Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Alasan Berharakiri


__ADS_3

Tekanan hidup yang sedemikian menyakitkan itu seolah tiada pernah berakhir? hingga akhir derita hidupnya? hingga, suatu hari dirinya memutuskan berharakiri?


Berharakiri, ya harakiri sebuah kata tidak asing, tidak aneh, tidak pula sulit dilakukan bagi kalangan tentara dai Nippon atau korps militer negeri matahari terbit pada kurun gencar-gencarnya PD II atau ketika perang dunia II front Asia Pasifik bahkan merembet hingga ke Indonesia. Mereka tentara dai Nippon akan secara sukarela melakukan tindakan berharakiri, atau bundir. Iya, tindakan bunuh diri itulah yang dikenal dengan istilah harakiri.


Bukan istilah harakiri saja yang mencuat, melainkan masih ada beberapa istilah lain meski pemaknaannya beda tetapi intinya tetap sama yaitu jibakutai, kamikaze, masing-masing mempunyai arti atau berdifinisi beda tetapi nyaris sama.


Jibakutai, merupakan istilah pasukan berani mati. Salah satu pasukan dengan strategi bundir atau bunuh diri pada masa pendudukan Jepang. Kesimpulannya melakukan tindakan bundir dilakukan secara kelompok bukan sebagaimana harakiri secara perorangan.


Barisan yang dibentuk oleh Jepang bernama Jibakutai yang artinya pasukan berani mati, merupakan barisan semimiliter dan dijadikan sebagai pasukan cadangan oleh Jepang untuk mendukung tentara Jepang.


"Apakah Jibakutai identik dengan pasukan bom bunuh diri?"


"Yah, mengarah ke sana! karena pasukan bom bunuh diri itu sendiri adalah salah satu pasukan perang dengan strategi bunuh diri pada masa pendudukan Jepang. Saat itu Jepang sudah terdesak dalam Perang Pasifik."


Kamikaze mengacu pada istilah pasukan berani mati, yang dilakukan pasukan tempur di udara. Korps serangan udara bunuh diri Jepang pada Perang Dunia II, kamikaze begitu menggemparkan dunia kemiliteran.


Kamikaze sebagai pasukan serangan khusus yang dibentuk oleh Laksamana Madya Takijiro Onishi. Pasukan Kamikaze bertugas memberi perlindungan udara terhadap kapal-kapal Jepang yang akan menyerang kapal-kapal Amerika di Filipina.


Sampai di situ Wirasti menghela napas panjang. Wawasan tentang istilah bundir ala Jepang dengan gambaran yang mengerikan dari masing-masing mode bundir tersebut meliputi harakiri, jibakutai atau kamikaze membuat Wirasti mengolah pikiran hingga terantuk kembali pada sosok entitas seperti sang oppa serdadu!


"Yah, setidaknya telah memberi satu gambaran secara clear!"


"Tentang bundir-bundir yang unik tetapi amat mengerikan,"


"Bisa ajeee tuh kultur Jepang?" celetuk Wirasti, tidak bermaksud memberi cibiran justru terkandung intoleran terhadap tindakan semacam itu yang seolah salah kaprah namun dalam kultur mereka sudah dianggap biasa.


Wirasti pun sempat bergidik membayangkan, sesuatu?


" Harakiri ... " terlintas satu pemikiran liar, ketika terjadi harakiri secara? masih sambil bergidik membayangkan mereka sebagai pelaku bundir yang sudah sedemikian melekat dan membudaya. Apalagi jika dilakukan dengan cara sadisme terhadap diri mereka sendiri? menyabetkan samurai mereka, hingga isi rongga perut terburai?


"Ampun, ampun ... " decih Wirasti, merasa tiba-tiba mual!


"Heh, kenapa nona?"


Wirasti menggeleng pelan, karena sempat terbayang? kedistract sesuatukah? yep, kalau soal itu jangan ditanya!


Visual yang pernah sampai padanya sudah mewakili kengerian yang disodorkan padanya kala itu, iya kala itu?


Huft, ketika dirinya masuk dalam memori sang oppa!


Dia, sang oppa tersebut memperlihatkan sisi dirinya yang lain? tidak lain bagaimana power lain membuat dirinya seakan terpental.


Lepas dari visual yang berikutnya membuat Wirasti merasa mual? sungguh di luar dugaan. Oppa serdadu seolah berada pada situasi yang menegangkan, tahu bahwa dirinya tidak bisa berkelit?


Trang! trang! trang!


Terdengar suara pedang samurai beradu sengit, termasuk si pembawa samurai. Keduanya tengah duel maut!

__ADS_1


Bukan antar kelompok, melainkan satu lawan satu. Mana adegan duel tersebut menunjukkan kegigihan sang ksatria sejati.


Wirasti mengumpulkan kembali serpihan, kepingan, puzzle? "Yah, " ujarnya sambil perasaannya tidak enak.


Sungguh sebetulnya mengulang kalimat yang itu-itu saja!


Wirasti bukan saja ingatannya segar kembali ketika tadi pikirannya berputar-putar terantuk pada satu hal? namun yang jelas itu semua bermacam istilah dan gambaran yang mengarah pada bundir ala kultur dari negeri sakura tersebut.


"Kadang ada satu alasan mendasar," tutur Wirasti.


"Demi kehormatan bukan saja secara pribadi, melainkan lebih luas dari itu. Demi tuntutan bangsa dan negaranya sebagai ksatria sejati ... "


Sambungnya, "Itu semua ada pada ajaran bhusido!"


"Yep satu indoktrinasi yang berlaku secara klasik sih menurutku!"


"Tidak boleh tidak mereka harus lakukan dan tunduk pada indoktrinasi semacam itu!"


"Apalagi ketika mereka menjadi dan tergabung sebagai anggota korps militer, iya sebagai tentara Dai Nippon dalam kancah pendudukan Jepang di Indonesia karena tujuan mereka mempertahankan pulau Jawa dari serangan sekutu pada front Perang Asia Pasifik!"


Sampai di situ Wirasti terbungkam. Intuisi tajamnya bagai menukik pada sisi lain, karena ada sesuatu yang sempat membuatnya terjengit!


"Oppa serdadu," desisnya. Bulu kuduknya langsung merinding, tiba-tiba saja merasa ada yang semriwing melintas di sekitarnya. Heran? sebetulnya tidak perlu, karena toh dirinya sudah terbiasa dengan hal-hal di luar nalar berseliweran di sekitarnya, tetapi kenapa kali ini?


"Hmm?" gumam Wirasti, sambil pikirannya kembali membolak-balik satu hal yang masih diingatnya dengan baik!


Entitas berwujut eks eksistensi masa lampaunya sebagai salah satu serdadu Dai Nippon itu, diam-diam mempunyai incaran? yah karena Wirasti menempati areal spot wingit, bagaimanapun residu-residu yang masih tertinggal dan melekat di area tempat tinggal Wirasti sesungguhnya masih sesekali bermunculan sebagai satu hal yang wajar!


"Energi mereka," tunjuk Wirasti.


"Masih reaktif tergantung pemicu yang berada di sekitar lokasi itu!" imbuhnya.


Tidak terkecuali sang entitas oppa! "Seakan dia punya power!" tunjuk Wirasti lagi.


"Jika yang lainnya, meski di bawah permukaan tanah mereka semua terkubur di sana? bukan berarti bisa bermunculan semaunya, yang kukatakan tadi bahwa ada power yang dimiliki mereka mampu menimbulkan percikan ... "


Uhh, lalaa? berarti Wirasti masuk dalam radar gaib mereka? hingga ada satu akses menghubungkan secara lintas dimensi, begitukah?


"Bisa jadi begitu,"


Oppa serdadu pun, kalau bukan karena merasa klik? ada semacam chemistry barangkali begitu, maka akan memudahkan suatu koneksi saling terpaut!


Memori sang oppa itulah yang berulangkali menyambangi dirinya, seakan portal pun terkuak lebar bagi Wirasti. Apa yang tidak diketahui orang lain, perihal lahan kosong maupun tanah-tanah kavling bahkan bangunan rumahnya seakan terisolasi karena hanya satu-satunya yang berada pada deretan blok paling mentok di area belakang sebagai lokasi yang dihindari semua orang.


Di sanalah Wirasti yang semula merasa sering merinding, tercekam, bahkan terintimidasi. Seiring bergulirnya waktu, satu hal yang tidak biasa menjadi lama-lama terbiasa.


"Menganggap, yaah ... " ujar Wirasti, tanpa mau menunjukkan sikap pongah bahwa dirinya seolah bisa menaklukkan rasa takutnya?

__ADS_1


"Kalau menuruti rasa takut yaaah ... gimana, ya?" gumam Wirasti, karena untuk mengalihkan perasaan tercekam atau terintimidasi seperti itu bukan perkara yang mudah!


Apalagi hingga beberapa kali impressi yang sampai padanya terkait entitas sang oppa tersebut terus merangsek padanya, "Aku tahu, karena ada yang ingin disampaikan ... "


Alhasil?


Berbagai memori, atau kadang tiba-tiba terhubung seperti suatu telepati, Wirasti pun akhirnya harus siaga dengan segala kemungkinan.


Yah, kemungkinan? ketika tanpa terduga entitas sang oppa berbagi memori padanya. "Memang adakalanya menyerupai curhatan atau curcolnya dia!" ungkap Wirasti, karena visual yang ditunjukkan padanya seputar kepingan-kepingan memori masa lalunya.


Hingga pada titik paling, mengenaskan? "Kurasa, yaah begitu!" desis Wirasti. Ketika kepingan visual yang sampai padanya menunjukkan sisi kelamnya!


Apa yang terkait penggalan kisah lampaunya, sang oppa mengalami berbagai hal menyedihkan satu demi satu ditunjukkan pada Wirasti. "Aku sering merasa bahwa setiap entitas yang datang padaku selalu dengan menyisipkan muatan problem dirinya di masa lalu!" beber Wirasti, sering terbawa sedih jika sampai pada episode mereka ketika menunjukkan scene memilukan.


"Tidak terkecuali oppa," lontar Wirasti.


Sang oppa rupanya dikepung kisah memilukan semasa hidupnya? "Bahkan mendekati akhir hidupnya pun ... " bisik Wirasti, terjeda. Di balik kata-katanya sengaja ia hentikan? Wirasti memindai serentetan kisah sang oppa sejak sebelum meninggalkan tanah airnya, nyaris semuanya kisah pilu!


"Setiba di bumi pertiwi?" decih Wirasti, langsung mendapatkan gambaran utuh tentang sang oppa sebagai anggota korps militer negaranya dengan tugas di garis depan.


"Visual yang sampai padaku," bisik Wirasti, kali ini perasaannya campur aduk tidak karuan. Karena apa? sekalipun antipati dengan segala bentuk penindasan, toh tidak urung perasaannya tersentuh.


"Mereka memang penjahat perang,"


"Mereka disetting secara demikian, di bawah komando ..."


"Giliran seperti oppa mengalami derita, melihatnya secara personal?" ujar Wirasti, agak melted!


"Apalagi ketika ... "


Wirasti tidak bisa berkata-kata, gambaran utuh? sosok laki-laki berseragam khaki dengan topi khas berjuntai ala serdadu Dai Nippon jadul, kemana-mana bawa senapan dan samurai. Raut wajah terekspresi dingin dan keras, sorot mata mongoloidnya saja kelihatan nampak hidup.


Lalu, apa yang terjadi?


Wirasti perlahan mengatupkan kelopak matanya. Ia pejamkan sesaat, bulu mata tidak seberapa lentik itu berkedip-kedip. Mulai ia rasakan ada sedikit rembesan menghangat perlahan turun membuat basah pipi tirusnya.


"Aku tidak sepenuhnya menyalahkan sebuah keadaan," desis Wirasti sedih, dirinya terpental pada satu kondisi sulit menjadi satu pilihan!


"Itu, satu hal yang menjadi pilihannya? jiwa ksatrianya muncul seketika. Indoktrinasi sebagai pribadi yang menolak martabatnya runtuh, mengalir satu kultur demi kemuliaan. Bisa jadi itu sebagian yang meluber tidak tertahankan.


"Bushido," decih Wirasti, paham akan misi dan keadaan. Meski dia hanya seorang serdadu segalanya mau tidak mau mengacu pada kultur dan martabat negerinya.


Ketika dirinya terkepung, ketika dirinya nyaris tertangkap? serta merta dalam situasi terdesak? hanya satu tekad yang memenuhi rongga kepalanya. Dia, sang oppa tidak berpikir apa-apa lagi, kecuali?


"Demi bangsa dan negara," demikian sang oppa melesat, mencari space tersendiri? sebilah samurai ia tekan persis di permukaan perutnya, dengan hitungan detik kemudian? rongga perut dan ususnya terburai!


Wirasti terkesiap! detik berikutnya langsung mual, iya mual! visual mengerikan itu? dengan genangan darah disekelilingnya dan seorang oppa terkapar merenggang nyawa dengan cara mengenaskan.

__ADS_1


__ADS_2