Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Dua Kutub yang Berbeda


__ADS_3

Sebodo teuing, atau sebodoh amat? satu ungkapan pendek mencomot bahasa setempat di mana Wirasti tinggal, sebetulnya ditujukan pada dirinya sendiri, bukan bermakna sumpah serapah atau hal-hal sarkas akibat sesuatu yang amat menjengkelkan. Tidak seperti itulah!


Wirasti merasa harus menyikapi suatu hal dengan berpikir, "Ah, yaa ... Sudahlah!" ujarnya, sebagai isyarat suatu tepisan tanpa maksud satir atau sarkas yang berlebihan.


Menunjukkan suatu sikap pula bahwa apapun keadaannya? artinya, ia ingin tetap menganggap sepi. Atau, seakan isyarat bolehlah dilewati saja!


Yah, penggambaran sikap yang tidak terpengaruh apapun keadaannya, kurang lebihnya begitu.


Ketika mulai bersentuhan dengan hal-hal di luar nalar, persisnya sejak dirinya mula pertama mengenali tempat tinggal eks dulunya mungkin sebagai tempat peristirahatan satu keluarga. Entah karena alasan apa? rumah tersebut yang menyerupai villa dibiarkan tidak terawat bahkan dibiarkan pula kosong terbengkalai bertahun-tahun hingga dilego secara murmer untuk ukuran kantong tebal!


Tanda tanya atas misteri keberadaan rumah yang oleh Wirasti langsung dijuluki sebagai rumah villa tersebut, ternyata sedikit demi sedikit mulai terkuak.


"Sejak siang itu," tunjuk Wirasti, ketika dirinya nyelonong begitu saja bermaksud curi start!


Yep, curi start memang! di saat semuanya belum meluncur observasi ke lokasi properti yang telah terbeli secara dumping atau banting harga, hingga orangtua Wirasti merasa diuntungkan.


Entah, Wirasti seperti tersedot medan magnet? seketika itu timbul niatnya survey lapangan menuju sasaran, ups!


Instingnya tidak meleset, apa yang kemudian ia jumpai di lokasi begitu sinkron dengan gejolak feelnya terkait satu hal yang tidak bisa dicerna secara nalar.


"Spot," tebakan Wirasti tidak meleset samasekali. "Yah, aku merasakan demikian!" decihnya, kala itu sempat mengkirik alias merinding!


"Nggak cuma sekali lalu sudah!" tukasnya.


"Berlangsung beberapa kali," ujarnya, sambil mengingat-ingat kembali bagaimana dirinya mulai mendapat suatu gangguan tehnis terkait ulah aktivitas astral yang terakumulasi sebagai serpihan energi yang mulai terpicu dan telah menunjukkan indikasi reaktif!


"Sebetulnya residu-residu di sekitar situ sudah bercokol sejak lama sih," terang Wirasti, feelnya menangkap gelagat tidak semestinya.


"Hanya aku kurang ngeh!"


"Nyaris luput,"


"Tidak terdeteksi samasekali, kecuali ketika mulai ada sinyal!"


Tidak terdeteksi? mulai ada sinyal? wo-hoo, coba deh nona jutek yang satu itu dicolek! begitu mungkin mereka menginginkan suatu interaksi terjalin. Wirastilah menjadi sasaran tembak mereka? aaiissh!


"Heh, kenapa harus aku?"


"Dirimu yang paling bisa menerima eksistensi mereka, sadari bahwa kemampuan ekstra telah nempel dan sudah tentu tertangkap oleh radar gaib mereka tuh!"


Wirasti sempat, melongo!


"Sshhh, sudah jangan kelamaan pasang muka blo'on gitu!" teguran telak, karena ekspresi si cewek jutek tersebut jadi tidak enak dilihat, bhaa ... haha!


"Sial," dengus Wirasti, refleks ganti pasang muka manis!


Di saat yang lain Wirasti ketimpuk insiden kecil, ketika dirinya lagi-lagi dalam keadaan sendiri. Seingatnya usai semua bangunan jadul rumah villanya beres direnovasi, kondisi rumah sepi karena mereka yang bekerja di situ sehari lalu sudah meninggalkan lokasi.


Sialnya sang ibu meminta Wirasti dan Wisnu adiknya segera mengambil alih bersih-bersih di sana, keduanya pun berangkat ke rumah villa.


Sesampai di sana, sialnya Wisnu bilang pergi ke toko dulu mau beli sesuatu. Tak ayal Wirasti terpaksa sendirian masuk rumah, dan mulai bebenah seorang diri tanpa Wisnu.


Menyiapkan ember berisi air dan peralatan mengepel komplit dengan pewanginya, Wirasti pun bersiap melantai!

__ADS_1


Mula-mula seluruh ruangan ia bersihkan dengan menggunakan sapu lantai biasa, tanpa sejengkalpun terlewatkan hingga ke seantero ruangan.


Tanpa gentar walau hanya sendirian di satu tempat yang sebetulnya masih asing, Wirasti juga tahu dan merasa bahwa vibes sekelilingnya samasekali tidak nyaman.


"Akankah sesuatu terjadi?" batin Wirasti, tak urung juga menimbulkan was was!


Hawa sekitar yang mulai dirasakan, aneh? ditambah situasi sedemikian lengang meski hari masih pagi merangkak mulai menuju siang hari.


"Bisa dibayangkan, ini hanya rumah satu-satunya pada deretan tanah kavling bagian belakang," ujar Wirasti, sambil menunjukkan rumah tetangga berjarak sekian puluh meter itupun berada di lokasi lahan kavling bagian tengah.


"Huh, bukan?" ujar Wirasti, terdengar ngedumel sendirian. Wisnu adiknya? sudah sekian menit lalu pamit membeli sesuatu, masih belum juga kembali?


Tiba-tiba? ada suara mampir di kuping, "Ssshhhh ...," karuan nembuat Wirasti tersentak, tentu saja kaget bukan main!


Itu, suara desah! iya, itu *******!


Wirasti seketika menghentikan aktivitasnya, ia letakkan alat pengepelnya. Sesaat celingak-celinguk, memastikan memang tidak ada siapapun di sekitarnya?


"Ahh," pikirnya menepis rasa takut yang mulai merayap!


Suara itu sekali lagi? "Sshhh," begitu desahnya dekat sekali di sebelah kuping kanannya?


Astaga, desah itu lagi? terdengar lebih kencang, hingga Wirasti nyaris terlompat. Sialnya tepat di telinga kanannya lagi!


"Ssshhh ...," desah itu lagi!


Lantas timbul keisengannya? "Ssshhh!" balas Wirasti, balik iseng latah menirukan demi menepis perasaan mulai gentar!


Sial memang, seperti si buta yang tidak tahu menahu medan atau keadaan sekitar. Sumpah, ia merasa tidak nampak apapun di sekitarnya. "Huh, aku memang masih tumpul sih!" kilahnya.


Hingga, di menit yang kesekian Wisnu pun nongol dengan menenteng bawaan kantong plastik berisi makanan!


"Ugh, kupikir ke mana saja kamu, Wis!" tegur Wirasti, sungguh tidak enak telah dibiarkan sendirian.


Akhirnya berdua dengan adiknya antusias membersihkan semua ruangan, bahkan hingga jauh siang sampai masuk waktu dzuhur.


Di hamparan karpet tebal motif bunga-bunga, Wirasti dan adiknya bersama-sama menunaikan sholat dzuhur di sana. Mungkin? itu, untuk pertama kalinya rumah yang semula eks villa kosong terbengkalai tersebut digunakan untuk beribadah? entahlah.


"Menyingkirlah, rumah ini kelak akan kami tempati secara baik-baik. Atau kalau tidak, ya jangan mengganggu ..." pinta Wirasti dalam hati, sekelumit doa terucap dari komat kamit bibirnya.


Di hamparan karpet warna marun dengan motif bunga sakura pink cerah itulah Wirasti dan Wisnu seusai menunaikan sholat dzuhur keduanya nampak sibuk membuka bekal dari rumah, beberapa misting berisi sepaket komplit bekal makan siang siap disantap!


Apa yang terhidang dengan gaya makan ala lesehan tersebut, Wirasti mulai menata misting di atas hamparan karpet tetapi sengaja dialasi selembar koran agar jika ada tumpahan makanan tidak langsung mengena pada karpet marunnya.


Semangkok gulai nangka ala Padang, sambal lado hijau, dadar telur tebal, ikan kembung bakar serta rendang daging sapi dan kerupuknya. Semua dimasak ibunya, sejak kemarin dan memang dipersiapkan secara khusus untuk kedua anaknya yang keesokan harinya ada acara bersih-bersih di rumah yang akan ditempatinya.


Wisnu makannya kelihatan lahap, tidak terkecuali Wirasti sang kakak. "Kamu makanlah ini," ujar Wirasti pada adiknya sambil menyorongkan tiap misting.


"Mbak Wir kenapa?"


Wirasti menggeleng," Segini juga sudah kenyang, Wis!" sahutnya dengan mimik lucu, Wisnu langsung mengeryitkan kening.


"Diet?"

__ADS_1


Wirasti hanya menggeleng.


"Sudahlah kamu aja makan semuanya gih!"


Alhasil dari tiap misting nyaris disikat habis oleh sang adik, Wirasti pun membiarkan adik laki-lakinya makan sampai kekenyangan!


Apa yang kemudian dilakukan Wisnu si adik? memberi jeda waktu, setelah sekian menit berlalu nampak Wisnu langsung berbaringan di atas karpet empuk!


"Mbak Wir, aku ngantuk mau tidur dulu ya!"


"Jangan kelamaan,"


Di saat adiknya berangkat tidur, Wirasti pun bersandar pada tembok di ruangan itu sambil memainkan ponselnya. Beberapa saat memang asyik dengan benda pipih tersebut, tetapi pada menit kesekian? apa yang terjadi?


Wirasti yang tengah sendirian, pikirannya seolah melayang? sekejap seolah menangkap bentukkan wajah orang secara bergantian dan itu bukan dari orang yang sama!


Sat set! hanya sekian detik, tidak lebih dari 1-2 detik semua visual aneh tersebut melenyap!


"Hmm?" bisik Wirasti, refleks mengucek-ngucek matanya hingga rasanya pedas. Satu hal aneh, ia yakin dirinya sedang tidak berhalusinasi. Lalu semua yang nampak olehnya tadi apa?


"Aa ... aa-ku? merasa ada yang nggak beres di sini," desis Wirasti.


Ingatannya kembali merebak, apa yang diperlihatkan padanya sekian detik lalu bagaikan parade wajah tiap orang? disertai memori latar kehidupan mereka dan rata-rata yang nampak olehnya. Bukan? yah, mereka semua ... bukan?


"Buu-kan, sebagaimana raut wajah sepertiku misalnya!" timpal Wirasti.


"Mereka? iya, jadul semua! aneh banget, iya aneh!"


"Lebih anehnya lagi, diantara mereka berkostum serdadu. Iya sebagian begitu!"


"Muka-muka asing, ada yang bule, ada yang sipit!"


"Kalau yang itu aku tahu deh, mereka yang berkulit kuning dan sipit pasti serdadu Nippon!"


"Iya, keliahatannya begitu!"


"Astaga, pertanda apa semua ini?" ujar Wirasti masih belum menajamkan intuisinya antara keterkaitan view yang sampai padanya dengan residu-residu aktif mulai berpendaran di sekelilingnya!


Kecemasan itu tiba-tiba membebatnya, rasanya ingin berteriak demi melepas rasa kagetnya yang luar biasa karena semua itu nyata!


Napas Wirasti sempat naik turun, seberani-beraninya atau sekuat-kuatnya punya nyali toh akan dikagetkan oleh pemandangan aneh yang tidak biasa.


"Mereka itupun terlihat real!" ujar Wirasti lagi.


Diurungkan niatnya ingin membangunkan adiknya yang tidak jauh dia tengah berbaring dan nampak tertidur pulas di atas hamparan karpet berbulu tebal, andai dirinya bisa berbagi cerita?


"Ah, Wisnu orangnya begitu!" dengus Wirasti, bahwa adik laki-laki satu-satunya itu mana mungkin percaya hal di luar nalar?


"Tahayul," decihnya tiap kali diajak share sesuatu berbau mistis atau metafisik. Makanya Wirasti kerap sekali malas tiap kali membuka percakapan seputar keganjilan yang mengitari dirinya.


Adiknya sendiri saja lebih sering mementahkan alibinya, ia tahu Wisnu memang rasional. Bahkan nyaris tidak mau percaya kecenderungan sang kakak terhadap hal-hal berbau mistis melingkupinya, "Apaan sih!" tepisnya tiap kali Wirasti menggiring opininya tanpa bermaksud mencekoki secara paksa, tidak! tidak! bukan itu maksud Wirasti.


Tetapi sejauh ini sang adik lebih memiliki sudut pandang tersendiri, dan enggan bersikap subyektif terhadap kemampuan ekstra sang kakak meski sebetulnya tersamar karena Wirasti hingga bertahun-tahun dan detik terakhir ini tidak pernah memperlihatkan sisi lain dirinya terkait perpenglihatan mata batinnya mulai menajam.

__ADS_1


Tak ayal Wirasti seolah memang harus berjalan sendirian, sepanjang waktu? sepanjang dirinya terbelit suatu kemampuan bisa bersentuhan dengan dimensi lain? yep, zonder atau tanpa dukungan siapapun. Tidak ada support sistem dari siapapun dan manapun.


Akhirnya Wirasti kian menyadari meski dengan adiknya sendiri, suatu hal yang tidak padu? berbeda inisiatif atau sudut pandang sekalipun tak ubahnya dua kutub yang berbeda, yah? seperti itulah yang selalu ia rasakan. Jujur jauh di lubuk hati sebenarnya Wirasti merasa, kecewa.


__ADS_2