
Alisha benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat mungkin menuju SMA Pusaka Bangsa. Jarak gerbang sekolahnya dengan tempat turun dari angkot memang cukup jauh. Gedung sekolahnya memang tidak terletak persis di pinggir jalan raya, tetapi masuk ke dalam jalanan yang lebih kecil, di mana angkutan umum tidak melintas langsung di depan sekolah.
Jalanan menuju sekolahnya sudah cukup sepi. Tidak terlihat lagi orang-orang yang berseragam sama dengannya sepanjang cewek itu melihat. Alisha melirik sekilas jam tangannya. Tentu saja hanya ia yang terlihat berlarian di sini. Bel masuk sudah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu. Siswa-siswa Pusaka Bangsa pasti telah masuk dari tadi.
Sambil berlari, Alisha merutuki kesialannya pagi ini. Bukan, dia bukan bangun kesiangan. Karena kalau sampai kakeknya tahu cucunya ini bangun kesiangan, pasti Alisha sudah diceramahi. Lagipula Alisha bukanlah gadis yang suka begadang lalu tidur seperti lupa waktu. Ia terlambat karena motornya pagi ini melakukan aksi mogok. Entah kenapa motornya tidak mau hidup padahal sudah berulang kali dicoba untuk dihidupkan. Jadilah pagi ini ia harus berjalan dulu keluar komplek rumahnya untuk mencari angkot yang jarang ia tumpangi tersebut.
“Pasti Bu Beti udah stay di gerbang,” gumam Alisha pelan.
Ia teringat akan salah satu guru yang terkenal killer tersebut. Alisha hapal betul siapa yang hobi menjaga pintu gerbang sekaligus memberikan tatapan tajam pada para siswa yang dengan beraninya datang terlambat. Walaupun Alisha jarang sekali datang terlambat –yang seingatnya baru pernah sekali datang terlambat selama lebih satu setengah tahun berada di sekolah ini– tapi ia jelas tahu mengingat guru tersebut sering dijadikan bahan perbincangan temannya yang terkena semprot karena terlambat. Guru tersebut juga pasti tidak akan segan-segan memberikan hukuman yang memakan waktu lama, sehingga bisa dipastikan jika itu terjadi, Alisha akan terlambat mengikuti pelajaran pertama di kelasnya.
“Hei, telat ya?”
Alisha menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah suara di sekitarnya. Cewek itu menoleh ke kanan kiri, tapi tidak ditemukannya seseorang yang bertanya padanya tadi.
“Perasaan gue udah sarapan deh, kok berhalusinasi kayak gini,” ucap Alisha dengan napasnya yang masih ngos-ngosan, lalu hendak kembali melangkah lagi. Gerbang sekolahnya sudah bisa ia lihat dari sini.
“Gue di sini.”
Alisha batal melangkah.
“Di atas.” Suara itu kembali terdengar.
Alisha mendongakkan kepalanya untuk melihat ke atas seperti mengikuti suara itu.
“Telat?” Cowok yang sedang bertengger manis di atas tembok pembatas sekolahnya itu kini menatap Alisha dengan tampang sok polos. Ia duduk manis dengan salah satu kaki berada di bagian luar sekolah, sedangkan kakinya yang lain berada di bagian dalam sekolah.
“Ngagetin aja,” ucap Alisha datar.
“Kaget tapi kok mukanya biasa aja?” Cowok yang Alisha ketahui kalau namanya adalah Alden itu kembali bersuara.
Malas menanggapi lebih lanjut, Alisha kembali ingin berlari menuju gerbang.
“Ngapain lari-larian mau masuk? Udah dapet ceramah panjang lebar, terus dikasih hukuman pula. Mending sini deh bareng gue, masuk lewat sini.” Alden berujar dengan santai.
“Nggak deh. Gua masuk lewat gerbang aja,” tolak Alisha langsung. Manjat tembok yang tingginya hampir 2,5 meter itu? Jelas Alisha tidak mau.
“Terserah lo sih.”
Alisha lalu kembali melanjutkan berlari. Benar dugaannya, Bu Beti sudah menunggu dengan manis di sana.
“Pagi, Bu,” sapa Alisha dengan senyum yang dipaksakan.
“Kenapa terlambat?” tanya Bu Beti ketus disertai tatapan tajamnya.
Alisha baru saja ingin membuka mulut, tapi kembali Bu Beti bersuara.
“Kamu tau kan jam berapa bel masuk berbunyi?”
Alisha mengangguk takut-takut, ia tidak berani menatap langsung mata Bu Beti.
“Cepat masuk,” ujar Bu Beti sambil membuka pintu gerbang sedikit. Ya, hanya sedikit, celah yang sebenarnya dimuat-muatkan oleh Alisha agar ia bisa masuk.
“Tulis nama kamu di buku itu.”
Alisha menurut dan menuliskan namanya di daftar nama-nama siswa yang terlambat. Demi apa pun, Alisha nggak suka banget kalau namanya termasuk di dalam jajaran siswa bermasalah. Iya, menurutnya datang terlambat dan nama dicatat itu sudah termasuk bermasalah. Tapi Alisha lebih nggak suka lagi kalau harus ngikutin Alden yang dengan seenaknya masuk ke sekolah dengan memanjat tembok. Ia lebih baik begini, lebih terhormat.
“Sudah berapa kali kamu telat dalam bulan ini?” tanya Bu Beti tiba-tiba dengan suara kerasnya yang membuat Alisha tersentak.
“Baru satu kali, Bu.”
“Baguslah. Kalau dalam bulan ini kamu telat udah tiga kali, kamu disuruh pulang, gak boleh masuk ke sekolah,” terang Bu Beti.
“I-iya, Bu.”
“Sekarang taruh tas kamu, dan siram tanaman yang ada di sekolah ini. Kalau sudah, lapor ke Ibu.”
“Baik, Bu.”
Sepeninggal Bu Beti, Alisha mengembuskan napas lega. Untung hukumannya tidak terlalu berat. Mungkin ini dikarenakan hanya dirinya yang datang terlambat. Kalau banyak yang sepeti dirinya, pasti hukumannya akan lebih lagi.
“Aduh, Pak, kuping saya entar merah lho kalau dijewer kayak gini.”
Alisha menoleh ke sumber suara. Saat menyadari siapa pemilik suara tersebut, Alisha hanya memutar bola mata jengah.
__ADS_1
“Kamu ini ya, sudah datang terlambat, berusaha masuk diam-diam, eh lari juga pas dipanggil. Apa kamu tidak tahu aturan di sekolah ini?” geram Pak Rubandi setelah melepas jewerannya.
“Wah Bapak hebat ya bisa nangkap saya. Kalau saja pas saya tadi tidak tersandung, saya pasti bisa lari dari Bapak,” jawab suara itu yang sama sekali tidak menghiraukan pertanyan Pak Rubandi sebelumnya.
“Kamu!”
“Bapak udah tua, tapi masih bisa ngejer saya. Hebat.”
“Alden!”
“Kenapa, Pak?”
Guru tersebut mengembuskan napas keras. Bisa naik darah dia kalau pagi-pagi begini sudah harus dihadapkan pada makhluk ini.
“Sini kamu.”
Dengan malas-malasan Alden mengikuti Pak Rubandi yang mengambil daftar nama siswa terlambat. Ia meneliti sebentar buku tersebut, lalu berkata, “Bulan ini kamu sudah telat tiga kali. Jadi, kamu tau kan konsekuensinya?”
Alden menggeleng kalem.
Emosi Pak Rubandi kembali tersulut. “Pulang kamu.”
Alden membelalakkan mata. “Kok pulang, Pak?”
“Konsekuensinya.”
“Yah, jangan dong, Pak. Saya ke sini kan mau belajar. Masa disuruh pulang? Nanti saya ditanyain sama orang tua saya kenapa gak pergi ke sekolah. Terus nanti saya dihukum di rumah. Bapak gak kasihan sama saya?”
“Kamu yang melanggar aturan. Jadi terima hukumannya.”
“Saya gak mau pulang, Pak….”
“Alden, pulang sana.”
“Gak mau, Pak,” jawab Alden bersikeras sambil memeluk pilar di dekatnya. “Saya kan mau belajar, Pak, di sini. Saya mau mewujudkan tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bapak sebagai guru kok tidak mau mendukung tujuan negara? Kalau saya pulang, berarti saya gak bisa belajar dong, Pak. Gimana saya mau cerdas? Pokoknya saya gak mau pulang, Pak.”
Seketika wajah melas Alden berganti menjadi tampang cerah. Dilonggarkannya pelukan pada pilar tersebut. “Saya gak jadi disuruh pulang, Pak?”
Pak Rubandi mengangguk pasrah.
“Wah, Bapak pengertian banget. Makasih banyak, Pak.”
“Sekarang kamu ambil sapu lidi dan bersihkan selokan di sekolah ini.”
“Jangankan bersihkan selokan, Pak, bersihin satu sekolah ini juga saya mau.”
“Beneran?”
Alden nyegir. “Iya, kalau Bapak mau kasih nilai 90 untuk matematika di rapor saya.”
“Dasar kamu ini. Sudah sana cepat kerjakan.”
Alden lalu bergegas mengambil sapu lidi dan berjalan ke satu-satunya siswa yang terlihat di lapangan ini.
“Kena juga kan,” ujar Alisha sarkatis.
“Iya nih. Kayaknya gue emang ditakdirin buat nemenin elo deh. Kan gak enak kalo dihukum sendirian,” ucap Alden dengan cengiran khasnya yang hanya dianggap angin lalu oleh Alisha.
***
“Duh, kepala gue masih nyut-nyutan nih sama soal-soal tadi.” Lani duduk di sebelah Alisha yang kini tengah menyuapkan batagor ke dalam mulut. Suasana kantin yang cukup ramai membuat Lani yang memesan bakso harus antri lebih lama daripada kedua sahabatnya yang lain.
“Kimia?” tebak Yuda yang duduk di depan Alisha. Yuda tahu pasti apa yang bisa membuat seorang Lani menjadi misuh-misuh seperti ini.
Lani mengangguk mantap.
“Mau gue bantuin gak?”
“Bantu ngerjain pr?” tanya Lani bersemangat.
__ADS_1
“Bukanlah. Bantu ngajarin elo.”
Lani cemberut. “Iya deh, mau. Entar pulang sekolah kita belajar bareng. Lo ikut kan, Sha?” Lani menolehkan kepala menatap Alisha yang sedari tadi hanya diam mendengar perbincangan mereka.
“Iya, gue ikut.”
“Oke, entar di rumah siapa?” tanya Lani.
“Di rumah gue aja,” usul Alisha yang segera disetujui oleh Yuda dan Lani. Sepeti biasa mereka tahu jawaban akan pertanyaan tersebut. Ya, anggap saja pertanyaan yang dilontarkan Lani tadi adalah formalitas saja. Lani dan Yuda tahu, kalau bukan mereka yang membuat berisik rumah tersebut, siapa lagi? Kalau tidak ada mereka yang menemani Alisha, seperti biasa rumah tersebut akan terlihat sepi.
“Oh, iya, tadi lo datang telat kan, Sha? Kenapa gak telpon gue atau Yuda aja buat nebeng?”
“Arah rumah kita kan berlawanan, entar makin telat kalo jemput gue dulu.”
Lani mengangguk mengerti. “Lo dihukum bareng siapa tadi? Sama Alden, ya?”
Ketika masuk kelas tadi, Alisha memang sempat cerita kalau dia dihukum bareng Alden. Tapi karena guru sudah menerangkan materi, jadilah Lani tidak bisa bertanya lebih lanjut.
“Iya. Tapi sebelum dihukum sempet buat cekcok dulu sih sama Pak Rubandi,” jawab Alisha tak berminat.
“Cekcok apa?”
“Udah ah gue males cerita.”
Lani pun diam saja. Ia mengerti kalau Alisha tidak mau bercerita lebih banyak. Ia lalu melirik ke meja di mana Alden beserta kawanannya yang tengah berkumpul.
“Alden ceweknya banyak ya?” cetus Lani lagi.
Alisha hanya melirik sekilas ke cowok tersebut lalu kembali lanjut makan dengan tidak peduli.
“Kenapa, lo mau daftar?” tanya Yuda asal.
“Enggaklah,” jawab Lani cepat.
“Udah gih makan. Ngurusin orang mulu dari tadi,” balas Yuda.
“Gue mau ke toilet bentar,” ucap Alisha saat mereka sudah hampir mencapai ruang kelas XI Ipa 3.
“Gue temenin, ya.”
“Tugas fisika udah buat?” tanya Alisha mengingatkan.
Lani menepuk jidatnya pelan. “Oh iya, gue belum buat. Liat yang elo ya, Sha?”
Alisha mengangguk. “Ambil aja dalam tas. Ya udah gue mau ke toilet. Lo kerjain aja, entar keburu masuk.”
Alisha lalu berjalan menuju ke toilet sendirian.
“Ra, lo sekarang pacaran sama Alden?”
Dari bilik toiletnya, Alisha bisa dengan jelas mendengar percakapan antara dua cewek tersebut.
“Iya.”
“Serius lo?”
“Serius dong.”
“Ah lo gak ngaku-ngaku nih?”
“Enggak kok. Kita baru aja jadian bebrapa hari.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Wah selamat deh, Ra. Lo beruntung nanget.”
“Jelas dong.”
Lagi, dalam diam di tempatnya, Alisha hanya memutar bola mata jengah mendengar percakapan tersebut. Tentang Alden lagi. Dia mengembuskan napas. Tidak, ia bukan benci pada cowok itu. Hanya saja ia tidak suka. Tidak suka akan sikap yang sering Alden tunjukkan.
__ADS_1