Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Cosplay Jadul


__ADS_3

Hello, sir? eh, hallo meneer? sapa akrab semacam itukah yang ingin ia lontarkan? tiap kali face to face dengan entitas yang satu itu?


Well, Wirasti merasa akan bisa melakukan lebih dari itu. Bukan sekadar sapaan pendek, terbukti sudah berapa kali terkoneksi dirinya dengan luwesnya mampu mengikis kekakuan yang ada antara dirinya dan sang tuan paruh baya tersebut.


Eits, apa yang terjadi? Wirasti merasa bingung. Seketika? merasa terbengong sendiri, karena ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi dalam dirinya.


"Awwhh," mulutnya ternganga?


Sepersekian detik? dirinya terpukau, tercengang, ter ... ter? "Ishh, apa yang terjadi denganku?" Wirasti nyaris terpekik sendiri ketika mendapati dirinya?


Astaga? berkali-kali dibuat kebingungan sendiri. "Aduh, kaca? kaca? mana, kaca?" pekiknya, mulai agak panik!


Sumpah, rasa panik itu mulai menghimpitnya. Ketika mendapati dirinya dalam kondisi berkostum, aneh?


Yeah menurutnya sih, aneh!


"Lihat, diriku?" ujarnya. Suaranya melengking, menandakan bahwa tengah dilanda kaget? excited? terkanebo-kanebo karena mendapat suatu kejutan luar biasa, ups!


Tadi, tentang rasa terkejut bukan main! begitu sadar apa yang sedang ia kenakan dan pakaian yang melekat pada tubuhnya? "Hahh?" ungkapan refleksitas atas keterkejutannya.


"Siapa nggak kaget, bukan?" ujarnya, antara kaget dan geli. Seolah ada yang mendadani dirinya dengan kostum jadul, astaga?


Cosplay? yeah, itu sih semacam cosplay! Dalam kondisi dirinya mengenakan kostum ala tempo dulu. Wahai, amat jadulnya? Wirasti refleks menutup mulutnya dengan menangkup kedua tangan.


Ini pertama kalinya? seumur-umur dirinya merasa aneh sendiri. Mengamati dirinya sendiri dalam balutan dress longgar panjang berimpel-rimpel motif bunga kecil-kecil warna pastel, blousenya warna broken white berkrah tinggi seperti model shanghai dengan aksen renda-renda warna senada.


Blouse lengan panjang tersebut ada kerutan sedikit menggembung pada pangkal lengan atasnya, aksen pemanisnya jatuh pada lingkar pergelangan tangan diberi aksen yang sama dengan krah berenda-renda.


"Hihh," ujar Wirasti gemas sendiri.


Begitu menelusur bagian bawah kakinya, sempat ternganga kembali?


"Sepatu sendal?"


"Dari anyaman, iya ... itu anyaman!"


Nah, iya kan? terlihat semuanya jadul. Berkostum atau bercosplay serba nampak jadul!


"Bisa aje si empunya ide mendadani diriku sejadul ini?" decih Wirasti, kali ini dari tercengang langsung keluar tawanya yang sepersekian detik hanya tertahan!

__ADS_1


"Earoom ben je aan het lachen?" suara seseorang dan itu mulai familiar di telinganya. Kenapa tertawa? pertanyaan tersebut membuat Wirasti hampir terkesiap!


Ketika menoleh? betul, si empunya suara sudah berada di belakangnya. "Ya, ampun? bikin jantung nyaris copot!" kaget Wirasti meski sudah familiar dengan suara itu!


"Eh, meneer?"


"Ja, je hebt er verward uitgezien?" sahut pria paruh baya tersebut, ya kamu sedari tadi nampak bingung?


"Ja, natuurlijk!" balas Wirasti cepat, ya tentu saja!


"Meneer, wie heeft me zo gemaakt?" ujar Wirasti setengah protes, tuan yang bikin saya seperti ini?


Entitas tersebut hanya menanggapi dengan seringai, tentu saja Wirasti langsung bergidik! lalu tanpa berkata-kata entitas tersebut hanya memberinya isyarat agar mengikutinya.


Masuk ke sebuah rumah, Wirasti mulai menebak-nebak. Sudah tentu itu rumah, laki-laki paruh baya yang kini berada sekian langkah di mukanya. Rumah bercat serba putih? warna tidak banyak pilihan dan seperti umumnya rumah-rumah di masa lalu!


Sebuah rumah nampak bersahaja, terlalu bersahaja untuk seorang tuan belanda. Rumah tersebut terlalu lengang untuk sebuah rumah tinggal, Wirasti tidak menemukan sesuatu atau apapun yang berharga kecuali sepasang meja kursi dari bahan kayu amat kokoh bertengger di sudut ruang berpelitur cokelat natural.


Ya, karena ruangan tersebut nampak berada di posisi tengah. Tadi bersama sang empunya sempat melewati satu ruangan? nampaknya sebuah ruang tamu karena ada satu set meja kursi diperuntukkan tamu.


"Meneer woont hier met wie?" kata-kata pertama, tuan tinggal di sini dengan siapa?itu yang ia lontarkan sebagai satu pertanyaan karena sedari tadi penasaran, situasi senyap pertanda tidak ada orang lain kecuali sang tuan tersebut.


Oh-ho? Wirasti celingukan sendiri. Di depan si tuan tersebut seperti si muka tolol, itu pasti.


Sedari sang tuan mengajaknya masuk rumah? feel Wirasti sudah mulai memastikan berdasarkan situasi lengang seputar rumahnya. "Beliau memang seolah tinggal sendirian?" pikir Wirasti, sebetulnya berharap ada orang lain yang ia temui.


"Sinds wanneer is dit het huis van de meneer?" ups, lancang sekali berani menanyakan, ini rumah meneer sejak kapan?


Atau lebih tepatnya Wirasti menanyakan, " Meneer, sinds wanneer woont u hier?"


Beliau tidak langsung menjawab, malah terdiam beberapa saat.


"Voor ... " ungkapnya lirih, dulu.


"Is het lang geleden? Welk jaar?" kejar Wirasti, sudah lama? tahun berapa?


"Voor," jawabnya lagi.


Lalu si tuan tersebut diam, Wirasti pun ikut diam.

__ADS_1


"Sebenarnya mau bilang apa sih?" batin Wirasti mulai kehilangan kesabaran. Wirasti dibuat penasaran, sedangkan si tuan vekanda tersebut malah terdiam agak lama!


Tiba-tiba? beliau, "Die daar woonden, sommigen stierven omdat ze werden vermoord ... " mengatakan pada Wirasti karena areal rumah tinggalnya eks kuburan sebagian memang kuburan belanda, yang tinggal di situ beberapa mati terbunuh.


Gubraak! apa bukan mengagetkan sekali? Shock rasanya, begitu yang langsung dirasakan Wirasti!


"Als ik sterf door ziekte," ungkap tuan tersebut tiba-tiba. Beliau mengungkap, bahwa dirinya meninggal karena sakit.


"Meneer, is de manager oud?" tanya Wirasti, kepo! teganya menanyakan, tuan sudah tua ya?


"Mijn vrouw stierf voor mij aan ziekte, ik ben niet oud genoeg als ik sterf!" itulah jawabannya sedikit detil. Istriku dia mati karena sakit sebelum aku, aku tidak cukup tua saat mati dulu!


"Oh?" refleksitas bibir Wirasti membulat dengan melontar kata, oh?


Entah apa yang kemudian ada dalam pikiran tuan belanda tersebut, wajah pucat itu? memperlihatkan seringainya. Itu terlihat samar, Wirasti justru mulai tidak takut-takut lagi. Sungguh aneh, kan? padahal sebelumnya tiap si tuan tersebut memperlihatkan seringainya sontak membuatnya agak bergidik?


"Als ik mag weten, hoe oud stierf meneer?" Wirasti secara tiba-tiba nyeletuk, kalau boleh tahu meneer meninggal usia berapa? menanyakan seperti itu, di luar dugaan bukan seringai itu lagi yang ia lihat!


Melainkan? suatu hal di luar dugaan. Tuan belanda itu seketika berubah ekspresi, luntur sudah rona wajah yang selalu terlihat dingin, beku dan bagai si gunung es!


Seraut wajah muram, beliau kelihatan langsung sedih. Yah, ekspresi orang sedih itu gimana? seakan mendung menaunginya. Wirasti langsung, iba!


"Het is lang geleden," jawab tuan tersebut, sudah lama sekali. Beliau tidak memberi penjelasan secara pasti, tetapi kalau melihat perfomance visualnya seperti itu? tidak salah kalau menduga-duga usianya paruh baya.


Si tuan belanda pun mengalihkan pembicaraan lain,"In die positie waarin je slaapt, eigenlijk de rustplaats van mijn vrouw ... " beliau mengatakan seperti itu sudah untuk sekian kali?


"Di posisi yang kamu tempati tidur itu, sebenarnya tempat istirahat istriku ... "


"Oke," desis Wirasti, sudah tidak terkejut? ia merasa toh hanya mimpi ini?


Justru setelah itu yang terpikir olehnya adalah, bagaimana caranya pulang? "Trouwens, waar moet ik naar huis, he?" tanya Wirasti, ngomong-ngomong nih aku pulang lewat mana ya?


"Meneer, komt u nog een keer?" Wirasti mencoba bertanya lagi, tuan akan datang lagi tidak? tetapi beliau hanya diam.


"Sombong, dasar kompeni!" Wirasti pun ngedumel sendiri. Tetapi Wirasti sempat mendengar tawa kecil sang tuan belanda tersebut, hanya itu!


Setelah itu, Wirasti merasa melayang-layang tetapi entah apa yang membuat dirinya merasa seringan kapas diterbangkan ke sana ke mari? sampai rasanya tiba-tiba dihantam oleh memori-memori di alam nyata? ada wajah Wisnu adiknya, ada ibunya, ada bibik pembantu dan suara televisi di ruang tengah.


Sampai kemudian merasakan kedua ujung kakinya seperti menyentuh empuk selimutnya dan merasa hangat lagi juga mulai mengendus aroma kamarnya, "Aahh pulang ... " batin Wirasti jauh setelah larut dan hampir tengah malam.

__ADS_1


__ADS_2