
Lalu? jika ada sosok tak jauh dari meja tempat dirinya tengah asyik menikmati hidangan resto Japan tersebut, apakah Wirasti menyadari? sosok itu? berpakaian uniform yang sulit dikenali jika dibanding umumnya seragam yang dikenakan selevel, "Perasaanku mengenali pakaian seragam seperti itu? tetapi, entah di mana?" lontar Wirasti dipenuhi tanda tanya. Sosok asing? aneh? tidak mudah dikenali olehnya. Oh, siapa dia?
"Who?"
Iya, siapa dia? astaga, sekian menit? bahkan telah bermenit-menit lalu? "Emphh, ngapain aja akuh?" sesal Wirasti, karena baru nyadar di menit terakhir ketika dirinya ... sluurrpp?
Jus avocado cokelat itu begitu nikmat diseruput siang terik? ketika matahari di atas ubun-ubun. Menyeruput penuh nikmat? iya dengan sebatang sedotan itulah suaranya?
Sluuurppp!
Sluurpp?
Jus avocado dengan segaris lingkar cokelat, sebelumnya Wirasti merasa perlu mengaduk pelan. Terus tangannya memegang sebatang sedotan dan terus mengaduknya agar rasa cokelat susu tersebut menyatu dengan jus avocadonya.
Di area outdoor tersebut, Wirasti duduk rileks setelah melicin tandaskan seporsi daging sapi bumbu teriyaki komplit dengan nasi putih pulen plus semangkok capcay goreng, uhhlalaa nikmat mana yang kau dustakan nona?
"Alhamdulillah," batin Wirasti, namun tanpa disadari sempat bersuara.
Siang terik semakin terik, di luar kelihatan dan terasa panas sekali. Pantulan aspal jalanan juga terasa hawa sekitar menjadi lebih gerah dari sebelumnya, Wirasti mendongak ke atas. Langit membiru bersih, sapuan awan tipis nampak dari outdoor dan tempatnya duduk masih rileks di sana.
Psstt, seseorang tersebut? sama dengannya tengah serileks itu? duduk di posisi sudut agak terhindar dari pandangan lalu lalang, ataukah? hanya dirinya yang bisa melihatnya secara jelas di situ?
Wirasti memastikan bahwa hanya dirinya yang bisa melihatnya? "Who?" batinnya menerka-nerka dengan seksama. Mana mungkin seseorang berpakaian agak dekil? "Mana berseragam lagi?" pikirnya terus mengamat-ngamati secara berjarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Umphh, seragam khaki?" gumam Wirasti, perasaannya sudah tak enak!
Shitt? pandangan bathinnya sekian detik kedistraksi sesuatu, bukan secara penglihatan fisik? melainkan sekelilingnya seakan dirinya tengah dislokasi!
"Tempat apa ini?" serunya penuh tanya, area mall tadi sekejap menjadi pemandangan lain. Seluas itu? menyerupai bangunan besar, "Pabrik?" pikirnya sambil terus bertanya-tanya.
"Aku bukan orang pribumi," sangkalnya, yah? dirinya memang bukan putra daerah alias warga atau penduduk asli. Dirinya hanya pendatang, Wirasti sejak kecil dibawa orangtunya hijrah beda provinsi dan menetap di pinggiran kota kecil kabupaten.
"Ini, pasti ada kaitan history daerah di sini ... " tebaknya, mencoba memastikan.
Wirasti semakin tercengang, ketika penelusurannya tiba pada satu atau dua lokasi? iya, masih di area itu tetapi arah jam pk 15.00. Wirasti pun menggeser langkahnya, perasaannya merasakan begitu.
Sebuah, pemandangan lain? seingatnya itu sebentuk rubanah atau ruang bawah tanah. Dari atas permukaan di mana kakinya berpijak nampak hanya berupa gundukan bersemen yang dicor kuat-kuat. Tetapi, langkah Wirasti mendekat!
Dengan cepat intuisinya mengatakan, "Sebuah, bunker?"
Astaga, iya sebuah bunker!
__ADS_1
Nampak dalam pandangan mata batinnya ada beberapa yang terlihat di situ, "Satu, dua?" eja Wirasti sambil menatap berkeliling.
Huft? apalagi nih? dugaan aneh pun menyelusup. Mungkinkah dirinya tengah terseret-seret kembali dengan visual gaib yang kembali menyeruak? anehnya lagi di saat siang bolong dirinya menangkap clue sosok entitas berseragam khaki? "Nggak salah, dari era Dai Nippon!" langsung tebakannya mengarah ke sana.
Sungguh aneh? Wirasti masih terheran-heran. Baginya hal semacam itu seperti suatu lompatan yang tidak masuk akal samasekali, meski dirinya sering mengalami kejadian ganjil yang memaksanya menajamkan penglihatan ekstranya tak urung energi dirinya yang seolah tersedot olehnya sempat membuatnya lemas!
Mendadak dirinya pusing, nyaris mules yang tiba-tiba disertai mual. Itulah bawaan dirinya tiap bersentuhan atau terkoneksi dengan sesuatu dari dimensi lain tanpa persiapan sebelumnya, tahu-tahu nongol begitu saja?
Ketika dirinya terbawa, dan mengalami flip? suatu kondisi yang menggetarkan dan mengharuskan dirinya mengikuti keadaan, maksudnya begitu.
Yeah, tahu-tahu sudah berada di satu tempat? atau, kadang hanya melihat satu pemandangan lain dari sebuah vibes? atau bisa jadi seperti sedang bertemu orang-orang yang tidak ia kenal samasekali, seperti itu!
Wirasti mengibaskan kepalanya, lebih pada satu gestur menggeleng pelan. Dirinya masih penuh keheranan? tepat di atas permukaan tanah yang ia pijak tidak seberapa jauh hanya sekian jengkal dari permukaan bibir bunker?
Wirasti menajamkan penglihatan mata batinnya, yang menelusur jauh ke dalam? "Hah?" serunya, kaget?
Psstt, apa yang lo lakuin itu nyerempet-nyerempet bahaya, tahu? kalimat yang menyentak dan menggetarkan nyalinya. Hei, apakah terus nyalinya menciut? Wirasti menekan bibir bawahnya dengan mengatupkan secara perlahan lalu pelan dirinya surut ke belakang.
Wirasti tidak bisa menghilangkan rasa kagetnya dalam tempo sekejap, cepat dirinya keluar dari rasa tidak aman. Mata beloknya yang banyak memukau orang itupun berkedip-kedip, sesaat ia merasa seperti kelilipan.
Wirasti tertegun, dalam posisi yang sekian menit lalu sama?
Masih dengan kondisi dirinya duduk namun sudah tidak serileks sekian menit lalu? Wirasti mengusap wajahnya perlahan, perasaannya seakan bergemuruh? pikirannya mulai tidak tenang, perempuan belia berparas manis itu terlihat sedikit gugup.
"Ah, elo sih?"
Wirasti mendelik!
"Sering kelamaan bersentuhan dengan kehaluan!"
"What?" seru Wirasti, tak senang. Sial bukan? telah dibilang, kehaluan?
Perasaan Wirasti jadi ingin mewek, terlalu sering memang dirinya atau siapapun berkemampuan sepertinya selama ini selalu menjadi sasaran stigma tidak mengenakkan hati terutama begitu. Asumsi jahat mereka? entah atas dasar apa? apriori, antipati, yang ia sebutkan itu mereka lakukan secara berlebihan jatuhnya malah terkesan menjadi pembenci.
Apalagi kadang secara? mungkin maksudnya ya bercanda tetapi menurutnya sih sudah keterlaluan, "Nyindir banget, amat nyelekit!" lontarnya dengan muka bete!
"Coba saja kadang ada yang bilang, mereka yang indigo itu kudu di ruqyah!"
"Apa tuh? tiap hari berteman sama setan!" sindirnya amat nyinyir.
Stop! "Shut up! diam lo pada, gue bungkam mulut ember elo yang tiada guna!" Wirasti bisa langsung uring-uringan. Yah, sudahlah kita punya kehidupan masing-masing, bukan?
__ADS_1
Walhasil Wirasti memang jarang menggubris omongan orang, terlebih kalau sudah menyangkut kemampuan ekstranya, "Coba saja kalau misalnya diri mereka berkemampuan, apa masih tetep koar-koar yang indigo kudu diruqyah? sial banget sih!" gusar Wirasti rasanya pengin nge-hiihh itu orang?
Siang itupun? Wirasti meninggalkan outdoor food court di ujung bangunan mall megah di pusat kota. Maticnya pun perlahan meninggalkan pelataran parkir di bagian belakang gedung, siang bolong itu? ada sesuatu yang membuntuti dirinya tanpa ia sadari?
Setiba di rumah dengan menempuh sekian menit? ups, ralat sekitar 25-30 menit kalau tanpa drama macet-macetan di jalan! mahfum kota kecilnya yang mulai dipadati bermacam kendaraan baik roda dua maupun roda empat, sebetulnya jika pemda setempat bersedia berinovatif kemudian menggeber kemajuan tata kota. Setidaknya ada fly over? mungkin kemacetan yang menjadi keluhan klasik akan sedikit teratasi?
"Ah, sayang daerahku tidak se-smart itu!" sesal Wirasti.
Sepanjang siang hingga sore? Wirasti yang masih dalam kondisi terbebas dari schedule rutinitas kegiatan studi karena dirinya sekian hari lalu sudah menempuh ujian semester, otomatis kegiatan di kampusnya pun vacuum kecuali hanya sekadar mondar-mandir mengurusi registrasi untuk semester berikut. Itu sebabnya Wirasti lebih rileks dan leluasa melakukan apapun sesuka hati tanpa tertekan oleh sekian jadwal ngampus!
Salah satunya ya siang tadi, dirinya ngeloyor pergi merefresh diri? ups, tetapi tidak! nyatanya acara santuy yang ia harapkan malah berujung adanya impressi? terdistraksi sesuatu justru di lokasi dirinya berniat refreshing tadi.
Sosok, atau entitas? kelihatannya sih begitu. Secara tidak sengaja ia temui di sudut outdoor food court, entah apakah dia langsung nemplok atau entah gimana ceritanya. Tahu-tahu kan memberi impressi atau memorinya memaksa Wirasti terlempar ke dimensinya pada kurun atau zamannya. Petunjuk yang paling jelas, ketika scene flip tahu-tahu sudah berada di dekat lokasi bunker!
"Kupikir itu memang memberi, clue!"
"Lokasi bunker itulah,"
"Baru aku tahu di area mall ternyata eks bangunan gedung besar, sempat dibangun bunker pula!"
"Jelas itu terjadi di zaman Jepang," tunjuk Wirasti tidak asal, mengingat beberapa fakta terkuak. Seorang serdadu yang tercecer? sebuah visual bunker?
"Hasil kerja para romusha?" imbuh Wirasti merasa sampai pada titik itu menyakitkan sekali! apalagi kalau bukan kerja keras tanpa upah dengan taruhan nyawa mereka, pada beberapa keadaan para pekerja romusha kisah pilunya membabat hutan, membuat jalan KA termasuk membangun bunker-bunker untuk persembunyian dari serangan sekutu.
"Belum pula para pemuda dikirim ke front membantu perlawanan pertempuran Asia Pasifik?" ungkit Wirasti, membayangkan saja rasanya sudah, ngap!
Ironis, sungguh menyedihkan sekali. Timbul penasarannya atas visual yang dianggapnya serdadu tercecer dari kawanannya? "Kenapa harus dia? mana yang lainnya?" pikir Wirasti, sebal?
"Ah, bodo amat!" pikirnya lagi. Dengan tergesa Wirasti beringsut pergi, hari sudah jauh siang. Tidak terasa hampir satu jam setengah? bahkan lebih? dirinya sedari tadi berdiam di posisi meja couple pada sudut outdoor sebuah food court!
Keluar dari food court pilihannya tadi, Wirasti menelusuri sepanjang selasar depan komplek beberapa food court yang berjajar di lantai dua gedung mall tersebut. Wirasti terus turun ke bawah menuju lantai dasar, bergegas menuju halaman parkir.
Matic kesayangannya membawanya pergi, meninggalkan bangunan mall eks sekian dekade silam tercatat dalam tinta sejarah daerah tempat tinggalnya itu? sebagai, hm menyerupai the killing field!
Wirasti seakan mendapat impressi semacam itu dalam tempo singkat!
Sejak sampai di rumah hingga sekian hari kemudian? "Bukan tanpa gangguan!" jelas Wirasti, terkait keanehan yang muncul menyatroni dirinya di food court siang bolong kemarin itu?
Wadidaw, sekali? Wirasti merasa meski terganggu tak ayal dirinya merasa, nambah lagi? begitukah? "Iya, nambah pengalaman tuh!" tunjuknya.
Antara harus uji nyali dan bakal mengantongi beberapa pengalaman, itu sudah pasti!
__ADS_1
Lantas? Wirasti pun merentangkan kedua tangannya ditingkah angin siang menjelang sore bertiup agak kencang menerobos daun jendela setengah terbuka, dan sosok transparan dengan kilatnya ikut terbawa hembusan angin masuk ke ruang kamarnya. Mana Wirasti sadar kalau sedang diikuti sesuatu?