
Nyai? yeah, Wirasti hanya ingin memanggilnya begitu. Siapapun namanya, rasanya lebih familiar jika dirinya memanggil dengan sebutan khas masyarakat tatar pasundan. Nyai? suatu panggilan untuk perempuan yang belum atau sudah kawin atau panggilan untuk perempuan yang usianya lebih tua dari orang yang memanggil.
Nyai, dalam bahasa aslinya yaitu sunda, "nyai" digunakan untuk memanggil perempuan muda atau adik perempuan.
Wirasti tidak bermaksud, bahkan samasekali tidak bertujuan memberi suatu panggilan dengan stigma lain misalnya dimaksudkan seperti umumnya orang memberi panggilan pada perempuan atau gundik orang asing pada masa lampau.
"Sueer nggak bermaksud seperti itu!" kilahnya. Meski ia tahu mereka WN asing belanda sebagai yang dipertuan kala itu beristri pribumi kemudian disebut, gundik.
Sedangkan arti gundik itu sendiri, memiliki dua pengertian. Pertama, adalah istri tidak resmi atau selir, dan yang kedua adalah perempuan piaraan atau bini gelap.
Sedikit lebih jauh tentang sebutan nyai sempat dianggap rendah? keadaan berbanding terbalik ketika di mata masyarakat umum pada saat itu, seorang nyai dianggap rendah, tidak bermoral, karena melanggar norma-norma dengan menjadi gundik seorang terhormat belanda.
Terlepas dari pro kontra, stigma buruk atau apapun itu. Wirasti samasekali tidak berpikir dan tertarik membahas lebih jauh tentang semua itu, sebab yang tengah sarat di kepalanya hanya ada satu nyai!
"Yeah, begitu!"
"Aku nggak mau dengar apapun,"
"Nyai yang kumaksud di sini, bukan nyai-nyai seperti itu!"
Wirasti teringat kembali bagaimana dirinya ditemui si tuan belanda, menyelinap lewat celah kamarnya. Lalu berdiri berdua tepat di sisi pintu kamarnya?
Dengan sang tuan belanda? "Ah, sudah seakrab sobat sendiri dah!" kata-kata itu meluncur begitu saja, meski si tuan tersebut memperlihatkan sikap kaku toh Wirasti bisa mengakrabinya.
"Tinggal, istri pribuminya tuh!" tunjuk Wirasti.
Sepintas Wirasti sempat membayangkan, "Mon maaf, I'm so sorry ... " cetus Wirasti sebelum memulai mengulik sesuatu terkait perempuan yang disinyalir istri pribumi sang tuan belanda!
"Punten, punten pisan ... " Wirasti pun menyusul dengan kata-kata bahasa setempat di mana dirinya tinggal, why? yeah, karena alasan bersinggungan dengan kultur daerah dirinya berdomisili.
"Pardon," ungkap Wirasti tidak asal. Mohon maaf yang jelas ditujukan pada si tuan belanda. Entah dengar entah tidak? pikirnya yang penting sudah menyatakan permohonan maaf secara terbuka.
Ketika Wirasti berkeinginan? atau, sebetulnya ingin memuaskan rasa ingin tahunya terkait perempuan yang pernah diklaim bahwa di bawah pembaringannya, entah berapa meter dari permukaan tanah telah terbaring jasad perempuan yang sangat dicintai tuan belanda atau di situlah makam sang istri puluhan tahun silam?
"Dialah, nyai!" bisik Wirasti.
"Entah, aku selalu ingin memanggilnya begitu!"
"Dia perempuan pribumi di zamannya, aku yakin telah diperistri secara baik-baik oleh tuan tersebut!" bela Wirasti terbit empatinya.
Wirasti seolah pasang badan, merasa tidak terima seandainya ada asumsi buruk atau sekadar pikiran iseng tega menghujat perkawinan beda ras, status dan apapun yang sifatnya julid, lebih-lebih sinisme yang tidak berujung pangkal.
"Masalahnya nyai kurasa hanya orang kebanyakan, atau bahkan lebih rendah dari perkiraanku?" ujar Wirasti mencoba menjembatani suatu keadaan.
Wirasti justru paham sepenuhnya, apalagi setelah seakan dirinya mengenal baik sang tuan belanda. "Mana tega aku tuuu ... " cebiknya sambil mengingat kembali bahwa tuan belanda tersebut sejatinya pernah menjadi sosok yang baik.
Baik? dalam arti ketika Wirasti menangkap suatu memori tuan belanda tentang dirinya, setidaknya itulah yang tercermin dari berbagai sikap dan keteladanan yang seolah ditunjukkan pada Wirasti.
"Kamu terkesan? terkesan apanya?"
__ADS_1
Ups, sungguh pertanyaan yang menyudutkan dirinya secara diam-diam karena menaruh empati. Memori sang tuan belanda itulah yang menyeretnya hingga Wirasti dengan kemampuan ekstranya seolah ditunjukkan semacam hologram, bagaimana sosok sang tuan tersebut memberi suatu gambaran tentang dirinya di hari lampaunya.
Memori sang tuan, ketika insiden terjadi? "Kasihan kau tuan," ujar Wirasti begitu iba!
Seakan dalam penglihatan mata batinnya Wirasti melihat tuan belanda tengah sakit keras, tetapi hanya dirawat seorang jongos dan satu bedinde.
Jongos adalah pembantu laki-laki, sedangkan bedinde konotasi dari kata pembantu perempuan dalam rumah tangga.
Lantas, apa yang terjadi? "Setahuku nyai sudah tiada. Sang tuan sepertinya bertahan hidup sendiri ditemani seorang jongos dan bedindenya ... "
Yep, Wirasti tidak salah ketika memberi ulasan sesuai apa yang nampak olehnya perihal sang tuan belanda tersebut.
Sang tuan ternyata menghadapi masalah besar, terkait aktivitas dan pekerjaannya. Namun tidak disangka jika faktor di internal lingkup aktivitas yang mulai pesat atau melejit tersebut justru menunggu detik-detik kolaps-nya!
Lho, mengapa?
Sang tuan belanda tersebut tidak bisa berbuat banyak atas ketimpangan atau ketidak adilan yang diberlakukan untuknya. Beliau mulanya sebagai kepanjangan tangan dari preanger planters .
Di zamannya sedang maraknya para pemilik modal membidik wilayah pelosok umumnya daerah dengan suhu dan geografis perbukitan nan sejuk permai. Swastanisasi yang berdampak di wilayah koloninya, tanaman teh sedang menjadi komoditas hingga para pemilik modal pun terbawa situasi maupun kondisi tersebut.
Sang tuan ternyata salah seorang yang termasuk pionir melalang ke Hindia Timur, dengan skill dan formalitas pendidikannya bertolak ke Indonesia.
Bertahun-tahun sang tuan malang melintang dalam dunia perkebunan tanaman teh di wilayah priangan timur, hingga?
"Pantas jika beliau borju!"
"Sebagai penggiat membesarkan pengelolaan perkebunan teh,"
Apa lacur? sebuah prestasi kerja yang gemilang tetapi tidak diperhitungkan, bahkan akibat sang tuan mulai jatuh sakit pun tidak berpengaruh samasekali.
"Habis manis sepah dibuang ... " gumam Wirasti sebaris kata-kata bermakna, cukup sinkron dengan keadaan sang tuan.
Karena dirinya sakit keras, maka sang tuan meminta jongosnya dan beberapa orang kepercayaannya menjual hampir semua aset berharganya!
"Untuk apa?"
"Tuan belanda tersebut rupanya dalam situasi kondisi kepepet!"
Kepepet versi tuan belanda tersebut di luar dugaan, ironis sekali ketika para pekerja perkebunan yang dikelola melancarkan aksi protesnya padahal ketika itu tuan tersebut sudah menyatakan resign karena alasan kesehatan.
Rupanya pihak pengelola baru tidak mau tahu justru melimpahkan aksi protes pekerja pada pengelola lama, jadi selama transisi dari pengelola lama estafet ke pengelola baru terjadi kekacauan timbul hingga sang tuan yang dalam kondisi sakit turun tangan dengan bentuk pengorbanan terakhirnya.
"Di situ empatiku," bisik Wirasti sedih.
Beliau sungguh- sungguh membungkam aksi protes dengan pengorbanannya yang luar biasa, property atau kekayaan terbesarnya dilepasnya demi orang lain.
"Sungguh mulia hatimu," bisiknya lagi!
Lain sang tuan lain pula si nyai? yah, itu betul sekali. Sang tuan mati karena di saat penyakitnya kian kronis menggerogoti fisik mulai rentanya, sedangkan nyai?
__ADS_1
Shitt! Wirasti tersetting untuk kesekian kali? yah, tepatnya memang begitu. "Ini, pasti pekerjaan si tuan!" tebaknya tidak asal tetapi Wirasti sudah mengantongi sejumlah bukti?
"Apa maksudmu, tuan?"
"Setiap mengajakku lewat akses teleportasi, atau virtual reflection. Aku mengendus keinginanmu mensetting sesuatu!" tunjuk Wirasti perihal kemampuan di luar nalar.
Dengan setting tersebut si tuan itu pun suka memberi gambaran jelas yaitu tadi berupa, memori!
Seorang perempuan berkain panjang dan rapi bersanggul simpel tahu-tahu sudah berada di seberang meja namun posisi duduk berhadap-hadapan, siapa dia?
Perempuan itu menatapnya dengan sorot mata teduh, Wirasti mengeryitkan alisnya. Cara berpakaian dan berdandan perempuan tersebut jelas dari era jauh!
"Inikah cara si tuan?"
Perempuan berparas manis, mengangguk ragu dan terkesan kaku!
Tidak begitu, lama? perempuan itu tiba-tiba terbatuk-batuk. Wirasti menatapnya penuh iba, "Dia saa ... sa-kit?" tebak Wirasti terbawa melo!
Deg? perasaan Wirasti langsung entah?
Di seberang, tepatnya posisi duduk berhadapan dengannya. Perempuan itu? masih dengan batuk-batuk namun semakin terlihat dan terdengar makin parah.
Deg? kali ini Wirasti terkesiap!
"Nyai, nyai kenapa?" bertanya Wirasti sambil merasa was was. Betapa tidak? perempuan di hadapannya itu terlihat sangat tersiksa.
Ketika? dalam batuknya uhuk uhuk disertai percik kecil darah keluar dari sudut bibir perempuan itu? Wirasti pun kian terkesiap!
Dengan sigap Wirasti refleks meraih entah secarik kain seperti bentuk saputangan di atas meja? segera ia ulurkan padanya, "Sekalah nyai," ujar Wirasti.
Perempuan itu menatapnya takut-takut, tetapi Wirasti merasa meski masih sambil terbatuk-batuk perempuan itu mengangguk santun padanya.
Feel, atau intuisi Wirasti mengarah pada si tuan belanda seolah ingin memberi visual utuh tentang istri pribuminya.
Bahwa nyai? seperti itu kondisi kesehatannya, di zaman itu bisa jadi endemi suatu penyakit TBC atau Tubercoluse masih marak berjangkit bisa pada sembarang orang.
"Bukan hanya nyai? aku semakin yakin, tuan belanda itu pun terkontaminasi. Yah, beliau pasti tertular ... " sesal Wirasti.
Oh? Wirasti hanya bisa berkata, oh? sosok perempuan berkebaya dan bersanggul rapi menunjukkan satu kesederhanaan sosok perempuan pinggiran, kali ini sang tuan belanda itupun mensetting sedemikian rupa tentang sosok, nyai?
Yah, sosok nyai ditunjukkan secara utuh padanya hingga Wirasti mengenalinya. Apa yang diperlihatkan tuan belanda tentang istri pribuminya tersebut menyingkirkan asumsi buruk, setidaknya menepis suatu anggapan stigma seputar perempuan pribumi sebagai gundik dalam arti tanda kutip. "Kurasa nyai tidak seperti itu!" bela Wirasti menyayangkan anggapan orang lain yang sekadar pukul rata selama ini!
"Aku tidak menyesal mengenal nyai,"
"Dia perempuan bersahaja dan santun, tidak menutup kemungkinan nyai merupakan cinta sejati si tuan belanda!"
"Buktinya apa? sekalipun sudah menjadi entitas kesetiaannya tidak lekang dimakan zaman, bahkan ketika sudah beda alam?"
Keharuan menyergap perasaan Wirasti, apalagi ketika? suatu malam di luar hujan lebat dan terjadi angin ribut. Di cuaca buruk seperti itu sering terjadi pemadaman aliran listrik, Wirasti tengah terlelap tiba-tiba seperti dibangunkan seseorang, "Hudang neng, lampu pareum!" artinya, bangun nona lampu sedang mati.
__ADS_1
Suara itu familiar di telinganya, dan seakan Wirasti melihat nyai membawa lampu teplok, atau sejenis lampu minyak untuk penerangan rumah di zaman dulu, Wirasti pun segera terjaga dari lelap tidurnya. Sempat gelagepan karena sekelilingnya memang gelap gulita, "Betul juga sedang mati lampu!" decih Wirasti sambil meraba-raba mencari ponselnya. Nyai membangunkan dirinya dari alamnya sana?