
Apakah patut dirinya mimbik-mimbik? eits, semacam gestur disertai. bibir mencebik? kenapa Wirasti harus sekekanakan itu? psstt, yang ia lakukan tak lebih refleksitas dikala dirinya merasa memang harus berlaku imut?
Satu hal yang wajar dan dianggapnya sewajarnya, Wirasti pun hanya merasa mencari keseimbangan emosional. Tidak ada maksud lain, pikirnya. Dirinya sering merasa tiba-tiba ingin melampiaskan bersikap kebocahan, meski sadar dirinya sudah bukan bocah lagi.
"Heh, situ nyadar?"
Wirasti tersentak. "Sial, eh!" sahutnya menepis asumsi yang kebablas, bisa-bisa menganggap dirinya suka aneh-aneh nanti?
Senyum simpul Wirasti mewarnai raut wajahnya, "Julid amat?" lontar Wirasti, namun nada suaranya datar-datar saja tanpa tekanan emosi. Bukankah tadi kata yang terlontar untuknya kedengaran sekali menganggapnya sepele.
Siang itu Wirasti sedang refresh, kebetulan sedang mood walau sekadar putar-putar kota tanpa tujuan. "Ah, kota sekecil ini? sungguh tidak melelahkan apalagi aku sedari tadi juga tidak merasa dibikin lelah ..." ujarnya sembari turun dari jok maticnya, sesaat memarkir dengan benar di pelataran belakang sayap gedung utama. Setelah merasa matic kesayangannya aman terparkir di sana, bergegas Wirasti melenggang dengan arah memutar karena tujuannya ke arah depan.
Suhu udara hampir mencapai 23° celcius, belum tepat pk 12.00 siang sudah terasa terik. "Anomali," pikirnya. Konon di lain tempat malah lebih ekstrem, tak jarang mencermati lewat medsos ada yang mencapai 25° lebih bahkan terus menaik hingga 30° celcius atau bahkan lebih ekstrem lagi ada yang diprediksi hingga naik mendekati 40° celcius?
"Sudah mirip wilayah iklim sub tropis atau sedang tuh ketika di musim panas bisa bersuhu 40° celcius lebih!" pikiran Wirasti sesaat kedistract panasnya udara siang itu, hingga sempat terantuk anomali cuaca yang akhir-akhir ini fenomenal sekali.
Dulu? tinggal di wilayah pinggiran kota kecil terasa sekali nuansa geografis pegunungannya dengan hawa sejuk bahkan terasa dinginnya pada saat-saat tertentu apalagi jika diliputi mendung gelap kemudian hujan turun bagai dicurahkan dari langit!
"Alam pegunungan sudah nggak ngefek?" celetuk Wirasti memperkuat alibinya terkait daerah tempat tinggalnya dengan anomali cuaca yang sudah tidak pandang lokasi atau keadaan geografis suatu tempat.
Wirasti mendengus dari balik maskernya, langkahnya terayun pelan rupanya enggan bergegas, "Ngapaian?" pikirnya lagi. Bukankah dirinya sekadar healing tipis-tipis siang ini? iya merasa mumpung ada waktu!
Huh? lagakmu sudah seperti orang betulan, sindiran ketus. Wirasti nyaris terkekeh? demi diingatnya dirinya berada di keramaian, langsung sigap menahan kekehannya. Sontak, kicep!
Wirasti melompat kecil menuju anak tangga, lift pun membawanya ke lantai dua setelah sekian menit menelusuri sepanjang koridor lantai dasar diantara pertokoan. Sambil membetulkan letak slingbagnya Wirasti dengan juteknya masih mematung di atas tangga lift hingga mencapai lantai atas.
Sesaat dirinya nyaris kebingungan? ups, padahal sekadar dihadapkan pada satu atau dua pilihan? "Enaknya ke mana ya?" gumam kecilnya, menentukan langkah tetapi kemudian berputar arah?
Pilihan pun jatuh, bergegas menuju satu lokasi food court letaknya mentok di sayap kanan gedung mall.
Food court yang paling disukai terletak di ujung gedung utama lantai dua, ke sanalah Wirasti mengarahkan langkah kaki. Sepatu casualnya mengetuk pelan, perempuan berparas manis postur imut dengan tinggi hanya 156 centimeter itu merasa pede melenggang di keramaian salah satu mall di kota kecilnya.
"Siang bolong malah refresh sendirian?" cercaan pendek terlempar padanya, meski hanya bergaung di kedalaman hati?
Dialog searah? "Jomblo mah bebas," timpal Wirasti, ketus tetapi jika volume dialog batinnya dikeraskan akan terdengar betapa benar-benar ketusnya style nada bicara si raut muka yang kini terekspresi amat juteknya itu!
Woilaa, ngaku jomblo?
__ADS_1
"Shut up!" desis Wirasti, rongga hati dan benaknya amat berisik?
Dengan tenang setiba di muka food court pilihannya, langsung memilih sebuah meja couple posisi outdoor, merasa lebih nyaman di situ? "Yeah," desisnya sembari menarik kursi hingga bunyi berderit, beberapa orang menoleh sekilas menatapnya heran?
Wirasti angkat bahu, dengan acuhnya duduk anteng di situ. Muka dipenuhi ekspresi masa bodo tergambar jelas, huh? mana ada manis-manisnya meski aslinya seberuntung itu Wirasti bermuka sangat manis enak dilihat lho?
Wirasti siang itu merasa dirinya ingin rileks, benar-benar berharap bisa rileks setelah sekian hari seolah dikejar-kejar dan dipenuhi serentetan scene virtual reflection, dirinya bagai dipaksa berteleportasi melulu? yeah, sejak dirinya kedistract situasi dan terkondisikan akibat kunjungannya ke sebuah hotel saat menemui pamannya.
"Iya sih, sejak itu ... " aku Wirasti, merasa segalanya melelahkan sekali.
"Betapa enggak? seperti marathon!" jelas Wirasti.
"Mulai dari impressi yang datang gangguan dari si mavrouw hingga kemudian ... " imbuh Wirasti, langsung tertuju pada teleportasi dengan moyangnya.
"Sinyo Morris itulah satu-satunya yang melelahkan, huh?"
"Menguras emosi!"
Keistimewaan yang hinggap dalam dirinya tersebut terbilang melelahkan memang ketika energi bereaktif, apalagi jika mulai berbenturan dengan energi lain.
Namun terlepas dari semua yang melelahkan tersebut, Wirasti bukan tidak mungkin memperoleh semacam hikmah di balik semua itu!
Wirasti mengangguk tetapi setengah ragu, sepanjang dirinya mempunyai bawaan sedari kecil dengan mata batin perlahan dari yang tumpul terasah menjadi menajam hingga disadari atau tidak tak jarang menimbulkan problem tersendiri.
Sepintas seorang Wirasti tumbuh kembang seperti halnya mereka yang seusianya, tidak ada hal yang mencolok sekalipun dirinya mempunyai penglihatan yang istimewa. Wirasti sendiri sedari kecil pandai pula menutupi keadaan atau kondisi dirinya yang sungguh berbeda dengan orang lain, tak pelak segenap keistimewaan yang menempel padanya tidak terlihat oleh orang lain dan memang Wirasti cukup pandai menutupi kemampuan ekstranya tersebut agar tidak menarik perhatian orang.
Seiring bergulirnya waktu kemampuan bersentuhan dengan dunia lain tak jarang kerap menimbulkan suatu beban moril, "Konsekuensiku terpaksa harus kuterima, padahal semua itu bukan mauku!" keluh Wirasti jika kelelahan psikis itu merengkuhnya.
Apalagi mengingat dulu? awal-awal dirinya mulai terendus oleh energi-energi lain yang siap kapanpun menghampirinya, sinyal atau radar gaib itu terus menguntitnya. Itu artinya Wirasti dengan polosnya terdeteksi oleh mereka, maka tanpa diundangkan satu persatu mereka seperti peribahasa, "Ada gula ada semut," cuitan Wirasti, begitu dirinya sering menjadi target mereka yang sengaja caper-caper alias cari perhatian padanya.
"Nah, hikmah yang lo peroleh tuh kayak gimane sih?"
Sontak Wirasti menggelembungkan kedua pipinya, sekilas tingkah Wirasti lucu tetapi bukan menggemaskan justru sebaliknya!
"Denger nih yey, tiap-tiap terkoneksi dengan mereka terutama entitas nih? yah ada saja tuh yang namanya sesuatu ... eng ...eng," pernyataan Wirasti tersendat sampai di situ? karena si doi tengah berpikir keras. Mengungkap apa yang selalu ia alami tiap-tiap bersentuhan dengan entitasnya maupun ketika dirinya seakan terlempar ke alam mereka?
"Semuanya sih serba virtual, tetapi seakan ya real!"
__ADS_1
"Pindah alam, gitu?"
"Yeah, seperti ... itulah!"
"Berteleportasi?"
Wirasti pun mengangguk cepat!
"Tentu saja banyak hal yang semula tidak kuketahui sedikit demi sedikit ..."
"Wawasan lo jadi nambah, begitu kan?"
"Persis!"
"Seperti apa misalnya?"
"Lho, iyaa ... banyaklah! entitas kan banyak ragam sikap, perilaku atau sifatnya. Menyerupai kita, nggak beda jauhlah. Nah, dari situ! dari kisah mereka yang terekspos karena mereka suka memberi impressi atau sebut saja memori mereka, sepanjang mereka terkoneksi dan punya niat seperti curhat atau curcol itulah bisa ditarik kesimpulan, minimalnya mengajari kita lebih paham tentang sisi lain kehidupan orang lain. Menjadi banyak tahu akhirnya ... "
Imbuh Wirasti, "Pendeknya banyak ragamnya!"
"Kalau begitu seperti mengajari kita lebih bijak, begitukah?"
"Yeah, tetapi nggak semuanya lho! kan ada asumsi orang mereka itu manipulatif, tipu-tipu."
"Lo merasa gimana? apa yang terkoneksi dengan elo terkesan tipu-tipu?"
"Hm, yah ... itu sih tergantung! tetapi selama ini entitas yang datang rata-rata jauh dari kesan itu."
Umphh? siang bolong di sebuah food court, pada sebuah meja kapasitas couple letaknya outdoor. Sengaja ia pilih tempat terluar dari food court tersebut. Kendati siang bolong situasi sedikit lengang, "Aneh," pikir Wirasti, rongga kepalanya sedari tadi seakan overloads karena berisik melulu? sementara sekelilingnya sepi?
Itu tidak aneh, akan terjadi seperti itu nona? semacam siklus bulanan dah! karena apa? yep, ini kota kecil di mana masyarakatnya rata-rata statis. Fenomenal sekali tatkala datang hari-hari mendekati akhir bulan, nah lho?
"Penyakit yang menghinggapi kebanyakan orang tiap tiba akhir bulan, begitukah?"
Ohh, laalaa?
Akibat pengunjung food court sedikit menjadi lengang, demikian pula food court yang lain di kiri kanannya. Tetapi satu keuntungan bagi Wirasti karena bisa lebih leluasa menikmati suasana plus hidangannya!
__ADS_1
Hei, selengang itukah? hei, wait! tidak! tidak! lokasi terluar di mana Wirasti tengah berada di satu meja dengan hidangan menu seporsi daging bumbu teriyaki komplit dengan nasi putih serta semangkok capjae goreng tidak lupa jus avocado cokelat kesukaannya, doi satu-satunya yang berada di area outdoor.
Lalu? jika ada sosok tak jauh dari meja dirinya tengah asyik menikmati hidangan resto Japan tersebut, apakah Wirasti menyadari? sosok itu? berpakaian uniform yang sulit dikenali jika dibanding umumnya seragam yang dikenakan selevel, "Perasaanku mengenali pakaian seragam seperti itu? tetapi, entah di mana?" lontar Wirasti dipenuhi tanda tanya. Sosok asing? aneh? tidak mudah dikenali olehnya. Oh, siapa dia?