
Tetapi akan ada sesuatu yang ia nanti-nanti dari semua itu? banyak hal yang ingin ia tahu? menggali dari entitas yang pernah hidup di era kolonial secara lintas dimensi? lintas babak historis? lintas generasi pula?
"Tiga hal? lintas dimensi, babak historis, lintas generasi ... " gumam Wirasti, seakan ingin mengulang kata-kata tersebut. Why? karena ketiganya begitu padu, sinergis seperti satu kesatuan yang tidak bisa ia pisahkan.
"Apa namanya kalau bukan lintas dimensi, babak historis, lintas generasi, hem?" ujar Wirasti mengulik-ulik tiap perkataannya sendiri.
Memang sepintas berasa muter-muter di rongga kepalanya, seketika sarat persoalan seolah malang melintang!
Ketika dirinya terlempar pada situasi flip, terbuka satu portal, dirinya melesat berteleportasi? bukankah itu suatu petunjuk bahwa dirinya ter-dislokasi ke satu tempat atau dimensi lain. Ketika dirinya berada di sana bukankah masuk ke satu kurun waktu? bisa jadi tiap babak historis yang sudah tersetting sedemikian rupa. Ketika dirinya berinteraksi dengan mereka? entitas yang ditemui atau yang menemui dirinya, bukankah dirinya telah sambung komunikasi? mereka bisa saja dari generasi yang puluhan tahun di atasnya atau sebaliknya.
Yah, semuanya kian padu dari tiga hal tersebut. Wirasti pun tidak bisa memilih-milih mana yang paling disukainya, "Ugh, tidak bisa seperti itu!" dengusnya.
Karena apa yang menghampirinya, terkoneksi sekaligus seolah mengikat dirinya dengan tempo relatif atau entah? mereka punya hak sepenuhnya? "Boleh dikatakan hak mutlak mereka!" tunjuk Wirasti, contohnya kasus yang masih aktual berlangsung sang hantu belanda tahu-tahu tanpa firasat sebelumnya sudah nongol di depan mata larut malam mendekati tengah malam itu!
"Hampir mewakili ketiga hal tersebut," decih Wirasti.
"Lintas dimensi, iya!"
"Lintas babak historis, iya!"
"Lintas generasi apalagi!"
Klop, bukan?
Wirasti lebih suka dan amat respek jika bersentuhan dengan suatu hal yang bukan sekadar memacu adrenalin, melainkan mengandung unsur-unsur menarik bahkan bersifat challenge.
Beda rasanya ketika yang dihadapi sekadar menakut-nakuti dirinya, kebanyakan muncul suatu visual ectoplasma atau vortex kesannya begitu, adrenalin terpicu namun challenge-nya nol!
"Entitas yang sekadar nongol tanpa kesan, terus nggak ada latar samasekali yang jelas tuh!" desis Wirasti, membedakan mereka.
Jika setipe mereka dengan latar yang jelas, meski memicu adrenalin minimal bikin sport jantung di awal lalu timbul challenge mengulik tentang mereka, nah?
Entitas atau hantu belanda itu contohnya, "Iya sih membuatku keder, eh!" aku Wirasti terus terang.
Betapa tidak? tunjuk Wirasti blak-blakan. Sosok hantu tiba-tiba bikin sport jantung! muncul semaunya tanpa aba-aba, tahu-tahu sudah berada di sisi pintu yang setengah terbuka. Entah kenapa? larut malam itu seingatnya pintu kamar sudah terkatup meski tidak rapat!
"Tetapi anehnya, dalam kondisi setengah terbuka itulah seseorang menyelinap!" jelas Wirasti, karuan kala itu baru kriyep-kriyep hampir berangkat tidur jadi masih kesadarannya tinggal sekitar dua puluh lima persen, tujuh puluh lima persennya ya sudah nyaris kehilangan kesadaran, tetapi?
Yah, tetapi? Wirasti sadar feelnya merasa ada yang tengah masuk ke ruang kamarnya!
"Awas saja kalau itu maling!" dengusnya, kesal!
Wirasti sadar, dirinya harus bersiaga. Apapun nanti yang terjadi dirinya siap menanggung risiko, demikian tekad barbarnya.
Dalam hitungan detik, kesadarannya segera pulih. Ternyata?
"Ha ... haa, haan-tu?" perasaan Wirasti sudah main teriak sekenanya, namun suaranya hanya tercekat!
Yah, sialnya? hanya tercekat seolah nyangkut di tenggorokan dan suaranya serak seketika!
Kondisi seperti dirinya kerap terjadi dan dialami setiap orang, bukan? dalam kondisi situasi tercekam, biasanya kita akan mengalami shock atau situasi kaget secara mendadak!
Refleksi kaget pun macam-macam dah?
__ADS_1
"Itulah yang terjadi," aku Wirasti tidak malu-malu mengakui bahwa dirinya memang tidak sepenuhnya full pemberani, adakalanya rasa kaget menjungkirbalikkan fakta?
"Aslinya aku sempat, takut-takut!" aku Wirasti lagi, ups!
"Itu, normal kan?" sangkalnya.
Terkait dirinya mulai terdistraksi entitas ghost belanda yang tiba-tiba muncul di rumahnya, pertama kali mengenalkan dirinya lewat mimpi setelah visualnya nampak berada dekat pintu kamarnya. Berturut-turut sang hantu tersebut menyeruak lewat satu demi satu menemui dirinya lewat mimpi, itu tidak salah!
Lebih aneh bin ganjil? "Laah, kok ada mimpi berlangsung secara kontinyu?"
"Mana setiap mengajak berinteraksi selalu dengan cara via akses teleportasi, yah ... VR atau Virtual Reflection, begitulah!" ringis Wirasti.
"Hantu belanda, itu!" ujar Wirasti bukan bermaksud mendiskreditkan, tetapi Wirasti telah dibikin kelabakan juga!
Ketika dirinya belum mode on?
Entitas tersebut sudah beraksi, ceile? mana lampu redup di kamarnya menambah vibes lumayan, horor!
"Persis yang kita temui di film-film horor," ujar Wirasti tidak ada maksud berseloroh, sumpah!
"Mana muka hantunya?" berkata Wirasti sambil ingatannya pada seraut wajah nampak pucat!
Tetapi ada hal yang, "Bukan menggelikan sih, tapi aku merasa hihh?" ujarnya dengan aksen suara lucu.
"Entitas itu menggunakan kostum jadul!" tunjuk Wirasti, barangkali timbul rasa campur aduk antara terpana dan agak geli?
"Dia seperti menggunakan cosplay!"
"Kostum ala-ala karnaval tuuu!"
Paling diingatnya, ketika nampak mode apa yang dikenakannya? Kemeja warna cenderung broken white, aksentuasi semacam krah renda mencuat dari balik blazernya juga kedua pergelangan tersembul dari lengan berendanya.
Laki-laki belanda tempo dulu? terutama mereka dari strata terhormat, akan meligitimasi dirinya setara dengan bangsawan atau borju! mungkin ingin menunjukkan pakaian kebesarannya, entahlah.
"Yep, mereka borju dah!"
"Pantesan pada songong!"
"Moyang mereka lupa kalau cuma hidup mati di tanah orang!"
Lepas dari pro kontra, terutama dalam hal menanggapi mereka, memang sering menimbulkan kisruh satu sisi dorongan dari masyarakat bangsa sendiri, sisi lain ada motif-motif tertentu yang mengarah pada unsur dan konflik historis masa lampau!
Ketika Wirasti kedistract adanya entitas tak diundang dan tak terduga tersebut, meski ada sekian persen sentimen pada track record mereka sebagai bangsa yang pernah meninggalkan jejak-jejak historis menyakitkan. Tetapi Wirasti tidak serta merta terbawa emosi dengan mengkambinghitamkan sembarang orang, bukan?
Yah, lebih-lebih? " Kenal saja kagak!" timpalnya.
Alangkah baiknya tidak gegabah, tidak grusah grusuh dan menyikapi dengan kepala dingin? yep, ketika dirinya mulai terkoneksi dengan entitas wujut bule european tepatnya dia eks orang belanda yang pernah eksis di eranya!
Wirasti? bukan mengenyahkan track record babak historis dengan satu label paling menyakitkan sebagai bangsa yang berekspansi sejak kurun penjelajahan samudra, monopoli rempah-rempah hingga berdirinya VOC dilanjut dengan kekuasaan kolonialnya.
"Aku masih waras," ujarnya ketus, artinya dirinya menunjuk pada pemikiran yang terpola sebagai akibat upaya menetralisir tanpa mendramatisir!
"Mendramatisir berarti aku hanya ribet dengan segenap aksi mereka yang mengakibatkan bangsa ini sedemikian terpuruk dan bodoh,"
__ADS_1
"Tidak seperti itu konsepnya!"
Lantas Wirasti mengalihkan titik perhatian, semula mengulik-ulik berbagai ekses akibat peranglah, kebijakan yang salah kaprahlah, kemudian dipelintir sedemikian rupa dengan tujuan agar tidak timbul tenggelam.
"Mengulik-ulik semacam borok secara demikian, sama halnya mengungkit luka lama!" lontar Wirasti, sungguh tak senang.
"Bagaimana pun sentimen itu tetap bercokol,"
"Yah, mustahillah bisa lupa begitu saja!"
"Semua ada porsinya, bukan?"
"Termasuk alokasinya,"
Maka? Wirasti saja mampu membuat pikiran ceteknya teralihkan, "Setidaknya aku bisa menetralisir rasa sentimenku," ungkapnya.
Alhasil? segala sesuatu teralihkan pada sisi yang diharapkan minimalnya mengentas ketidaktahuan atau justru ketiban misalnya buah matang jatuh dari pohonnya.
Tetapi tidak seperti itu secara persisnya, Wirasti memang berniat tidak mau seperti halnya sosok antagonis tanpa adanya keterlibatan protagonisnya.
Sang antagonis tidak harus tersekat dengan protagonis, ketika seakan ada langkah preventif kemudian ada sentuhan persuasif namun secara keilmuan atau teori berlaku!
"Ah, daahlah!"
"Kepalaku pusing ah!"
Namun yang jelas Wirasti pun berusaha menyelami dua kutub yang berbeda, perihal sudut pandang seputar sentimen negatifnya seolah ingin ditiadakan sementara waktu.
"Oh, sementara waktu?" ulangnya, belum bisa menyembunyikan keheranannya!
"Ah, tapi baiklah ... "
Wirasti pun seakan membuat satu keputusan, "Bersikap netral," ujarnya. Tidak mau dicekam rasa ego yang berlebihan.
Sejak dirinya mulai dikuntit entitas bervisual seolah nyaris sepenuhnya ras european tersebut, Wirasti tidak serta merta meluapkan sentimennya atau rasa tidak sukanya karena ekses dari beberapa hal yang ia sebutkan sebagai kesatuan dari lintas dimensi, babak historis dan lintas generasi.
Justru Wirasti sendiri tidak mencuatkan bapernya demi ingin merasa free dari tekanan yang ada, Wirasti pun menganggap langkah bijaknya agar senetral mungkin dirinya bisa fleksibel!
"Itu yang kumau!" tegasnya, tidak mau bertele-tele. Wirasti cukup saklek!
Alhasil apa pencapaiannya tersampaikan? "Lihat saja nanti, hem?"
Ketika sang ghost nampak oleh Wirasti untuk kali pertama? detil apa yang terkesan olehnya?
Satu hal yang tidak terlupakan olehnya, ketika pandangan Wirasti terantuk padanya? tidak lain ketika sang hantu tersebut bercosplay ala-ala tuan atau meneer borjuis, timbul rasa ingin tahunya lebih banyak?
"Aku yakin dulunya bukan tipe bule songong!" tebak langsung Wirasti, meski rata-rata mereka labelnya songong dan masuk katagori serta menunjuk stigma buruk.
"Aku yakin memang bukan tipe orang sembarangan!" imbuhnya.
Dengan begitu, Wirasti merasa punya nurani untuk tidak terlalu terbawa sikap apriori yang berlebihan. Di satu sisi dirinya mengakui tidak akan semudah mengenyahkan empati babak historis bangsanya sendiri, namun sekaligus tidak mungkin meluapkan kekesalannya atas segenap ekses yang ditimbulkan oleh proses berlangsungnya kolonialis di negerinya di masa lampau!
Runtut historis yang menorehkan tinta emas peristiwa penindasan dan heroik sebuah bangsa, bagaimana pun selalu akan menimbulkan empati secara berlebihan terhadap anak bangsa manapun, jika kemudian Wirasti terkoneksi dengan salah satu pelaku sejarah di masanya meski bukan sebagai pelaku utama setidaknya pernah eksis.
__ADS_1
Satu babak? Wirasti mengenalinya, terlempar secara teleportasi. Terkoneksi secara intens dengannya, mengulik historisnya meski susah payah menggalinya namun setidaknya? Wirasti memulai semuanya, hello sir eh hallo meneer?
.