
Drama cinta segitiga atau cinta tak sampai itupun berakhir tragis, nyai pergi hatinya terluka sedangkan sepupunya tersebut membawa pergi keputus asaannya. Dia melakukan aksi bundir, bunuh diri demi ingkar dan lari dari tanggung jawab telah menghilangkan nyawa sepupunya sendiri?
Wirasti terbawa perasaan, ikut terhanyut sedih. Tidak pernah membayangkan, historis rumah villanya menyimpan ragam kisah akibat residu-residu yang tertinggal dan Wirasti tahu sebagian karena energi masa lalu atas kepingan-kepingan atau puzzle riwayat seseorang yang pernah eksis mengarungi belantara kehidupan di alam ini.
"Tuan belanda, nyai, sepupu nyai? ada dalam satu jalinan cerita sedih. Mereka dalam lingkar kisah cinta, ada yang terluka? ada yang terpelanting?"
"Cinta tidak harus menikung, cinta tidak harus merebut, juga tidak harus mencelakakan orang lain ... "
"Itu kan idealnya?"
"Faktanya?"
"Berbalik 180° dan nggak semua cinta ber-ending happy!"
"Tidak mutlak begitu, sih!"
"Setiap orang punya sudut pandang dalam memahami cinta, bisa mainstream bisa pula antimainstream. Itu semua lumrah, manusiawi!"
"Relatif, hem?"
Wirasti pun merasa ngap sendiri lama-lama memikirkan kisah semacam itu? tidak habis pikir satu faktual meski kejadiannya puluhan tahun silam. "Rasanya sulit dipercaya," sesal Wirasti, menolak kisah yang sempat mengorbankan sosok sebaik nyai.
Sungguh, kadang juga sulit dipercaya bahwa dirinya begitu mudah berurusan dengan suatu hal di luar nalar. Suatu yang musykil, bersentuhan dengan dimensi lain dan mahluknya menyeruak menghampiri bahkan berinteraksi secara intens.
Areal tempat tinggal Wirasti pun menjadi satu media, residu-residu yang tertinggal di situ secara tidak langsung sebagai satu area wingit atau angker menyimpan energi-energi yang masih aktif, "Kurasa seperti fenomena bom molotov, eh bom waktu!" tunjuk Wirasti, tergelitik berkata konyol!
"Diperparah keadaan tempat tinggalku hampir semua area di tanah kavling bagian atau deretan belakang tersebut semuanya eks tanah kuburan!"
"Celakanya lagi, dibiarkan begitu saja lalu diuruk langsung digunakan atau dimanfaatkan, ya untuk kebun ya untuk beberapa tempat tinggal ... "
"Salah satunya langsung dibangun rumah seperti tempat tinggalku tuuu!"
"Nggak jadi angker gimana?"
"Sableng banget, kan?"
"Empunya tanah di sekitar situ, seperti nggak punya udel!"
"Setidaknya, setiap jengkal andai benar eks kuburan. Dibongkar dulu kek, lalu dipindahkan ke tempat lain jika masih ada ahli warisnya. Nggak asal pakai lalu main uruk-uruk, terutama si empunya rumah villa tersebut hebat juga punya nyali kalau sudah tahu area di situ memang eks kuburan!"
Hih? akibatnya juga apa? tidak salah sih orang percaya mitos, mistis, tahayul? kalau realitasnya sempat timbul sesuatu, gangguan misalnya. "Salah siapa, hayo?"
"Umumnya yang dapet gangguan ya mereka dengan potensi ekstra, hingga dirinya mungkin terdeteksi oleh radar mereka dijadikanlah mediumisasi!"
Hei, tetapi bukan mediumisasi dalam arti leksikal. Sekadar pinjam istilah tersebut sebagai satu batu loncatan?"
"Yep, sepertinya begitu!"
"Beda artinya dengan istilah mediumisasi dalam arti sebenarnya,"
"Yah, mediumisasi sebenarnya punya arti, seseorang dijadikan obyek perantara untuk kepentingan tertentu sebagai sarana interaksi dengan mahluk dimensi lain, biasanya sih begitu!"
"Ah, daahlaah!" ujar Wirasti, ingin mengabaikan sesuatu yang mulai berputar-putar di kepalanya.
__ADS_1
Tetapi, rasanya tidak mungkin dirinya cepat abai dengan apa yang tengah sarat memenuhi rongga kepalanya, "Uughh ... " keluh Wirasti, tidak bisa disangkal lagi kepalanya makin pening!
"Emmphh, risiko?" gumamnya, kemampuan ekstranya memang bukan tanpa risiko. Sejak kecil ketika dirinya menyadari ada hal aneh menghinggapi, dan itu menjadi bagian dari dirinya sendiri. Dari situ sebetulnya Wirasti mulai mengalami suatu hal yang pesat tidak berlaku pada setiap orang.
Wirasti memang tumbuh menjadi pribadi kuat!
"Tahan bantingan?"
Wirasti tersenyum kecut seraya berkata,"Bukan tahan bantingan itu namanya, tapi sering terbanting-banting!" selorohnya sambil menelusuri ingatannya kembali? betapa dirinya sering menghadapi persoalan di luar nalar sebetulnya bukan untuk dikonsumsi olehnya.
"Yah, mau mengelak bagaimana lagi?"
"Ibaratnya kitalah yang dituju!"
"Mau tak mau, hm secara sukarela begitulah!"
"Seperti contohnya si tuan tersebut, tahu-tahu sudah nongol tanpa diundang masuk rumah orang!"
"Aku sendiri nggak bisa menampik!"
Sungguh apa yang ia temui terkait kisah sedih seorang nyai, tuan belanda dan sepupu nyai seperti itu telah mendistraksi dirinya. Bahkan, berikutnya sempat merembet ke sebuah kisah lain vibesnya masih sama cinta segitiga berujung petaka.
Entah? portal manakah yang terbuka, namun feel Wirasti tidak jauh-jauh dari residu atau energi seputar area tempat tinggalnya, tetapi anehnya mempunyai kisah sama cinta nan dramatis.
Tidak sulit bagi Wirasti ketika dirinya tiba-tiba sudah mengalami dan masuk pada situasi dengan akses, flip!
Satu pemandangan lain terhampar dan dialami Wirasti, "Ini, era silam?" tebaknya, tidak akan salah.
Seseorang? "Perempuan muda, nampaknya habis bepergian ... " ulas Wirasti, sambil terus mencermati gerak geriknya.
Di ruangan itu? "Dia hanya sendirian," Wirasti terus memindai keadaan sekitar yang memang nampak lengang!
Ketika perempuan itu melangkah menuju ruang tengah hingga mentok ke arah belakang, nampak sedang dibuntuti seseorang. Rupanya keduanya saling mengenal, malah terjadi percakapan pendek dan hanya sebentar.
Bukan sungguh di luar dugaan? jika kemudian apa yang terjadi adalah suatu hal yang?
Shitt!
Apa yang terjadi? tentu saja sangat mencengangkan sekaligus menyeramkan!
Perempuan yang menguntit perempuan pertama tadi, serta merta melakukan suatu hal paling konyol! tanpa ba bi bu, telah menyerang dengan beberapa kali tikaman pisau dapur!
Wirasti gemetaran sendirian sambil beberapakali, ber-istighfar. "Apa masalahnya, kenapa main hakim sendiri? jika memang ada kesalahpahaman atau?" seru Wirasti tertahan.
Pemandangan yang benar-benar memilukan, ada unsur sadisme. Perempuan yang menguntit tadi dengan ekspresi flat dan amat dinginnya itu, begitu korbannya tumbang serta merta menyeretnya ke suatu tempat!
Apa yang bisa dilakukan Wirasti? dirinya hanya mampu berteriak-teriak histeris sambil sesekali berlarian menghadang perempuan gila tersebut!
"Heh, psikopat!"
"Kamu telah berbuat kriminal!"
"Kaa ... kaa-mu! layak dipenjara! kamu pembunuh! pembunuh berdarah dingin! kamu gila!"
__ADS_1
Wajah beringas perempuan tersebut seakan tidak peduli, baik teriakan Wirasti yang nyaris serak-serak maupun cara Wirasti menghadang secara susah payah seakan tidak digubris samasekali.
Bahkan, pada kesempatan lain Wirasti semakin terkesima! tanpa bisa melakukan apapun, karena akhirnya dirinya sadar. Hanya didatangkan sekadar seperti kunjungan pada satu tempat atau kejadian di mana dirinya tidak terlibat samasekali pada kurun era tersebut!
Berikutnya apa pula yang terjadi?
Siapa sangka, pisau dapur yang masih berlumuran darah tersebut dibawanya menuju arah ruang kamar paling depan. "Itu, kelihatannya ruang tidur utama!" batin Wirasti, masih terus ingin mengikuti secara berjarak dengan perempuan itu!
Pintu ruang kamar pun terkuak, di dalamnya? Seseorang tengah dalam posisi tidur membelakangi arah pintu!
Shitt, perempuan tersebut langsung menghampiri dan hal yang sama terulang kembali!
Wirasti sontak hanya bisa ternganga, aksi brutal itu pun kembali terlihat oleh Wirasti. Belum sempat menjerit-jerit bermaksud mencegah, "Heh, stop! stop! hentikan! hentikan!"
Tetapi perempuan itu dengan ganas dan kesetanan melampiaskan aksi psikopatnya, yang tengah dalam posisi tidur tadi adalah seorang laki-laki?
"Kamu pembunuh!"
"Kamu psikopat!"
"Kamu melawan hukum!"
Tanpa sempat melawan laki-laki berpostur bukan warga lokal, laki-laki dalam penglihatan Wirasti tersebut lebih menyerupai non pribumi. Sepintas tidak jauh beda dengan, si tuan belanda. Sekejap? karena tikaman berkali-kali tanpa sempat melawan, terlihat terkulai bersimbah darah!
Sprei warna terang broken white tersebut sekejap telah berubah warna, semerah darah!
Rembesan dan cipratan darah memenuhi semua permukaan sprei dan sarung bantalnya, laki-laki malang tersebut telah meregang nyawa.
Seketika yang hinggap di kepala Wirasti langsung, teriakan? "Medis! medis!" pikirnya siapa tahu saja laki-laki tersebut masih bisa terselamatkan?
"Panggil ambulance," pikirnya lagi, seakan kehilangan kesadaran karena terbawa panik!
Wirasti seakan lupa bahwa dirinya berada pada situasi tengah berteleportasi, seakan semua kejadian seperti nyata!
Kepanikan itu seakan melanda dirinya, betapa tidak sinkronnya antara yang ada di kepalanya dengan tindakan panik yang sedang ia lakukan.
Wirasti malah berlarian menuju kamar mandi, dengan seember air lalu berlari-lari menuju ruang kamar sebagai lokasi TKP.
Pikirnya hanya satu, mengurangi bau anyir darah segar yang menguar dan menghilangkan pemandangan amat miris cipratan dan rembesan darah segar di atas sprei.
"Aku tidak bisa berpikir yang lain," aku Wirasti, dilanda panik!
Rasanya ingin segera menyiram dengan berember-ember air, karena sedari awal dirinya melihat dengan kepala sendiri sejak aksi brutalis perempuan psikopat tersebut membabi buta telah melenyapkan dua nyawa sekaligus. Di rumah tersebut telah terjadi aksi pembantaian mengerikan, menguar aroma darah segar yang membuatnya mual dan mau muntah!
Wirasti tidak habis pikir kenapa disuguhi suatu pemandangan memilukan, sadis dan tidak berperikemanusiaan. Sudah jelas perempuan sialan itu sebagai pelaku utamanya, di kesempatan yang lain?
Wirasti napasnya, ngap! karena beda reka adegan. Perempuan gila tersebut telah diringkus, sayang sekali kemudian dinyatakan psikisnya terganggu. Itu artinya semua tuntutan atas dirinya tidak berlaku samasekali, padahal dua nyawa telah melayang dalam tempo yang hampir bersamaan di rembang petang itu!
"Karmanya dia hanya dianggap depresi, hanya gangguan jiwa?" sesal Wirasti, amat kecewa. Seharusnya manusia psikopat seperti perempuan itu biarkan membusuk di penjara!
Wirasti tidak respek samasekali, tidak akan timbul empati sedikit pun justru merasa sangat apriori. Satu hal yang tidak ia mengerti, kenapa ada semacam kisah cinta segitiga seolah sengaja disodorkan padanya 'bak studi banding? haruskah menarik perhatiannya? karena Wirasti merasa telah direcoki sesuatu yang memaksanya fokus mencermati kisah demi kisah?
Seingatnya memang semua itu berawal dari munculnya laki bini, si tuan dan nyai. Sejak itu semuanya beruntun dan kisah pun mengalir meminta dirinya terus mengikutinya, seolah cerita tanpa jeda? di balik kisah pilu dan amat menyedihkan itu, bahkan beberapa scene memicu emosionalnya. Sebetulnya makna apa yang termaktub di balik semua itu? kenapa, iya kenapa harus aku yang mengalaminya? hati dan pikiran Wirasti sarat tanya.
__ADS_1