
Alden melempar kunci motornya ke udara lalu menangkapnya, kemudian melemparnya lagi lebih tinggi dan menangkapnya lagi. Terus begitu kunci tersebut ia mainkan hingga ia hampir mencapai motornya yang terletak di parkiran sekolah. Tapi langkahnya terhenti untuk menuju motrnya saat ia melihat seorang perempuan sedang mencari-cari sesuatu di tanah. Alden mengernyit penasaran. Segera Alden urungkan langkahnya menuju motor lalu melangkah menghampiri cewek itu.
“Cari apa?” tanya Alden ikut jongkok di sebelah cewek berkulit putih pucat tersebut. Ia amati muka serius sekaligus panik di depannya kini.
Alisha mendongak sebentar. “Nyari kunci,” jawabnya lalu pandangannya kembali melihat-lihat ke sekitar.
“Kunci jawaban UN?”
“Bukan,” jawab Alisha malas menanggapi candaan Alden.
“Terus kunci apa? Kunci buat buka hati gue?” celetuk Alden lagi dengan tingkat kepercayan super duper tinggi.
Alisha mendengus samar. Lalu tanpa repot-repot menoleh ke Alden, ia menjawab, “Bukan, tapi kunci motor gue.”
“Kenapa dicari?”
“Menurut lo kenapa?” tanya balik Alisha yang menurutnya pertanyaan Alden itu super duper bodoh.
“Hehe sensi amat Non.” Alden terkekeh sebentar. Lalu ia pun memutuskan untuk berhenti bermain-main, ditanya Alisha dengan serius. “Terakhir kali lo megang kuncinya di mana emang?”
Alisha berpikir sebentar. “Tadi pagi kayaknya udah gue masukin ke dalam tas. Tapi gue gak begitu yakin, soalnya pagi tadi lagi buru-buru,” jelasnya sambil mengingat-ingat.
nbsp; “Udah dicek tasnya?”
“Udah, tapi gak ada,” jawab Alisha kembali didera rasa panik. Kalau ia tidak segera menemukan kunci motornya, bagaiaman ia bisa pulang? Duh, kenapa ia ceroboh sekali tadi pagi. Akibat ingin cepat-cepat masuk kelas, ia sampai tidak memastikan apa kunci motornya sudah masuk ke dalam tas atau belum. Kalau begini kan ia jadi repot.
Alisha yakin pasti kunci motornya jatuh di sekitar daerah parkiran ini, karena tadi ia sempat kembali ke kelas untuk mencari, tapi tetap tidak ditemukan. Lalu ia pun sudah mengecek apakah mungkin kunci tersebut masih tergantung di lubang kunci motor. Dan lagi-lagi nihil. Kunci motor tersebut jelas jatuh di suatu tempat.
“Kuncinya minta perhatian nih, pake hilang segala biar dicariin,” celetuk Alden sambil ikut mencari. Mereka berdua lalu sama-sama sibuk mencari di beberapa tempat. Beberapa saat kemudian, Alden tersenyum cerah saat mendapati benda tersebut.
“Kunci motor lo ada gantungannya gak?”
Alisha tetap sibuk mencari di sekitar beberapa motor yang masih terparkir. Tanpa menoleh sedikit pun ke Alden hyang kini sudah berdiri di dekatnya, Alisha mengangguk kecil. “Iya, ada.”
“Ini, bukan?” tanya Alden sambil memegang kunci motor tersebut tepat di depan muka Alisha.
Alisha yang rencannya akan melangkah ke tempat lain, mengurungkan niatnya. Matanya kini membulat sempurna, senang karena dapat juga benda tersebut ditemukan. Detik selanjutnya ia raih kunci motor tersebut dari pegangan Alden. “Nah iya bener. Ketemu di mana Al?” tanyanya yang kini menatap senang ke Alden.
“Di situ.” Alden mengedikkan dagunya ke arah beberapa tanaman yang ada di pinggiran lahan parkiran.
Alisha tersenyum kecil. “Thanks ya.”
“Iya. Eh tapi masa cuma ucapan makasih aja?” goda Alden.
Alisha merengut sebal. “Gak usah mulai deh, baru aja dibaikin udah betingkah.”
Alden terkekeh kecil menanggapinya. “Becanda Sha. Dapet ucapan makasih dari lo aja gue udah seneng kok, kayak diterbangin sampe ke langit ketujuh.”
__ADS_1
“Gilanya kumat tuh,” komentar Alisha gak pake hati, tapi tak urung membuat sudut bibir kirinya tertarik ke atas.
Dari jauh, ada Yuda yang melihat keakraban mereka. Yuda tadi juga sempat melihat Alisha yang kebingungan mencari sesuatu. Tapi saat hendak dihampirinya Alisha, Yuda melihat Alden sudah terlebih dahulu menghampiri Alisha. Niat awalnya Yuda ingin pergi dengan cepat, tapi saat dilihatnya Alden yang tak sungkan mengajak Alisha berbicara panjang lebar, ia menahan kepergiannya karena penasaran. Apa mereka menjadi dekat lantaran Alisha yang menjadi mentor pribat Alden? Kenapa ia baru sadar akhir-akhir ini kalau sahabatnya itu mulai dekat dengan Alden?
Lalu saat dilihatnya sikap Alisha terhadap Alden, seperti ada sesuatu yang mengusiknya. Sesuatu yang membuat Yuda terganggu. Meskipun Alisha tidask menanggapi Alden dengan begitu ramah, tapi Yuda tau ada perbedaan sikap saat Alisha menanggapi cowok itu.
***
Alisha dan Lani segera membereskan buku-buku mereka saat bel tanda pulang sekolah berbunyi. Terlihat Lani begitu buru-buru membereskan barang-barangnya, membuat Alisha tidak tahan untuk bertanya.
“Buru-buru amat Lan. Kenapa?”
Lani yang masih sibuk dengan kegiatannya menjawab, ‘Iya nih, soalnya ada rapat anggota ekskul gue. Katanya abis bel cepet-cepet kumpul”
Alisha mengangguk mengerti. “Jadi lo pulangnya sore?”
“Kemungkinannya sih gitu. Abis rapat, kita juga mungkin bakal latihan, mengganti jadwal kemarin yang gak sempat latihan,” ceritanya. “Padahal gue mau balik bareng Kak Panji hari ini, jadi gak jadi karena harus ekskul dulu,” keluh Lani.
“Emang Kak Panji gak ada tambahan belajar hari ini?”
“Nggak. Makanya gue agak sebel, giliran gue gak ada jadwal latihan, Kak Panji ada tambahan belajar, giliran latihan, Kak Panji pulang cepet.”
“Kan masih bisa ketemu di rumah Lan,” hibur Alisha.
“Hehe iya bener sih.” Selesai berberes, Lani segera meraih tasnya. “Ya udah gue keluar duluan ya” Lani lalu cepat-cepat melangkahkan kaki keluar kelas.
Alisha menggeleng pelan melihat tingkah Lani yang buru-buru itu. Memang kalau menyangkut ekskul menari, cewek itu bersemangat sekali. Meskipun sebal karena gak bisa pulang bareng Kak Panji, Alisha yakin pasti Lani akan melupakan rasa sebalnya saat kegiatan ekskul tersebut berlangsung.
Baru beberapa langkah berjalan di koridor, Alisha tak sengaja bertemu dengan Yuda yang baru juga keluar dari kelasnya.
“Gak bareng Lani Sha?” tanya Yuda langsung.
“Enggak, lani ada rapat ekskul dulu.”
Yuda mengangguk mengerti. Sambil berjalan mereka terus mengobrol. “Lo langsung pulang Sha?”
Alisha terdiam sejenak. Ia baru ingat kalau hari ini dia ada jadwal dengan Alden untuk kembali belajar matematika. “Enggak, gue mau ke rumah Alden dulu.”
“Ke rumah Alden? Ngapain?” Yuda tertarik untuk bertanya. Karena setahu dirinya, Alisha ini jarang banget mau bermain ke rumah teman yang lain. Apalagi mengingat rumah yang mau dikunjunginya ini adalah rumah Alden.
“Mau belajar bareng, Yud….”
Dalam hati Yuda merutuki kebodohannya. Ia lupa kalau Alisha akan ke rumah Alden untuk belajar bersama. “Oh, iya ya. Tapi… kenapa gak di rumah lo aja belajarnya Sha?”
Alisha terdiam sebentar. Ia juga ya, kenapa tidak di rumahnya saja? Tapi beberapa kali belajar bareng di rumah Alden, membuatnya nyaman. Bukan karena bisa bertemu terus dengan Alden, melainkan karena ada Neola dan Tante Riani juga di sama. Entah mengapa ia terlanjur nyaman bersama keluarga Alden tersebut.
Alisha mengusap hidungnya sbeentar sebelum menjawab. “Lain kali mungkin bakal di rumah belajarnya,” jawabnya tidak begitu yakin.
__ADS_1
Hening sebentar setelah Alisha menjawab.
Yuda sempatkan menoleh ke samping, melihat Alisha dengan wajah datarnya yang seperti biasa. “Sha, semenjak lo jadi mentor privat Alden, lo jadi makin deket ya sama dia,” gumam Yuda pelan, entah atas dorongan apa ia bisa melontarkn ucapan tersebut. Mungkin karena kedekatan Alden dan Alisha sedikit mengusiknya.
Alisha berpikir sebentar. Kalau dipikir-pikir, benar juga ucapan Alden. Semenjak mereka dihubungkan oleh Pak Rubandi untuk belajar bersama, mereka jadi lebih dekat. Oh atau kalau boleh diralat, mereka mulai sering berinteraksi saat rencana perjodohan tersebut disampaikan.
“Hm ia juga sih Yud. Emang kenapa? Aneh ya?”
Yuda menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ah, enggak sih….”
***
Keesokan harinya, Alisha berjalan di koridor dengan langkah pelan. Ia langkahkan kakinya menuju salah satu tempat yang paling ogah didatangi oleh siswa-siswi di skolah ini. Perpustakaan. Hari ini ia kembali ingin mengunjungi ruangan tersebut. Di genggamannya terdapat beberapa buku yang beberapa hari lalu ia pinjam.
Alisha sudah sampai di depan ruangan tersebut, tapi ia hentikan langkahnya untuk masuk. Matanya kini tertuju pada dua pasang sepatu yang ada di barisan susunan sepatu para pengunjung perpusakaan. Memang sebelum masuk ke dalam, diwajibkan bagi siapa pun untuk melepas alas kakinnya.
“Lo gak berencana buat nyelendupin sepatu itu kan?” bisik sebuah suara tepat di depan telinga Alisha. Membuat Alisha terkejut dan sontak menjauhkan badannya dari orang tersebut.
Alisha menoleh ke samping, mendapati seseorang yang selalu suka muncul tiba-tiba di dekatnya.
“Enggak lah,” ketus Alisha ketika melihat Alden dengan sikap santainya. Makhluk satu itu suka sekali mengejutkannya dengan kedatangan yang tiba-tiba.
“Terus ngapain melototin sepatu-sepatu itu?” tanya Alden dengan mengedikkan dagu ke arah sepatu yang tadi Alisha liat.
“Gue gak melototin,” sanggah Alisha.
“Ah biar gue tebak. Itu dua pasang sepatu cewek dan cowok. Punya Yuda dan Lani?” tebak Alden tepat sasaran.
Tidak bisa mengelak, Alisha mengangguk membenarkan. Benar, sepatu-sepatu tersebut milik mereka. Alisha mengenalinya.
“Lah terus ngapain lo liatin?”
“Nggak apa-apa,” jawab Alisha cepat lalu membalikkan badan untuk menjauh dari perpustakaan.
“Eh kok pergi?” Alden menyusul dengan langkah lebarnya. “Tadi kayaknya lo mau ke perpus, kok gak jadi?”
Alisha memberinya tatapan tajam. Cowok ini bawel sekali. Hampir setiap bertemu dengan Alisha, selalu saja banyak bicara, yang sering kali ucapannya itu tepat sasaran mengenai dirinya.
“Karena ada mereka di sana?” tebak Alden lagi.
Tuh, kan. Alden ini kayak cenayang. “Gue rasa lo udah tau jawabannya.”
“Kenapa gak masuk aja? Lo pasti mau balikin buku kan? Sini gue temenin kalo gak mau sendirian.”
“Nggak usah.”
“Cuma karena ada mereka berdua di sana, lo jadi batal buat ke sana?”
__ADS_1
Cuma? Cuma kata Alden? Seharusnya Alden tau bahwa tidak sesederhana itu. Lagipula Alisha baru menyadari, kenapa ia terus membiarkan cowok ini terus dekat-dekat dengan dia?
Alisha mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berucap dengan nada penuh peringatan. “Gak usah peduliin gue Al, sana pergi gih.”