
Ugh? pantas Wirasti tidak kunjung bisa terlelap selarut itu? seakan di bawah alam sadarnya tetap nyalang tetapi secara fisikal mata terlihat merem dipet terbukti kelopak matanya mengatup, astaga? pikiran malah ngelantur kemana-mana?
"Yeah, aku tahu! iya ... Iyaaa tahu kok. Tidur larut malam apalagi lewat tengah malam itu nggak baik!" sentak Wirasti pada dirinya sendiri.
Hidup dengan ritme yang baik termasuk mengimplementasikan pola hidup sehat, tidak sekadar pola makan, gaya hidup tetapi lebih luas dari semua itu mencakup bagaimana perilaku dan memperlakukan kesehatan bagi diri sendiri salah satunya waktu mengistirahatkan diri di malam hari?
"Aku tahu," desis Wirasti, tetapi dirinya justru melanggar rambu-rambu. Ah, dasar Wirasti?
Senyalang itu di ujung larut malam, bukan tidak mungkin ada sesuatu yang tengah dipikirkan? "Nggak, nggaak!" elaknya. Justru Wirasti merasa sekali dirinya nyalang akibat sesuatu yang sebetulnya disadari namun tidak tahu entah itu apa?
"Aku merasa akan ada sesuatu?" ujarnya, tidak menebak secara langsung tetapi jelas arahnya ke sana!
"Ke sana?"
"What? apaan sih maksudnya?"
Wirasti hanya menyembunyikan senyum, "Nanti juga akan tahu sendiri dah!" tandasnya, malas.
Pergantian malam, tepatnya dari larut malam bergeser menuju tengah malam berlangsung lamban? "Ah, itu hanya perasaanmu saja nona!"
Wirasti hanya bereaksi, dengan anggukan kecil. Selebihnya membiarkan pikirannya berkelana, seakan ingin mengejar sesuatu?
Pikiran yang berkelana tersebut seolah di luar kontrol, bahkan Wirasti tidak mampu mengendalikannya.
"Apa daya," decihnya. Meski tidak diharapkan energi lain yang jauh lebih kuat merangsek menghampirinya.
Tahu-tahu Wirasti sudah berada di satu tempat, senyap? itu, sudah pasti. Tempatnya sungguh tersembunyi, bukan vibes yang ia rasakan senyap membuatnya was was, melainkan?
Huft, sumpah? Wirasti merutuki sekelilingnya berupa semak-semak yang kian membuatnya bergidik ngeri! mengingat dirinya paling phobi dengan sebangsa reptil!
"Hih!" celetuk Wirasti berulang kali, sambil memastikan tidak ada apapun di sekitarnya. Sorot mata tajamnya terus memindai!
"Sial," dengusnya, menyesali kenapa didamparkan pada lokasi tidak senyaman ini?
Masih dengan serba hati-hati? "Be careful," desisnya sambil perlahan menggeser langkah, pergerakannya dibuat selamban mungkin karena dirinya belum hapal medan. Bukan karena takut tiba-tiba menginjak ranjau, iissh!
"Ranjau?" ujar Wirasti, meski tegang toh masih sempat berkelakar sendiri demi membunuh rasa was was yang terus menguntitnya.
Di benaknya hanya dihantui, jika tiba-tiba ada semacam reptil yang biasa berdiam di semak-semak. Samasekali bukan tercekam akibat situasi senyap tiba-tiba muncul suatu yang tak kasatmata,"Hih, nggak banget!" suara Wirasti mulai ngedumel sendiri.
Area semak tersebut lumayan memanjang dari ujung ke ujung, nyaris sekian meter!
Wirasti seolah mati-matian mengendap-endap sambil terus waspada selain melangkah pelan, instingnya tengah on penuh! "Aku merasa akan ada sesuatu," bisiknya.
Hingga di ujung area semak?
Wirasti tercengang, dalam posisi dirinya mengendap-endap tadi? sebuah pemandangan yang tertangkap olehnya. Seorang perempuan meronta-ronta tidak karuan, dengan kedua tangan terikat pada tiang gantungan?
"Masya Allah," jerit Wirasti, namun hanya mampu tercekat di batang tenggorokan. Sempat merutuki dirinya sendiri, apa yang bisa kulakukan?
Pemandangan memilukan itu? ia lihat dengan mata kepala sendiri, airmatanya tiba-tiba sudah meleleh. Wirasti tidak bisa mengeraskan nuraninya, seakan dirinya saksi bisu!
__ADS_1
Sungguh tegakah? hanya berdiam, mematung di situ tanpa melakukan apapun? sementara sekian jengkal di mukanya seseorang tengah berada dalam kondisi memilukan?
"Apa yang harus kulakukan?"
"Heh, nona? sekeras apapun keinginanmu akan melakukan sesuatu ... "
"Yah, taa ... taa-pi aku?"
"Heh, ingat! kau tidak ada di zaman itu!"
"Aa ... aa-ku, bisa apa?"
Wirasti seakan frustasi, tidak tahu apa yang harus diperbuat? apakah harus berdiri mematung saja di situ sambil terpukau melihat siksaan demi siksaan yang begitu miris tertangkap oleh indra penglihatannya? suara rintihan memilukan sungguh menyakitkan gendang pendengarannya?
Perempuan itu? dia berkebaya laiknya perempuan di masanya, kini berada di bawah tiang dengan kedua tangan terikat. Pakaiannya telah robek di sana sini, sanggul cepol terindahnya nampak sekejap menjadi uraian yang serba barantakan. Wirasti ber-istighfar demi dilihatnya wajah perempuan itu sudah lebam-lebam, bahkan terlihat mulai berdarah-darah.
"Apa kesalahanmu?" bisik sedih, Wirasti menatap penuh iba!
"Mustahil kamu tidak melakukan kesalahan fatal jika siksaan terhadap dirimu separah ini?" ujar Wirasti, masih dengan suara berbisik. Hanya desau angin seakan mengerti empatinya saat itu.
Dengan mata berkaca, Wirasti pun nampak emosional ketika salah seorang diantara mereka yang menyiksa perempuan itu tiba-tiba nampak meludah tepat di muka perempuan malang yang tidak berdaya itu?
Wirasti pun sudah tidak tahan, tanpa berpikir panjang. Dirinya muak disuguhi satu tontonan miris menyakitkan semacam itu, dari semak-semak dirinya melesat!
Napasnya masih ngos-ngosan karena mengerahkan tenaganya agar sampai di sana!
Seolah, dengan kasar dirinya menyibak kerumunan kelompok laki-laki berseragam khaki menyebalkan itu.
"Serdadu nggak ada guna lo semua!" maki Wirasti, amat geram!
"Menyiksa perempuan tanpa perikemanusiaan," cercanya, sinis!
"Lo semua nggak punya otak, nggak berakhlak, lo! lo! laki-laki brengsek semuanya bisanya menyiksa mahluk yang sudah lemah begini, apaan lo!" teriak Wirasti sambil telunjuknya refleks menuding sana sini!
Hahh? sampai serak pun? tenggorokannya kering dan sakit pun? suaranya disertai emosi yang meluap seperti apapun?
Astaga, Wirasti? "Lo tuu ... nggak bakal didengar, tahu!"
"Lo? ah, sueer tidak ada di masanya!"
"Heh, sadar nona! sadaaar!"
Wirasti seakan tidak mau dengar!
Pandangannya nanar, boleh dibilang dalam kondisi emosional mencapai titik kulminasi? rasanya seperti ingin mengamuk? tangannya bergerak ke sana kemari, sesekali kakinya menggebrak.
Di bawah alam sadarnya ia merasa telah melakukan gerakan kasar mendorong kerumunan mereka, bahkan beberapa kali sikunya menyodok punggung mereka?
Wirasti semakin merangsek ke depan, ketika berhasil menyibak kerumunan? tepat di muka tiang, mendapati perempuan nahas itu sudah terkulai?
Hah? mata Wirasti terbelalak, kaget? iba? pilu? campur aduk jadi satu!
__ADS_1
Perempuan malang itu? nasibnya sudah tidak tertolong lagi? denyut nadinya sempat melemah, namun kemudian? tidak ada samasekali. Wirasti pun panik!
"Medis! medis!" teriaknya, kacau!
"Ambulance!"
"Ambulance!"
Astaga? dalam kebingungannya, dalam kondisi dan situasi serba panik begini? Wirasti masih sempat memikirkan hal yang paling urgen, setidaknya tindakan medis? atau paling tidak muncul sebuah ambulance?
Hanya satu hal yang hinggap di kepalanya, situasi emergency semacam ini? setidaknya ditangani secara medis. Entah nanti hasilnya yang penting ada penanganan!
Wirasti tahu dalam kasus semacam ini mungkin masih bisa tertolong? tidak menutup kemungkinan dia masih dalam kondisi pingsan? koma? atau, mati suri? ataukah?
"Oh, tidak! tidak!" seru Wirasti sedih, apapun masalahnya? yang penting ada tindakan untuk menolongnya. Itu, sesalnya!
"Hei, nona? yaaa ... mana bisalaaah?"
Perasaan perih? bertalu-talu memenuhi rongga hati, rasanya sekian detik Wirasti merasa sangat ngap!
Perlahan dirinya mulai dipenuhi suatu kesadaran, sadar bahwa dirinya tidak pernah ada di masa itu! instingnya langsung terpaut pada satu era!
"Zaman kelam," bisiknya sendu.
"Perempuan itu? berada di masa penjajahan Dai Nippon, yah itu yang kutahu!"
Bukan saja sekelompok laki-laki berseragam khaki dengan topi khas serdadu Jepang yang paling bisa dikenali, mata sipit mereka? teriakan-teriakan menyebalkan dengan aksen mereka yang tidak asing di telinga Wirasti. Karakteristik mereka semua mudah sekali dikenali, dan Wirasti hanya bisa memastikan merekalah yang melakukan tindak di luar batas!
Pada menit terakhir sebelum visual perempuan nahas itu melenyap? Wirasti masih sempat diingatkan satu hal? apakah itu?
"Bukan sepenuhnya kesalahan mereka,"
Hahh? pekik Wirasti tak senang, "Enak saja!" sahut Wirasti spontan!
"Lihat, perempuan itu! tindakan sebiadab itu? kriminal? psikopat? menghilangkan nyawa orang lain dengan semena-mena?" cecar Wirasti tidak terima ketika perempuan malang itu dijadikan obyek yang tidak diuntungkan samasekali.
"Heh, nona? kita tahu apa tentang persoalan mereka? apalagi sekelas mereka? dikalangan serdadu di zaman itu serba buruk, image perempuan pribumi dijadikan budak. Iya budak demi melayani nafsu bejat mereka, jugun ianfu! kamu tahu itu?"
Mak, deg!
Wirasti seperti dipukul palu godam, seketika terbangun dari mimpi buruk!
"Ape lo kate?" tanpa sadar celetuk logat Betawi keluar dari bibirnya.
"Jugun ianfu?" ulangnya, lirih? nada sesal? yah, sesal yang jatuhnya akan berkepanjangan?
Tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa? realitas yang nyata di depan mata walau sekadar bunga tidur, yep bukankah kadang mimpi dianggap bunga tidur semata? "Tetapi ini mimpi yang lain, beda! iya, beda!" bantahnya sendiri.
Jugun ianfu, konotasinya perempuan penghibur yang ikut militer. Makna jugun ianfu sebenarnya tidak hanya sebagai perempuan penghibur militer atau tentara, tetapi mengandung makna yang lebih keji yaitu perempuan yang dijadikan pelacur secara paksa.
Hem, jugun ianfu? Wirasti mengucap kata itu sambil menarik napas berat. Berat? yah, berat sekali. Seberat dirinya mendapati realitas namun secara virtual eksistensi perempuan nahas tersebut yang telah disiksa habis-habisan, dia mati terkulai, dia diludahi, dia? oh, dia hanyalah seorang jugun ianfu yang malang?
__ADS_1