutan ..." tutur Wirasti.


"Apakah memang ada satu kemungkinan, dari satu spot yang sama bisa memicu yang lainnya, hem?" Wirasti pun masih mencoba menebak-nebak seakan tengah menemukan satu konspirasi, beuh?


"Aishh, segitunya amat!" cibirnya sendiri. Tempat wingit atau spot yang sudah real angkernya, apalagi sudah jelas sekali wilayah tersebut sebuah komplek kuburan di zamannya. "Ugh, apalagi sudah jelas seperti itu kondisi dan situasinya!" Wirasti menguatkan alibi.


"Manusianya saja yang error,"


"Termasuk keluargamu tuh,"


Astaga, juga ya? "Eh, tetapi kita kan salah satu korban!"


"Sebagai korban ketidaktahuan!" tangkis Wirasti, memperjelas posisi dirinya mewakili ketidaktahuan ortu yang telah terlanjur antuasias memiliki properti semurah rumah villa tersebut.


"Apa emang salah? enggak kan? lalu letak salahnya di mana? masak sih ditimpakan pada si pembeli yang tidak tahu menahu terhadap keberadaan sesungguhnya historis lahan tersebut bermula, tentu saja tidak, bukan?"


Waduh, bisa panjang urusannya kalau terus diruntut. Akan terjadi fenomena lingkaran setan, melingkar-lingkar tidak jelas!


"Ahh, daahlah nggak penting juga. Itu hanya menimbulkan debat kusir yang nggak ada habis-habisnya!" rutuk Wirasti, sambil janji menyudahi pertikaian kecil-kecilan yang barusan berlangsung!


Deal rasanya?


Well Wirasti pun sadar tidak mungkin dirinya terus menerus mengeluhkan situasi kondisi yang dirinya sendiri saja tidak tahu menahu perihal historis kental yang melekat sebagai satu sejarah rumahnya berikut lingkup sekitarnya.

__ADS_1


"Mau apapun?" tantang Wirasti sadar sepenuhnya, seperti fenomena nasi sudah menjadi bubur? kurang lebih nyaris seperti itulah!


"Ah, biarlah!"


"Asal mereka semua jinak ini ...," pikir Wirasti kemudian, kata jinak tentu saja memancing senyum kecut? atau, bikin tergelak?


Woh-hoo? jinak dalam konteks memunculkan perilaku hewan liar misalnya, itu sebagai hal yang wajar. Laah, ini? akan membuat siapapun bengong, bukan?


"Siapa yang musti dijinakkan? akibat perilaku seliar apa?"


Yeah, preeetlah!


Sebodoh teuing! demikian Wirasti berucap, sebodoh amat! begitu Wirasti berkilah. Rupanya Wirasti mulai bersiap mengeraskan mentalnya? menguatkan nyalinya?


Yep, memang ya harus begitu! "Hendaknya manusia berakal, kedudukan manusia lebih mulia, justru harus menjunjung kemuliaannya tanpa merendahkan dengan berbagai ketakutan yang beralasan, itu saja sih kuncinya!" ujarnya menandaskan.


Walhasil? Wirasti pun mencoba dengan cara yang diyakini mampu menipiskan ketakutan atau kecemasannya selama ini. "Kukatakan tadi, asal mereka jinak ini!" ujarnya, tanpa maksud pongah bahwa dirinya mampu menjinakkan sesuatu?


Wirasti semula boleh menganggap suatu yang fenomenal terjadi di seputar tempat tinggalnya sebagai satu keanehan, bahkan sempat memberi gambaran utuh seolah suatu keliaran atas tiap fenomena astralis tertangkap olehnya.


Misteri atau hal-hal ganjil berturut-turut mendistraksi dirinya, mencuatkan sisi lain bagai menebar kecemasan atau ketakutan. Sebut saja ada semacam teror-teror kecil terus menggelinding tidak tentu arah!


"Itu yang harus kuakhiri!"


"Apapun itu?"


"Yeah, apapun itu!"


Tekad Wirasti sudah bulat!


Kini pun Wirasti terus mengikuti, yah semacam fenomena bola panas yang masih terus menggelinding. Buktinya juga apa? toh setiap bersentuhan dengan mereka yang menghampiri, sekalipun bukan atas kemauannya ia mencoba sanggup menghadapi tanpa menunjukkan sikap konfrontasi, "Ikuti saja sampai di mana ... " pikirnya.


Yep, akhirnya tertanam dalam dirinya sendiri bahwa apapun yang ia alami atau harus ia hadapi, terlebih persoalan merebak tak terlihat namun nyata untuk ukuran dirinya sendiri terlepas dari mata awam zonder memiliki kemampuan ekstra mata batin yang tajam? memang akan menjadi satu hal yang musykil ketika berkeinginan sebagai pelaku penjinak?


Seringai Wirasti tergambar di wajahnya, ekspresi cibiran halus? "Nggak enak banget disebut begitu, huh!" gerutunya kemudian.


Tetapi, yah? tidak serta merta bisa menampiknya. Suatu anggapan miring yang disematkan padanya? Setidaknya memberi gambaran tentang dirinya telah menunjukkan satu kesanggupan bahwa dirinya toh bisa berinteraksi dengan mereka dan adanya satu harmonisasi tersendiri, ketika mereka seakan nyaman bercuhat atau bercurcol dengannya.

__ADS_1


Oh, iyaa? really? entitas yang mendekat, menghampiri serta menunjukkan visual kemudian memberikan atau menyampaikan memorinya rata-rata ya memang tidak sempat menunjukkan keliarannya. Apakah artinya Wirasti bisa meredamnya? membuat mereka jinak? Kecuali sempat satu entitas psikopat tempo hari, hingga membuat dirinya seakan dikejar-kejar!


Wirasti pun kian merasa sejak bermukim di area dan tinggal serta telah menetap di sana, lingkup eks historis wilayah tersebut dipenuhi fenomena akibat spot wingitnya. Namun di sisi lain memberinya kebermaknaan tersendiri menambah kekayaan batinnya, sebelumnya tidak terbayangkan olehnya, hahh?


__ADS_2