Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Dua Sisi Mata Uang


__ADS_3

Wirasti merasa agak gagu ketika sadar bahwa dalam garis keluarganya ada yang dianggapnya melenceng dari perkiraannya semula. "Kamu mah rasis, Wir! gitu saja dijadikan persoalan dan jadi beban. Sudahlah, stop nggak perlu mikirin terlalu detil serba bertele-tele dan menguras energi!" gerundelnya sendiri, seolah meminta tidak terlalu jauh mempersoalkan sesuatu yang membelit-belit di rongga kepalanya.


Bermula dari debat kusir, tetapi lucunya berlaku antar dirinya sendiri. What? mana ada sih debat kusir semacam itu? di mana-mana tuh yang namanya debat kusir ya antar dua orang atau lebih, Wirasti mah kelewat lebay!


"Heh, Wir? kamu tuh makin aneh dah!" cibiran yang tidak membuat Wirasti bergeming, sengaja mengacuhkan meski perasaannya mulai dongkol!


Satu hal yang real, bukan sekali dua kali dirinya mencoba mengorek dari ibunya. Meski semua itu hanya cerita, sedangkan kisahnya telah sekian dekade teronggok beku di satu tempat dan hanya tinggal bias angan. Sejak dirinya sedikit-sedikit diusik oleh entitas terkait history kolonial, lalu mereka satu demi satu memberinya impressi. Wirasti pun mengulik-ulik sejarah keluarganya, karena secara tidak langsung suatu hari ibunya pernah keceplos menceritakan tentang moyangnya yang diperistri oleh tuan belanda?


Woh-ho? excited campur dongkol, itu yang terjadi dalam diri Wirasti semula berlaku bahwa dirinya seakan sebagai pemerhati, alias pengamat? sempat sedikit-sedikit mengamat-amati. Huh? "Laah malah runyam tuh?" dengusnya, begitu terkuak bahwa keluarganya ada yang diperistri orang belanda di masa lalu!


Wirasti hanya bisa, hah? huh? hah? huh?


"Ekstrem amat sih?"


"Gitu aja sewot, Wir?"


"Wajar sih, ngapain lo persoalkan? mau dapet negroid kek, kaukasoid kek, mongoloid kek? biar aja 'napa?"


Bibir tipis Wirasti nampak makin seperti segaris tipis namun raut muka tanpa ekspresi, terlihat datar! hanya sepasang mata belok-nya saja terlihat berkedip-kedip seperti kelilipan.


"Kurasa rumah tangga nenek buyutku dengan si tuan, tidak lebih seperti kisah umumnya perempuan pribumi yang diperistri tuan belanda!" tunjuk Wirasti, namun ada sedikit keraguan entah pada bagian yang mana?


"Yang aku khawatirkan seperti rata-rata kasus perempuan pribumi dianggap sebelah mata, bukan semacam perempuan diperistri tuan belanda lalu layaknya seorang nyonya besar? kurasa semacam simbiosis mutualisme?" cibir Wirasti, samar!


Jika betul begitu? "Ah!" desah Wirasti, kasar!


"Rasanya pengin, hihh!" umpatnya, seakan hilang sabarnya. Refleks tangannya sempat mengepal, entah apa maksudnya?


Bagi Wirasti sungguh tidak bisa dibenarkan, meski hanya moyangnya secara tidak langsung? karena bukan dianggap moyang aslinya atau garis keturunan secara langsung yang menurunkan genetik dirinya, tetapi bagi Wirasti tetap saja dirinya tersangkutpautkan karena bagaimanapun hal melenceng semacam itu dirinya berkontribusi memberi sedikit cibiran.


"Bikin hatiku kecut dah!" ungkapnya, karena tetap saja dirinya merasa sebal! Di mata Wirasti alangkah kecutnya ada historis berupa profesi? masih mending kalau diperistri tanpa atribut ini itu?


"Yah, ini tidak? bukan sebagaimana pure atas dasar kecintaan? tetapi, huh melainkan? antara majikan dan bedinde? "


"Bagaimana kalau ... iya?" celetuk penuh kekecewaan meluap di hati dan pikiran Wirasti.


Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri masa lalu masyarakat kita masih hidup di bawah garis kemiskinan, kondisi semacam itu sebagai titik kelemahan dan adanya pemanfaatan. Yah, masih untung jika diperistri tanpa embel-embel dianggap level bawah." ujar Wirasti pesimis sekali merujuk realitas zaman itu?


"Kalau sudah kesentil hal beginian sensi banget dikau, Wir?"


Wirasti tidak menggubris samasekali justru pikirannya suntuk, apa yang ia alami melibatkan kemampuan ekstranya telah menyita perhatiannya. Titik tumpunya tatkala dirinya kepentok dan berurusan dengan yang tidak ia duga samasekali, meski sebetulnya dirinya sempat mengetahui secara selentingan dan itupun tidak pernah diketahui atau didengarnya secara sungguh-sungguh. Makanya begitu ada titik kecil perihal sesuatu yang tidak terduga tadi? seolah segera merembet!


Ini, cuplikan yang telah membuatnya sedikit kacau!


"Satu sisi aku suka, sisi lain aku nggak suka!" begitu Wirasti mendebat satu hal yang mulai simpang siur!


"Nggak suka? nggak suka alasannya apa?" uber suara lain.


"Nggak ya nggak suka, kalau nanya alasannya? huh, eumph, eumm ..." sahut Wirasti sambil mikir dulu, karena disitu ada pertanyaan tentang alasan jelas dirinya tidak asbun, asal bunyi atau asal jawab kan?


Refleks pikiran Wirasti pun menerawang jauh? tadi mencoba mengatakan, " Suka dan tidak suka?" ulangnya lagi, tidak sadar justru kata-kata tersebut seolah boomerang baginya. Wirasti harus kerepotan akhirnya menjawabnya sendiri, alih-alih dirinya tidak mau dianggap asbun alias ngomong tidak dipikir betul, apa kata dunia?

__ADS_1


"Siapa yang disuka atau justru sebaliknya siapa yang tidak kamu suka?" jelas arah pertanyaan menjurus pada satu hal, unsur apriori yang tengah berkembang.


Wirasti sontak mendelik, "Heh, dipikir hanya ngaku-ngaku apa? enak aja!" celetuknya sengit!


Sungguh tidak gampang membuat tiap pandangan ngeh saat itu juga ketika kita ingin sekali membuat pihak lain satu prediksi dengan kita. "Itu nggak mudah," gumam Wirasti, karena apa yang dituntut seputar topik yang dikehendaki justru akan berakhir menjadi petaka.


Lantas, apa yang membuat Wirasti muter-muter pula seolah ingin mengalihkan perhatian tetapi malah, kacau?


"Emphh, moyangku tuh ..." cebiknya ragu-ragu sekali mengatakannya. Ingin mengatakan tetapi, gagu?


"Heh, Wir? ngomong yang jelas dong!" sontak diprotes dengan garang, semula Wirasti kicep bibirnya mulai bergerak-gerak sambil katanya?


"Ii .. ii-ni aku sudah ngomong jelas!" suara Wirasti penuh keraguan.


"Iya, apaan sih?"


Cebik Wirasti memberanikan diri, katanya? "Dari pihak ibuku tuh aa ... aa-da, si blasteran ternyata!"


Gubraaak!


Hah, serius? Wirasti mengangguk lesu. Jadi? itu, masalahnya? kenapa dirinya sempat gugup setelah memberi statemen ketus perihal percampuran ras, sialnya Wirasti malah mendapat impressi dari sosok laki-laki blasteran berparas tampan, siapakah dia?


Sudah menjadi suatu, ciri? yah semacam itulah. Ketika Wirasti terbit atau timbul keinginannya atau angannya tertumpu pada satu hal. Itu akan terus ia pikirkan siang malam, termasuk ketika sesuatu yang berseliweran mulai memenuhi atau overload. Sementara dirinya tidak mampu mengontrolnya, lantas apa yang terjadi?


Yep, apa yang mengganjal-ganjal memenuhi rongga dan menghentak-hentak dinding pikirannya? perlahan akan menggumpal. Wirasti pun akan dipenuhi suatu kecamuk sebagai refleksitas atas apa yang menekan pikirannya.


Ibunya sepintas pernah menceritakan tentang keberadaan si tuan muda blasteran tersebut sebagai sosok anak laki-laki putra salah satu moyangnya tersebut, konon selisih sekian tahun saja di atas usia sang nenek ketika itu.


Beuh? lalu, yah siapa sangka bukan? dalam lipatan waktu sekian dekade ke depan ternyata ada salah satu garis genetik meski tidak secara langsung kecipratan satu kemampuan ekstra, hingga mampu terhubung dengannya?


Mustahil bin mustahilun, bukan? si empunya kemampuan ekstra tersebut tidak lain dan tidak bukan, bahkan bernyali lumayan kuat si tengil tersebut mengobrak-abrik sarangheyo, eh? sarang di mana si tuan muda blasteran itu bersemayam? yep kurang lebih begitu!


"Tuan Morris," desis Wirasti, terbawa dan ikut-ikutan memanggilnya begitu. Saat pemunculan pertama kalinya lewat mimpi tengah malamnya, oh-ho? si langganan menempuh akses teleportasi?


Wirasti justru yang menemuinya, karena bukan Wirasti yang dikunjungi melainkan sebaliknya!


"Kupikir memang terlalu banyak melibatkan dan terhubung dengan mereka di era-era semacam itu?" tebak Wirasti, kenapa dirinya begitu mudah rasanya blusukan menghampiri mereka, iya merangsek ke dimensi mereka!


"Tuan Morris pun ke seret-seret, begitu Wir?"


Wirasti mengangguk!


Sebagaimana tiap dirinya terkoneksi, semuanya berjalan begitu saja. "Seperti ketemu atau mengunjungi teman lama dah!" cebik Wirasti, terbayang bagaimana dirinya menghampiri dan mulai intens terkoneksi dengannya.


Seperti halnya ibunya pernah bercerita dan memberi gambaran, mungkin sambil lamat-lamat atau samar-samar cuplikan masa silam itu mencuat dari timbunan alam bawah sadarnya?


"Tuan Morris itu tampan, setiap datang ke rumah mbah putrimu, rumah keluarga nenek buyut yang besar karena kakek buyut sebagai kepala desa di zamannya. Tuan Morris selalu suka naik bendi!"


Bendi? menyerupai delman, atau kereta ditarik kuda. Tetapi bendi yang dikendarai si Tuan Morris tersebut bentuknya lebih kecil dan ramping, rupanya diam-diam sang nenek menjadi pengagum rahasia sepupu jauhnya itu yang tiap beberapa sore bertandang ke rumahnya!


Tetapi, eits tunggu! tuan Morris bukan sebagaimana pribadi sosok blasteran yang familiar, huh sial bukan?

__ADS_1


"Dia itu pongah!" ungkap sang ibu tentang sepupu neneknya tersebut!


Intuisi Wirasti langsung bergerak! "Iyalah, pongah!" cibirnya tak senang, mengingat siapa dirinya? siapa keluarga ibunya? karena bagaimanapun ibunya hanya perempuan pribumi yang mungkin dianggapnya derajat atau martabatnya lebih rendah?


"Sial!" dengus Wirasti.


"Hal semacam itu yang aku tidak suka!" celetuknya, sering memicu dirinya uring-uringan sendiri.


Ketidaksukaan Wirasti dirasakan sebagai satu hal yang sungguh beralasan, dirinya merasa di satu sisi martabatnya seakan dilecehkan. "Sekalipun aku sendiri tidak merasakan secara langsung," protes kecilnya perihal degradasi yang dianggapnya menjatuhkan mental!


"Umphh, bedinde?" batin Wirasti langsung berkecamuk! yah, seingatnya hal itu yang menjadi pemicu stratifikasi sosial yang meruncing di masa itu.


Seketika, harga dirinya tergilas? yah, titik persoalan semacam itu yang tidak bisa diterima secara legowo apapun alasannya. Bedinde atau sebut saja istilah pembantu di masa kolonial ketika rata-rata secara ekonomi dan sosial masyarakat pribumi di bawah standar, tidak jarang menimbulkan ekses-ekses buruk dan pandangan merendahkan. Sisi itu yang paling mengganjal!


"Tapi, Wir? bukankah selanjutnya moyangmu tersebut sempat mendapat julukan mbah nyonyah?"


Wirasti langsung mengeryitkan alisnya, tatapannya nanar! "Huh?" dengusnya kemudian.


"Tetapi masih jadi persoalan, seperti dua sisi mata uang!"


"What?"


"Iyaa!"


Wirasti begitu apriorinya terhadap satu hal terkait salah satu pendahulu di keluarganya, cercaan tidak langsung padahal tidak pernah sampai di telinganya. Wirasti terlalu sensi mencerna stigma di sekelilingnya atas pilihan moyangnya ketika itu, meski sebutan mbah nyonyah disematkan padanya toh Wirasti kurang menaruh respek.


Apalagi ketika Wirasti mendengar cerita berikutnya terkait perlakuan internal keluarga mbah nyonyah, sikap yang tidak familiar, baik dari suami mbah nyonyah maupun dari kedua anaknya. Tuan muda Morris maupun non Anne, keduanya kerap menunjukkan sikap kurang bersahabat.


Wirasti pun hanya bisa menahan dongkol, ketika ibunya menceritakan bagaimana dulu sang nenek dan orangtuanya diperlakukan dengan cara minim adab! "Aneh, bukankah ibunya pribumi tulen kenapa kedua anaknya songong begitu?" pikir Wirasti dengan memberi cengiran sebal!


"Nenekmu masih remaja ketika itu, sering melihat bagaimana perilaku tuan Morris ketika datang ke rumahnya ... "


"Memang apa yang dilakukan, bu?"


"Nenekmu bilang, tuan Morris itu tiap kali turun dari bendinya nyelonong saja masuk rumah sambil teriak-teriak panggil nenek buyutmu!"


"Meminta nenek buyutmu datang ke rumahnya, tuan Morris disuruh ibunya ... "


"Apakah tutur katanya jauh dari kesopanan?" potong Wirasti sudah merasa sebal duluan.


Rasanya tertoreh, Wirasti tidak bisa mentolerir hal sekecil itu pun tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak sukanya.


Penjelasan ibunya terkait gambaran perilaku tuan Morris semakin membuatnya geram, itukah sebabnya merembet hingga dirinya antipati dengan bentuk pernikahan era itu? ketika saudari mbah buyutnya menikah dengan tuan belanda tetapi beda status.


Ada yang disesali Wirasti, "Kenapa saudari mbah buyut merendahkan dirinya, bukankah keluarganya bukan kalangan rendahan yang begitu mudah sebagai bedinde? sudah separah itukah?"


Tidak habis pikir, mbah buyutnya dari garis keturunan langsung toh dari kalangan terhormat di masanya. "Mbah buyutku sendiri diperistri seorang kepala desa," ungkap Wirasti, ragu-ragu.


"Tetapi mbah buyut yang satu ini?"


"Ah, yah ... entahlah!" ujar Wirasti dirundung kesal. Tetapi sejak dirinya terkoneksi, selalu saja mengalami kejahilan sebagai refleksi atas keisengannya coba-coba mengganggu dirinya.

__ADS_1


Bukan bayangan berkelibat ketika wajah tampan berpostur tinggi 183cm, dia mencoba-coba terkoneksi dengannya. Yep, portal yang agak terkuak itu memberinya suatu sinyal. Oh-ho kaukah pemuda blasteran bermata biru keabuan? kaukah si tuan Morris?


__ADS_2