
Wirasti sebetulnya sudah menduga, jauh-jauh hari sebelumnya. Sejak dihinggapi perasaan was was, satu demi satu akan bermunculan yang lainnya?
"Nggak salah," dengus Wirasti, lahan yang tempo dulunya eks kuburan langsung beralih fungsi sekalipun tanah yang dikavling-kavling belum semuanya laku keras, malah sebaliknya sepi peminat!
"Yeah, siapa yang mau?"
"Konyol ajee bikin rumah di atas tanah eks kuburan, kalau bukan yang kemudian merasa terkecoh lahan dengan PJOK setempat yang murmer!"
Astaga, murmer ya? yaa ... iyalah tidak murmer atau murah meriah bagaimana? orangtua Wirasti saja sampai kepincut, bahkan merasa telah ketiban atau kejatuhan durian runtuh! artinya merasa diuntungkan, begitu!
Sebuah rumah, di era sekarang? berapa duit jika harus membeli lahan terlebih dulu untuk kemudian dibangun sebuah rumah di atasnya dengan biaya melejit!
Makanya Wirasti merasa orangtuanya ketiban durian, "Suatu hal yang langka, bukan?"
"Hanya terjadi pada orang yang betul-betul beruntung banget!"
Tetapi, sebenarnya di balik harga suatu lahan, rumah, atau apapun itu? "Biasanya kalau harganya murmer, pasti ada apa-apanya deh!"
Belum juga bibirnya terkatup rapat, insting Wirasti, sudah?
"Iya, kan? iya, kan?"
Kali ini, memang?
"Hem?" reaksi Wirasti, tetapi hanya ia simpan sendiri dalam hati? yah, mana tega mengatakan hal sebenarnya? pertimbangan Wirasti orangtuanya sudah keluar duit banyak plus biaya renovasi rumah yang tidak sedikit hingga rumah villa terbengkalai tersebut menjadi lebih menarik dan amat kinclong!
Namun, "Sayang," batin Wirasti. Kata menyayangkan tersebut tidak sampai merembes keluar, itu artinya hanya dirinya seorang merahasiakan semuanya.
Ck, di balik rumah villa semula terbengkalai itu? dan setelah dibenahi sana sini, yep direnovasi! kerennya sih begitu. Rumah berarsitektur jadul tersebut lumayan terlihat laik huni dah!
"Auranya beda," kata-kata seperti itu boleh dilontarkan, karena ya memang terlihat keluar pamornya dibanding sebelumnya!
Sepintas menjadi, yep sebagai hunian nyaman!
"Mana tempatnya jauh dari keramaian,"
"Klop sudaaah!"
Siapa sangka? ugh, kata keramat seperti itu keluar dari bibirnya. "Siapa sangka," ulangnya lirih, karena di balik rumah nyamannya tersebut tersembunyi sekian kisah mistis yang kadang sulit dipercaya, kecuali oleh mereka yang satu circle dengannya.
Apalagi setelah satu demi satu mulai terkuak, misteri di balik kejanggalan yang mulai terendus olehnya!
"Rumah tinggal dan sekitarku?" tunjuk Wirasti, tersamar, karena tidak secara langsung menunjukkan ada apa saja sebetulnya. Kecuali cara Wirasti menunjukkan secara garis besar!
Malam itu, Wirasti merasa badannya capek semua. Sejak lepas mahrib dirinya sudah berada di muka laptop wajib mengerjakan tugas perkuliahannya, "Huh, harus segera beres!" sungutnya sambil terus menekan papan keyboards dan otaknya terus berputar. Sekian buku referensi bertumpuk di sisi laptopnya dengan posisi tidak karuan?
Iissh, dalam kondisi dirinya tengah fly? ups, istilah nge-fly dicomotnya begitu saja. Wirasti sedang sibuk-sibuknya berkutat dengan tugas perkuliahan, esok hari tugas tersebut harus kelar dan dikumpulkan.
Target selesai tepat waktu? persisnya hingga larut malam pun Wirasti harus merampungkan, tidak boleh tidak! "Bisa gawat tuh!" desisnya, terbayang dosen mata kuliahnya lumayan killer.
"Bukan dosennya yang membuatku takut," bantah Wirasti meski dosennya killer, seakan mendebatnya sendiri pemikiran yang tiba-tiba melintas.
"Mata kuliahnya tuu, yang ... " ungkapnya, menjeda kata-katanya sendiri. Dari sekian mata kuliah, yang paling membuatnya alergi. Entah, kenapa dirinya kurang minat?
Setelah bersusah payah hampir dua jam non stop, Wirasti pun mampu menyelesaikan pekerjaannya walau efeknya kepala nyut nyut dan mata jadi sepet!
Wirasti berangkat tidur sudah larut malam, seisi rumah sudah terlelap. Tidak makan waktu lama, begitu kepalanya nempel di atas permukaan bantal yang empuk seperti kena daya magis, langsung ter ...
Seperti berada pada suasana pagi menjelang mulai merangkak siang. Sebuah kendaraan, sepintas Wirasti setengah terbelalak! berupa mobil jeep yang langsung berdecit dihentikan mendadak persis depan rumah.
"Who?" pikiran Wirasti, sedikit kacau begitu yang turun dari mobil jeep tersebut dua hingga tiga laki-laki semuanya berpakaian seragam army, masing-masing bersenjata!
__ADS_1
Tentu saja Wirasti sempat bingung, tertegun dan amat shock!
Tanpa ba bi bu, salah seorang nenghampiri Wirasti lalu dengan enaknya menggandeng pergelangan tangan Wirasti sambil berkata, "Ayo ikut kami!" sungguh tidak etis, bukan?
Hei, heee ... manner, manner, yah manner mana?" pikir Wirasti, mereka yang tiga orang tersebut dianggap Wirasti tidak punya etittude samasekali. Tetapi, akhirnya musti dimaklum juga mengingat seragam ketiganya?
"Mereka tengah menjalankan tugas, tetapi ngapain sasarannya kok aku sih?" tanya Wirasti, untungnya Wirasti segera sadar, ups!
Sadar? yep, di bawah alam sadarnya Wirasti membiarkan keadaan terus bergulir. Para serdadu kolonial tersebut membawanya ke satu tempat, mobil jeep tersebut terus melaju.
Satu lokasi, entah di mana? Tetapi Wirasti masih bisa memindai tiap jengkal dirinya tengah dibawa ke mana?
Sebuah rumah, Wirasti menduga itu semacam kantor kepolisiaan atau markas militer setempat, beberapa orang nampak mondar-mandir. Anehnya mereka seolah tidak terganggu kedatangan mahluk asing seperti dirinya, why?
Tanpa diproses? jika itu memang satu kantor polisi atau markas militer setempat dan dirinya dianggap bersalah misalnya, tetapi dalam hal apa? salah, ya salah apa?
Sial, gedeg sekaligus dibikin pusing juga memikirkan apa sesungguhnya terjadi?
Belum hilang rasa bingungnya tahu-tahu salah seorang memintanya mengikuti, dia hanya memberi isyarat!
Heran, Wirasti pun seperti kerbau dicocok hidungnya, anehnya pula tanpa protes. Wirasti dibawa ke satu tempat di area gedung tersebut. Entah bagian yang mana? begitu sampai di mulut sebuah ruangan, nampak olehnya sebuah pintu lalu ada tangga lebar menuju rubanah atau ruangan bawah tanah?
"Iya, itu rubanah?" ujar Wirasti, hanya berdesis.
Keheranannya pun memuncak, tatkala sampai di ruangan bawah tanah tersebut? Wirasti dengan smartnya langsung menajamkan sorot matanya berkeliling, memindai dengan cermat!
Pria berpostur tinggi tersebut memintanya duduk, dia menunjukkan satu kursi?
Astaga, Wirasti langsung terbelalak! "Bukankah ini kursi untuk eksekusi?" sontak jantungnya berdegup!
Shitt!
Seketika rasa cemas atau ketakutan menghebat membuat dirinya, shock!
Belum lenyap rasa stress terakumulasi dalam dirinya, seseorang diseret paksa masuk ruangan yang sama. Tanpa rasa belas kasihan sedikitpun seseorang tadi langsung diposisikan dalam keadaan, siap?
Oh, tidak! nee, nee!
Di mukanya, persis di muka Wirasti seseorang tersebut mendapat perlakuan keji dihukum mati. Sentakkan senapan jadul? belum ada senapan otomatis sekelas era zaman now. Ingat, Wirasti tengah didamparkan pada tepian kurun penjajahan belanda tahun 1920-an.
Rasanya, ingin berteriak!
Tetapi, ketika dirinya diingatkan pada satu hal, di alam bawah sadarnya? kembali Wirasti mampu menguasai diri dan bersikap tenang!
"Ah, anggap saja memang hanya mimpi!" dengus Wirasti, namun tak urung rasanya tiba-tiba jengkel yang menggebu ingin ia muntahkan!
Di mukanya, jarak sekian jengkal?
"Serdadu sialan itu!" geramnya ingin sekali mengajaknya duel!
"Huh, emang bisa?" celetuk berupa cibiran tertuju padanya, Wirasti meringis!
"Beladiri taekwondomu, nona? belum sabuk hitam tuh!"
"Itupun masuk club nggak sampai tuntas gitu?"
Wirasti langsung, kecut! "Iya juga, sih!" sahutnya dengan kekehan kecil!
Pada detik kesekian? ada satu aba-aba yang ditujukan padanya, sontak Wirasti geragapan meski tahu semua ini hanya mimpi? tetapi, tetap saja seakan semuanya nyata!
Wirasti bagai terhipnotis, patuh pada instruksi lebih lanjut!
__ADS_1
"Zit daar maar!" seseorang berkata padanya, duduk saja di situ.
What? Wirasti langsung geram, "Enak saja," dumal Wirasti, kesal!
"Maak je klaar!" sebuah suara membentaknya, bersiaplah!
"Gila!" pikirnya, sungguh tidak bisa dibiarkan kesewenang-wenangannya!
"Klaar om te schieten!" satu teriakan lantang, siap tembak!
Karuan Wirasti dilanda emosi, sudah tidak ingat lagi alam bawah sadarnya yang ada di kepalanya jelas menyerupai kompor nyaris meleduk!
"He, gezelschap! Verdomme! uitvoering naar believen spelen?" teriak Wirasti lantang, heh kompeni! Sialan kau! main eksekusi seenaknya?
"Wacht! wacht!" teriak Wirasti murka, tunggu! tunggu!
Sial, mereka tidak menggubris samasekali. Wirasti dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana senjata api tersebut mengeluarkan letupan!
Wirasti terbelalak, amat murkanya! bersamaan dengan suara letupan yang nyaris mengarah pada sasaran? antara hidup dan mati? secara teoristis jarak tembak hanya sekian jengkal tersebut ajalnya sudah di depan mata, shitt!
Wirasti sadar tidak akan bisa mengelak dari anak peluru di mana targetnya adalah, dirinya!
Wirasti masih sadar sepenuhnya, nahas akan menimpanya?
Bersamaan dengan berkelibatnya sebuah bayangan, seakan ia rasakan secepat kilat!
Entah, itu siapa?
Tahu-tahu? ia merasakan dekapan kuat membawanya pergi!
Wirasti nyaris tidak sempat kaget, antara kecemasan dan sesuatu yang menyelamatkan nasib nahasnya? berbaur satu!
Begitu dirinya seolah dilepaskan dari dekapan kuat tadi, posisi Wirasti nyaris oleng. Seseorang seperti mendekapnya kembali, aawwhh?
Mata Wirasti menyipit? sontak kaget dan berusaha melonggarkan dekapan erat sosok yang mulai samar-samar dikenalnya, "He, jij? Jij?" seru Wirasti, amat terkejut, hah kau! kau!
Sosok, atau entitas yang sekian hari lalu dikenalnya itu? dia menyelamatkan dari kecemasan, dari letupan senapan yang mematikan?
"Jij?" ujar Wirasti, menatapnya bingung!
"Zoals je kan zien!" sahutnya, seperti yang kau lihat!
Sekian detik berlalu dengan keheningan, kali ini tidak semencekam apa yang baru terlewati. Wirasti tidak berada di sebuah lokasi, yah lokasi sebuah bunker?
"Bunker eksekusi," sesalnya, kenapa dirinya mesti didamparkan di tempat seram seperti itu?
Seumur-umur baru tahu tentang satu tempat semacam itu, sungguh mengerikan. Berada suatu rubanah, bunker, tetapi sayang bukan sembarang rubanah atau bunker.
Feel Wirasti tertuju pada sebuah tempat eksekusi, yah di situ sebagai ruang bawah tanah agar tersamar? supaya luput dari perhatian?
Wirasti masih termangu, tidak ada percakapan sedikitpun.
Dalam kebisuan diantara keduanya tidak banyak keluar percakapan apapun, ya pria yang ditemuinya tempo hari itulah sang penolong hingga dirinya luput dari target letupan?
"Meski hanya sebuah mimpi? dia mempunyai naluri menyelamatkan seseorang?"
Ck, tetapi kompeni di rubanah atau bunker tadi? Di mata Wirasti tidak lebih mereka algojo!
Yep, algojo? memang beda tipis, algojo secara umum mengeksekusi di tiang pancung atau gantung? mereka sudah lebih modern menggunakan senapan dengan timah panasnya yang mematikan.
"Terselamatkan dari letusan timah panas? dan pria itu?"
__ADS_1
Keheranan Wirasti pun beralasan. Apa hubungannya dengan sebuah bunker dan proses eksekusi di lokasi tersebut antara dirinya atau pria itu? apakah ada sesuatu? setidaknya tautan, atau?