
Ik ben hier begraven, we zijn allemaal onder u dame, aku dikubur di sini, kami semua berada di bawahmu nona!
Nah? "Ya, kan?" pekik Wirasti, secara tidak langsung menemukan jawaban atas teka teki yang selama ini nempel di jidatnya!
Itu, baru seuprit! yah, maksudnya baru sebagian kecil kejelasan perihal teka teki tempat tinggal dan area sekitar rumahnya terjawab! rahasia atau misteri apalagi yang masih diliputi selubung tebal, dan Wirasti apakah harus menyingkapnya?
Residu yang tertinggal di area tempat tinggalnya, seakan mulai reaktif. Wirasti yakin, energi negatif di lingkup sekitarnya seolah terpicu adanya satu transmisi menguat. Entah, medan magnet yang mana hingga mempunyai daya tarik menarik luar biasa?
Kemunculan demi kemunculan? baik berupa visual ectoplasma, vortex maupun sekadar hologram atau lewat mimpi. Apakah belum cukup menunjukkan bahwa tempat tinggal dan sekitarnya tersebut sebagai spot wingit? yep, mulai menunjukkan keangkerannya?
"Tahayul!"
"Mengada-ada, ah!"
"Kok percaya begituan sih?"
"Halusinasi,"
Yah? apa boleh buat, bukan support ketika dirinya terjebak situasi tatkala bersentuhan dengan dimensi lain. Malah dirinya akan dihujani berbagai cercaan? "Sungguh nggak enak di kuping!" keluh Wirasti tanpa bisa mengelak dan berbuat banyak.
Alhasil, Wirasti pun berusaha menebalkan kupingnya! enggan memperhatikan berbagai cercaan yang ditujukan padanya jika semua itu hanya bermaksud melemahkan mentalnya.
"Biarlah, tidak merugikan mereka dengan kenyinyirannya itu?" ujar Wirasti, seolah menangkis berbagai cibiran tersebut.
"Mereka percaya atau tidak, hak-hak mereka kok!" omel Wirasti, jika ada semacam sinyalemen salah alamat!
Memang asumsi atau anggapan semacam itu tidak secara langsung ia dengar dari mulut nyinyir dan pandangan penuh julid, tetapi setidaknya jika itu terjadi? Wirasti sudah punya tameng atau perisai.
"Pasang kuda-kuda nih?"
"Diamkan saja 'napa?"
Yah, Wirasti memang harus cuek bebek akhirnya? "Nggak papa, 'dahlaaah!"
Memang, tidak setiap orang memiliki sudut pandang sama. Jika tidak satu frekuensi ya memang repot sih, mereka tidak akan tahu seluk beluknya. Tahu-tahu? setiap aktivitas yang mengarah pada hal-hal berbau mistis siapapun langsung bereaksi, bukan?
Mending jika sekadar bilang, "Nonsens!"
Bagaimana jika sudah mencampur adukkan dengan POV dari sisi lain? sudut suatu keyakinan yang memang sudah diyakini keakuratannya?
"Musti diruqyah, musyrik tuh?"
Laah, kok gitu amat? Wirasti menjadi terperangah. Bukankah apa yang melekat padanya suatu kemampuan ekstra, "Bukan atas kemauanku, dan itu sudah jadi fitrah yang tidak bisa kupungkiri ... " ujar Wirasti, berusaha menepis tiap keadaan yang samasekali tidak menguntungkan, dan itu patut ia perjuangkan agar tidak dianggap yang bukan-bukan!
"Cenayang," tuduhan miring pun sudah ia telan bulat-bulat!
"Preetlaah!" tandas Wirasti, mulai bertekad mengabaikan apapun stigma yang dilayangkan padanya sejak itu?
Wirasti, jalan terus!
Yep, berdasar analisa ketika menajamkan penglihatan mata batinnya. Meski belum sampai pada satu kesimpulan terkait apa yang selalu ia rasakan maupun yang ia lihat sepanjang dirinya mulai bersentuhan dengan lingkup sekitarnya, ternyata?
Jika diamati lebih jauh? dengan satu pemaknaan secara khusus. "Tidak seperti yang terlihat sehari-hari," ujar Wirasti, ingin memberi clue bahwa tempat tinggal dan sekeliling rumahnya memang meninggalkan jejak-jejak? residu yang terakumulasi? sekian energi yang mengepung?
"Yah, semuanya mulai reaktif kembali," decih Wirasti, selirih mungkin. Lirih? karena Wirasti tidak pernah menyangka bakal menghadapi konektivitas intens dengan mereka.
"Sejauh ini, untungnya ... "
"Apa? katakan dengan jelas dong!"
"Mereka rata-rata, jii ... Jii-nak!" ujar Wirasti, sebetulnya tidak bermaksud meledek melainkan memunculkan nada gurauan biar tidak garing!
"Mereka umumnya sewajarnya sih!" jelas Wirasti, buru-buru memberi gambaran secara clear!
__ADS_1
"Buktinya juga apa? si tuan belanda, noni dan lainnya." jelas Wirasti, tetapi ketika menjumpai satu scene perihal perempuan psikopat tempo hari itulah yang membuatnya, ngilu eh seram!
"Eh, iyaa ... horor banget!" imbuh Wirasti, mirisnya atas adegan sadisme semacam itu masih melekat di jidatnya!
Nah, giliran scene si noni kece tersebut? rasanya baru Wirasti bisa melihat yang bening-bening dah!
"Noni bule nederlands tersebut yaaa ... emang cantik lho!" puji Wirasti, sempat berdecak kagum karena dia perempuan bule amat kece!
Astaga, mengingatkan dirinya pada sosok penyanyi baheula nan cantik berdarah Ireland, Sinead O'Conor? ups.
"Gloomy sunday, sempat populer olehnya!"
"Hanya bedanya si noni body goals, alias press body banget? sedangkan Sinead lebih ramping!"
Astaga, ngelantur nih? iissh, sekadar cari perbandingannya. Tetapi ingatan Wirasti langsung sempat ke-distrak Sinead O'Conor yang sudah R.I.P tersebut, lantunkan? "Al-fatihah," desis Wirasti, mengingat si cantik Sinead O'Conor sudah bertransformasi sebagai, Shuhada Sadagat.
Kata Wirasti kemudian,"Aku respek tuuu dengan hantu non pri! mereka nggak seperti entitas lokal, suka aneh-aneh!" ujar Wirasti bergidik, sambil pasang muka seolah jijik!
"Ugh, apalah itu kuntilanaklah, poconglah, genderuwolah ... " Wirasti pun mengabsen satu persatu.
"Masih mending kalau mau seperti style anggun model nyai loro kidul, badarawuhi, dan ... ah, entah siapa lagi tuuu?"
"Kalau yang non lokal, meski mereka tampil adakalanya dengan raut memucat? tapi kan selalu kelihatan rapi, lihat tuh si tuan, juga noni!"
Yeah, Wirasti sempat diskriminatif? POV-nya segitu amat? detil mengemukakan sisi lain gambaran utuh entitas import? "Seperti yang ada dalam film The Nun, nggak serem-serem amat menurutku!"
Uhuyy? tatkala di hari lain Wirasti malah dibikin terpana oleh kemunculan sosok lain, dia dari mahluk cowok tuh!
"Masih muda belia!"
"Postur bulenya, tinggi banget!"
"Kelihatan dia army, dari seragam yang dikenakannya!"
Puk, puk, puk? "Kasihan," desis Wirasti langsung merasa iba!
"Dia kenapa, ya?" decih Wirasti, sebatas menaruh empati ringan, artinya tidak terlalu jauh menginvasi latar apa yang menjadi bab musababnya?
"Stop kepo!" langsung Wirasti mendapati dirinya di-warning sedemikian rupa? Wirasti nampak kesal dan hanya angkat bahu!
Namun belakangan Wirasti sempat mencuri-curi info? yah, semacam itulah! karena sekian kali visual yang nampak olehnya entitas cowok kece tersebut masih terus menerus dalam posisi seperti itu!
"Ada apa denganmu? eh, wat is er mis met je?" pertanyaan semacam itulah yang ingin sekali ia lontarkan padanya, sekadar untuk menyapanya? astaga, Wirasti sok proaktif sekali sih?
"Menyapa seseorang yang tidak atau belum dikenal apakah sebuah dosa?" ringis Wirasti, ngebet ingin mengenali sinyo kece tersebut?
"Yeah?"
"Eumpphh, yaaa ... nggak juga sih?"
Tahu-tahu Wirasti sudah berada di satu lokasi, di mana pria bule muda berseragam army belanda itu tengah duduk dengan muka sedih?
Hei, pria tersebut nampak duduk di bawah. Hanya di atas lantai semen, zaman dulu mana ada di mana-mana lantai keramik? yang ada hanya berupa ubin atau dari semen.
Ugh? sekelilingnya seperti view sebuah gudang, tetapi entah?
Wirasti terus menelusur, memindai latar atau sekelilingnya!
Ketika semakin dekat, dan nyaris mendekati posisi pria tersebut?
"Hey?"
Pria tersebut nampak, terkejut? sambil masih mendongak ke arahnya. Wirasti mengulas sedikit senyum namun ragu-ragu, karena reaksi yang ia dapati masih ekspresi yang sama!
__ADS_1
Pria bule nan kece tersebut dengan mata abu-abunya nampak mulai menajamkan pandangannya sembari mengucap kata, "Jij, ja wie ben jij?" kata pria tersebut, kamu ya kamu siapa?
OMG, Wirasti nyaris terpekik? untung tidak refleks seketika berjingkrakkan? "Jaga manner dong, ah!" cibirnya pada dirinya sendiri.
Tetapi begitu dihadapkan pada pertanyaan tadi? karuan Wirasti meringis, bingung harus jawab apa? yeah, apa tidak akan menimbulkan tanda tanya besar jika dirinya berterus terang telah menyeberang dari dimensi yang beda?
Confused, bukan? verwarrend, toch? Wirasti tidak akan bisa membayangkan reaksi entitas pria army tersebut akan seperti apa? namun yang jelas akan mendapat suatu kejutan yang luar biasa?
"Ck, itu pasti dong!"
Ketika Wirasti membuka mulut, mengatakan bahwa dirinya dari era millenial berpuluh-puluh tahun dari zamannya saat pemerintah negerinya menindas Hindia Belanda? sejak moyangnya melakukan ekspedisi pelayaran demi meraup dari hasil monopoli rempah-rempah, lalu beralih membentuk VOC sampai pemerintah kolonial hingga menyerah pada pendudukan militer Dai Nippon.
Sementara, perkiraan dan feel Wirasti pria army yang masih belia itu pernah eksis di era tahun 1920-an?
"Aku yakin, dia akan kebingungan dah!" tunjuk Wirasti, pandangan Wirasti masih lekat-lekat menatap pria tersebut yang tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya duduk.
Wirasti menggeser posisi, maksudnya ingin lebih dekat menghampiri. Seraya berkata,"Kun je het geloven, als ik niet uit jouw tijd kom?" artinya, apa kamu percaya kalau aku bukan dari masamu?
Pria itu melebarkan mata abu-abunya yang indah, sambil katanya? "Ik raadde het al," artinya, sudah kuduga.
"Oke," sahut Wirasti, baiklah.
Wirasti berusaha menarik perhatiannya dan mengajaknya ngobrol, "Hallo jongens, waarom voelen jullie je hier thuis?" maksudnya, hei kawan kenapa kamu betah di sini?
Reaksi pertama pria tersebut? bukan senyum manis tetapi seringai, perasaan Wirasti berdegup! "Dia kan entitas?" pikirnya ada sedikit was was, bagaimana jika tiba-tiba?
Shitt! "Buang pikiran buruk seperti itu!" tepisnya, feelnya mengatakan tidak ada potensi seburuk itu dalam diri pria di balik entitas tersebut!
Semacam telepati yang sampai padanya, memenuhi rongga pikirannya dia pria baik-baik. Lalu, berdiam di sebuah gedung dengan posisi selalu menyerupai orang tengah nongkrong begitu? menunjukkan kegundahannya selama ini.
"Ik vind het jammer dat ik niet naar huis kan," ujarnya, aku sedih tidak bisa pulang.
"What?" timpal Wirasti, refleksitasnya keluar!
Buru-buru meralat, "Waarom?" melontar kata, kenapa?
"Op dat moment was ik gebonden aan een arbeidscontract," jawabnya, ketika itu aku sudah terikat kontrak kerja.
"Wat is dan je probleem?" sambar Wirasti penuh rasa ingin tahu, lalu apa masalahmu?
Pria itu kembali menunjukkan seringainya, sambil katanya? "Soldaten zoals ik moeten grondig te werk gaan, maar ... " yang dia katakan, tentara sepertiku harus tuntas dalam pekerjaan, tetapi ...
"Maar waarom?" sambar Wirasti lagi, tetapi kenapa? seakan tidak peduli dianggap tidak punya manner karena bolak balik main sambar omongan orang lain!
"Waarom? heb net als jij een gezin toch?" sahutnya kelihatan serius, seperti dirimu punya keluarga, bukan?
Oh? Wirasti langsung terpekik. "Je bent getrouwd? Kinderen hebben vrouw?" tanya Wirasti, menyelidik. Anda sudah menikah? punya anak istri?
Pria bule bermata kelabu bersinar redup itu menggeleng, "Nee, nee, ik heb ouders waar ik van hou!" sontak nada suaranya seakan meninggi, tidak tidak aku punya orangtua yang aku cintai.
Oh? seketika perasaan Wirasti melumer, melted! dalam hati merasa iba sekali, seorang tentara muda ditugaskan di garis depan. Mengingatkan dirinya ketika terkesan film The Ryan Private, perjuangan seorang tentara di medan perang, ada penggalan mengharukan ketika adegan tentara muda tewas, ketika dia mempunyai orangtua yang harus ditinggalkannya.
"Ik kan niet naar huis, zit hier voor altijd vast!" ujarnya sedih, dia mampu meredam emosionalnya. Aku tidak bisa pulang, tertahan di sini selamanya.
Pertanyaan Wirasti pasti, why? mengapa? waarom? saat itu, tidak langsung terjawab!
Wirasti? kemudian hanya mendapat satu akses melalui memori dia, iya pria muda itu lewat memori yang sampai padanya.
Ketika? markas militer di lokasi terpencil di mana dirinya bertugas di suatu malam telah dikepung penduduk setempat, tentara yang tersisa dilucuti dan markas kecil tersebut dibakar habis. Dia, iya laki-laki tersebut? salah satu yang masih hidup dan menjadi tawanan, tetapi akhirnya harus menemui ajalnya di tangan laskar rakyat yang begitu heroiknya!
Wirasti? langsung, kicep! tidak tahu apa yang harus dilakukan, kecuali satu kata yang menggumpal di rongga kepalanya, "Zelfs," bisiknya lirih? impas.
Jika terjadi insiden semacam itu di masa-masa bangsa ini masih tertindas? suatu pergolakan? Wirasti berkecenderungan memiliki titik point subyektifitas mencermati semuanya, karena? "Aku bagian dari bangsa ini," ujarnya, meski hatinya tiba-tiba kelu!
__ADS_1