
Apa yang tengah berputar-putar di kepalanya detik ini? beuh, Wirasti seolah diingatkan kembali pada ujung temu, meet and meet? tepatnya sih temu dan kenal. Persisnya dengan seseorang, eh? entitas!
Siapa lagi kalau bukan sang nyonya non pri, alias beliau mavrouw wie!
Iishh? gampang ditebak, kan? iya, masih segar dalam ingatan. Bukankah baru kemarin? yeah tepatnya sih begitu. Ketemu langsung memberi suatu kesan, "Itu sih sudah seperti cerita klasik, kan?" kekeh Wirasti, dirinya masih ingat bagaimana sang nyonya tersebut langsung menunjukkan ketertarikannya pada pastry yang tergeletak di atas piring dan ada diantara kue lainnya.
"Logis, ah!"
"Pastry-pastryan emang dari sono asalnya!"
"Terutama negeri kincir angin meski tidak menutup kemungkinan negeri yang lain di Europe sama luar biasanya dengan warisan kuliner unik kue pastry!"
"Croissantjes," desis Wirasti, biasa dikenal dengan sebutan croissant. Nyonya non pri itulah yang mengatakan demikian, croissantjes!
Woilaa? Wirasti langsung ingat sesuatukah? sudah jelas terkait pastry, iya ragam pastry tentu saja. Itu salah satu yang mengkaitkan Wirasti, ibunya dan vibes dirinya masih kecil dulu!
Dari Bandung city Wirasti tidak perlu nenteng bawaan sebagai oleh-oleh atau buah tangan, kalau urusan camilan, snack atau makanan siapapun di keluarganya tidak terlalu getol misalnya bepergian dari suatu tempat harus pulang bawa buah tangan khas daerah tersebut misalnya. "Nggak seperti itulah," ujar Wirasti, tetapi bukan berarti menolak atau tidak samasekali.
"Kalau sekadar croissant? nggak perlu harus secara spesial untuk oleh-oleh sih!" dalih Wirasti, karena jenis pastry seperti itu dengan mudah sering dibuat sendiri oleh ibunya.
"Termasuk pastry bolen pisang!" imbuh Wirasti, jadi tidak perlu mahal-mahal beli bolen yang terkesan branded!
Wirasti kembali mengenang satu momen di resto hotel pagi kemarin sebelum dirinya cek out siang harinya, "Entah kenapa harus terus kuingat!" bisiknya.
Pastry croissantjes dan sang mavrouw wie, itukah? masih terbayang-bayang bagaimana perempuan non pri tersebut mengatakan sesuatu, dia mengajaknya dialog?
Semakin banyak dipikir semakin dirinya merasa ada yang nyangkut? yep, tersangkut? iya, kerap mulai memenuhi ruang benaknya.
Sebagaimana dulu-dulu? jika dirinya terhubung dengan sesuatu yang sifatnya tak kasatmata, di rongga kepalanya akan sarat dan berputar-putar hingga terjalin koneksi intens dengan mereka!
"Akankah terjadi dengan mavrouw wie?" hati Wirasti penuh tanya seraya memikirkan kelanjutan apa yang kelak ia temui seandainya sang nyonya non pri tersebut muncul kembali dan terhubung dengannya.
Beberapa scene konektivitas dirinya dengan beberapa entitas terdahulu, tiap kali bersentuhan dengan mereka dari dimensi lain tiba-tiba kembali menyeruak.
Siapapun mereka? "Mereka umumnya menambah perbendaharaan kekayaan batin, menurutku sih begitu!" tandas Wirasti, itu yang ia rasakan setiap kali terhubung dengan mereka.
"Aku telah menandai mereka," ujar Wirasti, terbayang kembali bagaimana Wirasti kala terbekap sekaligus terjebak pada satu medan magnet? hingga dirinya mengetahui banyak hal tentang mereka.
"Mereka dengan kisah lampaunya serta aktivitasnya itulah yang justru menjadi kekayaan batinku kian bertambah!" akunya, dengan suara datar.
"Seperti halnya manusia biasa yang masih hidup dengan berbagai kisahnya, entitas manapun akan mempunyai kisah beragam pula, aku di sini? bisa mencermati tingkah laku dan kesan atas apapun yang mereka lakukan. Baik atau buruk, bagiku semua itu memberi pelajaran hidup ..." demikian Wirasti, ketika mulai merasa kerap bersentuhan dengan mahluk dari dimensi lain.
__ADS_1
"Manfaat apa yang langsung terasa olehmu?"
"Manfaaf?" ulang Wirasti, baru kali ini keberondong oleh macam pertanyaan yang membutuhkan dirinya berpikir tidak hanya sekali terus selesai?
"Dengar, eh Wir?"
Wirasti memoyongkan sedikit bibirnya, satu pertanyaan terlontar dan tidak terduga samasekali. Cukup kelabakan juga sih! hehee apa itu yang menyebabkan bibir tipis Wirasti dibuat semonyong mungkin? beuh.
Sebelum mencoba mengungkap dan membeberkan suatu yang melintas untuk kemudian ia canangkan sebagai jawaban, Wirasti mengikuti intuisi tajamnya!
"Hm, nilai kebermanfaatkan kupikir dalam hal apapun akan selalu ada ya, tidak terkecuali apa yang tengah kualami. Beberapa kali terhubung dengan mereka sekecil apapun eksistensi mereka, lebih-lebih ada nilai-nilai sekecil apapun kita ambil dan sudah tentu bisa jadi menular. Iya menularkan entah itu apanya? tapi aku lebih suka pada hal baiknya! biarlah yang menular itu hal-hal baiknya!"
"Itu kamu tahu! tahu ... gitu, ehmph?" disebut begitu Wirasti tidak tahu harus bereaksi seperti apa? bukan males menanggapi namun lebih membuat dirinya baper!
Alhasil Wirasti pun selalu menelorkan rasa empatinya, ia rasakan pernah pada fase menantang begitu, satu entitas menghampiri dirinya dengan segenap entah itu manipulatif entah bukan, sejauh itu Wirasti hanya mempercayai atas gerak-geriknya saja dipadu sikap yang mereka tunjukkan padanya.
Kadang seorang Wirasti merasa linglung acapkali menemui entitas-entitas yang mengitarinya serta kemudian timbul ragam tanya? ragam tanya yang tentu saja berputar-putar di rongga kepalanya.
Bagi Wirasti tiap entitas yang datang menghampiri sudah terprediksi bahwa mereka selalu menorehkan kesan atau impressi beragam pula, tidak jarang malah memberinya semacam teka-teki sudah macam plot twist saja!
"Mending kalau teka teki silang masih bisa dicari sinonimnya," seloroh Wirasti, sambil nyengir!
"Kerap mereka malah menyisakan problem!" tambah Wirasti, maksudnya kemudian tidak menuntaskan kisahnya. Yah, ditinggal begitu saja? persis suatu proyek mangkrak!
"Iiih model begitu paling menyebalkan, sudah capek-capek minta diikutin tahu-tahu terpenggal di tengah jalan!" gerutu Wirasti.
"Terkoneksi dengan mahluk begituan yaa ... harus, emph? melatih kesabaran juga tuh!"
"Walau, kadang menguras emosi juga!"
"Untungnya aku tuuu ... punya stock ekstra sabar," kekeh Wirasti, sambil berkata begitu tawa kecilnya langsung lepas.
Kali ini? dirinya tengah mendeteksi si nyonya non pri rupanya? iya, mavrouw wie tersebut siapa lagi!
Ketertarikan Wirasti sungguh beralasan lho! pasalnya sang mavrouw tersebut sambil bawa-bawa, kesukaannya terhadap kudapan ala asal negerinya tuh!
Macam Wirasti langsung ter-impressi!
"Asal tahu, kan? aku tuh paling demen dan paling gampang terpikat hal-hal berbau kuliner!" akunya, kenapa dirinya langsung terpikat dengan sang mavrouw?
"Oh-ho, seakan ada chemistry gitu ya?"
__ADS_1
Senyum Wirasti, lepas!
"Huh pasti croissantjes tuh biang keroknya, bukan?"
Senyum Wirasti makin lebar, lalu sambil kekehnya? "Iyalah, sudah kubilang juga apa? aku tuh getol kalau sudah urusannya makanan!"
Woilaa, tabok jidat dah!
Alhasil? sedikit ketebak. Wirasti mengulik-ulik secara intens, karena sang mavrouw lebih punya ettitude. "Bermanner beliau tuu!" puji Wirasti. Artinya tidak raib dan terus raib selamanya, buktinya juga apa?
"Beliau menguntitku hingga pulang dan sampai di rumah!" tegas Wirasti.
Wirasti bisa mendeteksi, seberkas sinyal itu? lantas radar gaibnya menangkap pergerakan sang mavrouw tatkala dirinya di atas mobil grab yang mengantarnya pulang, siapa coba? yang terlihat duduk dengan rileksnya di jok belakang? Kebetulan Wirasti memang memilih duduk di sisi pak driver, dirinya suka pusing kalau naik mobil duduk di jok belakang.
Perempuan bersanggul kecil menyerupai bentuk sanggul cepol, dengan style cepolnya agak terangkat ke atas. Anak rambutnya sebagian terlihat mempermanis bentuk wajah ovalnya, perempuan paruhbaya tersebut masih terlihat cantik di usianya yang telah flamboyant. Apalagi mengenakan gaun berkrah renda, lengan panjang tepat dikedua pergelangan tangannya pun nampak sekali juga diberi pemanis renda.
Kulit putihnya? sayang sekali terlihat memucat, "Kalau itu sih wajar, visual entitas rata-rata ya begitu!" ujar Wirasti, mulanya agak bergidik dengan penampakan sang mavrouw untuk pertama kali.
"Itu mah masih mendingan!"
"Daripada yang tempo hari,"
Astaga? iya betul, Wirasti kala itu sempat mengantar ibunya bepergian naik mobil grab juga. Pulang belanja dari swalayan terbesar di kota kecilnya, "Ah, biasa belanja bulanan. Bawaan cukup banyak nggak mungkin bawa motor sendiri apalagi berboncengan dengan ibu ... " jelas Wirasti, saat perjalanan pulang itulah hari sudah hampir mendekati waktu isya' posisi Wirasti duduk di samping kursi driver tanpa sengaja mencuri pandang ke jok belakang?
Tepat di sisi ibunya, duduk menyamping satu jok di sisi kanan tepat di belakang kursi driver. Wirasti menangkap satu visual, "Siapa dia?" pikirnya penasaran sekali jika hanya melihat sekilas dengan ekor matanya.
Shitt? sosok perempuan, seperti umumnya mereka bergaun putih dan sudah tentu? Wirasti menutupi rasa kagetnya secara refleks ber-istighfar!
Visual bentuk perempuan itu tidak nampak jelas wajahnya, karena situasi dalam mobil lampu padam. Hanya sesekali ada sorot terang dari luar, perempuan itu dalam posisi duduk menyandar. Huh, gesturnya menyebalkan!
"Persis orang ... "
"Misal posisi orang sedang pingsan, atau eh? anu, ah tidak! tidak!"
"Yah, kelihatannya memang begitu. Serem, hihh? jadi kalau itu misalnya orang tengah pingsan atau, mati? posisinya serba nggak enak dilihat!" jelas Wirasti menggambarkan apa yang sempat ia lihat.
Wirasti seketika sadar, bahwa di situ ada ibunya yang tengah duduk berdampingan dengan entitas tersebut. Hanya itu yang ia khawatirkan!
Hingga turun dari mobil grab, dan Wirasti menurunkan barang belanjaan dari bagasi masih sempat mencuri-curi pandang, tetapi tidak ada ceritanya visual semacam itu mampu bertahan hingga berjam-jam, bukan?
BTW, beda lagi dengan sang mavrouw penyuka croissantjes? rupanya beliau ingin berkelanjutan terhubung dengannya? "Daya tarik apa yang membuat nyonya non pri terus menguntitku?" kekeh Wirasti, rasanya seperti lucu saja ada hantu terus ingin mengikutinya hingga pergi agak jauh keluar kota?
__ADS_1
Sang mavrouw ia lihat melalui mata batinnya nampak sat set masuk rumahnya sambil sesekali menembus tembok keluar masuk ruangan, "Wadidaw?" batin Wirasti, merasa baru kali ini ada hantu blusukan di rumahnya. Ups, yep blusukan!