
Dulu, di saat dirinya masih kecil menganggap ibunya ketika membuat sesuatu bukan sekadar snack melainkan membuat dalam jumlah banyak? karena tiap-tiap musim lebaran selalu ia jumpai kesibukan ibunya menguplek di dapur dari siang hingga malam. Itu dilakukan berhari-hari, demi?
Akan menjadi suatu klangenan atau kerinduan, terutama generasi seusia ibunya melepas kangen sambil saling berkunjung dari rumah ke rumah di sekitar rumah tinggalnya hampir satu deret tersebut adalah semacam komplek keluarga. Tidak lupa hidangan snack dari resep turun temurun di internal keluarga besarnya selalu terhidang di meja-meja tamu rumah mereka, di situlah uniknya.
Mbah buyut, atau nenek buyut dari pihak ibunya. Yah, Wirasti mempunyai seorang nenek yang memiliki skill mumpuni di zamannya. Secara kebetulan pula sang nenek buyut tersebut mempunyai saudara perempuan diperistri tuan belanda, nah dari kecipratan ilmunya dari sang mbah nyonyah itulah skill nenek buyutnya bertambah!
Eits, tunggu! tunggu! eh, kata belandanya? wachten, yeah itu, wachten! Wirasti langsung meringis.
Tempo hari uring-uringan perkara dirinya dongkol atas sikap tidak terdidik putra mbah nyonyah yang dianggap ngelunjak. Huh, betapa jengkelnya menghadapi sikap sinyo Morris? Wirasti jelas tidak terima dong para moyangnya dapat perlakuan tidak santun begitu.
"Mungkin bagi sinyo Morris dianggap perkara sepele?"
"Bagiku sih enggak!"
"Nggak ada ceritanya tuh bisa-bisanya ngomong sekenanya, mana pada orangtua lagi!"
"Mikir dulu kek ngomongnya pada siapa?"
"Ini kagak!"
"Ngomong sama nenek buyut seperti ngomong dengan teman saja?"
"Yah ceritanya sih meminta nenek buyut esok hari supaya datang ke rumahnya, tetapi caranya itu bo!"
"Nggak ada sopan-sopannya meminta orangtua, dengan kata-kata dan nada yang manis kek, sopan dikit kek?"
Haiizz, nah iya kan? Wirasti ngedumel sepanjang jalan kenangan? ngedumelnya sudah merepet-merepet tuh! "Emang nggak boleh ngedumel?" tantangnya sengit!
Kedongkolan yang memuncak? sinyo Morris memang sudah keterlaluan kok, masih mending tuh tidak hidup sezaman dengan dirinya. Hm, kalau tidak? habis juga tuh dapat perlakuan bullying atau playing victim ala Wirasti.
Tentu saja seorang Wirasti tidak akan membiarkan atau tinggal diam ketika terjadi insiden kecil model begitu, terlebih menyangkut suatu perlakuan yang tidak enak didengar maupun dipandang mata!
"Bisa-bisa habis tuh dipermak, eh?"
Iissh, se-barbar itukah Wirasti? heran, bukannya doi kelihatan berpembawaan anteng, kalem dan amat terjaga. Mana mungkinlah?
"Huh, kate siape?"
Oh, no!
Memang tidak setiap orang begitu. Ada yang tiba-tiba menunjukkan sikapnya yang tidak terduga, bukan?
"Salah satunya, Wirastikah?"
"Bisa jadi,"
"Huh, emm ... beerr!" sungut Wirasti mendapat gunjingan telak langsung menusuk ulu hati? ups, tentu saja tidak! Wirasti bukan tipikal mudah tersinggung sekalipun kata-kata nyelekit diarahkan padanya. Justru kemudian menunjukkan, cengiran dan senyum kecut!
Sang nenek buyut kala itu sering diminta berkunjung ke rumah keluarga sinyo Morris, iya rumah keluarga si mbah nyonyah adik perempuan nenek buyutnya. Salah satu keluarga besarnya diperistri tuan belanda tersebut cukup membanggakan namun di sisi lain mulai terlihat ketimpangan, why?
Memori sang nenek menunjukkan pada cucu perempuannya, Wirasti. Yah, pada Wirastilah orangtua ibunya tersebut memberi impresi berupa gambaran utuh?
Mulai dari perlakuan sinyo Morris yang tidak membuatnya berkenan, tetapi nenek buyutnya tersebut tidak pernah dan tidak menegur sinyo Morris atas perilaku ngelunjaknya itu!
__ADS_1
Di kesempatan lain diperlihatkan padanya, bagaimana mbah nyonyah kadang merasa serba salah? yah, karena tindak tanduk putra bungsunya dan perlakuan sang suami. Bagi mbah nyonyah semua itu sungguh meresahkan, tetapi dirinya tidak bisa bertindak lebih jauh. Akhirnya hanya pasrah pada keadaan.
Contoh kecil ketika meminta saudara kandungnya, yakni nenek buyut untuk bertandang ke rumahnya. Sinyo Morris biasanya yang diminta mengabari dan keesokan harinya nenek buyut kadang ditemani putrinya untuk mendatangi rumah loji, sebuah rumah megah milik tuan belanda.
"Diperlakukan seperti ... " ujar nenek buyutnya, penuh sesal. Wirasti merasa iba memperhatikan penuturan sang nenek buyut.
Ketika setiba di sana memang sih disambut hangat, namun ada satu hal yang selalu mengganjal. "Nenek buyut dan nenekku tak ubahnya seperti orang lain, nggak seperti layaknya keluarga sendiri ... " protes Wirasti.
Wirasti agak sebal dengan impressi yang ia dapat tentang si mbah nyonyah yang tidak bisa berlaku tegas, baik itu pada putra maupun suaminya. "Huh, gemas aku tuh!" seru Wirasti, maksudnya geregetan yang dipelesetkan menjadi seolah gemas padahal itu menunjukkan bahwa dirinya sebal bukan main!
Memori nenek buyutnya terus memberi gambaran padanya, apa yang tertangkap oleh Wirasti nampak sang nenek buyut masih usia kecil. Di sebuah rumah besar dan megah, anak perempuan kecil itu bersama ibunya tengah berada di teras samping tetapi menyerupai lorong bagian dari ruang belakang rumah loji. Tampak oleh Wirasti di sana merupakan sebuah ruang dapur diantara sekian deret ruang ke ruang, di muka ruang dapur tersebut ada sebuah meja menyerupai meja makan bentuk persegi berikut beberapa kursi. Bocil perempuan tidak lain adalah sang nenek di masa lalu ketika masih sangat belia itu tengah duduk bersama ibunya, gambaran utuh seperti itulah memberi impressi padanya.
"Mbah nyonyah selalu menemui dan mengajak ngobrol saudaranya di situ," tutur sang nenek lewat telepati, Wirasti langsung menangkap satu gelagat!
Gelagat yang kemudian ia rasakan sendiri tidak nyaman, "Nenek buyutku hanya ditemui di lorong dapur, sepanjang pagi hingga siang terus saja di situ!"
"Nggak dipersilakan atau diajak masuk ke dalam rumah kek!"
"Sementara mereka? ayah, dan dua anaknya nampak ada dan mondar-mandir di ruang khusus keluarga. Ironisnya kedua anak mbah nyonyah seolah dibatasi gerak geriknya
"Oh, itu artinya mbah nyonyah harus patuh pada polecy atau rule yang berlaku di keluarganya!" tunjuk Wirasti, menekan rasa herannya.
Ironis meski terkesan sebagai hal sepele dalam sudut pandang Wirasti menimbulkan suatu percikan, "Di situlah mbah nyonyah biasa menemui saudara dan keponakannya ..."
Wirasti cukup jelas mendapat kesan, seperti sebuah video yang diputar ulang. Lalu bisa ditarik satu kesimpulan, rules atau garis itu akan tetap ada salamanya. "Menyebalkan!" sungutnya, betapa dirinya amat gerah lama-lama memperoleh impressi sedemikian menakjubkan dalam arti tanda kutip artinya menyedihkan sekali.
"Dasar, tipikal orang seenak udel!" maki Wirasti, amat sarkas!
Tetapi sayang ekspektasi kadang tidak sejalan, hingga akhirnya apa yang ditemui dalam impressi dan memori sang nenek buyut ketika memberi gambaran utuh apa yang pernah mendistraksi moyangnya tersebut membuat Wirasti sebagai generasi keempat di internal keluarganya menjadi mencak-mencak disertai uring-uringan melulu tiap kali impressi itu menghampirinya tanpa diminta.
"Sinyo Morris, sinyo Morris, apaan!" ujar Wirasti, nyolot!
Terlebih secara detil dirinya tahu persis, bagai sebuah adegan yang bermain-main di mukanya. Bagaimana gestur sang sinyo? bagaimana begitu lemesnya bibir setipis bibirnya itu dengan entengnya ngomong yang ditandai Wirasti seakan tidak kenal adat dan adab!
"Sekali lagi ngomong 'mulu tidak sopan gue gibeng lu!" sarkas Wirasti malah ketularan tidak punya adat dan adab, astaga toxic di mana-mana tuh gampang menular. Menular jeleknya, ups!
Lama-lama? entah, kok tahu-tahu sikap setengah arogansi bin songongnya sang sinyo blasteran tersebut agak melumer? adakah campur tangan semesta mampu menaklukkan keangkuhan sinyo Morris, yah entahlah namun yang jelas semua itu terasa sat set mengubah peta!
Haiiissh, ada apa denganmu sinyo Morris? "Nggak cukup mengherankan," ledek gema suara di kejauhan?
Wirasti sendiri juga keheranan, "Bisa-bisanya, aku nggak habis pikir dah!" ujarnya.
Sinyo Morris dalam kesempatan lain justru mulai memperlihatkan dirinya berkeinginan caper-caper, hei? terhadap siapa?
Meski sinyo Morris nun jauh di balik segenap sekat ranah gaibnya, toh Wirasti yang berkemampuan ekstra tersebut nyatanya mampu mengakomodir sinyal yang melingkupinya. Apa jadinya kemudian?
Eits, "Hei, Wir? makanya jangan kelewat jutek!"
"Aku? emang aku ngapain?" sahutnya ketus, astaga ini anak?
Tak ayal dengan sikap beledag beledug ala Wirasti tesebut membuat seseorang sayangnya telah wujut entitas? meski begitu tidak menghilangkan rasa simpatiknya. Oh-ho? Semua itu dilakukan si tuan muda sinyo Morriskah?
"Ups," terlontar kecil kata pendek sebagai intonasi, karena dirinya tidak mengharap apapun dari bentuk kedekatannya dengan sang blasteran?
__ADS_1
"Situ saja yang kepedean!" sungut Wirasti langsung tak senang. Situ yang dimaksud adalah? siapa lagi tuh kalau bukan si tuan muda putra mbah nyonyah!
Well, Wirasti pun akhirnya melunakkan egonya? terbukti sedikit-sedikit mulai mengendorkan simpul saraf-saraf yang tidak fleksibel alias kaku, hingga susah payah membuat dirinya bertekuk lutut?
"Huh, ngaco!" semprot Wirasti, antara kaget dan langsung ingin ngumpet dan tidak muncul-muncul lagi?
"Senang bisa ketemu dan kenal denganmu,"
Wirasti yang jutek langsung merasa, deg? deg? deg? wajar dong mana ada seorang cewek eh, si ciwik kacik. Tidak kesetrum dengan arus yang tidak searah melainkan larut dalam kalimat yang terlontar untuknya!
"Hei, hei? lupakan dendam moyangmu gih ... "
"What?"
"Iya!"
Pesona si empunya bola mata biru keabuan, bibir bagai segaris tipis, kulit bersih rona kulit genetik bule? hidung mbetet saking mancungnya, itulah karakteristik tuan muda sang sinyo Morris yang mudah dikenali. Siapa sangka, bukan? entitas tersebut mulai terkesan pada sosok gadis belia berparas manis eksotik wajah menyiratkan keteduhan meski acapkali terlihat garang kalau sudah dongkol dengan orang.
Iihh, kesan bahwa Wirasti sosok imut dan cute? "Boleh jadi," suara di hati kecilnya ikut andil alias berkontribusi. Diam-diam entitas berwujut sinyo Morris itu merasa ingin terkoneksi lebih dekat?
Itu dia? tuan muda sinyo Morris tersebut langsung amat terkesan, terlebih setelah tahu siapa Wirasti dan berasal dari internal keluarga yang mana?
"Oh, kita satu genetik ya?" akhirnya sinyal gaib itu memberi petunjuk padanya!
Uluhh ... uluuuh? cakep bukan main? itu, ketika tuan muda putra bungsu mbah nyonya tersebut face to face dengannya!
"Wooy!" bentak Wirasti, supaya tidak nyerocos hingga keterusan sampai memprediksi yang tidak-tidak?
Tuan muda sang sinyo Morris tersebut bergegas menghampirinya seraya berkata, "Aku sedikit tahu tentangmu!" serunya, mata kebiruannya seolah bersinar untuknya?
Deg? deg ... seerrr! irama detak jantung Wirasti menjadi, kacau? iya, tentu sajalah!
Hei, menghampiri Wirasti dalam rangka apa? huaah gubraaak!
Ketika itu? di rumahnya tengah membantu sang ibu. Hei, tahukah? adonan kuker atau kue kering telah selesai dibuat. Wirasti belum beranjak dari meja kayu persegi ukuran 1x1 meter, di atas meja itulah sekian menit lalu dirinya susah payah membuat adonan kue, sebagian bahan dari korvets!
"Astaga, Wir? ibumu sedang mengukur kemampuan atau meningkatkan skillnya?" kata-kata tersebut membersamainya sepanjang dirinya mengetuk pelan rolling pin terus mencoba menggilasnya dengan sepotong korvets atau lemak beku, semua itu ia lakukan secara perlahan di atas adonan dasar kemudian atasnya diolesi korvets tadi. Begitu seterusnya hingga selesai dan adonan pun disimpan di lemari es.
"Agar nanti adonan menjadi berlapis-lapis, dan semua ini resep orisinil kue belanda warisan mbah nyo ... " belum selesai menggumam, seseorang berada tepat di sebelahnya. Iissh? begitu bermaksud menoleh seulas senyum terlempar untuknya?
Refleks Wirasti ber-istighfar kencang-kencang sambil menekan dadanya saking kagetnya!
Pria berpostur antara 179- 180 an centimeter tersebut mengulum senyum, Wirasti karuan hanya bisa mendongak!
Dia tidak berkata-kata apapun, tetapi dialog secara telepati langsung menyeruak!
"Aku suka melihatmu seperti mommy, rajin di dapur seperti waktu dulu! apalagi melihatmu berlepotan tepung dan bau asap dapur. Hm, aroma harum bladerdeeg? aku suka, suka sekali nona!" serunya, kedua mata birunya terlihat berbinar. Hidung mancung kemerahan nampak kembang kempis menyiratkan sesuatu yang tidak ia mengerti?
Atau, seakan ada kerinduan yang begitu dalam? iya, agaknya kerinduan nostalgik masa lampaunya bersama sang mommy tercintanya?
"Boleh aku memelukmu sebentar?" pintanya tiba-tiba, dan itu aneh sekali? Wirasti merinding? karena sosok tuan muda tersebut adalah berupa entitas atau ghost? hiiii?
Stop? Wirasti bukan si penakut, bukan? lagi pula alasan apa pula merasa merinding karena tercekam rasa takut. Oh, nee! the big no! ketika tuan muda sang sinyo Morris itu memeluknya sejenak ia tidak membiarkan dirinya merinding berlama-lama. Oh-ho? apakah sejak itu merasa tidak akan menunjukkan sikap apriori lagi? oh, really? "Kita bersaudara, bro!" gusar Wirasti, jenaka!
__ADS_1