
Alden baru saja memarkir motornya ketika melihat Alisha masuk ke lahan parkiran dan berhenti di jarak yang agak berjauhan dengan dirinya. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Padahal ada ruang kosong di samping motornya kalau Alisha mau. Memang segitunya gak mau deket-deket sama dirinya? Hah, tu cewek selalu aja bisa buat Alden tak habis pikir.
Dengan langkah santai, Alden berjalan lurus hendak melewati Alisha. Toh arah keluar parkiran kan memang harus melewaiti Alisha, jadi ya gak apa lah kalo numpang lewat bentar di depan cewek itu.
“Pagi…,” sapa Alden ramah ketika berhenti di depan Alisha.
Alisha yang baru akan meletakkan helmnya menoleh. “Pagi,” jawabnya datar.
“Masih pagi, senyum dikit dong, kayak gini nih,” goda Alden sambil memamerkan senyum mautnya.
Alisha acuh tak acuh.
Alden jadi bergeming. Bisa dibilang, Alisha ini satu-satunya cewek yang gak bereaksi sama senyum andalannya. Padahal kalau ia melemparkan senyum itu pada cewek-cewek yang lain, mereka pasti balas senyum manis atau bereaksi yang lebih, kayak blushing gitu.
Alden mengusap tengkuknya sebentar, teringat sesuatu, ia berucap, “Ehm tentang sahabat-sahabat lo itu,” ia menggantung ucapannya, membuat Alisha kali ini bisa fokus memperhatikan dirinya.
“Apa?”
“Lo… gak punya temen lain apa selain mereka?”
Alisha mengernyit tak suka. “Bukan urusan lo,” jawabnya ketus lalu hendak berjalan meninggalkan Alden.
Cowok tinggi itu dengan cepat memotong langkah Alisha dan berhenti tepat di depannya. “Eh, gua gak maksud buat nyinggung lo. Beneran,” ucapnya cepat.
Alisha menatap Alden dengan datar.
Alden mengusap tengkuknya sebentar. “Maksud gue… kalo lo punya temen lain kan kalo gak ada mereka, lo bisa sama yang lain.”
“Gue gak butuh orang lain.” Tepat sedetik setelah mengatakan itu, Alisha melanjutkan langkahnya melewati Alden.
“Sha….”
Alisha berhenti tanpa berniat menoleh.
“Seenggaknya, lo bisa anggep gue sama Neola sebagai temen lo. Jadi selain sama mereka, lo masih punya tempat singgah yang lain.”
Sekitar dua tahun yang lalu.
Bel istirahat menggema di seluruh penjuru sekolah ini. Setelah guru pergi keluar, kelas yang semula hening mendadak jadi ribut. Para siswa mulai bergegas keluar kelas, pergi ke kantin untuk segera mengisi perut mereka yang keroncongan.
Alisha memperhatikan teman-teman kelasnya yang perlahan-lahan mulai meninggalkan kelas dengan bergerombol. Rata-rata dari mereka pergi dengan beberapa teman yang mengelilingi, tidak sendirian seperti dirinya yang sekarang ini.
Cewek berseragam putih biru itu ingat kalau kedua sahabatnya tidak bisa menghampiri dirinya seperti biasa. Ya, di kelas 9 ini, ia terpisah kelas dengan sahabat-sahabatnya. Lani dan Yuda beruntung bisa kembali satu kelas, sedangkan dirinya terdampar di kelas yang lain.
Alisha ingat kalau hari ini Yuda tidak masuk sekolah karena sakit. Rencananya sepulang sekolah nanti, ia dan Lani akan menengok ke rumah cowok itu. Sementara Lani, ia yang merupakan salah satu anggota OSIS sedang sibuk mengurus acara pensi sekolah yang sebentar lagi akan diadakan. Ia yang memang belum banyak akrab dengan teman di kelas ini, jadi duduk sendiri di dalam kelas. Entahlah, sifatnya yang introvert itu membuat ia sulit mendapatkan teman baru.
“Hai, Alisha. Ke kantin bareng yuk sama kita,” ujar suara ramah dari samping Alisha.
Alisha menoleh. Ah, ia tau siapa cewek itu. Namanya Yolanda, salah satu teman kelasnya yang terlihat menonjol dengan teman gengnya. Di samping cewek itu, ada tiga orang lagi.
“Iya, yuk bareng sama kita, Sha. Daripada di kelas mulu, kan bosen,” timpal seorang cewek lagi yang berdiri di samping Yolanda.
Alisha tersenyum tipis. “Iya, yuk,” jawabnya lalu beranjak berdiri.
__ADS_1
Sambil berjalan, mereka mulai berbincang. “Besok-besok, lo gabung sama kita aja, Sha,” ucap Yolanda.
“Huh? Gak apa?” tanya Alisha polos.
“Haha, ya gak apa lah. Kita kan bisa temenan, Sha,” sahut Yolanda sambil tertawa kecil.
Mendengarnya, Alisha menjadi tersenyum lebar. Selama ini, selain dengan Lani dan Yuda, ia memang jarang bergaul dengan teman yang lain. Dia yang berpikir prestasi lebih penting dari yang lain, menjadi malas untuk sekedar ikut-ikutan yang lain berbincang-bincang tak jelas. Jadilah ia kurang mendapati banyak teman.
Tapi selama ini tak masalah, karena kalau tidak ada Lani yang menemani, pasti ada Yuda. Begitu pula sebaliknya. Tapi di tahun terakhirnya di SMP, ia jadi merasa cukup kesulitan karena sahabatnya yang tidak berada sekelas dengannya, susah kalau harus selalu menemaninya terus. Ia pikir, ia harus mulai mencari teman yang baru. Mendapati Yolanda dan teman-temannya menawarkan pertemanan dengannya, tak urung membuat Alisha menjadi senang juga.
Awal-awal pertemanan, Alisha merasa cukup nyaman. Rombongan Yolanda terlihat baik dan juga santai, tipe-tipe orang yang gaul dan up to date. Tapi semakin lama, Alisha mulai risih. Ia yang kalau ada waktu luang lebih memilih untuk membaca atau mengerjakan tugas, sekarang menjadi ikut-ikutan rombongan Yolanda untuk ngumpul-ngumpul, yang yah kalau boleh Alisha bilang, ngumpul yang tidak terlalu penting.
Lalu pula, Yolanda dan teman-temannya juga sering meminjam buku latihan atau pr-nya. Semula Alisha merasa keberatan. Dia paling enggan memberikan hasil kerjanya pada orang lain. Tapi mengingat Yolanda dkk sudah cukup dekat dengannya, mau tak mau ia pun sering meminjamkannya.
Hari ini ada rapat guru di sekolah, sehingga para siswa bisa pulang lebih cepat.
“Kita jalan dulu yuk pulang ini. Males kalo mau langsung balik ke rumah,” ucap Yolanda.
“Iya, kita ke kafe yang baru buka di ujung jalan itu, gimana?” usul Nera.
“Gue setuju. Katanya makanannya rada unik di situ, menunya bervariasi,” timpal Dinda.
“Nah ya udah, yuk kita ke sana,” sahut Lena.
Yolanda mengangguk membenarkan. “Gue juga setuju kalo ke sana. Lo ikut juga kan?” Cewek itu bertanya pada Alisha yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Ia sudah mendukung tasnya, bersiap untuk pulang, eh tapi dihentikan dulu oleh teman-temannya.
Menatap teman-temannya yang terlihat antusias sekali, Alisha mengangguk juga. “Iya, gue juga ikut.”
“Sip!”
“Oh iya gue lupa, uang yang gue bawa sekarang kan buat bayar SPP. Tadi lupa mau bayar,” timpal Dinda.
“Yah… uang gue gak cukup nih kalo mau nraktir,” ujar Yolanda dengan wajah sendu.
Alisha melirik satu per satu temannya. “Gue traktir deh.”
“Beneran??” seru teman-temannya dengan mata berbinar.
“Iya.”
“Wah lo baik banget, Sha, sering-sering aja kayak gini ya hehe.”
Mereka berlima pun pergi menuju kafe yang baru buka tersebut. Memang benar kata teman-temasnnya, menu di kafe itu bervariasi, terasa asing di mata Alisha saat menatap buku menu yang disajikan.
Satu jam kemudian, mereka telah selesai makan-makan dan sedang mengobrol-ngobrol ringan. Alisha melirik jam tangannya. Ia rasa sudah waktunya untuk pulang. Ia pun mulai mencari dompetnya yang ada di dalam tas untuk membayar tagihan makanan. Tapi setelah dicari-cari, dompet tersebut tidak ia temukan.
Yolanda yang duluan menyadari kegelisahan Alisha, bertanya, “Kenapa?”
Alisha menatap panik. “Kayaknya gue gak bawa dompet deh.”
Sontak ketiga pasang mata yang lain menatap Alisha. “Kok bisa? Coba cari lagi, Sha.”
Alisha kembali mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari keberadaan dompetnya. Tapi tak kunjung ia temukan. Sepertinya memang benar ia lupa membawa benda itu.
__ADS_1
Yolanda, Dinda, Nera, dan Lena segera beradu pandang penuh maksud.
Melihat Alisha yang masih sibuk dengan tasnya, Yolanda bergerak duluan. Ia kini meraih ponselnya dan berpura-pura membaca seolah ada pesan yang masuk.
“Guys , gue disuruh pulang sekarang nih. Nyokap nyariin. Gue duluan, ya.” Lalu secepat kilat, Yolanda berjalan meninggalkan mereka.
Alisha memandang punggung Yolanda yang semakin menjauh. Ia mengangguk maklum. Lalu ia menatap bergantian tiga temannya yang lain. “Yah gimana ini, dompetnya memang gak ada,” ucapnya lesu.
Nera dan Lena bergerak gelisah. “Duh, Sha, gue baru inget kalo di rumah ada acara. Gue pulang duluan ya,” Nera angkat bicara.
“Eh kalo lo pulang duluan, gue ikut dong. Kalian tau kan kalo rumah kami searah?”
Lalu tanpa menunggu persetujuan yang lain, mereka berjalan pergi meninggalkan kafe.
Alisha menatap Dinda yang tinggal tersisa. Sedetik kemudian, Dinda memegang perutnya dengan memsang muka seolah menahan sakit.
“Duh, perut gue mules. Gue ke toilet bentar.” Tanpa ba-bi-bu lagi, Dinda yang mendukung tasnya, melesat pergi.
Alihsa menghela napas berat. Kenapa semuanya jadi pergi begini? Merasa tidak ada pilihan lain, Alisha lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo, Pak, lagi di rumah gak sekarang?” tanya Alisha setelah telepon diangkat. Dia menelepon Pak Surdi, supir kakeknya.
“Iya, Non, lagi di rumah. Kenapa? Mau dijemput ya?”
“Iya, Pak. Tapi, Pak Surdi bawa dompet Alisha dulu ya. Bilangin sama Bi Mari cari dompetnya di atas meja belajar Alisha. Tolong ya, Pak.”
“Oke, Non.”
Keesokan harinya, Yolanda dan lain-lain bersikap seperti biasa, seolah tak merasa bersalah telah meninggalkan ia sendirian di kafe, Tapi Alisha merasa hal tersebut tidak perlu lah terlalu dipermasalahkan. Hari-hari selanjutnya mereka pun masih berteman. Hingga di suatu siang, saat Alisha yang ingin kembali ke kelas karena bukunya ketinggalan di laci, mendengar percakapan. Sekolah sudah sepi karena bel pulang telah berbunyi.
“See, gue berhasil kan bikin si introvert itu gabung sama kita? Bahkan dia kayak kerbau yang dicocok hidungnya, yang mau-mau aja ngintilin kita ke mana-mana.”
Alisha tau itu suara siapa, Suara Yolanda! Di balik tembok luar kelas, Alisha diam mendengarkan.
“Yap. Lo emang keren! Alisha juga mau kita contekin tugasnya.”
“Di kafe itu juga malah dia gak curiga sama sekali kalau kita emang sengaja ninggalin dia. Lagian tuh anak kok bisa bego gitu ampe lupa bawa dompet.”
Detik selanjutnya, Alisha dapat medengar suara tawa dari dalam kelas.
“Lo menang taruhannya, Yol.”
Deg! Taruhan? Alisha mengernyit bingung dengan wajah murung. Taruhan apa maksudnya?
“Gue kan udah bilang pasti menang di taruhan ini. Tuh si introvert bisa gue bikin jadi gabung sama kita dan kita manfaatin.”
Rasanya ada bongkahan batu besar yang menghantam dada Alisha sekarang. Dia dijadikan bahan taruhan? Huh, Alisha mendengus dengan perasaan yang hancur berantakan. Dengan keberanian dan perasaan yang ia tata sedememikian rupa, Alisha melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Membuat perbincangan di dalam kelas itu berhenti.
Alisha mengambil bukunya dengan santai. Lalu menatap satu per satu orang di ruang kelas itu.
“Thanks udah jadiin gue bahan lelucon kalian. Thanks banget.”
ini figur fotonya alisha waktu masih kecil yahh
__ADS_1