Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Mevrouw Wie?


__ADS_3

Belum hilang rasa gemetarnya, sepintas Wirasti menatap sosok tersebut duduk santuy. Sosok perempuan ala-ala? pakaian dan style-nya? itu, semacam cosplay yang mewakili satu kurun silam?


Intuisinya langsung menancap, dirinya merasa semriwing! "Mevrouw wie?" tanya Wirasti takut-takut. Nyonya siapa? tanpa diminta refleks kata-kata belanda pun meluncur begitu saja!


Perempuan itu, eh entitas tersebut hanya balas menatapnya? mengangguk dan memberinya senyum?


Sudah, hanya itu!


Scene berikutnya Wirasti hanya perlu sarapan pagi sendirian dengan semua hidangan yang sudah tersedia di mejanya, namun perasaannya menjadi agak was was.


Lalu, perempuan paruhbaya dengan rona kulit memucat bergaun broken white itu? sekian detik lalu sempat duduk tepat di muka, seberang depan mejanya, tanpa berkata-kata apapun? ke mana dia?


Wirasti sesaat menepuk-nepuk ujung kepalanya yang berhijab, bukan dirinya tengah lupa akan sesuatu? namun merasa amat disayangkan. Dirinya merasa telah kehilangan satu hal, momen kebersamaan?


Entitas berwujut perempuan non pri dari kurun silam itu telah raib secepat kilat!


"Belum juga mengucap apa-apa, baru sapaan seperlunya. Apakah entitas perempuan ras european tersebut enggan bertegur sapa dengan inlander sepertiku?" sesal Wirasti, jika dugaannya betul adanya?


"Ah, sayang sekali!" desis Wirasti.


"Satu momen terlewatkan dong?" cebik Wirasti, buru-buru meraih sendok garpu yang masih menelungkup di atas meja beralas lap putih bersih di situ juga tertata sebuah pisau makan.


Piring ceper keramik tebal warna abu-abu light, menantinya? oh-ho, hidangan ala prasmanan sedari awal kemarin menarik perhatiannya.


Untuk kedua kalinya, di hari kedua breakfast yang sama beda hari, Wirasti sudah mengambil nasi rames, di piring light greynya itu satu centong nasi putih komplit lauk dan ca sayuran, mie goreng serta kerupuk udang. Sebelum kembali ke meja tadi sempat menambahkan menu ayam fillet, kentang goreng berbumbu tidak lupa saus asam manis pedasnya.


"Hem, yumm!" gumam Wirasti, penuh selera. Senyumnya mengembang manis. Perlahan kedua tangannya rileks mulai memainkan sendok garpu dengan ketukkan pelan, mencomot satu persatu hidangan ala nasi rames yang ia ambil sendiri di sepanjang meja prasmanan di ujung sisi ruang resto.


Seorang pelayan menghampiri, mengangguk sopan seraya berucap, "Ini sudah?" maksudnya mangkok bekas pakai karena Wirasti sudah selesai makan bubur manis berupa kacang hijau campur ketan hitam dan santan.


Wirasti balas mengangguk, pelayan itu pun mengambil mangkok kotor untuk dibawa pergi.


Di atas mejanya tinggal sepiring buah iris berikut puding hijau pandan, sepiring snack berupa kue ringan seperti kelepon, sus dan satu croissant serta segelas air putih dan secangkir teh pahit panas aroma segar wanginya menguar!


Wirasti pun melanjutkan sarapan paginya dengan lahap!


Kembali pikirannya melayang, tetapi masih juga terantuk pada visual aneh mengagetkan dirinya tadi?


"Memang, sebetulnya manusiawi juga sih! kadang ada mereka yang sesongong itu. Sudah merasa si paling ... padahal mereka tinggal dan hidup di sini?" protes Wirasti, mengkaitkan eksistensi mereka.


"Tetapi, eits? nggak bisa dipukul rata sebetulnya, tidak jarang diantara mereka cukup baik. Familiar, supel ... " kenangnya, karena sempat pula ketemu entitas non pri via POV-nya selalu terkesan begitu menyenangkan jauh dari kesan yang mendistraksi seperti halnya tadi.

__ADS_1


Wirasti merasa lebih lamban, sengaja agak berlama-lama menikmati suasana breakfast-nya? "Huh, kapan lagi bisa seperti ini kan?" dengusnya, perlahan mengunyah sisa nasi rames komplitnya. Rasanya pengin ketawa, sepagi ini sepiring nasi sudah berpindah? dari piring masuk perut, aaww?


"Makan nikmat ya tergantung mood? tetapi, enggak ding! kadang lihat-lihat dulu apa bentuk hidangannya, gitu!" dalam hati Wirasti memastikan pilihan makan senikmat pagi ini karena terkondisikan senyaman vibes macam resto hotel.


"Perkecualian, hem?" guraunya samar, kunyahan terakhirnya langsung gerakan tangannya menelungkupkan kedua sendok garpu di atas piring light grey yang sudah nampak licin tandas!


"Alhamdulillah," batin Wirasti, diraihnya segelas air putih persis di sisi piring bekas makannya. Pelan diteguknya segelas air putih hangat, sesaat membasahi tenggorokannya.


"Tinggal satu ronde, eh dua!" tanpa bersuara, matanya berbinar. Ditatapnya penuh minat tetapi perutnya berasa masih, penuh?


"Sisakan space rongga perutmu, apa aku bilang?" rutuknya, sesal sedikit tidak mengapa? toh memang dirinya sulit menolak ketika hidangan menggoda?


Tidak mungkin Wirasti meninggalkan dua piring tersisa di atas meja, bukan? konsekuensi ambil sekian makanan ya harus dihabiskan.


Well, Wirasti pun membuang napas? dihembusnya pelan sembari tangannya meraih piring oval ukuran sedang penuh snack pilihannya tadi.


Haap!


Hap!


Kue kelepon legit rasa pandannya, nendang! bukan digigitnya perlahan tetapi Wirasti langsung sekali kunyah, nyam! alamak rakus nian dikau, nona?


Giliran berikutnya kue sus, astaga? Wirasti diam sesaat, meraih sisa air putihnya segera diteguknya. Hem? glek! glek!


Tinggal sebiji sus lagi, belum juga tangannya menggapai? seseorang menepis tangan kanannya pelan, "Sii ... sii-al?" dumal Wirasti, refleks!


Untung, tidak shock? kemudian terlompat misalnya. Bisa saja, bukan? kagetnya seseorang terjebak pada situasi tiba-tiba tegang mengejutkan tahu-tahu terjengkang kek, refleks berlompatan dan sebagainya.


"Ma ... mavrouw?" ujar Wirasti gugup! nyonya?


Huft, si nyonya non pri ini lagi? belum hilang kagetnya, senyum dia mengkode dengan kerlingan mata birunya. Yep, dia seolah menunjuk pada piring snacknya yang masih tersisa sebiji kue sus dan croissant pastry!


"Ik hou van croissantjes," tunjuknya, si nyonya non pri nampak sekilas terlihat lucu? dia menggembungkan pipi tirusnya. Seakan melihat sesuatu yang excited sekali! Wirasti diam memperhatikan tetapi sempat tertahan dengan perasaan gelinya.


"Ups? dia menolak lupa, sudah jadi hantu masih suka croissant pastry rupanya?" seloroh Wirasti tetapi hanya dalam hati. Andai dirinya sudah kenal baik? cukup meledek dengan kekehannya!


Dalam sorot hampa mata birunya? pandangannya seolah melekat pada sesuatu yang disukainya? "Dia menunjuk pastry," batin Wirasti, ada rasa iba menjalar.


Feelnya sudah tentu mengarah ke sana, perempuan paruhbaya bergaun broken white dengan fashion sepenuhnya out to date tersebut lebih menarik perhatiannya, mana rambut blondenya disanggul kecil rapi memenuhi estetika ala perempuan european pada umumnya.


Ketika tadi mengatakan suka pastry croissant? itu, untuk pertama kalinya Wirasti mendengar aksen belanda yang kental!

__ADS_1


Wirasti semakin yakin perempuan itu berdarah belanda, terlihat dari tampilan jadulnya serta feel yang tertangkap olehnya!


Wirasti masih menatapnya tak berkedip dan setengah tidak percaya? nyonya non pri tersebut mengajaknya berdialog?


Buru-buru Wirasti mengangguk setengah gugup pula. "Wat zei mevrouw?" lontar Wirasti, sebetulnya berpura-pura balik menanya, apa nyonya bilang? tentu saja itu tipu muslihatnya agar sebentar bisa menahan agar si nyonya non pri tersebut tertahan olehnya tidak lekas pergi, eh!


"Hou je van croissantjes?" tanya Wirasti sudah mulai tidak takut-takut, apalagi jika topiknya seputar makanan. Anda suka croissant?


"Ja je hebt gelijk!" sambutnya senang, ada rona sedikit di pipi pucatnya! ya kau betul!


"Als u dat wenst, mevrouw?" ujar Wirasti, sambil menyorongkan piring snacknya. Silakan jika anda mau, nyonya?


Perempuan paruhbaya itu menggeleng sambil memamerkan senyum tipisnya. Wirasti menatapnya, santun. Sungguh sekalipun terlihat songong perempuan tersebut terlihat bermanner!


Sekian detik duduk berhadap-hadapan dengan mahluk dari dimensi lain, sebisa mungkin Wirasti tidak menarik perhatian sekelilingnya. Sesekali dirinya celingukkan, khawatir jika ada yang tiba-tiba mempergoki. "Apa kata orang nanti?" batin Wirasti.


"Jangan sampai aku seperti sedang ngomong sendiri, eh!" sambil membatin seperti itu Wirasti mulai menggigit ujung meruncing tepi croissant pastrynya, di atas piring ukuran sedang itulah beberapa kali tangannya mencomot kembali, sambil mengoleskan pada selai cokelat yang legit.


Nyonya non pri tersebut masih nampak duduk manis di seberang meja, sesekali Wirasti menghela napas pelan. Nampak bahwa dirinya terjebak pada situasi kaku?


Entah hingga berapa detik kemudian? ketika dirinya berniat beranjak untuk mengisi gelas air putihnya yang telah kosong, begitu balik ke tempat semula? Perempuan paruhbaya bermuka pucat itu sudah raib?


Hingga sekian menit kemudian berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa nyonya non pri tersebut akan kembali, Wirasti pun setelah merasa cukup segera beranjak.


Sepatu casualnya dengan flat rendah itupun ia ayunkan menuju pintu keluar, menelusuri lantai 3 dirinya bermaksud naik lift menuju lantai 6 di mana kamar nomor 1011 berada.


"Masih cukup waktu," decihnya ketika sampai di muka pintu, tetapi Wirasti ingin bergegas mengemasi barang bawaannya.


Cek out baru nanti pukul 12.00 berarti masih banyak waktu untuk berkemas, paman sudah cek out pagi-pagi sesudah waktu subuh tadi. Beliau langsung bertolak menuju daerah Malang, fire disaster areal Bromo tengah dilanda karhutla.


Sepanjang menuju siang hari, Wirasti kadang sempat termangu? merasa telah mengalami suatu keanehan. Hal yang paling mengherankan kenapa baru waktu sarapan pagi tadi, bukankah dirinya hampir tiga hari menginap di hotel?


"Residu," batin Wirasti, dan memang harus menajamkan mata batinnya? apa sesungguhnya yang tersisa di area ini? kenapa tiba-tiba dirinya menangkap pemunculan perempuan paruhbaya non pri, tetapi ia yakin dia perempuan belanda asli.


Dari era itu? "Nggak heran kota ini sentra aktivitas besar nederlander di masa lampau!" ujar Wirasti, tergambar suatu view memenuhi pikirannya. Perempuan pecinta pastry croissant itu salah satunya, tunjuk Wirasti.


Hingga siang terik? sebelum tepat pukul 12.00 Wirasti sudah naik lift menuju lantai bawah, tidak berapa lama mobil grab pesanannya sudah menunggu persis depan pintu hotel.


Ketika mobil bergerak meninggalkan halaman hotel itulah pandangan lepasnya menangkap sosok berkelibat di lobby hotel? diakah? pikirnya.


Yah, perempuan itu? perempuan beraksen belanda itu? "Apa dia yang mbahurekso di lokasi ini? teritori diakah di sini?" pikiran semacam itu mulai simpangsiur mendistraksi dirinya sepanjang siang itu? hingga, sepanjang perjalanan pulang?

__ADS_1


__ADS_2