Wirasti The Clairvoyance

Wirasti The Clairvoyance
Entitas Bergaun Hitam


__ADS_3

Wirasti tercenung sendirian, semula hanya terbesit di benaknya. Perempuan itu? yang berdiri tepat di samping si tuan belanda larut malam itu? mustahil laki perempuan yang tengah berjejer dan mematung sekian jengkal dari pembaringannya tersebut tidak ada hubungan spesial.


Feelnya ternyata tidak meleset!


Beda ras, beda kultur, beda status, atau beda apapun dari sudut pandang orang lain yang melihatnya secara cetek atau dangkal manakala menangkap makna cinta, padahal kita tahu bukan? cinta itu menghinggapi siapapun tanpa pandang bulu.


Cinta yang timbul di hati dua insan seperti halnya antara tuan belanda dan nyai, sungguh menggelitik rasa ingin tahunya yang begitu besar!


"Aku tahu sedalam itu cinta sang tuan belanda?"


"Begitu sebaliknya, aku tidak bisa membayangkan sedalam apa cinta nyai pada suami belandanya!" cicit Wirasti, perasaannya langsung meleyot.


Bukan terukur atau tertebak, namun feel Wirasti seakan berjalan dengan sendirinya. Si tuan belanda yang ia kenal sudah memperlihatkan padanya, betapa beliau meski sebagai entitas masih memberi kesan sambung perasaan dengan istri pribuminya.


Wirasti tersentuh dengan perlakuan tuan belanda tersebut, "Betapa setianya," pujinya, ketika tuan tersebut memperlihatkan betapa dirinya seakan berkeinginan untuk selalu bertandang ke tempat peristirahatan istrinya padahal tuan tersebut selalu mengatakan jika berkunjung ke wilayah di mana tempat istrinya berada sudah beda teritori, itu artinya harus berurusan dengan penguasa setempat.


"Maksudnya mungkin tuan belanda tersebut harus mengantongi izin terlebih dulu,"


"Dengan begitu bisa berkunjung?"


"Setiap kali berkunjung, seperti jam bezuk saja?"


Wirasti pun tidak habis pikir? lalu, timbul isengnya. "Siapa si penguasa di kawasan tempat tinggalku? iya, note bene sebagai situs di mana ada makam istri si tuan tersebut di masa lalu?" ujar Wirasti seperti ngedumel, bahkan rasanya ingin uring-uringan sendiri.


"Pasti dedengkot daerah sini," desis Wirasti tak senang. Arah pikiran Wirasti tertuju pada perempuan tua nenek-nenek yang pernah mendistraksi dan sempat singgah di rongga kepalanya. Perempuan tua itukah? dialah yang pertama kali tertangkap radar gaibnya, dialah si pembuka portal?


"Betulkah dia, hem?" Wirasti melontar kata, jika betul si nenek tersebut? "Apa sih untungnya?" ujar Wirasti mulai ketus. Heran, di jagat lelembut alam astral mereka punya kebijakan sebagai penguasa setempat pada teritorial masing-masing.


Lalu, nyai? kenapa justru dimakamkam di wilayah lain? apakah si nyai asal muasalnya memang dulunya dari wilayah tempat Wirasti?


"Kalau betul dugaanku begitu, berarti antara nyai dengan tuan belanda tersebut tidak dalam satu lokasi makam?"


Lebih jauh Wirasti mengulik tentang bagaimana sang tuan memberi memori-memori padanya, atau seakan meminta Wirasti datang padanya dengan akses VR maupun teleportasi tetapi selalu memberi kesan berjarak dari wilayah tempat tinggalnya.


Mulai dari pertama si tuan belanda tersebut tiba-tiba membawanya sampai ke tempat tinggalnya, dengan cara melayang-layang di udara beku larut malam. Wirasti merasakan tengah menempuh jarak dari satu tempat ke tempat lain.


Tetapi anehnya tidak satupun memorinya bisa menunjukkan kebersamaan si tuan dengan nyai, "Why?" pikir Wirasti, seolah ada satu scene yang terlewatkan atau ke-delete selamanya?


Tuan belanda tersebut hanya lebih sering memperlihatkan memorinya seputar keseharian dirinya dan hanya menunjukkan kesan manis atau sekadar pikirannya saja hanya berputar-putar tentang nyai, tidak lebih dari itu!


Ironisnya, zonder atau tanpa adanya visual yang memperlihatkan kebersamaan dengan nyai sebagaimana pertama kali visual yang tiba-tiba nongol di dekat pintu kamarnya!


"Ah, astralis memang sering aneh-aneh!" desis Wirasti.


Jika suatu hari tuan belanda itu memberinya satu memori lain, entah? apakah beliau merasa bahwa dirinya mempunyai angan-angan ingin sekali mengetahui runtut historis sang nyai hingga bisa diperistri tuan tersebut?


"We houden van elkaar" ujar tuan, kami saling mencintai.


"Ik weet," sahut Wirasti, saya tahu.

__ADS_1


"Mag ik weten waarom je met nyai bent getrouwd?" terlontar begitu lancangnya Wirasti tidak bisa membendung rasa ingin tahunya, bukan untuk bermaksud kepo berat apalagi berniat julid. Tetapi pure Wirasti seolah ingin mengetahui duduk persoalannya dengan lancangnya bertanya, boleh saya tahu kenapa tuan memperistri nyai?


Senyum smirk si tuan terlihat olehnya, mungkin pikirnya nona muda di depannya ini terlalu berani dan mulai banyak tanya seperti yang pernah dicetuskannya, "Je begint te vragen he!" tuan tersebut berkata, kamu mulai banyak bertanya ya!


Wirasti hanya bereaksi kecil dengan, meringis! ia tahu tuan belanda tersebut pasti kurang suka dicecar pertanyaan yang sifatnya terlalu pribadi.


Anehnya? tanpa diminta pun tuan belanda tersebut seakan tahu jalan pikirannya, "Seperti ada sinyal telepati!" ujar Wirasti, karena itulah yang dirasakan sekarang.


Bahkan, jauh di luar dugaannya. Wirasti merasakan beberapa hal yang ingin diketahuinya terkait nyai tahu-tahu sudah ada di kepalanya. Telepatikah? yep, kurang lebih begitu.


Memori tuan belanda itulah yang memberi gambaran seputar nyai, seperti ketika dirinya tahu-tahu sudah berada di sebuah ruang yang terdiri dari meja dan kursi makan. Ada perempuan bersanggul dan berkebaya rapi duduk di situ, tuan belanda langsung memberi gambaran bahwa itulah nyai. Sayangnya Wirasti terlambat!


"Kalau saja," pikirnya, sejak awal dirinya mengetahui atau tuan belanda tersebut memberi gambaran utuh perihal istri pribuminya. Yah, tentang nyai? karena jauh sebelum mengenal si tuan belanda, Wirasti sendiri sudah pernah terusik oleh visual yang sempat menghantui di sudut ruang kamarnya. Namun, itu jauh sebelum pemunculan sang tuan!


Misteri atau teka teki vortex berupa perempuan? tertangkap oleh penglihatan mata batinnya ketika pertama kali masuk rumah villanya, sehari sebelum rumah terbengkalai tersebut mulai siap direnovasi.


Wirasti sempat menangkap bayangan berkelibat, bahkan dari balik jendela dan kelak di situ kamarnya? tertangkap oleh penglihatannya seraut wajah perempuan berekspresi sedih. "Hem, pantesan bawaanku selalu pengin sedih setiap kali aku masuk kamar itu!" ujar Wirasti.


Siapakah perempuan itu?


"Aku belum tahu persis tentang nyai,"


"Bahkan sampai ketika kenal tuan belanda,"


"Misteri perempuan tersebut? tetap berlangsung hingga suatu hari aku pernah merasa tercekam!"


Wirasti masih ingat betul, saat larut malam antara mimpi dan sadar? dirinya agak dikejutkan oleh kehadiran mahluk lain di sudut ruang kamarnya. Anehnya saat dirinya terpejam, visual itu nampak jelas posisinya berada tepat di sudut kamar.


"Hah?" nyaris terpekik, seketika Wirasti membuka kelopak mata.


Tetapi, anehnya? begitu matanya terbuka visual tersebut melenyap seketika!


Wirasti tentu saja celingukkan nanar menatap sekeliling tetapi, nihil!


Visual tadi, raib!


Hm? ke mana perginya, pikir Wirasti sebetulnya tidak berminat mencari-cari. Sepersekian detik celingukkan sendiri? Wirasti pun berniat berangkat bobok lagi. Kelopak matanya pun perlahan mengatup kembali.


Hei, wait!


Dalam kondisi mata terpejam? ada sesuatu yang mengusiknya lagi. "Hah?" pekik kecil Wirasti, begitu terlihat kembali?


"Perempuan itu?" batin Wirasti mulai tidak enak!


Yep, apa yang ia lihat tidak lain visual pertama tadi membuatnya heran sekaligus rada tercekam!


Apa pasal?


Itu, visual perempuan yang sama! posisi dia, jongkok membelakangi dirinya sehingga Wirasti bisa tahu persis apa yang tengah dilakukannya.

__ADS_1


Namun, anehnya?


"Aneh banget!" ujar Wirasti rada khawatir, karena apa yang ia lihat? seolah dirinya berada pada posisi perempuan tadi. VR atau Virtual Reflection, yah akses atau mode flip tersebut berlaku saat itu juga!


"Hadeuh," keluh Wirasti pendek. Cara atau mode flip semacam inilah yang kerap terjadi pada dirinya akhir-akhir ini, di mana secara aneh langsung pindah posisi atau itu mode dislokasi.


"Kadang ada atau menunjukkan memori dia, atau yang bersangkutan ... " desis Wirasti memperjelas situasi yang tengah berlangsung menimpanya.


"Dengan begitu, aku merasa berganti peran. Seolah menjadi dirinya!"


Apa yang diungkapkan Wirasti secara detil tersebut menunjukkan suatu keadaan faktual, itulah yang tengah dialami.


"Aku menjadi sosok itu!"


"Hem, maksudku ketika peran itu dioper padaku aku menjadi paling tahu apa yang terjadi pada dirinya!"


Saat posisi jongkok membelakangi dirinya? seolah Wirasti langsung flip berubah peran. "Aku tahu, itu pasti memoriny!" ujar Wirasti.


Perempuan tersebut? sementara posisi dirinya seakan lebur menjadi entitas perempuan yang tengah menghadapi situasi krusial?


Sambil jongkok? perempuan itu membolak-balik kedua telapak tangannya, tetapi? ada sesuatu kejanggalan yang menurut Wirasti itu sangat mengerikan.


"Hah, di ... dii-a?" gelagepan Wirasti saking kagetnya, karena perempuan bergaun panjang warna hitam tersebut?


Nampak di mata Wirasti tengah membolak-balik kedua telapak tangannya sudah dalam kondisi berlumuran darah!


Deg? jantung Wirasti serasa mau copot. Apa yang ia lihat? jelas akan menimbulkan berbagai asumsi.


"Why? oh, why?" batin Wirasti, ingin berteriak!


"Ada apa? kenapa?"


"What happen?"


Berteriak-teriak saja rasanya belum cukup? diperlihatkan view sehoror itu? mana bau anyir darah segar merebak di mana-mana seantero ruang kamarnya, iissh!


Suara Wirasti serak untuk berteriak, rasanya amat tercekam. Bukan karena ketakutan karena visual entitas perempuan seperti umumnya gambaran seutuhnya model kuntilanak tetapi berdress hitam rambut awut-awutan!


"Bukan, bukaaan itu!" tepis Wirasti, mengalihkan sifat ketakutannya dikarenakan?


"Darah, iya darah itu? huh!" seru Wirasti paling tidak tahan melihat darah apapun bentuknya!


"Mana sedari tadi berlumuran dikedua telapak tangannya," tunjuk Wirasti, ngeri!


"Sungguh, miris!" sesal Wirasti jika itu adalah hal-hal yang tidak terduga. Siapa tahu saja, bukan?


"Apa sesungguhnya yang terjadi?"


Teka-teki perihal entitas perempuan, atau entah apa ada kaitannya dengan istri si tuan? apakah, apakah dia itu nyai? "Ah, kurasa bukan sih!" tepis Wirasti, karena sulit membedakan akibat lampu kamar redup.

__ADS_1


Misteri entitas perempuan bergaun hitam dengan kedua telapak tangan berlumur darah serta seraut wajah sedih yang pernah muncul secara tiba-tiba, justru menjadi teka teki hingga dirinya bertemu sang tuan belanda tersebut.


Siapa sebenarnya entitas perempuan itu? who is? yah, siapa dia? apa yang terjadi? apa kaitannya dengan istri si tuan? kenapa seolah ada satu teka-teki yang mendistraksi dan kemunculannya itu nyaris bersamaan dengan memori tuan belanda tersebut yang sampai padanya?


__ADS_2