Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Cinta Segitiga


__ADS_3

Siapa sebenarnya entitas perempuan itu? who is? yah, siapa dia? apa yang terjadi? apa kaitannya dengan istri si tuan? kenapa seolah ada satu teka-teki yang mendistraksi dan kemunculannya itu nyaris bersamaan dengan memori tuan belanda tersebut yang sampai padanya?


Keheranan, heran tetapi dalam arti tanda kutip jelas berbeda sekali dengan rasa keheranan tanpa dibubuhi tanda apapun. Wirasti merasakan hal pertama, keheranan mencapai ******* yang ia sendiri sulit menterjemahkan.


Perihal entitas untuk kedua kalinya muncul dan sudah tentu mengusiknya!


Meski pemunculan pertama hanya membuat dirinya merasa heboh sendiri, bayangkan jika tiba-tiba nampak visual? seraut wajah dari balik jendela kaca ekspresinya terbaca sedih, apa tidak bikin deg deg seerrr?


Celakanya, muncul berikutnya dengan fashion cosplay gaun para pemeran film The Nun? ya, kenapa begitu? jawabnya simpel gaun panjangnya warna hitam itulah selalu mengingatkan scene di film tersebut!


Lantas yang ada di kepala Wirasti gambaran utuh para pemeran film The Nun, astaga yang keranjingan film The Nun? Wirasti bisa berulang kali memutar video film tersebut seakan tanpa bosan.


"Perempuan itu, dia kurasa perempuan yang sama!" tebak Wirasti berdasarkan feelnya!


Bukti akuratnya bisa terdeteksi olehnya, bahwa entitas tersebut betah ngendon di area kamarnya sejak pemunculan pertamanya. Lalu berikutnya kali kedua langsung secara terang-terangan menampakkan dirinya secara jelas, larut malam dalam posisi jongkok membelakangi Wirasti.


"Entitas itu, masih ingin main tebak-tebakan rupanya!" decih Wirasti, menandai pemunculan keduanya dengan meninggalkan kesan miris!


Kedua telapak tangannya berdarah-darah bukan akibat terluka, oh tidak!


Ketika Wirasti seolah mengganti peran dirinya dalam mode flip, entitas tersebut terlihat membolak-balik tangannya yang berlumuran darah segar!


Selain, seakan ber-adegan berdarah-darah begitu? entitas tersebut meyakinkan sekali dengan akting kedua telapak tangannya bergetar?


"Untung dah, dia nggak berbalik arah!" ujar Wirasti, rada was was juga. Siapa tahu muka seremnya diperlihatkan seketika!


Blaaar!


"Untungnya enggak!" kekeh Wirasti, merasa konyol sendiri.


"Bisa membuatku judeg!" sambungnya kemudian, sempat membuat Wirasti memang rada jengkel sepintas dirinya merasa diajak kucing-kucingan.


Ketika tebakan Wirasti meleset, samasekali tidak ada upaya memberi clue sedikitpun hingga Wirasti kalang kabut mencari cara untuk secepatnya mengetahui siapa dia?


Wirasti sulit nge-track, entah kenapa? setahunya jika ada satu hal yang serupa begitu tidak lama akan terkuak dengan sendirinya. Tetapi ini, kok tidak?


Wirasti pun mencoba bersabar hati. "Biasanya," pikirnya, sialnya tidak ada petunjuk lain yang bisa berperan sebagai telik sandi atau setidaknya seperti pengintai!


"Ah, mana ada?"


"Ah, gimana sih?"


Wirasti pun hampir putus asa bahkan akhirnya dilupakan begitu sajakah?


Hingga, setelah sekian hari berlalu. Are you still? ups, masihkah? yah, masihkah dirinya menyimpan rasa kepo, eh penasaran?


"Ben je nog?" kalimat pendek tersebut melintas di kepalanya, eits.


Telepati antara pola pemikirannya yang tengah mengangan-angankan suatu hal agar terjawab itukah menghubungkan dirinya dengan si tuan tersebut? karena Wirasti yakin nara sumbernya pastilah, beliau!

__ADS_1


Tuan Belanda pun tidak perlu repot-repot memberi konfirm seputar keingintahuan Wirasti ketika mengulik apa yang membuatnya terlalu ingin tahu, terutama yang terkait tuan belanda tersebut dengan sang nyai ditambah atau plus apa yang berputar-putar nyangkut di rongga kepalanya karena feel Wirasti entitas yang sempat muncul di sudut kamarnya ada kaitannya dengan si tuan dan nyai.


"Wil het ook nog weten?" celetuk tuan belanda tersebut seakan menghadang dirinya, masih ingin tahu juga?


Yep, kenapa beliau langsung nyeletuk begitu? karena radar gaibnya mungkin telah menangkap gelagat Wirasti yang meresahkan?


"Vergeef me," buru-buru Wirasti mengatakan, maafkan saya.


Olalaa, si tuan belanda tersebut langsung terbahak!


"Waarom?" tanya Wirasti cepat, kenapa?


"Nee, nee ... " balasnya, tidak, tidak.


Mungkin sang tuan tidak mau banyak nyerocos padanya? atau, barangkali memang ada satu pertimbangan lainkah?


Yep, lewat akses semacam telepati itulah mungkin dianggap sebagai langkah jitu?


"Biar efisien, huh?" gerutu Wirasti, asal!


Memori tuan belanda tersebut bagai menggelinding, di rongga kepala Wirasti seakan sarat? mula-mula gambaran utuh menunjukkan seseorang di masa lalu mengaduk-aduk pikiran Wirasti, yah? "Bukankah, dii ... dii-a?" refleks terlontar tanya, begitu visual utuhnya tertangkap penglihatan mata batinnya!


"Nggak salah," batin Wirasti, dugaannya tidak meleset!


Memori tuan belanda tersebut seakan runtut menunjukkan siapa dia?


Antara nyai dan entitas bergaun hitam tersebut bertalian darah, kenapa nyai sampai jatuh sakit separah itu? bukan akibat kronisnya virus TBC yang kian mengganas namun ada unsur penyerta lainnya yang memperparah fisik rapuhnya.


"Nyai merasa ditelikung," Wirasti berdecih, yah persisnya begitu. Memang sang nyai ada penyakit bawaan tetapi faktor X pun bisa dengan sendirinya memperparah keadaan, bukan?


"Menikung ala jadul?" ujar Wirasti ketus, yah rupanya entitas bergaun hitam itulah pelakunya!


Busyeet dah!


Entitas bergaun hitam tersebut sebetulnya sepupu nyai dan ikut tinggal atau numpang hidup di situ, peluang seperti itu dimanfaatkan rupanya. Atau memang niat jahat sudah ada di kepalanya.


Sebagai perempuan antagonis tipe penggoda, entitas tersebut tanpa pikir panjang sebagai penggunting dalam lipatan? tuan belanda tersebut bukan tidak mengendus gelagat menyesatkan sepupu istrinya.


Nyai meninggal dengan cara amat tragis setelah diberi minuman beracun oleh sepupunya tersebut, terkandung niat atau ada unsur kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain.


Seorang bedinde setia di kediaman sang tuan pun bereaksi. Sepupu nyai tersebut nyaris diringkus pihak berwajib dari distrik setempat, namun sayang si sepupu tadi cepat bertindak!


Dia jauh lebih cepat bertindak lain, "Bundir ... " di rongga kepala Wirasti sempat berkelibat sosok perempuan melakukan aksinya!


"Bunuh diri, mengiris sendiri nadi di pergelangan tangannya ... "


Wirasti pun baru menyadari, "Itukah sebabnya? saat kali pertama melihatnya, dia sedang membolak-balik telapak tangannya yang berlumur darah?" pikiran Wirasti langsung tertuju ke sana!


"Cinta tak sampai, endingnya dia malah bundir?"

__ADS_1


"Sedangkan nyai sebagai satu korban ... "


Wirasti belum bisa menyimpulkan secara tuntas, kisah cinta segitiga tersebut masih terpenggal-penggal seperti puzzle. Hanya atau baru berupa kepingan-kepingan, "Aku belum mencoba konfirm pada tuan belanda," kata Wirasti, dari nada bicaranya terkesan antusias ingin memburu penjelasan yang lebih akurat dari yang bersangkutan.


Apakah tuan belanda tersebut akan sudi berbagi cerita? setidaknya persoalan seruwet itu akan terasa tidak menjadi sebuah gumpalan beban hingga terbawa ke alam baka?


"Ah, entahlah!" cebik Wirasti, kadang rada pesimis juga mengingat sang tuan bukan tipikal fair. Kelihatan sekali tipe orangnya penutup!


"Begint u veel te vragen, juffrouw?" tuan belanda tersebut belum apa-apa sudah menunjukkan jurus mematikan, hingga Wirasti gugup!


"Kamu mulai banyak tanya, nona?" itu yang diucapkan olehnya.


Wirasti langsung merespon, "Nou, sorry als je het niet leuk vindt ... " ucap Wirasti, yah maaf kalau tuan tidak berkenan.


Kemudian dalam hati Wirasti sebetulnya ingin tahu, sejauh apa cinta sang tuan tersebut pada nyai ketika ada terjangan angin ****** beliung?


Yah, maksudnya ketika timbul persoalan ada ancaman pelakor di tengah rumah tangga mereka?


"Hij is mijn ware liefde," ujar tuan tersebut, mencoba menepis anggapan buruk. Dia? maksudnya nyai adalah cinta sejatinya!


Oh, Wirasti ingin sekali terpekik!


"So sweet!" pujinya, sontak!


Sedari awal dirinya sudah menaruh empati pada sosok nyai, ternyata feelnya benar! bahwa nyai adalah perempuan baik.


Empati Wirasti tidak akan beralih, "Apapun alasannya, sungguh tidak bisa dibenarkan intrik-intrik yang timbul dengan kelakuan sepupunya,"


"Sungguh biadab dia!"


"Semaunya sendiri menghilangkan nyawa orang!"


"Yah, apapun alasannya!" geram Wirasti, terbayang entitas yang muncul di sudut kamarnya tersebut ternyata seorang pelakor yang ingin merebut suami sepupunya sendiri, beuh!


"Misalnya tuan tersebut goyah pendirian, pelakor seperti itu akan terus merajalela, bukan?"


"Untunglah yang batil akhirnya menemui karmanya!"


Dalam penglihatan selanjutnya, Wirasti seakan menelusuri kepingan kisah yang terpenggal. Seakan dirinya mulai nge-track? sosok nyai yang terdzolimi sepupunya sendiri, bagaimana seorang nyai harus menyabarkan diri dalam kondisi sakit masih harus menghadapi realitas pahit?


Entitas bergaun hitam tersebut nampak over akting tiap kali berada di dekat suami sang nyai, sementara nyai dalam kondisi sakit parah tak berdaya melakukan apapun lagi.


Mungkin, ketika merasa ajal hampir tiba? nyai pun nyaris mengucapkan sepatah kata? timbul keberanian seorang bedinde yang sangat setia padanya, mengurai kata atas kesaksiannya.


Terbukalah kedok sepupu nyai tersebut? namun, jiwa sang nyai sudah tidak terselamatkan!


"Nyai meregang nyawa," sesal Wirasti perasaannya terbawa sedih.


Drama cinta segitiga atau cinta tak sampai itupun berakhir tragis, nyai pergi hatinya terluka sedangkan sepupunya tersebut membawa pergi keputus asaannya. Dia melakukan aksi bundir demi ingkar dan lari dari tanggung jawab telah menghilangkan nyawa sepupunya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2