Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Sentimen Negatif


__ADS_3

Oh-ho, suatu hari setelah melewati sekian dekade? ternyata ada cucu buyutnya termakan konflik history, menjadi sosok si paling merasa terlanggar martabatnya? ketika mencermati kasus per kasus sisi lain dan intrik seputar nasib perempuan pribumi sebagai hanya gundik-gundik si tuan belanda.


Tahu, bukan? arti gundik tak ubahnya selir, atau kadang bernuansa negatif sebagai perempuan simpanan semata. Konotasi buruk semacam itulah yang menghantui pikiran Wirasti, wahai?


Gumpalan demi gumpalan melingkupi alam pikirannya, bagaimana tidak? sesuatu yang intens selalu membersamainya. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa dirinya akan mempunyai keterpautan yang teramat dekat dengan sosok entitas.


Yeah, keterpautan antara dirinya dengan sosok virtual berupa pria muda blasteran yang beberapa saat lalu diceritakan ibunya. Dia sudah dalam wujut entitas, bukan sosok di alam nyata melainkan ia temui lewat gumpalan kabut memutih hingga keabu-abuan pada tepian tebing curam. Yah, Wirasti merasa di sanalah ia bertemu!


Antara mimpi, dan di bawah alam sadarnya? seingat Wirasti dari gumpalan kabut putih keabuan itulah berlatar tebing curam samar-samar laki-laki muda itu menampakkan dirinya.


Awalnya Wirasti tidak mengenali, "Darimana aku bisa mengenalinya?" ujar Wirasti dengan nada penuh tanya.


"Aku hanya mendengar kisahnya, hanya ketika ibuku tengah mood menceritakannya!" decih Wirasti, yah memang betul sih!


Selebihnya tidak pernah dan tidak ada akses bisa mengenali lebih lanjut, kesan Wirasti pun biasa-biasa saja. "Aku merasa nggak tertarik dengan kisahnya!" kata Wirasti menandaskan.


Ketidaktertarikan seorang Wirasti cukup beralasan, faktor x sedemikian merajai pikirannya, "Tak ubahnya toxic," celetuknya. Wirasti tahu apa arti suara sumbangnya mengatakan itu!


Rasa sentimen negatifnya, yah itu dia!


"Aku mengatakan yang sebenarnya," ucap Wirasti berdalih, kecintaannya pada detil konflik history hingga merembet-rembet pada sisi lain dan itu samasekali tidak dikaburkan dari unsur sejarah lampau. Sama halnya ketika orang atau realitas sejarah berbicara seputar dekadensi moral atau kebobrokan yang berlaku pada masa itu, Wirasti mencermati secara sungguh-sungguh sebagai satu penghayatan atas ketimpangan yang terjadi hingga menorehkan kekecewaan dan luka batin bagi pemerhati yang totalitas.


"Aku tidak menunjuk salah satunya mungkin diriku?" ujarnya menampik bulat-bulat, karena Wirasti sadar bukan siapa-siapa apalagi sebagai siapa?


"Nggak banget!" tepisnya.


Pada satu putaran history dan melibatkan internal keluarganya, karena mereka eksis di kala itu. Tidak sekalipun melewatkan keadaan dalam sudut pandang seorang Wirasti setelah sekian dekade bahkan satu persatu para moyangnya sudah berpulang ke alam baka, tetapi di mata Wirasti ada yang tersisa?


"Apakah itu suatu ganjalan?" lontar Wirasti, berkeinginan menyingkap intrik-intrik yang pernah ada.


"Aku tetap menyoroti mengapa dan bagaimana nenek buyutku, atau yang dikenal dengan nama mbah nyonyah itu menjalani rumah tangga lintas ras tentunya dengan berbagai problem berat di zamannya?" ketus Wirasti.


Astaga?


Wirasti pun muter-muter sendiri dengan benang ruwet di rongga kepalanya, apa yang sempat didengarnya dari orangtuanya dalam hal ini ibunya sebetulnya tidak terlalu ngefek padanya, tetapi?


Semesta berkeinginan lain rupanya? pada satu lintasan garis edar atau bukan secara kebetulan belaka? bidang ekliptika itu memberinya kesempatan beriringan dengan sesuatu yang semula tidak dikenalnya.


Wirasti nyaris, terkesima? sosok entitas tersebut sekali melintas tetapi seakan enggan berlalu? dia seakan tengah menunggu dirinya, "Kaa ... kaa-uu?" seru Wirasti tidak berniat menyapanya, tetapi tololnya malah dirinya mengajak dialog?


Dia tidak merespon dengan kata-kata, hanya bicara lewat sorot mata indahnya? yah, sepasang mata biru keabuan itu tidak bisa diabaikan begitu saja namun yang jelas Wirasti, terpesona?


Deg? yeah, deg? deg? pyaaar!

__ADS_1


"Normal, ah!" cetus Wirasti, nakal!


Siapapun? selama masih merasa normal, apalagi cewek muda belia seusianya? sah-sah saja, bukan? "Nggak ada larangan," seloroh Wirasti sekenanya.


Alhasil? "Sekadar, yeah ..." ujar Wirasti nampak kembali olehnya pria muda blasteran ditaksir tidak beda jauh selisih sekian tahun dengannya itu mulai unjuk muka, "Caper-caper dah!" cibir Wirasti, menahan senyum penuh arti!


Ketika, tiba-tiba timbul suatu impresi? feelnya terasa olehnya seperti telepati dari sinyal yang lain, astaga?


"Hah, sii ... sii-apa, ya?" tebaknya gelagepan, karena impresi yang datang tak diundang itu lebih memberi clue atau petunjuk di luar dugaan. Tentu saja Wirasti merasa kaget dan sedikit bingung!


"Kurasa aku tengah dipaksa mengikuti memori seseorang?" pikir Wirasti, masih diliputi keheranan.


Sesaat dirinya tidak bisa melepaskan begitu saja daya pukau sepasang mata biru keabuan itu kendati di sisi lain mulai diguncang memori seseorang?


Wirasti tahu, postur tingginya di atas rata-rata laki-laki pribumi. Sedangkan dirinya saja bukan katagori postur ideal tinggi semampai, justru akan menjadi bahan olokan semeter tak sampai? "Ah, ya enggaklah kalau semeter tak sampai. Enak ajaa!" sambil ngedumel Wirasti menampik secara terang-terangan dirinya tidak mau disebut postur tidak ideal, buktinya selama ini mentok diangka 157cm!


Diam-diam Wirasti pun dibuat iri? ketika mencermati secara detil bagaimana entitas si blasteran itu dengan postur idealnya berseliweran di mukanya?


Sialnya pria blasteran tersebut semakin lama semakin memperlihatkan kalau ingin tebar pesona, "Huh, nggak bisa dibiarkan tuh!" gerutu Wirasti, meradang!


Apa akal?


Secara usia Wirasti memang sudah melampaui angka 20 tahun, namun kematangan biologis atau fisik sayangnya tidak dibarengi matang secara psikologis buktinya sifat kebocahannya masih sering nampak. Terlebih jika Wirasti menghadapi lawan jenis, ups!


Wirasti langsung, grogi? begitu nampak olehnya padahal itu hanya berupa visual bersifat virtual atau sebut saja suatu yang abstrak. Hanya bisa ia temukan lewat dimensi lain, karena memang tempatnya bersemayam ya di sana!


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini ... " batin Wirasti, suatu yang musykil dicerna oleh akal sehat kalau bukan karena campur tangan dan keajaiban semesta. Wirasti selalu berpegang pada keimanan, dirinya tidak mungkin berkemampuan ekstra bila yang di atas tidak berkehendak.


Bibir tipis Wirasti pun mendecihkan sesuatu yang amat lirih, "Aku harus percaya bahwa Allah SWT telah memberiku fitrah ..." demikian Wirasti menyematkan kata-kata itu dan menyimpannya sendiri.


Yah?


"Itukah sebabnya dengan kekerabatan yang begitu dekat membuatku mudah dijangkau olehnya?" ucap Wirasti, sambil menyimpan keheranannya kian memuncak tatkala entitas pria muda blasteran itu sedemikian sering menunjukkan eksistensinya.


Visual sang entitas saban hari seolah tiada pernah absen mengunjungi dirinya, untungnya Wirasti tergolong si empunya nyali alias pemberani.


Laki-laki muda yang menumbuhkan empati lain itu? mengingatkan akan cerita yang dikisahkan ibunya.


Bukan bayangan berkelibat, tetapi real sosok tersebut muncul persis sekian meter di mukanya. Feel Wirasti memastikan, bahwa penglihatannya tidak mungkin salah. Feelnya pula memastikan secara tepat, entitas yang muncul padanya itu?


Ketika wajah tampan berpostur tinggi 183cm, dia mencoba-coba terkoneksi dengannya. Wirasti tidak tahu, entah bagaimana prosesnya hingga semesta mempertemukan dirinya bersentuhan dengan salah satu moyang buyutnya? si blasteran yang historis internalnya tidak ia suka. Bahkan kecenderungan berapriori tersebut merajai tiap denyut nadinya!


Yep, portal yang agak terkuak itu memberinya suatu sinyal. Oh-ho kaukah pemuda blasteran bermata biru keabuan? "Kaa ... kaa-ukah? si tuan Morris?" batin Wirasti dipenuhi segenap tanya.

__ADS_1


Bermula dari sang ibu mengisahkan sekian episode tentangnya, entah? ibunya secara intens nyerocos bercerita seputar mereka dan kehidupannya. Herannya? seolah itu terjadi begitu saja. "Tidak ada hujan tidak ada angin? tidak ada ombak tidak ada angin, pula?" decih Wirasti, bibir tipisnya bergerak-gerak.


Riwayat atau sejarah mereka di mata Wirasti seakan membersit rona abu-abu?


"Yeah begitulah!" desisnya, ada sesuatu yang langsung melintas dalam pikirannya. Wirasti pun menangkap sebagai satu hal, menorehkan kekecewaan mendalam!


Bukan karena dihinggapi antipati yang mulai meng-aktif, "Ah bukan itu!" tepis Wirasti.


"Pure aku mengarahkan kursor pada tuan muda blasteran itu tuh!" tunjuk Wirasti seperti ketemu atau menemukan mainan baru, ups!


Intuisinya lumayan tajam manakala dihampiri entitas moyang buyutnya, kalau bukan karena cerita ibunya?


Justru anehnya setelah ibunya usai nyerocos membeberkan kisah mereka, iya tentang keluarga mbah nyonyah. Sialnya kisah mereka amat menarik perhatiannya, "Apa mungkin karena aku begitu tertariknya?" batin Wirasti, kisah keluarga mbah nyonyah tersebut melekat sekali di rongga pikirannya!


"Tidak sempat terbawa mimpi tetapi, salah satu anggota keluarga mereka mencuat dengan sendirinya melalang melintas batas dimensi ... " demikian Wirasti merasa kemudian dibayang-bayangi sang pria muda blasteran tersebut?


Wirasti tahu dialah sang sinyo muda yang yang sering dipanggil tuan muda Morris. Logat bicara cadel pertanda lidah kentalnya cenderung kebelanda-belandaan.


Cerita ibunya tentang laki-laki blasteran itu benar-benar terserap sepenuhnya, Wirasti seakan seutuhnya telah mengenalinya meski baru untuk pertama kalinya bersentuhan dengannya, seakan telah mengenali secara bertahun-tahun?


"Ini kan aneh?" pikirnya, "Apakah berlaku karena laki-laki blasteran ini ada pertalian internal sebagai moyang buyutku?"


"Arrghh," dengus Wirasti kemudian. Memang pikirannya simpang siur, banyak hal yang timbul tenggelam terkait kemunculan si tuan muda rupawan tersebut. Sebetulnya jika dikaji lebih jauh? sebetulnya tidak mengherankan jika tiba-tiba muncul visual entitas apalagi berlanjut dengan terkoneksi secara intens.


"Seperti halnya yang sudah-sudah," pikir Wirasti, menerawang ke berbagai pengalaman mistisnya ketika dirinya berada dalam jangkauan radar gaib yang mengharuskan tunduk pada satu proses alami yang membawanya bersentuhan dengan beberapa akses dan interaksi.


Yah, bersentuhan dengan jagat lelembut atau dimensi mereka secara berteleportasi atau kadang seperti tengah berada pada ranah telepati!


"Kurang lebih seperti itulah yang kualami," tunjuknya, tanpa keraguan sedikitpun. Wirasti percaya sekali entitas sang moyang buyut itu tengah membuntutinya?


"Beliau tahu aku ada trah," pelan Wirasti bergumam sendiri. Yah, trah adalah keterkaitan seseorang karena mempunyai atau satu darah keturunan begitu maksudnya.


Si mata biru keabuan, itu pun? sebagai pihak yang sempat jadi black list terutama di mata Wirasti. Betapa? dirinya sempat dan itu berarti pernah memperlihatkan kepongahan atau kesongongannya?


"Oh, really?"


Yep, jangan katakan tidak jika semua yang real pernah terjadi. Sungguh tidak mudah menghapus track record sekalipun zaman masih terbilang primitif di masa kolonialis dulu!


Entitas tersebut hanya bisa menyimpan sesalnya entah sampai kapan? bukankah satu hal tercela pernah ia lakukan. Bagaimana pongahnya sang sinyo tuan muda Morris tersebut setiap sekian hari sekali diminta ibunya dengan berkendarai bendi atau semacam delman, Wirasti pun masih ikut mengenangnya?


Bagaimana sang tuan muda tersebut sigap melangkah setelah memutuskan turun dari atas bendi, lalu dengan bar-barnya menghampiri orangtua nenek dan itu nenek buyutnya. Bagaimana sosok seorang sinyo itu kehilangan adab padahal asal muasal papinya dari negeri yang konon lebih beradab!


Dengan lantangnya sinyo tersebut berdialog tanpa risih abai terhadap scene sopan santun? mengatakan sesuatu pada mereka yang lebih tua dianggap seperti dengan teman seusia atau, bahkan tidak menaruh hormat sanasekali terhadap orang yang lebih tua?

__ADS_1


Hem, astaga bukan?


Wirasti sekalipun terkesima dengan daya pukau si mata biru keabuan tersebut, bukan berarti meluruhkan empatinya dan wajib menggantinya dengan sisi lain, sentimen negatif? akan berlaku hingga kapankah? ups!


__ADS_2