
Wirasti sudah terbiasa dengan segenap rutinitas selepas tengah malamnya, sejak dirinya tercatat sebagai peserta kelas online studi bahasa Perancis yang diakses langsung dari negeri asalnya. Karena itu Wirasti harus sering melek tengah malam dan begadang!
Bahkan kelas online-nya tersebut masih terus lanjut sekalipun Jae-hoo telah meninggalkan dirinya, pertama karena terjangkit covid hingga parah sampai Jae-hoo meninggal. Kedua kemarin, itu? dirinya merasa ditinggalkan (dengan catatan bukan ditinggal sedang sayang-sayangnya, lho!) kalau yang terakhir tersebut, preeetlah!
Alhasil, menjadi satu kebiasaan terjaga before and after tengah malam. Bagi Wirasti saat masuk larut malam menjadi hal biasa, seakan sebagaimana siang, atau sore.
Tidak ada kesan mencekam samasekali, jadi mengingatkan dirinya pada satu peribahasa? ala bisa karena biasa. Hanya perlu diubah struktur dan makna leksikalnya, agar mempunyai arti biasa karena keadaan yang diulang-ulang dialami, jadi sekalipun larut malam atau tengah malam, selepas tengah malam sekalipun dianggap hal biasa.
Kalau sudah begitu, sebetulnya tidak ada yang perlu ditakuti olehnya.
Sesuatu yang mencekam, misalnya. "Ah, semua itu sudah lewat ... " kekeh Wirasti, sempat diingatkan bagaimana dirinya sekian waktu lalu?
Rasanya ingin sekali menertawakan dirinya sendiri, akibat rasa yang sulit dijabarkan ketika itu. Dalam kondisi apa-apa harus dihadapi sendiri, siapa yang tidak was was. Iya, kan?
Pertama menetap di sebuah rumah yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan, Wirasti mula-mula harus tahu dan mengenali medan. Feelnya sudah tidak enak sedari awal mulai mondar-mandir sebelum benar-benar ditempati, karena rumah tersebut beraura lain makanya Wirasti lebih mawas.
Pernah, Wirasti sempat nyalang atau terjaga hampir semalam suntuk. Bukan karena ada sesuatu yang ditakuti, tetapi Wirasti memang merasa harus siaga penuh!
Tetapi, nyalang semalam suntuk? bukan suatu solusi. "Konyol tuh!" cibirnya pada diri sendiri.
Efeknya juga apa? "Mata sepet, kepala berdenyut!" gerutu Wirasti.
"Ah, lain kali nggak usah dituruti keinginan begadang demi konten, eh? demi gangguan mereka yang mengacak-acak pikiran!" cicit Wirasti, ditujukan pada dirinya sendiri yang terlalu lebay.
Tetapi sebetulnya Wirasti sendiri tidak lebay sih!
Yah, mau gimana lagi? mengingat situasi sekitar yang membuatnya ke distract sejak awal.
Sial, pikirnya. Akibat terlalu protect? nyalang sendiri sambil meningkatkan kewaspadaan, bangun kesiangan dan mata benar-benar berasa sepet esok paginya!
Wirasti meringis, sambil mengucek-ucek mata sepetnya. Di tepi pembaringan posisinya masih belum berubah, kepalanya pun mulai agak berdenyut. Huft? serunya. Tidak membiarkan dirinya bermalasan, tidak sampai hitungan dua segera bergeming lalu berniat melesat keluar kamar menuju toilet.
***
Keseharian di rumah villa yang ditempati sekeluarga, sejak mula pertama sudah terasa sekali memancarkan energi aneh. Wirasti berusaha menelisik, "Ada apa, kenapa?"
Semua itu belum terjawab, artinya teka-teki tersebut belum terpecahkan secara clear. Hanya semacam clue, atau perasaan yang tiba-tiba tidak enak. Tetapi Wirasti juga sempat memergoki pemunculan visual nenek-nenek tua, kemudian tengah malam di antara tidur lelapnya sang nenek dalam feel kuatnya bahwa perempuan tua tersebut pastilah dedengkot telah menyambangi dirinya seolah sambil menunjukkan sesuatu pada Wirasti.
Perempuan itu? tidak mengucap sepatah kata pun. Justru Wirasti terhubung dengan semacam cara, telepati. Anehnya kalau akses telepati ada keaktifan kedua belah pihak, ini? tidak!
Apa yang tiba-tiba ada di kepala Wirasti, adalah? sang entitas berwujut nenek tua tersebut seolah menunjukkan tembok sebelah timur persis sebagai pembatas ruang toilet di luarnya. Area tersebut ditunjukkan sebagai, gerbang keluar masuk?
"What?" seru Wirasti, kaget!
Antara percaya dan tidak? jadi selama hampir sekian pekan dirinya satu ruang dengan, portal gaib?
"Kenapa aku nggak ngeh, ya?" desis Wirasti tidak sadar samasekali. Tetapi anehnya pula andai itu sebuah gerbang? minimalnya ada suara berisik?
Yah, memang bukan suara berisik seperti yang bisa didengar telinga awam yang serba telanjang. Biasanya Wirasti paling peka jika ada kegaduhan sekecil di sekitarnya.
"Ini kok tidak samasekali, seperti kedap saja!"
__ADS_1
Astaga kalau tidak ada suatu kemunculan, sang nenek tersebut? "Ah, mungkin sampai hari ini nggak tahu menahu ... "
Lantas, apa kelanjutannya? dengan sekali munculnya tidak secara langsung? bahkan hanya merasuk dan mendistrack lewat celah- celah pikirannya. Apakah kemudian mulai bermunculan sesuatu yang tidak ia harapkan?
"Kurang lebih begitu, hem!" ujar Wirasti, ditunjukkan beberapa keganjilan satu persatu atau kadang secara bersamaan menyatroni dirinya. Tepatnya menghampirinya, atau kadang ada yang secara frontal terang-terangan menunjukkan visualnya!
"Mereka agaknya masih fase warming up!"
"Masih ingin bermain-main rupanya,"
Mulai dari kemunculan berupa ectoplasma yang ia jumpai di kamar mandi, berupa asap tipis memenuhi seluruh ruangan toilet.
Hal itu? cukup mengherankan, "Aku tidak merasa bawa-bawa air panas ke toilet!" gusar Wirasti, noted ruang toilet di rumah Wirasti masih jadul. Tidak ada shower yang mengalirkan air panas atau dingin, semua masih serba tradisional.
Itu sebabnya, ketika pagi-pagi hujan turun suhu udara di musim penghujan menurun drastis. Wirasti berniat mandi, namun di seluruh ruang toilet seperti tempat mandi sauna. Seakan seluruh ruangan diliputi asap, namun tidak berlangsung lama.
"Setahuku itu ectoplasma!"
"Itupun hanya berlangsung sekian detik,"
Wirasti tahu persis situasi fenomenal seperti itu terjadi pada tahapan pemunculan aktivitas astral.
Fase yang ia tahu pertama disebut orbs, visual tersebut muncul dalam bentuk ketika kita melakukan pemotretan di suatu lokasi lalu timbul hasil jepretan kita tersebut terlihat aneh.
Paling sering akan muncul semacam bercak atau lingkaran putih, sering terlihat pada hasil foto yang mempunyai resolusi tinggi. kadang menyerupai bola kecil hingga besar.
Untuk mencari atau mengetahui orbs, ambil foto dengan kamera beresolusi tinggi arahkan di tempat atau lokasi angker, seperti kuburan, rumah angker dan sebagainya.
Itulah pemunculan visual dan aktivitas tak kasatmata. Orbs diyakini sebagai fase awal penampakan hantu, fase berikutnya ectoplasma kemudian yang terakhir vortex.
"What? maksud elo siang bolong saat orang beraktivitas?"
Yah, Wirasti pun ngomong apa adanya!
"Emang ada hantu nongol di siang bolong?"
"Lho? emang kenapa?"
"Aneh ajaah!"
"Akan nggak aneh karena itu realita, kebanyakan siang hari cuma sat set!"
"Oh?"
Apakah memang betul rumah villanya menyimpan teka teki? bahkan menjadi spot, Wirasti sendiri juga merasakan sekali. Terlebih suatu hari, malam tambah larut pengantar tidurnya ditemani simphoni alam di luar sana?
Selain suara kodok yang berisik, suara krik! krik! krik! benar-benar mengantar Wirasti hingga terlelap.
Entah, kondisi antara terlelap tetapi dirinya merasakan tiba-tiba terjaga. Ataukah semua itu di bawah alam sadarnya saja?
Wirasti seakan diarahkan pada sesuatu, seperti merasakan rasa kantuknya hilang!
__ADS_1
Belum hilang rasa keheranannya, seperti ada yang menyelinap masuk kamarnya. Wirasti tersentak, dengan posisi masih terbaring menatap arah pintu. Menyipitkan mata berusaha ingin lebih jelas melihat siapa? ya, siapa?
Deg! Wirasti merasa sempat kaget. Demi apa yang nampak di sisi pintu?
Visual yang tidak lazim? Ia pikir ada orang menyelinap masuk kamarnya, tetapi pemunculan yang satu ini? nyaris bikin copot jantungnya!
Pemunculan yang tidak ia harapkan itu sudah berada di sana, seperti tengah terhipnotis pandangan Wirasti tertuju ke arahnya!
Ada dua sosok, berdiri di sisi pintu. Seakan menggunakan cosplay jadul, mengingatkan pada satu era lampau!
"Hantu," batin Wirasti. Keduanya nampak tembus pandang, tembok di belakang keduanya masih bisa terlihat olehnya.
Dua sosok tersebut laki-laki dan perempuan, dan sosok yang laki-laki tersebut menariknya bukan dari kalangan pribumi? nampak sekali dari perawakannya, rona kulit, warna rambut? semuanya bukan karakteristik orang setempat!
Hei, posturnya tinggi sekali? Wirasti terkesan dengan kostum yang dikenakan laki-laki tersebut, cosplay jadul ala tempo? "Ini sih zaman, eh? apa iya, era kolonial?" tebaknya langsung membidik kurun baheula.
Laki-laki tipikal bule tersebut bagi Wirasti sudah tidak asing lagi, tebakannya pasti ghost nederlander? tetapi, perempuan di sisinya tersebut siapa?
Perempuan bergaun panjang white broken hitam, rambut terurai? tipikal perempuan lokal. Penglihatan Wirasti tidak mungkin salah, ataukah perempuan tersebut istri pribuminya?
Terlihat berdiri di sisi sang ghost belanda tersebut nampak mesra, posisinya menggandeng lengan si tuan belanda tersebut. Tebakan Wirasti tidak mungkin salah!
Belum banyak otaknya muter-muter perihal dua sosok aneh tersebut, tahu-tahu Wirasti seperti diserang kantuk yang menghebat? apakah dirinya sedang terhipnotis? tidak pernah seaneh ini?
Terlelap kembali? tetapi Wirasti mengalami suatu keanehan, ia bisa sadar sepenuhnya bukan semacam indikasi sleep paralaysis, bukan! bukan!
Melainkan mimpi yang seakan, nyata sekali. Tahu-tahu? pria tipikal bule usia paruh baya tersebut sudah muncul di hadapannya tanpa ba bi bu? tentu saja untuk kesekian kalinya Wirasti dibikin, deg?
"Wees niet bang," ucapnya ditujukan pada Wirasti yang masih belum hilang rasa kagetnya.
"Ja? " sahut Wirasti, aneh? kata pendek tersebut sebagai ungkapan, ya? dengan aksen bahasa negeri kincir angin!
"Darimana aku belajar bahasa belanda?" pikirnya penuh keheranan, ketika si tuan belanda tersebut mengatakan sesuatu padanya pun langsung tertangkap jelas olehnya.
Tanpa basa-basi pria paruh baya berwajah pucat tersebut berkata-kata lagi secara to the point? "De plek waar je slaapt ... " begitu katanya, artinya tempat di mana kamu tidur itu.
Lanjutnya, "Daaronder is de rustplaats van mijn vrouw," itu yang diucapkan, artinya di bawahnya merupakan tempat istirahat istriku.
Hahh, gubraak!
Wirasti bukan hanya kaget? karuan merasa shock. Apa yang beliau ucapkan sebagai satu penjelasan bahwa di bawah tempat tidurnya?
Iya, seolah dibukakan penglihatan mata batinnya? ternyata, ada kuburan seseorang dan itu tepat posisinya di mana setiap hari dirinya terlelap di situ, ohh?
Sontak? Wirasti terbangun, terjengit! sekian detik mencoba mengingat-ingat kembali? sekian detik lalu, telah ditemui si tuan belanda? sebelumnya sempat menunjukkan pemunculannya secara nyata di sisi pintu kamarnya? tetapi dengan jurus menghipnotis dirinya menyeruak membawa ke alam mimpi?
"Mimpi, tetapi seakan nyata?" batin Wirasti masih agak shock dengan apa yang dialami dan memaknai percakapannya dengan sang ghost nederlander tersebut. Apa pasal? yep, apa yang beliau katakan itu?
Wirasti langsung mengkaitkan dengan situasi lain? kecurigaannya terhadap lokasi areal sekitar rumahnya. Mungkinkah, ini salah satu petunjuk?
Ketika sang ghost tersebut mengatakan lokasi tepat di bawah tempat tidurnya adalah sebagai tempat isirahat istrinya, apakah tidak menutup kemungkinan dihampir semua areal yang ada tidak lain, lokasi eks kuburan?
__ADS_1
Wirasti langsung, merinding! betapa tidak, bukan? shitt, berarti jika semua itu benar. Satu petunjuk ia peroleh dari si tuan belanda tersebut yang mengklaim tempat istirahat istrinya lalu menggiring dirinya pada satu opini eks kuburan?
"OMG," seru Wirasti. Huft, sekuat apa nyalinya? sudahkah teruji? bahwa mentalnya harus siaga penuh sekarang, akan terjadi? ya menghadapi berbagai kemungkinan? bukan serangan fisik melainkan psikis. Telah bersiapkah, Wirasti?