
Bab 36 Perhatian
Alisha makan dalam diam. Ia terus menyendoki nasi goreng tersebut ke mulutnya tanpa berniat mengajak Alden berbicara. Rasa nyeri yang masih terasa di perut serta pusing di kepalanya masih terasa. Tapi dalam diam itu, Alisha sibuk berpikir. Kenapa cowok di sampingnya ini selalu saju muncul di dekat dia? Bahkan saat respon Alisha tak menyenangkan pun, cowok ini seolah tak begitu peduli, ia selalu muncul dengan sikap menyebalkan yang entah mengapa membuat risau yang Alisha rasakan menjadi hilang.
Alisha mengunyah makanannya dengan pandangan lurus-lurus ke piring makanannya. Ia juga tak menyangka akan bertemu dengan Alden di sini dan cowok itu mau menungguinya sampai sadar. Bahkan mau repot-repot membelikannya makanan. Dan tentang insiden di tangga waktu itu… Alisha sungguh merasa tak enak hati pada Alden. Cowok itu sepertinya sudah mulai kebal dengan dirinya, buktinya mau diketusin seperti apa pun oleh dia, Alden tetap saja mau mendekat dan membantu.
“Lo kalau lagi makan emang khusyuk banget ya?” ucap Alden yang sedari tadi memang mengamati Alisha. Dia duduk tenang di kursi dengan pandangan lurus-lurus mengamati Alisha. Dia amati daritadi diamnya cewek itu, membuat ia ikut berpikir apa yang sebenarnya cewek ini pikirkan.
Alisha tersentak. Ia mengerjapkan matanya sebentar sebelum akhirnya menoleh ke samping, menatap Alden yang menatapnya dengan pandangan menilai. “L-lo kenapa ngeliatin gue?” Alisha balik bertanya meskipun di awal suaranya sedikit tercekat.
“Kok ditanya malah balik nanya,” gumam Alden.
Alisha memilih tak menjawab. Kembali ia melanjutkan menyendokkan nasi tersebut ke mulutnya. Nasi goreng di piringnya sudah tinggal sedikit, yang berarti ia melamun cukup lama tadi. Sampai-sampai makanannya pun sudah hampir habis.
nbsp; “Masih sakit gak?” Alden kembali bertanya.
Alisha memilih untuk menelan dulu makanannya sebelum menjawab, “Masih,” jawabnya pelan.
Ada kerutan samar di dahi Alden saat mendengar jawaban Alisha. Sejurus kemudian ia mengambil sesuatu di saku baju seragamnya. “Nih makan obatnya. Tapi lo mesti abisin dulu nasi gorengnya,” titah Alden sambil menjulurkan obat sakit maag pada Alisha.
Alisha tidak langsung menerima obat tersebut. Ditatapnya dulu benda berwarna hijau tersebut.
”Ck, bahkan untuk ngambil obat dari gue aja lo mesti mikir-mikir dulu,” ucap Alden geram. “Lo pasti tau kan ini obat apaan?”
Alisha sedikit tersentak. Bukan, dia bukan berpikir seperti apa yang Alden kira. Alisha berpikir kenapa cowok ini begitu perhatiannya sampai-sampai memberinya obat sakit maag segala.
Alisha menggeleng pelan. “Gue gak bepikir seperti apa yang lo kira. Lo dapet obatnya dari mana?”
“Beli tadi di koperasi,” jawab Alden. “Makannya cepet abisin, biar bisa minum obat,” titah Alden lagi lalu kembali menjulurkan obat tersebut pada Alisha.
Alisha segera menerimanya dan menggengam obat tersebut di tangan kirinya. Tangan kanannya terus menyuapi makanan hingga akhirnya nasi goreng tersebut habis juga.
Seolah Alden sudah menunggu daritadi, dengan gerakan luwes ia meraih piring yang telah kosong tersebut dan memberikan segelas air putih pada Alisha. “Nih minumnya.”
Alisha tanpa banyak bicara lagi segera menurut. Dimakannya tablet obat tersebut dan segera minum dari gelas yang Alden kasih.
__ADS_1
“Nah kan enak kalo lo nurut kayak gini,” ucap Alden disertai senyum kecilnya. “Habis ini lo tiduran lagi aja gih.”
Alisha baru ingin menaruh gelas tersebut di meja samping ranjangnya, tapi dengan cepat Alden yang mengambil alih untuk melakukannya.
nbsp; “Tapi gue kan abis makan, masa langsung tiduran,” bantah Alisha secara halus.
Alden mengusap tengkuknya sebentar. “Bener juga ya. Ya udah lo duduk-duduk aja.”
Alisha kembali menyandarkan punggungnya ke belakang. “Tangan lo… nggak apa-apa?” tanya Alisha sambil melirik tangan kiri Alden. Di sana sudah tidak ia temui lagi memar biru yang sempat ia lihat saat Mbak Dhiya mengurutnya. Tapi walau memarnya sudah hilang, mungkin saja sakitnya masih terasa.
Alden menggerak-gerakan tangannya seolah tanpa beban. “Nggak apa-apa kok. Kan udah gue bilang kalo gue itu strong. Memar segitu gak bakal bikin gue kesakitan kok. Dijutekin lo terus-terusan aja gue kuat, masa memar kayak gitu aja enggak?” ucap Alden yang malah melantur tentang Alisha.
Disindir begitu –yang ya walaupun Alden gak bermaksud begitu– membuat Alisha jadi menundukkan kepalanya malu. Apa iya kalau selama ini ia selalu jutekin Alden? Tapi ia rasa tidak juga. Malah menurutnya yang entah kenapa baru ia sadar sekarang, Alden menjadi semakin dekat dengan dia. Dengan disengaja atau tidak oleh cowok itu.
“Alisha? Lo nggak apa-apa? Ya ampun kok bisa sampai pingsan tadi?” Sebuah suara berat lain tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut, membuat Alisha dan Alden sama-sama menatap ke sumber suara itu. Yuda masuk ke dalam ruangan UKS ini dengan langkah lebar tergesa-gesa, langkahnya pasti menuju ke ranjang tempat Alisha duduk.
Alisha mengerutkan dahinya samar. “Yuda? Kok lo bisa ada di sini?” Setahunya, Yuda sekarang pasti sedang ada jam plejaran di kelas. Kok bisa tiba-tiba ada di sini?
“Tadi gue lagi di jalan mau ke ruang guru, gak sengaja ketemu Lani yang ngabarin kalo lo pingsan dan sekarang lagi di UKS,” cerita Yuda dalam satu kali tarikan napas. “Lo udah baikan? Kapan lo sadar?” tanya Yuda cepat.
“Sudah makan? Minum obat? Kepala lo masih sakit? Atau perut lo yang masih sakit?” tanya Yuda beruntun sambil menatap Alisha khawatir.
Alisha sedikit melongo mendengar runtutan pertanyaan dari Yuda. Tapi sedetik kemudian ia berusha menormalkan ekspresinya dan menjawab dengan normal. “Iya, gue udah makan sama minum obat. Udah gak sesakit tadi kok.”
Yuda menghela napas lega. “Ya ampun, lo buat gue khawatir tau nggak?! Lain kali jangan maksain diri buat olahraga kalo gak sanggup, Sha. Sampe pingsan kayak gini kan? Ya walaupun gue tau lo pingsannya karena kena tendangan bola, tetap aja kondisi badan lo yang gak fit buat lo jadi lemah.”
Sudut bibit Alisha hampir saja terangkat mendengar ucapan panjang lebar Yuda tersebut,. Ada perasaan senang di hatinya saat tau Yuda begitu mengkhawatirkannya. Tapi belum sempat ia bereaksi, makhluk lain di ruangan ini mengeluarkan suara.
“Ekhem, di sini ada orang lain juga lho,” celetuk Alden yang merasa dirinya sedari tadi diabaikan. Yuda bahkan sama sekali tidak menengok ke arahnya saat masuk ke ruangan ini. Padahal jelas-jelas Alden ada di samping Alisha, dan badannya pun cukup jelas untuk dilihat oleh Yuda. Hal itu tentu membuat Alden sedikit kesal.
nbsp; Tersadar, Yuda menoleh ke Alden. “Eh kok lo ada di sini?” tanya Yuda heran.
“Gue tu lagi berduaan sama Alisha, eh lo main masuk nerobos aja. Ganggu ah,” balas Alden dengan wajah menyebalkan sekaligus tak terima akan hadirnya Yuda.
Alisha dan Yuda sama-sama mengernyit saat mendengar ucapan tersebut.
__ADS_1
“Apaan deh Al,” respon Alisha.
Yuda mengamati Alden dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Lo lagi sakit?”
Kali ini giliran Alden yang mengernyit heran. “Dih apaan nanya-nanya sok care begitu?”
Yuda memutar bola mata jengah. “Siapa juga yang care sama lo. Maksud gue nanya itu kalo lo gak sakit ngapain lo di sini?”
“Kan udah gue bilang mau nemenin Alisha.”
Yuda menoleh ke Alisha, meminta persetujuan apakah yang dijawab oleh Alden itu benar. Alisha hanya mengedikkan bahu saja sebagai respon.
Yuda lalu melihat piring kosong serta obat yang masih tersisa di meja samping ranjang. Mungkinkah kalau itu semua Alden yang memberikan? Kenapa cowok ini begitu perhatian pada Alisha? Apa mungkin yang diucapkan Alden kalau dia di sini untuk menemani Alisha itu benar? Kenapa tiba-tibna ada perasaan tidak terima yang mengusik di hatinya? Perasaan tidak terima kenapa bukan dirinya yang melakukan apa yang Alden lakukan untuk Alisha.
“Lo balik gih ke kelas,” usir Alden halus.
Mendapati Yuda yang tiba-tiba menyeruak masuk, membuat Alden jadi kesal sendiri. Apalagi kalau mengingat kejadian-kejadian kemarin tentang Yuda yang selalu meninggalkan Alisha. Rasa kesal itu kini bercampur satu, apalagi Yuda sengaja menampakkan diri seolah tak merasa bersalah sedikit pun. Dia datang dengan tampang khawatir, yang Alden yakini pasti sudah membuat Alisha senang, seolah memberi harapan lebih pada Alisha.
“Lo sendiri kenapa gak balik ke kelas?” Yuda balik, menyerang Alden dengan pertanyaan tersebut. Melihat sikap Alden yang sepertinya tidak welcome padanya, membuat Yuda sedikit terusik. Apalagi cowok macam Alden ini sedang mendekati sahabatnya.
“Gue emang daritadi udah di sini. Sekalian nemenin Alisha juga,” Alden menjawab kalem, tapi detik selanjutnya ia menghembuskan napas jengah. “Astaga udah berapa kali gue bilang kayak gitu.”
Yuda menatap Alden dan Alisha secara bergantian. Segera ia tepis rasa tidak enak yang sempat hadir tadi. Seharusnya ia berterima kasih pada Alden karena mau membantu sahabatnya, tetapi sikap Alden yang begitu malah membuatnya jadi agak kesal.
Mendapati kalau keadaan Alisha sepertinya sudah membaik, Yuda pun bergegas ingin kembali ke kelasnya. “Ya udah gue balik ke kelas dulu Sha, ada guru soalnya di kelas.”
nbsp; Alisha mengangguk.
Yuda baru saja ingin berbalik, tapi diurungkannya. Ia menatap Alden sebentar lalu berganti menatap Alisha. “Pintunya dibuka aja. Kalian cuam berdua di sini…,” ingatnya.
Alden berdecak tak suka. “Iya, yakali gue bakalan ngapa-ngapain Alisha, gak mungkin lah. Lagian lo perhatian banget sih?”
“Gue temennya Alisha, jadi wajar kalo perhatian. Yang aneh itu kalo lo yang perhatian sama dia.” Tanpa bisa ditahan lagi, Yuda segera menyerukan apa yang mengganggu di benaknya sedari tadi, tentang rasa aneh mengapa Alden menjadi begitu perhatian pada Alisha. Yang pada seharusnya, cuma dirinya yang seharusnya selalu bersama Alisha, bukan Alden.
Berbeda dengan apa yang dirasakan Yuda, Alisha merasa seperti lukanya kembali dikoyak dengan paksa. Teman. Satu kata yang menegaskan hubungan antara dirinya dengan Yuda Mendengarnya Alisha menjadi tersenyum kecut. Ya, seharusnya ia sadar, segala perhatian yang Yuda berikan padanya hanya sebatas perhatian antar sahabat, tidak lebih. Bodohnya dia karena tadi sempat mengharapkan lebih.
__ADS_1
Bersambung**