Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Plot Twist


__ADS_3

Apakah dirinya sudah membuang perasaan sebalnya? apakah artinya gumpalan dongkol sekian lama bercokol di sudut hatinya mulai melted? sudah tidak ada alasan mempertahankan rasa sebal yang pernah luar biasa membebat dirinya, si gunung es itu telah mencair rupanya? amarah di hati Wirasti perlahan sirnakah?


Yeah, perasaan kontroversi semacam itulah yang pernah merajai dan memenuhi rongga hatinya. Amarahnya terpicu akibat sikap sinyo Morris yang salah kaprah, tetapi untungnya akhirnya mereda. Justru timbul empati menggantikan rasa antipatinya, tiada pernah terduga bukan? tak ubahnya pasang surut air laut yang fenomenal seperti itulah suasana hati dan pemikiran tiap orang.


Wirasti persis mengalami sendiri, bermula dari kesal? dongkol? pendeknya percik-percik kecil apriori terhadap sikap yang ditunjukkan sinyo Morris, selalu membuat Wirasti panas hati dan panas kepala? bawaannya ingin memusuhi, menjitak kepalanya keras-keras, tetapi dirinya hanya mampu ngedumel sendiri? berkata sarkastis, bibir tipisnya mudah sekali refleks mencibir saking geregetan.


Tetapi giliran sang entitas, sinyo Morris nampak merindukan sesuatu? tersandung kenangan masa lalunya? agaknya doi terkesan scene Wirasti dan ibunya tengah berkiprah di dapur sepanjang pagi hingga hampir sore, ironisnya sedang membuat kue berbahan korvets asal muasalnya dari negerinya? dan mungkin itu yang sering dilakukan mommynya?


Wirasti pun meleleh, kebekuan di sudut hatinya mencair? "Aku merasa iba juga sih!" cebik Wirasti, menahan keharuan.


Apalagi ketika sinyo Morris mengatakan, "Aroma wangi bladerdeeg ... " ungkapnya sedih, ada sejumput kerinduan membayang di pelupuk matanya? tentang mommynya? tentang dapur keluarganya yang hangat? tentang kue pastry kesukaannya?


"Oh, my God?" seru sinyo Morris, excited sekali. Wajah piasnya nampak sedikit merona, bola mata biru keabuannya berbinar!


"Siapa tega, bukan?" jelas Wirasti, agar tidak dituduh kelewat subyektif. Alih-alih penjelasan tersebut meminimalisir sudut pandang supaya tidak menimbulkan keonaran kian merebak!


Mahfum, bukan? sinyo Morris bukan orisinil pribumi yang setara dengan lainnya, melainkan sering terkesan ekslusif karena doi blasteran dan mengisolir diri. Biasa orang asing kan begitu? apalagi era jadul masa lampau.


Bermula dari memori sang nenek buyut akhirnya merembet ke mana-mana, mampu menyeret kisah lainnya mengingatkan Wirasti pada suatu gerbong KA. Iya itu dia, jika digambarkan akan seperti suatu rangkaian gerbong?


Yep, dalam satu rangkaian gerbong KA jika bagian gerbong depannya terangkai dengan lainnya maka akan terseretlah gerbong-gerbong di belakangnya. Sejalan dengan pemikiran seperti itu? Wirasti merasa ada suatu kesamaan meski tidak sama persis tetapi menarik satu kesimpulan seakan ada versi yang berbeda.


Lalu? konektivitas dengan sang tuan muda sinyo Morris pun mulai mendekati ambang normal. "Tidak lagi jutek-jutekan, tidak lagi terlalu memojokkan?" aku Wirasti, sadar bahwa sikap ekstremnya agak keterlaluan.


"Lo tuh tak jarang menyudutkan, bukan hanya itu, skak mat! hingga yang bersangkutan tak berkutik,"


"Itu sih namanya, terlalu!"


"Nggak salah dong, gue tuh hanya nggak mau tipikal orang suka ngelunjak!"


"Yah, harap dimaklumlah. Bukannya doi bukan orisinil orang sini, meski ibunya pribumi toh bapaknya pasti mendominasi dalam value dan pola asuh ala-ala western!"


"Iyah, tepat sekali!"


"Huh, jangan cari pembenaran sendiri dong?"


"Lho faktanya kan gitu?"


"Oh, itu sih aku tahu!"


"Semuanya telah clear?"


"Hm, iya clear!"

__ADS_1


Penelusuran Wirasti pun sampailah pada ujung cerita? setelah sinyo Morris, "Giliran saudari, kakak perempuan sinyo Morris!" tunjuk Wirasti. Oh-ho? ternyata sinyo Morris punya kakak perempuan satu-satunya dan namanya non Ann, atau noni Anne.


Kedua kakak adik blasteran tersebut hidup tenang dan damai di rumah loji yang megah mereka di pinggiran desa, sejak kecil hingga remaja keduanya dibesarkan oleh mommy pribumi yakni mbah nyonyah.


Sang tuan, ayah mereka. Seperti yang ia tahu dan pahami karakternya tidak jauh beda dengan umumnya para tuan belanda sebagai penguasa atas tanah koloni kala itu. Mana mungkin berendah hati, mengimplementasikan kata-kata bijak? di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.


Psst? secara sarkastis Wirasti akan menimpali dengan kalimat tandingan? tetapi, ups? mereka datang ke negeri orang dengan tega mengacak-acak? mengeksploitasi? atau, naik level lagi secara politis melancarkan aksi devide et impera. Karakteristik membuat keonaran paling mudah bagi mereka yaitu dengan memberlakukan, politik mengadu domba.


Yep, itu dia yang sempat diubek-ubek Wirasti lewat beberapa referensi buku sejarah milik ibunya, tentunya aksi baca bukunya sambil mecucu bibir tipisnya mengerucut secara bersamaan? bisa dibayangkan, bukan? wajah imut Wirasti menggemaskan, kiyowo!


Tetapi sebetulnya bukan istilah kiyowonya yang jadi topik atau aksentuasi, "Gestur Wirasti dikala style baca buku referensi tentang konflik historis zaman kolonial tuh!" menunjuk pada sikap dan cara menyikapi suatu keadaan dalam bidikan lingkaran faktual sejarah.


Lalu, terhubung dengan penelusuran virtualnya. Sontak membentur gambaran utuh perihal internal keluarganya yaitu salah satu moyangnya, klop rupanya ketika diotak-atik dengan stigma buruk yang berkembang kala itu.


Impressi apakah yang sempat mampir di kepala Wirasti ketika tahu bahwa ulah sang suami mbah nyonyah tersebut jauh dari kesan ramah, supel, welcome, atau minimalnya menghargai orang lain. "Ini mah, tidak!" sungut Wirasti, tetapi bukan asal nyeplos!


Karakter kaku yang dimilikinya menandakan si empunya tipikal orang yang sulit. Yah, suami mbah nyonyah ternyata ya memang begitu.


"Begitu, begitu gimane?"


Wirasti terpana! Seolah termakan omongan ngalor ngidul sedari tadi berkicau tidak tentu arah.


Mereka? maksud Wirasti kedua saudara seinternal moyangnya tersebut, entah apa yang selalu ada dalam pikiran keduanya. Dengan berayah ibu beda ras dan kepentingan? sudah tentu akan terbaca bagaimana pola asuh dalam keluarga mbah nyonyah yang sudah pasti diwarnai kontroversial. Entah kenapa dirinya begitu yakin!


"Huh?" dengus Wirasti, menyayangkan sikap mbah nyonyahnya!


Hidup memang aneh? kadang pilihan masing-masing orang sekalipun dianggap salah oleh orang lain, bagi yang bersangkutan sudah tentu mempunyai alasan tertentu dan pertimbangan kuat, bukan?


"Nggak bisa menjudge sekenanya," pikiran semacam itu mengalir begitu saja di celah-celah rongga pikiran Wirasti yang mulai terdistraksi antara stigma buruk dan asumsi yang menggiringnya menjadi penuh pertimbangan, eh tumben?


"Haissh?"


"Biarkan Wirasti mengepak sayap menuju kedewasaannya dengan rasio yang diyakininya benar,"


"Itu bagus juga sih!"


"Nggak harus udrek-udrekan melulu,"


"Malu dong dengan usia?"


Sindiran telak? ups, bukan sih. Untungnya Wirasti tipikal untuk selalu open terhadap bau atau apapun berbentuk kritik, apalagi jika hanya bersifat sindiran halus. Kasar pun akan ia ladeni.


Tentang Non Ann saudari sinyo Morris sama menariknya bagi Wirasti, kisah keduanya tak ubahnya plot twist. Ketika sebelum zaman kemerdekaan, tepatnya terjadi pendudukan Jepang di Indonesia itulah keluarga mbah nyonyah menjadi kocar kacir. Kehidupan keluarga semula tentram damai tiba-tiba harus terenggut?

__ADS_1


Memori sang nenek buyut tentang mereka?


"Bisa dibayangkan, bukan? bagaimana tentara Dai Nippon mengobrak-abrik tatanan pemerintah Belanda walaupun sudah berkuasa sebelumnya." ujar Wirasti, sambil membeberkan faktual yang pernah terjadi meski dirinya sekadar berpegang pada acuan referensi saja.


"Ketika Belanda menyerah di Kalijati sekitar tahun 1942 ..." ungkap Wirasti, lalu memprediksi salah satu keluarga moyangnya tersebut tengah tertimpa musibah?


"Tentara Dai Nippon bisa dipastikan amat brutal, terbukti banyak keluarga belanda ditawan dan terjadi pembantaian ... "


"Tidak terkecuali keluarga mbah nyonyahkah?"


"Aku menduga insiden tragis itu menimpa mereka," decih Wirasti sambil tertunduk lesu.


"Suami dan ... " ucapannya terhenti, Wirasti mengambil napas susah payah? ada yang tersendat di rongga paru-parunya. Untuk mengatakan sesuatu? Wirasti pun perlu membuang napas pelan, iya pelan sekali karena perasaannya mulai tercekat!


"Heh, lo pengin mengatakan suami mbah nyonyah dan sinyo Morris? mbah nyonyah? non Ann? apa yang terjadi dengan mereka? aa ... aa-apa?"


Wirasti skeptis. Bibirnya bergerak-gerak, lalu? "Non Ann saja yang terselamatkan,"


"Tuan belanda? mbah nyonyah dan sinyo Morris?"


Wirasti menganggguk sedih. Ujarnya parau, "Non Ann ketika itu tidak berada di tempat, lolos dari pembantaian. Perempuan muda itu sejak remaja diikutkan salah satu keluarga papinya di Buitenzorg atau kota Bogor, dia studi di sana. Sementara sinyo Morris tengah pulang, biasanya juga tinggal bersama non Ann karena keduanya sama-sama tengah studi!"


"Jadi?"


Wirasti mengangguk sedih. Lantas Wirasti pun bagai diingatkan, ketika dirinya kecil sebelum orangtuanya menetap di provinsi west Java. Dulu kalau tidak salah bersama sang nenek tiap seminggu sekali menziarahi komplek makam keluarga, salah satunya? ada makam couple kemudian ada satu lagi di sisinya. Dua makam dengan batu nisan khas kerkhof kebelanda-belandaan sementara makam di sebelahnya nampak sebagai makam sebagaimana umumnya makam biasa. "Rupanya itu makam tuan belanda dan sinyo Morris," kenang Wirasti, kini jauh dari tanah leluhur.


"Tewas sebagai korban pembantaian tentara Dai Nippon?" jelas Wirasti, sesuai impressi yang datang padanya.


Kisah non Ann berikutnya? perempuan muda blasteran itu seakan ingin melupakan traumatisnya, seumur-umur dirinya memilih Buitenzorg atau kota hujan Bogor sebagai tempat tinggalnya pasca kematian orangtua dan saudaranya. Tidak pernah sekalipun menginjak tanah kelahirannya!


Property atau semua aset orangtuanya dalam hal ini sang tuan belanda seolah enggan diurusi dan dibiarkan begitu saja, bahkan pemerintah setempat ketika pasca kemerdekaan kesulitan mendata hak milik keluarga mbah nyonyah. Alhasil?


Pernah salah satu keluarga ketika sudah masuk kurun situasi damai, mencoba menghubungi non Ann di Bogor. Apa responnya? menolak mentah-mentah.


Tak ayal sekalipun ada pertalian darah dengan mbah nyonyah, semua property milik suami mbah nyonyah tersebut sulit dan menyulitkan secara de yure. Lalu, apa yang terjadi?


Secara sukarela property berupa beberapa kebun dan bangunan gedung milik tuan belanda suami mbah nyonyah tersebut akhirnya diamankan oleh negara. Wirasti sempat mengenang? yep, rumah tinggal moyangnya yang diperistri tuan belanda tersebut sudah beralih fungsi sebagai area perkantoran setempat dan yang lainnya difungsikan sebagai lokasi sekolah swasta sebuah yayasan.


"Hm, sayang sekali kan?" cebik Wirasti, menyayangkan pihak keluarga terkait tidak mengambil keuntungan secara hukum. Semua property terlepas begitu saja?


Terakhir tentang non Ann? karena sudah usia lanjut, bahkan sudah sangat lanjut si putri mbah nyonyah tersebut meninggal di tahun 2010-an ketika itu Wirasti masih sangat kecil, "Kata orang setempat di daerahku, keluarga keturunan tuan dan mbah nyonyah itu cures namanya. Tidak ada penerusnya, itu maksudnya!" jelas Wirasti.


Itukah sebabnya? Satu-satunya yang memiliki energi paling aktif ke sana kemari tidak lain, sinyo Morris? doi masih belia ketika menjemput kematiannya, masih energik dan sudah tentu banyak maunya, kan? semesta pun berpihak pada salah satu internal keluarga meski tidak secara genetik berada pada satu garis lurus, setelah berpuluh tahun kemudian? Wirasti dan sinyo Morris dipertemukan namun beda alam, ups?

__ADS_1


__ADS_2