Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Oh, nee! nee!


__ADS_3

Wirasti sekalipun terkesima dengan daya pukau si mata biru keabuan tersebut, bukan berarti meluruhkan empatinya dan wajib menggantinya dengan sisi lain, sentimen negatif? akan berlaku hingga kapankah? ups!


"Empati itu kalau suatu kesan begitu apiknya terus menimbulkan kesan mendalam, bukan sebaliknya!" dengus Wirasti, ketika terkaan atas kesan yang timbul apakah akan sanggup meluruhkan rasa sentimen lalu bertransformasi menjadi simpati?


"Huh!" dengus Wirasti, hampir dipastikan empatinya nol besar!


Sinyo? atau de jongen, andai bisa diputar waktu? Wirasti merasa antara dirinya dengan tuan muda Morris tidak selisih jauh secara usia. "Bisa jadi menjadi kawan bermain?" lontar Wirasti berseloroh, apakah hatinya telah melunak?


Oh, nee! nee!


"Bukan kawan bermain dalam arti sebenarnya, kawan berantem realnya!"


"Hah, "Serius?"


Wirasti langsung bereaksi, "Kenapa enggak?"


"Hahh?"


Wirasti tidak bakal keder euyy? makanya reaksinya justru menantang!


"Aku belum bisa melupakan, betapa semena-menanya dia. Aku tidak suka dengan semua sikap songongnya, seakan sudah tidak butuh orang lain?" protes Wirasti, demi diingatnya kembali memori yang tersampaikan padanya lewat semacam style telepati nenek buyutnya karena suatu hari impressi tersebut sampai padanya.


Tuan Morris, demikian internal keluarganya di kalangan mereka harus patuh memanggilnya demikian? Wirasti pun berdecih. "Huh," gerutunya, seolah protes langsung dirinya tidak setuju atas perlakuan yang harus menganggap keluarga mbah nyonyah tersebut wajib diperlakukan ekstra alias istimewa?


"Ciih,"


"Puiih!"


Wirasti pun sudah mulai bersungut-sungut, "Elo siapa, heh?" ketus Wirasti mengeluarkan nada sinisnya. Sudut hatinya mulai ada letupan kecil, kepalanya pun langsung memanas. Hihh? kenapa aku harus menghadapi impressi dan tontonan model begini? sepanjang sekian detik menggerutu tidak tentu arah, bibir tipisnya langsung meruncing!


Insting Wirasti terus bergerak, ke sana kemari? well yang jelas dirinya terus menelisik. Ada banyak hal membuat seketika dongkol bukan main!


Bermula dari impressi yang tersampaikan lewat memori seseorang, segera tertangkap olehnya bahwa penyampai memori tersebut tidak lain sang nenek buyutnya! seolah berkisah padanya bagaimana dirinya dalam satu scene memperlihatkan sang tuan muda putra bungsu sepupunya itu yakni si mbah nyonyah menunjukan perilaku tidak sepadan dengan ettitude yang biasa diperlihatkan sebagai ras high class karena bagaimanapun golongan pribumi masih dianggap low level atau lapisan bawah.


"Huh, yang kayak begini nih bikin orang naik pitam!" omel Wirasti semakin keterusan!

__ADS_1


Wirasti tahu, itu memori sang nenek buyutnya! beliau memperlihatkan cuplikan semacam adegan. "Kurasa itu suasana sore hari," berkata Wirasti sambil terus menelusur!


Cuplikan scene tersebut terus menggulir? sebuah bendi atau delman ditarik satu ekor kuda, tetapi terlihat kendaraan bernama bendi atau delman tersebut ukurannya lebih kecil dan nampak ramping. Seorang kusir berada di bangku depan mengendalikan laju sang bendi, satu penumpang dan memang hanya satu-satunya di bangku penumpang yang memang diperuntukkan hanya kapasitas dua orang. Uniknya meski bentuk serupa dengan delman, bentuk bangku untuk penumpang cukup menghadap ke arah depan persis di belakang posisi kusir.


"Aku yakin sinyo Morris pasti dengan gestur dagu terangkat, kan dia agak somse!" cibir Wirasti, mengatakan somse singkatan dari kepanjangan kata sombong sekali, begitu!


Aduh, tega sekali Wirasti bersikap mulai julid?


Senyum Wirasti pun penuh arti, sambil katanya? "Nggak tega gimane orang dia memulai dengan segenap sikap nyebelinnya!"


Iiisshh?


Nenek buyutnya, itulah! beliau sebagai saksi bisu. Meski cara Wirasti mendapatkan impressi tersebut dengan melalui suatu akses di luar nalar. Kecakapan Wirasti dalam wujut ekstranya tersebut terus memberinya petunjuk, kalau bukan sentuhan mistis akibat interaksinya dengan dunia lain seolah melintas batas menghampirinya.


Di satu sisi sang nenek buyut telah memberi gambaran utuh ketika dirinya berada pada situasi masa lalunya, di sisi lain dengan impressi yang ia peroleh tersebut setidaknya visual tentang penggambaran sosok sinyo Morris tersebut begitu meyakinkan bahwa sebenarnya tipikal manusia seperti sang sinyo tersebut memang ada!


Antipati yang tiba-tiba mencuat hingga menimbulkan rasa dongkol tersebut tidak lain dikarenakan petunjuk dari memori sang nenek buyutnya, sinyo Morris setiap kali ke rumahnya diantar pak kusir bendi lalu terjadi dialog dengan keluarga sang nenek buyut. Dari gerak gerik kemudian cara berdialog hingga menimbulkan kesan tidak tahu adab itulah yang tiba-tiba menarik perhatian Wirasti dan langsung menjadi suatu ganjalan.


"Elo tuh cuma anak muda, nggak pandai bersopan santun!" maki Wirasti meradang, mulutnya sudah gatal!


"Heh, cara elo tuh terhadap orangtua seperti nggak punya adab!"


"Emang di zaman elo nggak makan bangku sekolah? nggak ada pelajaran budi pekerti? sombong amat elo!"


"Jangan mentang-mentang orangtua elo tuh non pribumi, iya bapak elo emang belanda tapi ibu elo tuh cuma pribumi ... "


Lho, lhoo? astaga naga, Wirasti bukan sekadar ngedumel? tetapi sudah merepet-merepet persis nenek bawel. Style ngedumelnya seperti kaleng rombeng, nada suaranya terdengar ketus, dan berisik sekali!


Laki-laki muda blasteran itu seketika mengerutkan kedua alisnya, tentu saja dia paham tengah dimaki-maki orang lain. Sesaat ekspresinya terlihat lucu, sambil kelihatan sekali menyipitkan mata. Baru kali ini melihat cewek kece? yah, seumur-umur dirinya seakan melihat sesuatu yang baru?


"Nee, nee, wie ben je?" sinyo Morris melempar tanya, tidak, tidak, kau siapa?


Huh, kena lo? pikir Wirasti.


"Ik ken jou niet," ujarnya, aku tidak mengenalmu.

__ADS_1


Mau mengenal gimane? batin Wirasti masih sebal, yeah sebalnya masih nyantol di ubun-ubun nyaris meletup!


"Ken je me?" ujarnya lagi, karena Wirasti tidak bereaksi. Apa kamu mengenalku?


Chuaks! Wirasti tentu saja tambah geregetan, kali ini tangannya sudah gatal pengin main tabok saja. "Heh, sinyo! luister ja, ik ben altientallen jaren familie van jou!" sahut Wirasti sudah hilang sabarnya, heh sinyo! dengar ya! aku ini ada hubungan kekerabatan denganmu berpuluh tahun dari zamanmu!


"Echt waar?" sontak sinyo Morris sempat kaget tetapi terlihat excited, oh benarkah?


Huh, sudah kuduga! cibir Wirasti dongkol. "Echt waar, echt waar! huh, really? really?" Wirasti malah ngedumel sendiri.


Dialog demi dialog pun berlangsung seru, bukan seru bagi Wirasti melainkan bagi sinyo Morris. Karena bagi Wirasti sendiri keseruan itu tatkala dirinya sempat membuat dongkol orang lain, sepanjang durasi pendek dialog dengan entitas blasteran tersebut dirinya menunjukkan sikap not welcome dan mana? sikapnya nyolot melulu, hoyaa!


Bagi Wirasti kemudian sudah merasa tidak aneh lagi, bersentuhan dengan entitas yang menyeberang kemudian mampir ke dimensi manusia seperti halnya yang dilakukan sinyo Morris.


"Itu sudah menjadi bagian keseharianku," ujar Wirasti, enteng! nada bicaranya flat seakan tanpa beban.


Tiap-tiap dirinya bersentuhan dengan hal yang sifatnya astralis, memang awalnya timbul respon sedikit shock namun tidak akan berlangsung lama. Sebagaimana ketika semesta menggulirkan dirinya seakan satu garis edar dengan sinyo Morris, hingga dirinya bisa terkoneksi?


"Tidak mengurangi rasa hormat semua diawali oleh memori nenek buyutku!" ujar Wirasti, menandaskan. Jika kemudian sinyo Morris menyeruak tidak lain karena peran nenek buyutnya hingga entitas sinyo Morris terseret dalam lingkar kepentingan dirinya dengan sang nenek buyutnya.


"Sulit dipercaya, bukan?"


"Alam astral dan ***** bengeknya nggak bisa dicerna secara nalar, hanya butuh dipahami itupun oleh mereka yang sefrekuensi, gitu!"


"Nggak perlu diperpanjang yeah?"


"Kemunculan suatu entitas, terkoneksi dan sebagainya semua itu ... absurd!"


"Menurutku sih, masa bodoh dah!"


"Terserah orang mau ngomong apee!"


"Pendeknya, no debat!"


Huh, kali ini yang dipikirkan oleh Wirasti terkait pemunculan entitas blasteran tersebut? dirinya samasekali tidak bisa mentolerir atas kelakuan tidak punya adabnya tersebut. Sungguh rasanya tidak terima moyang internalnya diperlakukan dengan sangat tidak sopan. Itukah sebabnya Wirasti memperlakukan entitas si sinyo Morris dengan cara jutek bahkan berdialog pun ketus bukan main, pikirnya jika masih ada satu kali lagi kesempatan? ups, kira-kira apalagi yang ingin dilakukan?

__ADS_1


__ADS_2