(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Tetangga Baru Lani


__ADS_3

Alisha berjalan melewati koridor sekolah dengan langkah kaki pelan saat ia menemukan Alden yang sedang berdiri di depan mading. Alden pagi-pagi begini ngeliatin mading? Cowok tipe kayak dia mau ngebaca tulisan-tulisan di situ? Alisha mengernyit heran.


     Biasanya, Alisha suka merhatiin mading saat ada pembaruan, atau sekedar baca-baca tulisan yang ada di sana. Apalagi kalau ada cerpen karya teman-teman sekolah yang ditempel di sana. Alisha tidak akan sungkan untuk menghentikan langkah dan membaca.


     Seperti pagi ini, sepertinya ada beberapa tulisan baru di sana, sisanya masih yang lama, sekedar info lomba atau semacamnya.


     Tanpa disadarinya, cewek itu kini sudah melangkahkan kaki menuju Alden dan berdiri di sebelahnya, ikut mengamati apa yang cowok itu lihat.


     “Eh, Alisha. Pagi,” sapa Alden ramah ketika menyadari ada sosok di sampingnya.


     “Pagi,” jawab Alisha seadanya. “Liat apaan? Tumben merhatiin mading?”


     “Ini liat… eh tunggu!” Alden menoleh, menatap Alisha lurus-lurus dengan seringaian tipisnya. “Lo nanya ke gue tumben merhatiin mading? Jadi maksudnya, lo sering gitu merhatiin gue, sampe-sampe tau kalo gue jarang di sini? Ah senangnya….”


     Alisha jadi salah tingkah. “Eh bukan gitu maksud gue. Gue kan sering merhatiin mading, tapi jarang nemuin orang lain pas mau di sini,” jawab Alisha cepat. Nih cowok kok nganggepnya begitu sih?


     “Oh… gitu. Gue kira lo juga suka merhatiin gue, kayak gue suka merhatiin lo gitu,” ucap Alden santai yang tanpa sadar membuat Alisha jadi membulatkan mata seketika. I-ini cowok pagi-pagi kok bisa buat Alisha mendadak jadi kicep gini sih?


     “Bukan urusan lo,” ucap Alden lagi yang kali ini disambut tampang heran oleh Alisha.


     “Maksudnya?”


     Alden mengedikkan bahu singkat. “Ya kan lo biasanya kalo gue tanya-tanya, jawabannya pasti gitu. ‘Bukan urusan lo’. Nah sekarang gantian dong, gue juga mau jawab kayak gitu,” jelasnya kalem dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.


     Alisha menggigit bibirnya singkat sebelum akhirnya berkata, “Ya… ya terserah lo sih kalo gak mau jawab.”


     Alden melirik Alisha, menyadari nada aneh dari kalimat yang diucapkan cewek itu. “Eh enggak ding. Ini gue lagi liatin info tentang kompetisi basket se-SMA di GOR nanti,” jelasnya, yang kali ini serius akan ucapannya.


     Diam-diam ada perasaan lega di hati Alisha saat Alden mau menjawab pertanyaannya, bukan memilih untuk mengacuhkan sepeti yang biasa ia lakukan pada cowok itu. Dalam hati dia bertanya-bertanya, apa tindakannya sama Alden selama ini agak berlebihan ya? Sepertinya tidak juga. Soalnya cowok itu kalau bertanya, suka menyangkut hal-hal yang privasi sih, membuat Alisha tak ada pilihan lain selain menjawab seperti kata Alden tadi: ‘bukan urusan lo’.


     Lagi pula memang Alden mengharapkan apa kala bertanya padanya? Alsiha mau cerita panjang lebar gitu? Seharusnya cowok itu kan tau kalo Alisha bukan tipe yang suka bercerita tentang kehidupannya. Ya kecuali kalau mendesak.


     “Tim sekolah kita ikut?” tanya Alisha memecah keheningan yang sempat tercipta.


     “Jelas dong, udah gue daftarin. Lombanya sekitar dua mingguan lagi. Lo nanti nonton ya?”


     “Liat entar.”


     “Nonton dong. Aacranya bakalan seru kok, kan ada gue, hehe,” cengir Alden.


     Alisha hanya menjawabnya dengan gumaman. Matanya menelusuri mading di hadapannya, lalu tatapannya terhenti pada sebuah cerpen yang baru hari ia liat di mading. Segera ia membacanya, tidak sadar kalau Alden yang dari samping mengamatinya.


     “Lo suka banget baca ya?”


     Tanpa repot-repot menoleh, Alisha hanya menjawab dengan dehaman seadanya. Ia hanyut dalam bacaan yang sedang dibacanya saat ini.


     “Segala jenis bacaan?”


     “Iya.”


     “Kalau nonfiksi sama fiksi, lo lebih suka yang mana?” tanya Alden lebih lanjut.


     “Fiksi.”


     “Puisi juga suka?”

__ADS_1


     Alisha menggeleng pelan. “Gue gak terlalu suka baca puisi. Lebih suka baca cerpen atau novel.”


     Alden mengangguk paham, lalu matanya kembali tertuju ke mading. “Matemacinta…,” gumam Alden saat membaca judul cerpen yang sedang dibaca Alisha. “Aneh judulnya. Di mana-mana, matematika itu selalu bikin pusing, gak ada hubungannya dengan cinta-cintaan,” komentarnya tak tahan.


     “Pusing kan karena belum ngerti sama materinya. Coba kalo ngerti, matematika itu asyik kok,” sahut Alisah sambil tetap membaca.


     Alden terkekeh sebentar, sadar dengan siapa ia berbicara. “Iya, susah deh kalo ngomong sama yang masternya mtk.”


     “Gue belum masternya,” ucap Alisha malas.


     “Tapi seenggaknya nilai ulangan lo selalu nyaris sempurna.”


     “Kok… lo tau?” aktivitas membaca Alisha terhenti sejenak untuk menoleh sebentar ke cowok tinggi di sampingnya.


     “Ya gimana gak tau, Pak Rubandi itu suka nyebut-nyebut nama lo kalau menyangkut mtk, tentang nilai lo yang nyaris sempurna lah, dan sebagainya. Pokoknya lo itu kayak dijadiin panutan buat nilai-nilai yang jeblok.”


     Sudut bibir kiri Alisha tertarik sedikit.


     “Ciye senyum. Seneng kan lo?” goda Alden. Ia hanya melihat senyum itu sedikit, tapi mampu menularkan pada dirinya, sehingga sekarang Alden tersenyum lebar.


     Secepat kilat Alisha kembali memasang tampang datarnya. “Apaan deh. Udah ya gue duluan ke kelas.” Alisha lalu memutar badannya dan kembali berjalan di koridor menuju kelasnya.


     Saat di belokan yang menuju jajaran kelas sebelas, Alisha menemukan Lani yang berjalan beberapa meter di depannya. Tapi cewek itu tidak sendirian, ada seorang cowok di sampingnya. Alisha baru kali ini melihat Lani berjalan dengan cowok itu. Siapa ya?


     Karena membelakanginya, Alisha tidak bisa menebak siapa cowok itu. Sosoknya nampak asing di mata Alisha. Yang pasti cowok itu bukan Yuda, karena Alisha hapal sekali bagaimana postur Yuda walaupun dari belakang sekalipun. Sesampainya di depan kelas Alisha, Alisha melihat cowok itu terus berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai jajaran kelas tiga. Alisha menduga sepertinya itu kakak kelas.


     “Tadi sama siapa, Lan?” tanya Alisha setelah sampai di kelas dan duduk di tempatnya.


     “Lo liat Sha? Wah berarti jarak kita jalan tadi deketan ya. Kok gak manggil gue? Eh itu tadi Kak Panji,” jawab Lani sambil tersenyum girang.


     “Iya, Kak Panji, kelas XII IPA 2,” terang Lani.


     “Tumben barengan?”


     “Ini gue mau cerita sama lo,” ucap Lani dengan tampang berseri-serinya.


     Alisha memasang sikap siap mendengarkan.


     “Tadi gue pergi sekolah berengan sama Kak Panji.”


     “Maksudnya nebeng gitu?”


     “Iya.”


     “Kok bisa? Tumben….”


     “Nah itu dia. Kak Panji sekarang tetanggan sama gue.”


     “Kok bisa?”


     Lani mendengus. “Daritadi bilang ‘kok bisa’ terus sih Sha,” ucapnya jengkel.


     “Kan gue penasaran, emangnya mau bilang apalagi. Lo ceritanya putus-pitus sih.”


     Lani terkekeh sebentar. “Hehe iya deh gue ceritain selengkap-lengkapnnya. Lo tau kan kalo rumah di samping rumah gue itu emang kosong?”

__ADS_1


     Alisha mengingat sejenak lalu mengangguk.


     “Nah itu rumah sekarang ditempati sama kak Panji dan keluarganya. Baru kemarin sih mereka pindah. Luamayan lah Sha ada cogan di sebelah rumah, lumayan buat cuci mata, hehe. Kak Panji kayaknya baik tuh. Tadi pagi aja nawarin tebengan sama gue. Ya gue terima lah. Selama ini gue cuma pernah sering liat dia aja. Eh ternyata orangnya ramah juga, Sha. Duh nyesel gue gak kenal sama dia sejak lama,” cerita Lani panjang lebar.


     Ada jeda sejenak sebelum Alsiha bersuara. “Hm… jadi ceritanya lo suka gitu sama Kak Panji?” tanya Alisha harap-harap cemas.


     Lani mengubah posisinya. Ia topangkan dagu di atas meja. “Gak tau juga, liat entar aja deh. Tapi Kak Panji manis banget Sha, susah buat gak suka. Apalagi sekarang tetanggaan, bisa deh tiap hari ngeliat dia, hehe.”


     “Huft, baksonya Pakde rame banget. Mau beli aja mesti desak-desakan,” keluh Lani sesaat setelah ia duduk di kursi kantin yang sedang ramai-ramainya ini. 


     “Pesen yang lain kalo gak mau desak-desakan,” timpal Yuda. Bakso Pakde emang laris banget di sini. Selain harganya yang ramah di kantung pelajar, rasanya juga gak kalah enak dengan bakso-bakso yang dijual di kedai-kedai khusus bakso. 


     “Tapi kan gue suka banget makan bakso.” 


     “Iya, tau.” Tau banget malah. Yuda sangat tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh cewek ini. Cewek yang disukainya, tapi sayangnya mereka terjebak dalam zona friendzone, 


     “Kadang gue suka iri sama kalian yang cepet banget kalo antri makanan buat beli batagor,” ucap Lani.


     “Kita kan gesit,” jawab Yuda sambil tersenyum menyebalkan.


     “Maksudnya gue lelet gitu?” ketus Lani puta-pura sebal.


     “Gue gak ngomong gitu lho.”


     Lani menatap Yuda tajam, lalu akhirnya bersikap acuh tak acuh kembali. “Sha, tolong ambilin sausnya dong,” pinta Lani pada Alisha karena botol sausnya terletak cukup jauh dari jangkauannya.


   “Nih.” Sebelum Alisha mengambilnya, Yuda telah duluan melakukannya dan menyodorkannya pada Lani.


     “Makasih.” Setelah menuangkan saus, Lani mulai memasukkan cabai ke mangkuknya.


     “Jangan banyak-banyak cabenya Lan. Entar sakit perut,” ingat Yuda.


     Dalam diamnya, Alisha tersenyum kecut akan perhatian yang diberikan Yuda. Kenapa ia baru menyadari kalau perhatian yang sering diberikan pada Lani adalah wujud kalau cowok itu menyukai Lani lebih dari sekedar sahabat?


     “Ini gak kebanyakan kok.”


     Lalu mereka pun mulai sibuk menyantap makanan masing-masing. Lani, yang di sela-sela kunyahannya, melihat keadaan sekitar kantin, tak sengaja tatapan matanya bertemu dengan Kak Panji yang sedang berjalan menuju meja teman-temannya. Ternyata Kak Panji juga melihat ke arahnya. Mereka lalu saling melempar senyuman.


     Yuda yang melihat Lani tersenyum manis, ikut melihat kepada siapa Lani tersenyum. “Siapa, Lan?”


     “Itu Kak Panji.”


     “Kak Panji? Tumben saling senyum gitu.”


     “Gue tetanggan sama dia sekarang.”


     “Tetangga?”


     “Iya….”


     “Kok gue baru tau? Sejak kapan? Jadi karena tetanggaan jadi mulai akrab ya?”


     “Iya, bahkan tadi pagi gue pergi barengan sama dia,” jawab Lani tak menyadari kalau Yuda menatapnya penuh selidik.


     “Kalian kan baru kenal, kok mau pergi barengan. Nebeng sama gua kan bisa,” ucap Yuda.

__ADS_1


     “Ih, gue tu dari dulu emang kadang suka papasan gitu sama Kak Panji, tapi gak berani negur sih. Lagian, emang sejak kapan lo jadi tukang ojek Yud? Kan dia tetangga gue, sesekali nebeng ke sekolah kan gak apa,” timpal Lani acuh tak acuh.


__ADS_2