Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Pastry Croissantjes


__ADS_3

Sang mavrouw penyuka croissantjes? rupanya beliau ingin berkelanjutan terhubung dengannya? "Daya tarik apa yang membuat nyonya non pri terus menguntitku?" kekeh Wirasti, rasanya seperti lucu saja ada hantu terus ingin mengikutinya hingga pergi agak jauh keluar kota?


Sang mavrouw ia lihat melalui mata batinnya nampak sat set masuk rumahnya sambil sesekali menembus tembok keluar masuk ruangan, "Wadidaw?" batin Wirasti, merasa baru kali ini ada hantu blusukan di rumahnya. Ups, yep blusukan?


Chemistry yang terbangun itukah, ikhwalnya? kadang memang tidak terduga. Siapa sangka, bukan? mulanya hanya sekadar dirinya makan di resto pagi itu, tahu-tahu ada yang nyamperin di tempatnya breakfast.


Perempuan itu? nampak begitu tertariknya dengan pastry croissant, yah kali ini dari bahan pastry. Rasanya krenyes-krenyes, cruncy! croissant dari bahan roti akan beda rasanya dengan dari bahan pastry.


"Pastry mengutamakan bahan korvets, atau lemak beku." demikian Wirasti menjelaskan perbedaan bahan, sedangkan roti menggunakan biang roti dengan ragi.


"Aku lebih suka pastry!" imbuh Wirasti, di keluarganya memang sang ibu biasa membuat kue-kue dari bahan korvets.


Lantas, apakah semua itu secara kebetulan belaka?


Sang nyonya non pri tersebut penyuka pastry, beliau melihat ada croissantjes langsung menunjukkan ketertarikannya. Kemudian, entah? apa yang dipikirkan oleh entitas tersebut? jika sang mavrouw mengikutinya sampai rumah?


Uhlalaa, bukan?


Wirasti tidak bisa mengelak, ketika terhubung ya harus terhubunglah. "Mana bisa menampik?" ujar Wirasti, karena sekali terbidik oleh mereka apalagi yang dituju memiliki potensi semacam Wirasti, "Yaa ... Sudahlah!" ujar Wirasti akhirnya hanya bisa pasrah.


Jika semesta telah mendekatkan dirinya dengan entitas yang sebelumnya bagai orang asing, dan memang asing samasekali. Namun bukan berarti setelah conect dan dekat, tidak bisa sedekat bestie.


"Lintas generasi?"


"Yah, sebagaimana aku dan ibuku dah!" tunjuk Wirasti menggambarkan dirinya dengan orang yang lebih tua tersebut dirinya bisa terhubung dengan entitas nyonya belanda dari era kolonialis silam.


Feel Wirasti langsung tertuju pada satu hal, yang sama? "Ada aroma nostalgik yang tidak beliau lupakan?" tebak tepat Wirasti biasanya memang, cespleng!


"Croissantjes?" hal itu yang berputar-putar di kepalanya. Yah, sang nyonya non pri tersebut terus menguntitnya karena satu alasan? well, hingga pada suatu hari?


Wirasti dan ibunya serta dibantu si bibi art di rumahnya, tengah kelihatan sibuk semuanya. Entah? Tiba-tiba saja ketika ada waktu luang sang ibu mengeluarkan semua bahan-bahan kue terkait rencana ingin membuat pastry, langsung saja Wirasti mengusulkan agar ibunya kali ini membuat croissant tetapi dari bahan korvets.


"Bladerdeeg," ujar Wirasti, pastry ala belanda dari satu bahan yang sama tetapi hasil kulit pastrynya bisa dibentuk secara variatif, bisa untuk kue cum cum isi vla vanila atau puff pastry, genji pie, strudel, zuppa soup, bolen pisang, sausage roll dan sebagainya banyak varian yang dibuat dari pastry dough.


"Untuk croissant juga enak!" tunjuk Wirasti, karena kulit pastry tersebut fleksibel digunakan bermacam varian kue dari bahan pastry.


Dapur ukuran 4x4,5 seketika berubah seperti dapur bakery. Aroma wangi pastry pun menguar tajam. Sensasi gurih didominasi bahan korvets pun tercium di seantero ruangan dapur. Nampak ibu dengan celemeknya berlepotan tepung, Wirasti apalagi. Si bibi hanya kebagian membersihkan peralatan yang sudah selesai terpakai, nampak tengah sibuk di sudut dapur.


Oven electrik ukuran 45l tersebut nampak on sepanjang durasi pengovenan, untuk memanggang pastry tidak membutuhkan waktu lama maksimal 30 menit dengan mode api atas bawah.


Dari dapur yang menguarkan sensasi aroma kue asal negeri kincir angin itulah, sosok bayangan berkelibat! dengan kemampuannya berteleportasi dari satu lokasi ke lokasi lain bukan hal sulit, bukan?


Dia sudah menjadi entitas, nyonya non pribumi tersebut di eranya pernah sebagai seorang nyonya tinggal di kawasan kota Bandung sudah tentu pada masa penjajahan, residu yang masih tertinggal di lokasi di mana Wirasti menginap di satu hotel ternama tersebut menjadi penyulut hingga Wirasti terus dikuntit.

__ADS_1


"Croissantjes," desis Wirasti. Yah, gara-gara satu jenis pastry semacam itu? sang mavrouw mungkin radar gaibnya mendeteksi sesuatu. Ada sisi yang sama? yep, satu kesamaan terkait kuliner atau kudapan asal negerinya membuat dirinya masih mempunyai keterikatan kuat meski harus lintas dimensi.


Aroma gurih, wangi dan menimbulkan liur tertelan ketika nampak pada beberapa loyang yang mulai diangkat dari oven, ibu dan Wirasti dengan cekatan memindahkan kue-kue cruncy tersebut pada sebuah nampan besar, ketika pada menit terakhir Wirasti sedari awal sudah meminta sisa pastry dough untuk croissantjes. Wirasti sendiri yang membuat, baginya tidak terlalu sulit tutorialnya sudah ada tinggal mengikuti lewat sebuah video.


Sosok elegan namun berwajah pucat pasi itu? dengan pandangan berbinar seolah tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya," Zaman sudah berubah? Inlander sudah sedemikian pintar menyerap skill kuliner dari negeriku," ucapnya terkagum-kagum.


Wirasti dengan tenang masih meneruskan memilin pastry dough yang tersisa, sesaat sibuk menaburkan sedikit tepung agar dough yang sudah terbentuk croissantjes tersebut tidak lengket!


Pelan dan hati-hati ia pindahkan beberapa potong croissantjes mentah tersebut pada sebuah loyang, "Sudah ya kamu tangani sendiri croissant buatanmu," seru ibu dari pintu dapur, merasa pekerjaan melelahkan sepanjang hampir 2,5 jam telah selesai.


"Oke siap bu!" balas Wirasti, menggeser langkah sambil sesekali maju mundur di depan oven. Memastikan kue buatannya agar matang sempurna, meski durasi waktu sudah paten tetap saja Wirasti tidak lepas dan pergi dari pantauan.


"Jangan sampai gosong dah!" pikirnya, ekstra hati-hati sekali.


Alhasil? dengan kehati-hatiannya tersebut durasi 30 menit pun berakhir dengan sukses, kini nampak sebuah loyang yang ditarik dan diangkat perlahan dari oven panas sudah berpindah pada suhu ruang!


"Woilaaa!" teriak Wirasti. Si bibi sontak menghampiri meja dapur dengan pandangan takjub, ibu melongok sejenak sambil mengangkat kedua jempol.


Sosok, itu?


Menatap Wirasti dengan ekspresi yang sulit dilukiskan? sulit digambarkan? sulit diterjemahkan? perasaannya langsung meleleh? mengingatkan dirinya pada sekian dekade silam, ketika? masa-masa dirinya sebagai seorang nyonya besar. Kenapa hanya kue, atau kudapan berupa croissantjes itu saja yang melekat dalam memorinya?


Oh, ho? wait, iya tunggu! tunggu! memori sang eks nyonya besar itu hanya terpaku pada satu sisi. Satu sisi saja sudah cukup, kenangnya dengan perasaan pilu. Amat pilu!


Beliau, sang nyonya tersebut memberi impressi. Memori beliau seakan sebuah track record atas apa yang pernah terjadi?


Croissantjes? bukan menunjukkan suatu memorial yang manis seperti sebelumnya dibayangkan oleh Wirasti, "Setidaknya beliau memiliki satu nostagik indah tentang kue tersebut?"


Oh, nee! nyatanya, justru kebalikan dari angannya!


Nyonya non pri tersebut menggelindingkan semua memori terakhirnya terkait, croissantjes tersebut!


"Aku tahu anda seorang nyonya besar dengan sekian bedinde para inlander, yah perempuan pribumi yang setia pada tuannya ... "


"Kesetiaan yang tidak diragukan lagi,"


"Tetapi?"


"Begitu kisah tragis itu terjadi?"


"Para bedinde itu, satu persatu dipulangkan ke tempat asalnya?"


"Sang nyonya besar lebih memilih mengatasi segala keadaan dan kondisi dapur besarnya seorang diri, dia bekerja siang malam tanpa bantuan siapapun. Sang suami sampai kuwalahan membujuk agar nyonya menghentikan aktivitas yang tidak biasa ia lakukan."

__ADS_1


"Beliau nampak overload!"


"Ada satu hal yang tidak wajar, tii ... tii-dak sewajarnya dilakukan, why?"


Wirasti seakan tengah menerawang!


"Apa yang terjadi dengan nyonya?"


"Timbul konflik internal antara dirinya dan sang suami, itu akar persoalannya!"


"Ah, wajar dong! jika sekadar perselisihan biasa!"


"Nggak, nggaak segampang itu menebak konflik internal suami istri ... "


"Lalu, apa?"


"Salah satu bedinde yang ahli membuatkan tiap makanan ala belanda, dan si bedinde itulah menawan dan merebut hati sang tuan!"


Jedaaar! mak, blaaar!


"Really?"


"Tuan sebagai penyuka pastry croissantjes itulah masalahnya, dan si pembuat croissantjes telah menghipnotis dengan daya pukau eksostisnya!"


Astaga? lalu, apa yang terjadi? bisa diduga dengan mudahnya lho. Sungguh kelakuan sang tuan dan si bedinde tersebut amat membagongkan!


"Nyonya menjadi murka!"


"Ketika semua bedinde di rumah besarnya disuruh pulang, disisakan satu bedinde yang tetap tinggal. Konflik psikologis tersebut rupanya membawa sang nyonya menjadi berkelakuan bar bar!"


"Apa yang terjadi?"


"Sang nyonya yang bar bar tersebut pengidap psikopat, sehari dua hari beliau menyiksa sang bedinde malang tersebut membuat secara terus menerus kue croissantjes, hingga timbul niatnya ... "


"Beliau sebagai murder, begitukah?"


"Yah, jatuhnya beliau malah sebagai pembunuh terencana!"


Nahas menimpa nasib si bedinde. Sang nyonya tanpa perasaan mengunci pintu dapur dalam kondisi dapur sengaja terbakar. Sungguh gila, dan miris sekali!


Masihkah ada dendam yang tetap sama? setelah, bahkan melewati sekian dekade? sebetulnya sang nyonya masih menyimpan rasa dendamnya, namun begitu diperlihatkan view era yang jauh melewati kurun waktunya? bahwa, tidak semua inlander sama buruknya? oh-ho rupanya sang mavrouw kepentok seorang inlander di zaman now, Wirasti langsung menarik perhatiannya?


Wirasti dan croissantjes? tidak selamanya kudapan asal negerinya itu memberi kenangan dan sisi terburuknya. Artinya? bolehlah dirinya tetap membawa dendam, tetapi tidak ada salahnya mengatupkan semua kenangan buruk itu walau hanya sejenak?

__ADS_1


__ADS_2