Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Distraksi


__ADS_3

Portal berikutnya? yep, rupanya sih begitu! tatkala satu portal terkuak mulailah pating mbrudul bergantian yang lainnya menghampiri, dan mengantre!


Wirasti menahan tanpa bisa membekap mulutnya untuk tidak berkata dengan seruan kecil, "Gokil," bagaimana tidak?


Alih-alih menghindari tatapan dari sosok yang sedari sepersekian detik menujam ke arahnya? Wirasti tidak berniat mencibir sedikitpun, bola mata dalam sudut pandangnya merupakan bentuk bola mata mongoloid seperti itu hanya bisa menikmati view dunia ini hanya separonya, ishh!


"Heh, nggak boleh gitu!" teguran keras tertuju padanya.


"Eumphh," cengir Wirasti, sesaat salting karena langsung dapat teguran meski bukan teguran telak!


"Sesipit apapun mata mereka, itu ciptaan Tuhan!"


"Jangan diskriminatif dong!"


"Gimana kalau dibalik? ras deutro melayu sepertimu rata-rata hidungnya pesek?"


Wirasti malah ngakak! "Maksudnya mancung ke dalem ya?" timpalnya, tawanya pun nyaring berderai!


Iissh, Wirasti refleks menyentuh pangkal hidungnya dengan ujung telunjuknya sambil berkata pongah, "Untungnya aku tuu ... ngikutin garis genetik sedikit Arabic!" ujarnya sok merasa kepedean memang secara real bentuk hidungnya mbangir alias ideal mancung. Bahkan sempat dikira dirinya gadis hindustani, atau lebih parah ada yang menyamakan dirinya asal Lebanon?


"Hiihh!" dengusnya, kadang tak senang!


Wirasti pun tidak perlu rendah diri ketika mencermati yang serba trend atau viral perihal prosedur oplas memancungkan hidung, bukankah dirinya sudah cukup pede?


"Oh yaaa?"


"Iya dong! nggak pesek-pesek amat, kan?"


"Iya juga sih!"


"Nah, ya kan?"


"Nggak perlu latah buang-buang duit segala demi pengin hidung mancung terus ngikuti prosedur oplas!" tutur Wirasti sok tahu, dan memang merasa harus tahu tiap kali mencermati sisi lain prosedur oplas demi mendapatkan pembaharuan wajah yang diidamkan, yah demi mencapai perfeksionis rela merogoh kocek sedalam-dalamnya karena sungguh amat mahal, bukan?


Kembali ke topik awal, sudut pandang Wirasti terhadap si mata sipit mongoloid? pria muda ditaksir usianya mungkin baru 25 tahunan.


Sedari Wirasti menangkap pergerakannya yang gesit, sigap dan sat set semakin menunjukkan bahwa yang bersangkutan dari kalangan non sipil, kendati vibesnya terlihat amat jadul. Dari gesturnya saja orang bisa menebak dia dari kalangan apa?


Mata sipitnya yang tajam seakan lekat-lekat menatap Wirasti, bukan salting apalagi mati gaya. Meski dalam hati Wirasti sedikit menaruh kesan, eits nyaris menyerupai si oppa oppa!


"Sumpah," decihnya.


"Terang ajee! ras mongoloid kan sama sipit dan memiliki warna kulit bersih!"


"Apa bedanya ras mongoloid Japan dan Korea? serumpun dah!"


Aiishh, Wirasti jadi ngelantur ke mana-mana? pria serdadu Dai Nippon itukah mulai menebar kesan?


"Ah, nggak seperti itu!" tepis Wirasti ogah dibilang membanding-bandingkan.


Singkat kata kesan Wirasti terhadap si oppa serdadu Dai Nippon tersebut malah berlanjut di kemudian hari seperti serentetan mercon, yep justru menjadi satu kisah menarik!


Insting Wirasti terus menggulirkan dari satu impressi ke impressi lain, apa yang selalu diperlihatkan padanya sebagai akibat residu-residu yang tertinggal dan tersisa di sekitar areal tempat tinggalnya note bene eks kuburan tersebut sebagai gambaran seutuhnya energi yang terakumulasi.


"Aku harus terima konsekuensinya," timbul kesadaran semacam itu karena dirinya bersama keluarganya telah menempati sebagian dari sekian area yang terpapar semacam toxid sebagai spot wingit atau telah dikenal angker sejak dulu?


"Seangker itukah?" pikiran Wirasti kedistract sejak awal, berdasarkan beberapa temuannya dan satu persatu telah dipertunjukkan padanya!


Bahkan satu hal teraneh ia alami, justru dirinya merasa begitu tinggal dan menempati rumah yang selalu memberi gambaran sebuah rumah tinggal menyerupai villa yang sempat kosong terbengkalai kemudian mendapat perawatan khusus dengan direnovasi sana sini, hingga kesan angker itu sedikit pudar?

__ADS_1


"Yah, entahlah?" ujar Wirasti ketika itu merasa pesimis, karena perasaannya sering tidak enak sendiri!


Wirasti merasa pesimis tepatnya karena awalnya belum mengenali lingkup sekitarnya yang jelas-jelas sebenarnya diliputi energi negatif, "Sebetulnya sih sudah bisa kurasakan hanya belum ngeh banget bahwa di sekitar tempat tinggalku ternyata ... " ujar Wirasti tersendat, pikirannya tertuju pada satu situasi atau medan yang masih asing dan mulai menyeruak keanehan-keanehan yang tidak semestinya.


"Pesimis lantaran satu hal, aku belum paham banget apa sebetulnya yang kuhadapi?" begitu tutur Wirasti, kadang dongkol sendiri apalagi mulai merasakan adanya gangguan aneh yang tidak ia harapkan.


Keadaan pun berangsur-angsur ia rasakan biasa kembali, pesimis akibat ketidaktahuannya selama ini atas situasi sarat energi negatif sekelilingnya yang membekap tersebut perlahan pudar!


"Akhirnya baru kusadari, tanda tanya besar itu terjawab sudah!" decih Wirasti, begitu semuanya mulai clear!


Iya, clear!


Clear pula tentang si oppa serdadu?


"Clear apanya?"


Maksud Wirasti sudah tentu karena dirinya telah kedistract oleh pemunculannya pertama kali, lantar mengarahkan radarnya. Karena yang kemudian muncul melulu? ya dia itulah!


Namun, sialnya? justru pemunculannya hingga sebagai awal terkoneksi dengannya tatkala Wirasti terjebak satu scene menjengkelkan!


Si oppa serdadu tersebut, sumpah! muncul dalam mimpi. Uhlaalaa?


Wirasti didamparkan pada tepian jalan dalam vibes atau situasi sangat, asing!


View sekeliling? hampir tidak dikenalinya dengan baik. Insting Wirasti? "Ini bukan seperti yang kukenal, beda alam? iihh so pastilah. Aku saja telah berada di sini secara teleportasi!" cicitnya dengan muka serius.


"Meski teleportasi jatuhnya malah ke alam mimpi," sesalnya.


Untuk kesekian kalinya Wirasti mencoba memindai sekitarnya, dengan dahi yang semakin berkerut-kerut!


"Hah, ini di mana?" pikirnya, sekelilingnya memang tidak dikenali samasekali. Sebuah jalanan sepi? jalan sepenuhnya hanya berupa tanah dan rerumputan di sana sini. Belum sempat Wirasti menebak-nebak sekitarnya, tahu-tahu seseorang menubruknya!


Seseorang membuatnya terpental!


Astaga, Wirasti limbung kehilangan keseimbangan? bukan, bruuuk ... ambruk! melainkan?


Bikin ngakak karena, posisinya terjengkang! "Sial, ini bener-bener nggak lucu!" umpatnya sambil mencoba bangkit!


Aawwh, seperti adegan film drama tuh? seseorang jatuh karena ditubruk dengan action slow motion tentu saja, itu klasik sekali dan sudah sering terjadi tetapi ketika dialami olehnya sendiri malah memancing emosional!


Shitt, tetapi buru-buru sadar? bahwa dirinya tengah dalam kondisi amat payah!


"Huh!" seru Wirasti, dongkol bukan main.


Sigap, tangan seseorang terulur padanya, Wirasti mendongak dan tersentak!


Sambil mengeryitkan jidatnya, mau tidak mau Wirasti menyambut uluran tangan kekar tersebut demi segera bisa mengembalikan dirinya pada posisi normal.


"Sial, siapa yang mau terus-terusan dalam posisi nggak nyaman?" rutuknya, raut mukanya ditekuk pertanda Wirasti sedang kesal!


Pria asing itu telah menolongnya? "Ya, iyalah! dia yang bikin kekacauan ini, gimana sih!" sentak Wirasti ngedumel sendiri.


"Watashi o yurushite," seseorang tersebut bersuara? maafkan saya. Wirasti terperangah, hei? hei? bukankah dia si oppa serdadu yang tengah dalam pengamatannya sekian hari lalu?


Eiitss, karuan sepasang bola mata Wirasti membulat penuh!


Wirasti terpukau, sekian detik masih dibuat terpukau oleh?


"Hem, lumayan juga nih orang!" bisiknya, segitu usilnya menilai seseorang pada pandangan pertama. Mata keranjang elo tuh!

__ADS_1


"Anata wa daijobudesu yo ne?" ujarnya, dia bersuara lagi. Suara baritonnya penuh kekhawatiran. Kamu tidak apa-apa, kan?


Deg, deg .... plaass!


Seakan terhipnotis, Wirasti masih bengong?


"Oi?" seru laki-laki tersebut, hei? mata sipitnya nampak bersinar dan terlihat jenaka. Karuan membuat Wirasti tambah salah tingkah!


Alih-alih mengalihkan perhatian, buru-buru Wirasti mengibaskan ujung bajunya, sambil menggeleng. "Huh," dengus Wirasti.


Pria itu menatapnya lekat-lekat, "Gomen'nasai ... " ujarnya, ada nada penyesalan. Maaf ya ...


Refleks Wirasti balas menatapnya, pria itu menunjukkan gestur ala kultur Jepang yang khas?


Itu lebay sekali, nyaris menyerupai sikap seikerei, sikap takzim tiap kali konon menghormati dewa mereka yaitu dewa Amaterasu Omikami. Mewajibkan menghadap ke arah timur pada matahari terbit dengan sikap sempurna membungkukkan badan. Aiish meski terkesan santun sekali, itu akan terlihat lebay dong?


Itulah kali pertama ketemu dan kenal secara tidak langsung dengan adegan dramatis dirinya ditubruk seseorang, yah laki-laki itu dalam perfomance seragam khaki lengkap dengan atribut topi khas serdadu Dai Nippon. "Ugh, terlempar ke masa penjajahan Jepang?" celetuk Wirasti.


Lorong waktu? time tunel? yep, dirinya pun harus bersiap-siap menghadapi serentetan berlatar historis zaman Jepang.


"Era sebelum kemerdekaan, waw?"


"Aneh, kok bisa seperti ini?"


Pikiran Wirasti pun bersalto, berjumpalitan, "Asal nggak nyungsep ajaah!" cicitnya sempat berkelakar sendiri. Yah, siapa tidak terlempar pada situasi confused?


"Gara-gara tinggal di sini," gumamnya kemudian. Yep, sejak menempati rumah tinggal baru eks areal kuburan tersebut Wirasti semakin sering terlibat dan terkoneksi dengan hal-hal di luar nalar.


"Ada saja, yang inilah ... yang itu!" ujarnya tidak bermaksud ngedumel tetapi dirinya tengah menekankan penggambaran suatu keadaan yang dirasakan seolah suatu situasi jetlag!


"Kemarin, yah ... kemarin itu? sudah sekian entitas menghampiriku, bukan?"


"Mereka yang lokal, bule belanda, kali ini orang Nippon?"


Lantas timbul pemikiran yang menajam seputar areal tempat tinggalnya, "Nggak salah, semakin kuat dugaanku daerah sekitar sini nggak main-main!"


"Secara metafisik bisa teraba olehku,"


"Wilayah yang dipenuhi spot-spot tidak terduga!"


"Faktanya mulai menguat bahwa sepanjang lahan kavling area belakang yang termasuk kutempati memang, kuburan semua di sini!"


Herannya? jika itu semua eks areal kuburan. "Tidak menutup kemungkinan semua yang ada di sekitar sini ya memang kuburan umum, buktinya entitas yang mulai bermunculan dari berbagai elemen atau warga masyarakat? bahkan beda ras!"


"Belanda, Jepang ... " ujar Wirasti mengeja ras atau kebangsaan mereka.


"Mereka pasti meninggalnya dengan berbagai latar," imbuhnya, sok tahu?


Wirasti seperti si kutu loncat? dari satu vibes ke vibes yang lain. Dari satu kurun bisa jadi ke kurun yang lain.


Hingga, berkesempatan berteleportasi menuju alamnya sang oppa serdadu, yeah!


"Meski harus mengorbankan diri saat ditubruk hingga terjengkang!"


"Ah, sial!"


Tetapi, dengan terantuk kejadian semacam itu setidaknya dirinya mempunyai pengalaman sebanyak sekarang, bukan?


Wirasti mengangguk, setengah ragu? dalam pikirannya mulai tergerak memprediksi bahwa akan ada atau terjadi suatu kelanjutan sejak dirinya kedistract sang oppa serdadu?

__ADS_1


__ADS_2