Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Mimpi Buruk


__ADS_3

Wirasti tidak respek samasekali, tidak akan timbul empati sedikit pun justru merasa sangat apriori. Satu hal yang tidak ia mengerti, kenapa ada semacam kisah cinta segitiga seolah sengaja disodorkan padanya 'bak studi banding? haruskah menarik perhatiannya?


Seolah disodorkan padanya, "Atas kasus yang mempunyai kemiripan sama namun dengan versi yang beda?" pikiran Wirasti sebagian sarat beberapa dugaan.


Masalahnya jika ditarik garis lurus atau satu kesimpulan, akan mencuat dan mengerucut paparan kisah nyaris serupa tetapi memang ya tidak sama!


"Kasus si tuan, posisi nyai sudah tentu protagonis dan tuan tidak terseret kasus apalagi melibatkan diri secara aktif ... "


"Kasus yang ini?"


"Aku rasa laki-lakinya andil, diperebutkan oleh dua perempuan. Tidak kutemukan pihak seperti nyai? sedangkan perempuan satunya kelihatan sekali ambisius, yah? menghalalkan segala cara, itu kelihatan sekali."


Jika kemudian Wirasti disodori satu paparan seolah tujuannya membandingkan? antara kisah si tuan belanda, sedangkan satunya laki-lakinya menjadi korban. Di mana letak kebenarannya? atau, keadilannya?


"Studi banding, hem?" decih Wirasti, sisa-sisa rasa sinis itu masih kental menempel seakan telah berkerak.


"Studi banding?" ulangnya, yah? bisa saja semacam itu, meski bukan istilah studi banding dalam arti sebenarnya.


Hanya penamaan atau sekadar istilah saja, karena mengedepankan satu kasus yang nyaris sama jika dilihat dari bagaimana drama cinta segitiga tersebut berlaku meski masing-masing akan berbeda versi.


"Kasusnya sih nggak plek ketiplek," ujar Wirasti mengetengahkan sisi persamaan dan perbedaannya. Plek ketiplek, mengacu pada ungkapan bahasa asal daerahnya yaitu tidak sama persis!


"Satu laki-laki yang dicintai oleh dua perempuan, masing-masing perempuan tersebut punya landasan yang beda. Lebih mengarah pada perbedaan misi, satu punya misi pure dan sekaligus punya effort?


"Ketika misi nggak bisa jalan, karena aksi dan reaksi tidak sinkron. Apalagi ketika impiannya kandas? kasus yang menimpa si tuan dan nyai membuat perempuan ambisius tersebut nekad melakukan tindakan crime terselubung,"


"Sudah jelas, bukan? motif kriminalnya karena ingin menyingkirkan nyai, dianggapnya mudah menghabisi nyawa orang lain. Tidak dipikirkan akibatnya!" geram Wirasti.


"Mana ada pecundang mengakui kesalahannya?"


"Lempar batu sembunyi tangan,"


"Sayang sandiwaranya nggak berlangsung mulus, bangkai lama-lama kecium juga kan?"


"Untung ada yang berani mengungkap kejahatannya!"


"Untung si bedinde tersebut setia pada tuannya!"


Antipati terhadap hal-hal yang tidak semestinya, bukan berarti kecenderungan subyektif. Justru Wirasti merasa sikapnya obyektif ketika menempatkan satu persoalan yang merebak dalam intern keluarga si tuan dan nyai, intrik-intrik yang tidak terselesaikan hingga si tuan menutup mata.


"Kasihan tuan harus kehilangan istrinya, meski sang istri terbukti sakit keras tapi seharusnya bukan karena diakibatkan perbuatan keji sepupunya yang sengaja meracuni nyai," bela Wirasti.


"Dasar perempuan gatal, huh!"


"Perempuan penggoda, sempet-sempetnya berniat membunuh saudaranya sendiri!"


Lain lagi persoalan yang mendistraksi Wirasti lewat akses nyasar? yep, karena tahu-tahu dirinya terlempar pada situasi dislokasi, "Aku selalu menyebutnya begitu, dislokasi!"


"Yah, itu dislokasi!" ulangnya.

__ADS_1


Dalam sudut pandang Wirasti, penulusurannya terhadap kasus crime yang dilakukan perempuan yang menurutnya 11-12 dengan kasus si tuan dan nyai tersebut, "Hanya beda versi, sebut saja beda tipis!"


"Kukatakan tadi 11-12 ... " ujar Wirasti, menegaskan sudut pandangnya yang tidak terbantahkan lagi.


Unsur kesengajaannya jelas terlihat! motif menghabisi nyawa orang lain sudah tentu terencana. "Pembunuhan berencana," desis Wirasti.


"Tetapi dia malah kelihatan tololnya!" makinya.


"Yah, harap dimahfum? psikisnya memang sakit, iya jiwanya sakit!" rutuknya, sebal!


"Membunuh dalam satu tempo, dua sekaligus!" nada suara Wirasti amat ketus.


"Gila nggak tanggung-tanggung!" terdengar sinis.


Penelusuran Wirasti berdasarkan memori sosok entitas yang mengundang dirinya untuk lebih mencermati kasus kriminalitas masa lampau tersebut, tidak lebih suatu keluh kesah atas insiden tragis yang terjadi.


"Perempuan malang itu?"


"Ya, dia? gundik dari laki-laki yang mati mengenaskan, agaknya kasus tersebut agak ruwet!"


"Karena ada unsur atau aroma perselingkuhan yang amat kuat!"


"Laki-laki sebagai korban tersebut terlihat sebagai player sekalipun punya bini!"


"Perselingkuhan era jadul!" cela Wirasti, paling sebal kalau sudah menjumpai kasus serupa ada unsur merebut suami orang.


"Aku tidak melihat ekspresi penyesalan setelah semuanya terjadi? malahan perempuan psikopat tersebut melenggang keluar rumah dengan santainya, gila banget!"


Visual berikutnya? Wirasti justru memperhatikan dengan cermat, perempuan tersebut bukan diseret ke meja hijau karena kasus beratnya dengan sejumlah bukti pembunuhan berencana lalu misalnya dijebloskan di hotel prodeo hingga membusuk di sana.


Oh, tidak! sayang sekali, tidak samasekali. Tidak ada tuntutan sedikitpun yang memberatkan dirinya. Bukan karena dia tidak tersentuh perkara hukum samasekali, padahal faktanya dia sudah ditetapkan sebagai tersangka.


"Bukan pula asas praduga tak bersalah berlaku padanya, kemudian lebih meringankan atau menguntungkan dirinya!"


"Bukan pula menganut istilah tumpul ke atas, tajam ke bawah!"


"Semua itu? bisa ambyar, seambyar-ambyarnya! tatkala pihak tersangka kasus pembunuhan berat tersebut disematkan padanya namun terpental semuanya!"


Astaga, bukan? namun asumsi semua orang sudah penuh celaan. Stigma buruk, seburuk-buruknya terlanjur melekat padanya. Jika Wirasti menyebut perempuan psikopat, itu sungguh tepat!


Namun ada yang lebih buruk dari semua itu, ketika pihak berwajib di masa lampau? kurun kolonialis dan di zamannya sudah berlaku suatu kasus seolah dibatalkan ancaman hukumannya lalu dengan mudahnya dialihkan pada?


"Sial! perempuan itu seakan terbebas dari mimpi buruknya!"


"Bukan dipancung,"


"Bukan dihukum mati dengan cara tembak,"


"Bukan dihakimi massa,"

__ADS_1


"Ada nggak yang lebih sial?" dengus Wirasti, terbawa emosional!


"Sudah sepantasnya," dengus Wirasti. Ya! perempuan yang lebih patut mendapat julukan laknat tersebut, meski tidak dijebloskan di balik terali besi? kedua telinga tulinya sekaligus minus berperikemanusiaan hingga bertalu-talu ketok hakim misalnya menjatuhkan vonis mati sekalipun, nyatanya?


Dia sang psikopat itu akan baik-baik saja luput dari tekanan hukum yang berlaku, karena di balik terali pula dia mendekam sebagai pesakitan? pasien depresi berat di sebuah RSJ atau Rumah Sakit Jiwa dengan tingkat pengamanan ekstra!


Pada satu kesempatan yang lain? Wirasti malah mengalami satu hal yang sangat menyebalkan. "Sial," umpatnya. Meski dirinya hanya mengalami sebuah mimpi, tetapi benar-benar mimpi yang membuatnya merasa sebal setengah mati!


Apa pasal?


Shitt! perempuan itu, iya si psikopat tersebut justru tiba-tiba menghadang dirinya. Sumpah, mimpi tersebut seakan nyata!


Apa yang dia lakukan?


Gila! alam bawah sadar Wirasti merutuki pertemuan gilanya, kenapa harus dipertemukan dengan perempuan sialan tersebut?


"Dia, si gila tersebut sambil bawa pisau dapur diacung-acungkan!" ujar Wirasti, berusaha menggambarkan satu adegan penuh ancaman tersebut yang ditujukan padanya!


Mengacungkan sebuah pisau, yah? itu pisau yang sama!


Sial, sebuah pisau berlumuran darah itu masih digenggamnya. "Astaga?" keluh Wirasti bergidik karena merasa amat jijik dan horor!


"Mana, dia mengejarku!" tutur Wirasti, dalam mimpinya tersebut ada semacam scene kejar-kejaran!


Ugh, pasti seru dong?


"What?" pekik Wirasti, kesal!


"Seru apanya? setan perempuan itu sambil teriak-teriak nggak jelas mengancamku dengan pisaunya, dia terus mengejarku!" gerutu Wirasti, rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun!


Yep, posisi Wirasti jelas semakin kepepet! berlari dengan kencangnya seakan tidak menghiraukan rintangan apapun di mukanya. Sialnya? si psikopat tersebut terus memburunya tanpa ampun.


Bahkan ketika Wirasti seperti membelok arah ke sebuah ceruk pun, perempuan sialan itu masih memburunya.


Rasanya tidak ada pilihan lain? depan ujung ceruk itu ternyata seperti tanah landai, jelas itu sebuah jurang tetapi terlihat tidak terlalu curam.


"Ah, sial!" pikir Wirasti, dan memang tidak sempat berlama-lama menjatuhkan pilihan yang sulit!


Begitu sampai di bibir ceruk yang ditumbuhi semak belukar, namanya juga dalam situasi dan kondisi kepepet? tidak ada alternatif lain, bukan?


"Daripada, konyol?" pikir Wirasti, seolah tidak sadar bahwa itu hanya sebuah mimpi!


Oh, Wirasti menceburkan dirinya? jurang tidak seberapa curam itu seolah menelannya bulat-bulat. Sebelum sampai dasar jurang masih tertangkap olehnya suara tawa terkekeh perempuan gila tersebut!


Aaww? suara berdebum bersamaan dengan teriakan kencang Wirasti, aaaww!


Bukan hanya, mimpi?


Dalam tidur pulasnya posisi Wirasti, oleng? karuan karena kehilangan keseimbangan dirinya pun terjatuh dari atas pembaringan. Astaga? sontak kaget, sontak terbangun! sial, terbangun dari mimpi buruk, huh?

__ADS_1


__ADS_2