(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Perbincangan


__ADS_3

Saat bel pulang berbunyi, dan Pak Rubandi keluar dari kelas, secepat kilat Alden berdiri dari tempat duduknya dan segera berjalan cepat keluar kelas, menjadi murid pertama yang melenggang dari ruang kelas tersebut.



    “Kenapa dia?” tanya Dimas yang duduk di belakang Dito.



    “Panggilan alam,” jawab Dito enteng.



    “Buru-buru amat. Ampe barang-barangnya belum diberesin,” komentar Dimas yang melihat meja Alden masih dipenuhi dengan buku-buku dan alat tulis.



    “Eh, nanti jadi mau ke GOR buat daftar kompetisi basket?” tanya Dimas lagi.



    Dito yang kini sedang memasukkan barang-barang Alden ke dalam tas, menoleh. “Yep, jadi dong. Gue denger udah banyak SMA yang daftar.” Selain Alden yang memegang jabatan sebagai kapten di tim basket, ada Dito dan Dimas juga yang tergabung di dalamnya. Alden sebagai kapten sekaligus center tim, Dito di posisi point guard, dan Dimas berada di posisi shooting guard. Oleh karena itu, mereka selalu kompak dan terlihat suka kumpul bareng, karena selain sekelas, mereka juga sering bertemu di tim basket.



    Kembali ke Alden, cowok itu melangkahkan kakinya nyaris menyerupai berlari. Kalau saja koridor benar-benar lengang, pasti ia tidak akan sungkan untuk berlari. Tapi masalahnya, koridor juga sudah mulai dipenuhi para siswa yang keluar kelas untuk pulang. Dengan gesit, ia pun berusaha menyelinap dan menerobos. Sambil memegang perut, kadang ia berdecak saat ada kerumunan yang sengaja bergerombol di koridor, menghadang jalan untuk lewat. Nah, biasanya kaum cewek yang kayak gini. Hobi banget ngetem lama-lama di jalan.



    Saat sampai di toilet, bergegas ia masuk. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu, mules di perutnya ia tahan. Sepertinya ia kebanyakan makan cabe saat dimakan bareng dengan gorengan tadi.



    Beberapa lama kemudian, Alden keluar dari toilet dan kembali ke kelasnya. Dilihatnya sekitar, koridor sudah tak seramai tadi, sudah mulai sepi. Dahinya mengerut samar. Memangnya dia berapa lama di dalam toilet tadi?



    “Nah, tu orangnya,” ucap Dito yang berdiri di depan kelas, menghadap Alden yang beberapa langkah lagi mencapai pintu kelas.



    Orang di depan Dito berbalik.



    “Al, dicariin Alisha nih, katanya ngajak jalan gitu,” cengir Dito yang jelas berbohong.



    Alisha mendelik, ditatapnya kembali Dito. “Bukan, gue mau–”



    “Ya udah gue tinggal dulu.” Tanpa menunggu Alisha selesai berbicara, Dito memotong. Sambil tersenyum jahil, ia kembali ke dalam kelas yang sudah kosong, hanya menyisakan dirinya dan Dimas.



    “Nyariin gue ya?” tanya Alden. Ditatapnya sebentar cewek di depannya. Raut wajahnya ya kayak biasa, datar. Tapi setidaknya itu lebih baik dibanding saat Alden melihat pemilik wajah itu murung dan menangis kayak waktu itu. Alden tidak melihat ada tampang patah hati di muka Alisha. Entah Alisha yang pintar mengontrol dirinya dan mencari solusi untuk permasalahannya, atau ia memang pandai memasang ‘topeng baik-baik saja’. Ya bagimanapun juga pasti sulit jika harus suka pada orang yang terjebak friendzone, sementara ia juga berada pada zona friendzone tersebut.



    “Iya. Mau balikin saputangan lo yang waktu itu gue pinjem.” Alisha lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya dan menjulurkannya pada Alden. “Makasih.”



    Alden menerimanya dengan sebelah alis terangkat. “Makasih buat apa?” pancingnya. Ia senderkan badannya pada tembok di samping pintu kelas.



    “Makasih karena udah minjemi saputangan,” jawab Alisha polos.



    “Makasih cuma buat itu aja?” tanya Alden dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.



    Alisha berpikir sejenak, saat tersadar, ia menggigit bibirnya sebentar. Ck, bagaimanapun juga orang di depannya sekarang ini adalah Alden, jadi gak mungkin nih cowok mau ngelepasnya begitu saja. “Makasih juga udah nolongin gue waktu itu,” ucapnya pelan, tapi kalau ditanya tulus atau tidak, jelas Alisha tulus mengucapkannya. Ia mengehela napas, ya bagaimanapun juga kalau tidak ada Alden waktu itu, ia pasti akan sangat kerepotan dan tambah merasa nelangsa. “Ya pokoknya makasih. Udah, ah, gue mau pulang,” sambung Alisha buru-buru.



    Puas, Alden terkekeh kecil. “Iya, sama-sama.” Sebelum Alisha mengambil langkah untuk pergi, Alden berucap kembali, “Kalo mau merenungi nasib, lain kali jangan di tempat rawan kayak gitu. Entar kalo ada apa-apa, gimana?”



    Alisha sempat mengernyit saat mendengar kalimat ‘merenungi nasib’ dari mulut Alden. Apa banget dah kata-katanya. Hah, memangnya saat itu ia terlihat begitu nelangsa? Dengan cepat Alisha merutuki kebodohannya. Jelas lah ia terlihat nelangsa, bahkan Alden pun ia biarkan untuk melihat kejatuhannya. Menanggapi kalimat terakhir Alden, Alisha berucap, “Iya.” Hanya satu kata ia yang keluar. Lalu setelah itu ia benar-benar melangkah pergi. 


*** 

__ADS_1


    “Hai, Alisha, gue boleh duduk di sini?”



    Alisha yang sedang membaca novel, mendongak untuk melihat. Di depannya, berdiri Neola yang terlihat juga membawa sebuah novel, matanya melirik kursi kosong di samping Alsiha.



    “Oh, boleh kok. Duduk aja,” jawab Alisha disertai senyum tipis.



    Perpustakaan pada jam istirahat seperti ini bisa dibilang salah satu tempat yang paling sepi di sekolah. Hanya terlihat beberapa siswa berkacamata yang sedang sibuk sendiri mencari bahan bacaan. Para siswa jelas lebih memilih ke kantin atau ke mana saja asal jangan kemari. Mungkin bagi sebagain orang, tempat sunyi seperti ini tidak ada menarik-nariknya, tapi bagi Alisha tempat ini adalah tempat singgahnya yang paling utama jika sedang tidak tau mau berbuat apa. Sepi menurutnya lebih baik karena Alisha tidak terlalu suka keramaian.



    Di sini pun ia duduk sendirian. Lani sedang ada urusan dengan salah satu guru untuk membahas nilainya yang masih ada kurangya. Sementara Yuda, Alisha tidak melihatnya, jadilah ia pergi sendirian ke sini. Dan bagi Neola, saat ini adalah saat yang tepat untuk mendekati Alisha karena ia sedang sendirian.



    “Nggak minta izin gak apa sih sebenernya, kan ini perpustakaan bukan punya gue,” ucap Alisha pelan setelah Neola menarik kursi tepat di sebelahnya.



    Neola tertawa kecil. “Hehe, iya, ya. Cuma gue takut aja ganggu lo gitu.”



    “Nggak kok.”



    Hening sebentar, Alisha masih serius membaca novelnya, sementara Neola sedang berusaha untuk membuka topik pembicaraan. “Ehm, Sha, lo emang lagi gak punya pacar kan?”



    Alisha berhenti membaca, ia menoleh menatap Neola. “Nggak. Kenapa?”



    “Wah berarti sama kayak Alden. Alden juga gak punya pacar tuh,” jawab Neola girang.



    Alisha hanya mengguman seadanya sebagai respon. Melihat reaksi Alisha, Neola jadi murung. “Sha, lo gak suka ya gue deket-deket sama lo?” tanya Neola lagi. Novel yang dibawanya pun bahkan sama sekali belum ia buka. Ya, anggap saja benda tersebut sebagai alibi untuk duduk di samping Alisha.




    Kali ini giliran Neola yang menggeleng. “Nggak, kayaknya lo gak ngebosenin. Hehe iya, duh gue nethink banget ya. Orang kayak elo tu kayaknya langka, irit ngomong gitu, gak kayak cewek kebanyakan.”



    “Aneh, ya?”



    “Nggak. Justru kadang gue heran kok lo bisa gitu diem banget. Gue pengen sekali-kali kayak gitu, gak bawel,” ucap Neola dengan tampang meyakinkannya.



    “Ya abisnya gue gak tau apa yang diomongin, males juga sih sebenernya,” ucap Alisha ringan.



    “Tuh kan, cewek kayak lo cocok sama Alden,” ucap Neola lagi bersemangat.



    “Iya, ya?” tanya Alsiha yang sebenarnya gak terlalu minat dengan percakapan ini jika menyangkut kecocokan ia dan Alden, apalagi kalau bahas-bahas perjodohan. Novel yang tadi sempat diabaikan, kini kembali ia baca.



    “Hu’um. Eh, waktu Alden berantem sama Dion, lo liat nggak?”



    “Iya, liat.”



    “Kok bisa liat?” tanya Neola penasaran.



    “Ikut terbawa arus sama diseret Lani,” jawab Alisha sambil tersenyum tipis.

__ADS_1



    Neola mengangguk mengerti. Wajar sih, beritanya ampe heboh gitu, untung gak berlangsung lama. “Padahal Alden jarang lho sampe ngajak berantem kayak gitu.”



    “Oh, ya?”



    “Iya.”



    Hening sejenak.



    “Pasti mereka ngira yang enggak-enggak. Padahal penyebabnya gue, adik kembarnya sendiri. Ya nggak nyalahin mereka juga sih, toh kan nggak ada yang tau kalo gue adik Alden, kecuali elo.”



    Alisha mengangguk mengiyakan. Iya ya, dia juga sempet berpikiran kalau mereka berantem gara-gara rebutan cewek. Oh jadi ternyata cewek itu Neola…. Eh, emang karena apa?



    Neola berdeham sebentar. “Gue cerita gak apa kan?”



    “Iya.”



    “Itu… Dion bisa dibilang mantan gue sih. Alden marah sama dia karena gue cerita kalo Dion itu selingkuh, ya gitu. Padahal gue cerita bukan buat ngadu. Eh rupanya pas besoknya di sekolah, Alden jadi kayak gitu. Gue kan gak minta buat berantem kayak gitu,” cerita Neola.



    “Berarti Alden sayang sama lo, nggak rela adiknya disakitin,” respon Alisha.



    “Iya bener sih. Alden walaupun orangnya kayak gitu, tapi orangnya care juga,” ucap Neola dengan pikiran menerawang. “Hm, Alisha, gue gak keberatan kok kalo lo yang dijodohin sama Alden,” sambungnya yang kini menoleh ke Alisha.



    Alisha menoleh cepat. Terlihat dari mukanya ada ekspresi terkejut di sana.



    Seperti tidak mengerti maksud dari ekspresi Alisha, Neola kembali berkata, “Ehm Alisha, lo mau kan jadi temen gue?”



    Kali ini dahi Alisha sukses mengerut tidak mengerti dengan maksud ucapan Neola. Tapi walaupun begitu, diam-diam ada perasaan senang yang menyusup ke hatinya, senang karena selain Lani dan Yuda, ada orang lagi yang menawarkan pertemanan dengan dirinya.



    “Duh, gue ngaco ya?” ucap Neola yang mengusap lehernya gugup.



    Alisha menggeleng. “Ah, enggak kok.”



    “Selama perjodohan kalian belum maju ke tahap yang lebih serius, lo bisa kok anggep gue sebagai temen lo, syukur-syukur kita bisa jadi sahabatan,” ucap Neola disertai senyum manisnya.



    Alisha membalas senyumnya. “Oke, lo juga boleh anggep gue kayak gitu. Sama gue santai aja ko, jangan terlalu canggung.”



    Neola tersenyum girang. “Kapan-kapan kita jalan bareng, ya? Mama sering nanyaian elo dan katanya kalo bisa sering-sering ajak main bareng.”



    Perasaan senang itu semakin menjalar di hati Alisha. “Iya, bilangin makasih sama Tante, ya.”



    Alisha berpikir, sepertinya tidak terlalu buruk jika ia mencoba untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga Alden karena mereka benar-benar mereka menyambutnya dengan baik. Tentang hubungan dia dan Alden, biarlah itu menjadi urursan pribadi mereka. Sampai salah satu dari mereka mempunyai seseorang yang tepat, biarlah label perjodohan ini tetap berjalan di depan keluarga masing-masing. Dan kalaupun perjodohan tersebut suatu saat akan batal, dia harap masih bisa berhubungan baik dengan keluarga Alden



__ADS_1


__ADS_2