
Tujuh tahun yang lalu
Alisha masuk ke dalam ruang kelas dengan suasana hati yang masih murung. Sudah beberapa hari ia paksakan untuk masuk sekolah juga. Meskipun ia sempat merengek ke kakeknya kalau belum mau masuk ke sekolah, pada akhirnya ia pun menurut juga karena sudah pernah seminggu tidak masuk. Hari ini ia juga sempat merajuk tidak mau masuk, tapi karena dibujuk Kakek, dia pun kembali menurut.
Semenjak kembali masuk, ia merasa ada perubahan pada teman-temannya. Ia seperti dijauhi dan sering mendengar bisik-bisik tentang dirinya.
“Jangan mau temenan sama Alisha lagi, entar kita kena sial.”
“Iya, ibunya sendiri aja ninggalin dia gara-gara dia bawa sial.”
“Katanya papanya ninggal gara-gara dia, ya? Ih serem.”
Begitulah bisik-bisik murid SD tersebut tentang Alisha. Alisha pernah melakukan pembelaan, tapi tak dihiraukan sama teman-teman kelasnya. Jadilah dia lebih memilih diam dan duduk sendiri di kursinya. Bahkan teman sebangkunya memilih pindah. Saat ditanya kenapa, katanya gak mau aja duduk sama Alisha. Alisha sebel, kenapa teman-temannya jadi ngejauhin dia karena itu? Itu kan bukan salahnya. Setiap Alisha mendekat, pasti dijauhi, seolah-olah ia punya penyakit menular.
Bel masuk berbunyi. Kelas yang semula ribut menjadi hening saat guru masuk ke dalam ruang kelas. Tapi saat melihat ada seorang anak yang berjalan mengikuti bu guru masuk, kelas kembali berisik.
“Selamat pagi, Anak-anak,” sapa bu guru setelah kelas selesai memberi salam hormat. “Hari ini kita kedatangan teman baru.”
Alisha ikut memperhatikan ke depan. Saat matanya tak sengaja menatap murid baru tersebut, murid itu tersenyum. Alisha membalasnya kikuk.
Sesi perkenalan pun selesai. Alisha tau namanya Lani Ramaniya, pindahan dari Bandung. Guru pun mempersilakan Lani untuk duduk di kursi yang masih kosong. Segera Lani menuju ke kursi kosong di samping Alisha.
“Ini kosong, kan?” tanyanya ramah.
“Iya.”
Lani pun duduk, lalu menoleh ke Alisha. “Hai, namaku Lani.” Ia menjulurkan tangannya.
Alisha menyambutnya. “Aku Alisha.”
Lani mengguncang pelan salaman mereka sebelum dilepas. “Salam kenal, ya. Semoga kita bisa berteman baik. Aku masih baru di sini, belum punya banyak temen. Eh, tapi aku ada satu temen yang cukup akrab, anaknya temen mama aku, namanya Yuda. Dia di kelas sebelah. Istirahat nanti aku kenalin ya,” celoteh Lani panjang lebar.
Alisha tersenyum senang mendengarnya. Sudah beberapa hari selama istirhaat ia hanya duduk diam saja di dalam kelas. Tidak ada yang mengajaknya makan bersama atau bermain. “Iya,” jawabnya disertai senyum lebar, senyum yang beberapa hari ini pernah hilang dari bibirnya.
***
Sudah sebulan semenjak kematian papanya dan menghilangnya mama Alisha tanpa kabar. Alisha kecil jadi bertanya-tanya, kenapa di saat papanya meninggalkan dia untuk selamanya, mamanya juga ikut-ikutan pergi? Apa benar gara-gara dia bawa sial?
Setahu Alisha, papanya meninggal karena kecelakaan yang menimpa mereka saat sedang berkendara mobil untuk menjemput mamanya. Kecelakaan itu sempat menyebabkan papanya kritis parah, lalu setelah itu meninggal. Papanya yang melindunginya di dalam mobil, membuat Alisha tidak terluka terlalu berat dan nyawanya terselamatkan.
“Kek, Mama ke mana?” Pertanyaan yang selalu Alisha lontarkan pada kakeknya. Biasanya kakeknya hanya diam tanpa mau menjawab. Tapi kali ini berbeda.
Terdengar helaan napas berat sebelum Kakek menjawab. “Mama kamu sudah meninggal karena kecelakaan pesawat.”
__ADS_1
Alisha yang masih berumur belum genap sepuluh tahun jelas shock parah saat tahu dirinya sudah yatim piatu. Untung ada kakek –satu-satunya keluarga yang masih ia punya– yang masih merawatnya, Neneknya sudah meninggal sejak lama.
Dan juga Alisha masih bersyukur karena kehadiran Lani dan Yuda, teman barunya yang selalu berada di sisinya. Kalau teman-teman kelasnya masih menjauhinya, Alisha sudah tak peduli lagi, karena ada Lani dan Yuda yang masih tetap tinggal.
***
Sekarang
Alisha berjalan di koridor sekolah dengan pikiran yang berkecamuk. Pagi ini ia kembali memikirkan masalah kemarin sore. Bagaimana sikapnya selanjutnya? Marahkah kepada Lani? Tapi, kenapa harus marah? Memang salah Lani kalau Yuda jadi menyukainya? Lalu dia harus bagaimana? Marah pada Yuda yang bisa menyukai Lani? Itu juga tidak mungkin.
Kepalanya pusing. Kenapa harus begini? Dan kenapa pula Yuda harus memberitahunya perihal itu? Kenapa tidak langsung diungkapkan pada Lani? Tapi kalau memang begitu, apa dirinya sendiri siap akan kemungkinan yang terjadi? Apa dia siap kalau ternyata Lani juga mempunyai perasaan yang sama pada Yuda? Alisha menggelengkan kepala pelan. Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya.
“Alisha! Astaga, gue panggil-panggil dari tadi gak noleh-noleh.” Tiba-tiba Lani sudah berdiri di samping Alisha dan mensejajarkan langkahnya.
Tersadar, Alisha menoleh. “Eh, Lani. Gue gak denger lo manggil.”
“Emang mikirin apa sih sampe gue panggil-panggil gak denger juga?” tanya Lani sebal.
“Hehe, gak mikir apa-apa sih,” jawab Alisha bohong.
“Huh, dasar. Pulang sekolah nanti kita ke toko DVD ya,” pinta Lani.
“Mau ngapain?”
“Hm oke deh. Emang elo mau cari tentang film apa?”
Lani pun mulai berceloteh, menceritakan tentang pemain filmnya yang keren, cerita yang katanya bagus, dan sebagainya yang Alisha tanggapi dengan anggukan dan gumaman saja. Alisha sendiri tidak terlalu fokus mendengarkan sebenarnya. Cewek berkulit putih pucat itu melirik sekilas ke samping, menatap seseorang yang selama ini telah mau menjadi sahabatnya. Salah satu orang yang tetap tinggal di sampingnya dari sekian banyak orang yang menjaga jarak darinya. Orang yang tetap tinggal meskipun tau kalau Alisha orang yang irit ngomong dan gak suka bergaul.
Diam-diam Alisha menghela napas pelan. Gak mungkin Alisha membenci Lani karena Yuda menyukainya. Gak mungkin juga Alisha menjauhinya. Akan sulit bagi Alisha jika tidak ada Lani dan Yuda. Alisha sudah memutuskan, tentang perasaan Yuda, tidak akan mempengaruhi persahabatan mereka. Toh Yuda juga belum mengungkapkannya pada Lani. Dan kalaupun Yuda mengungkapkan dan disambut oleh Lani, dia lebih memilih akan mengalah, memilih diam, dan mengubur perasaannya dalam-dalam.
Ya, Alisha rasa itu lah pilihan terbaik untuk saat ini. Dia takut jika ia bersikap egois, ia akan merasa kehilangan lagi. Sudah cukup kehilangan yang ia rasakan selama ini. Meskipun nanti ia akan mengorbankan perasaannya, ia akan mencoba untuk bersikap baik-baik saja.
***
Suasana kantin benar-benar ramai. Setiap bangku dan meja sudah terisi oleh siswa-siswa yang sedang atau akan menyantap makanannya, termasuk Alisha dan Yuda. Mereka sedang duduk berdua saja, sedangkan Lani masih mengantri untuk membeli makanannya.
“Sha, lo belum ngomong sama Lani kan?” tanya Yuda pelan, takut kalau ada orang lain yang mendengar.
Alisha mengangguk pelan sambil mengaduk-aduk batagornya. “Ehm… atau lo mau gue yang omongin?” tanya Alisha meskipun berat hati. Ia sudah memutuskan untuk tidak menentang perasaan Yuda pada Lani, jadi ia usahakan akan bersikap senormal mungkin sebagai sahabat yang baik.
Yuda meminum minumnya sebentar. “Nggak usah,” Yuda menggaruk kepalanya yang tak gatal, “lo kayaknya gak usah cerita ke Lani. Cukup lo aja yang tau. Gue juga gak cerita ke siapa-siapa selain elo.”
Alisha menatap Yuda yang mendadak kembali menjadi salah tingkah begini. Alisha bingung kepada Yuda yang terlihat seperti orang yang baru pertama kali kasamaran. Padahal kalau Alisha amati, gak sedikit cewek yang berusaha mau deketin Yuda, tapi gak terlalu ditanggapi. Meskipun baik pada semua orang, Yuda orangnya tetap jaga jarak sama orang yang menurutnya mengharapkan lebih.
__ADS_1
“Jadi…?” tanya Alisha ingin tau.
“Menurut lo gimana, Sha? Gue bilang ke dia atau gak usah?” Yuda balik bertanya. Terlihat jelas kalau ia sedang benar-benar bingung sekarang. Suka sama sahabat sendiri benar-benar merepotkan.
Alisha diam sejenak, memikirkan jawaban terbaik apa yang akan ia ucapkan. Kalau menuturi egoisnya sih, jelas Alisha akan menjawab jangan pernah bilang ke Lani dan lebih baik Yuda move on aja. “Semua pilihan ada konsekuensinya sih,” jawab Alisha akhirnya.
Rasanya berat saat orang yang disukai malah curhat yang beginian sama dirinya. Tapi dia kan sudah memutuskan, apa pun yang terjadi, persahabatan mereka tetaplah yang nomor satu. Jangan sampai gara-gara keegoisan dan perasaanya, persahabatan yang sudah berlangsung lama ini jadi hancur. Meskipun dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Alisha berharap Yuda juga akan mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.
Yuda diam sebentar, terlihat sedang berpikir keras. “Iya ya, bener lo. Kalau gue sampein, terus ada yang berubah sama pershabatan kita, gimana?”
Nah, itu. Itu yang paling Alisha takutkan sebenarnya. Dia saja lebih memilih untuk memendam perasaannya. Alisha mengangguk membenarkan.
“Gue diem aja kali ya?” tanya Yuda yang bingung sendiri. Hah, suka sahabat sendiri memang sulit.
“Ehm terserah lo, Yud.” Sungguh, Alisha tidak tau mau mengucapkan apalagi. Perasaanya pun sudah ia tekan dalam-dalam agar tak terlalu sakit hati perihal ini. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk bersikap biasa saja, menutup perasaannya rapat-rapat.
“Ah atau nanti aja deh gue bilang, tunggu saat yang tepat.”
“Saat yang tepat buat bilang apa?” tanya Lani yang kini sudah ikut duduk di samping Alisha.
Yuda jadi mati kutu. “Eh itu, mau bilang… itu mau ngajak kalian buat nonton gue tanding futsal hari ini. Iya, tanding futsal. Jam setengah empat nanti. Kalian nonton ya,” jawab Yuda cepat.
“Ehm tapi tapi kita ada acara pulang nanti.”
“Apaan?”
“Ke toko DVD sama toko buku,” jawab Lani.
“Kan bisa cepet peginya. Gue tanding jam setengah empat kok.”
“Emang mau tanding sama siapa?”
“Sama anak SMA Garuda, mereka ngajakin.”
“Hm ya udah deh. Jam setengah empat kan?”
“Yap.”
“Bisa kan, Sha?” Lani menoleh menatap Alisha.
“Iya, bisa kok,” jawabnya disertai senyum tipis.
__ADS_1