
**Anak kecil itu menatap Alisha dengan mata bulatnya yang terlihat menggemaskan. Ia bingung mendapati Alisha menahan pundaknya, sehingga membuat langkahnya terhenti.
“Kamu cari apa?” tanya Alisha setelah berhasil mengumpulkan suaranya.
Anak lelaki yang mengenakan pakaian kasual khas anak-anak itu terlihat kebingungan, ya Alisha tau itu meskipun bocah itu berusaha menutupinya. Ada cemas serta rasa takut yang terlihat dari kedua bola mata tersebut. Kedua bola mata itu mengingatkan Alisha akan mata mamanya. Meskipun ingatan akan mamanya sudah mulai samar, namun ia masih jelas mengingatnya, apalagi ia sering mengamati foto-foto yang tersisa di rumah. Foto-foto yang selalu menjadi obat rindunya kala rasa itu terus menyeruak keluar.
Anak kecil itu berpikir sebentar, terlihat ragu untuk menjawab. Matanya melihat sekitar, tak membalas tatapan selidik yang diberikan Alisha. Lalu saat tak ditemuinya apa yang ia cari di sekitar tersebut, anak lelaki itu menggembungkan pipinya sebentar sebelum mengeluarkan suara.
“Bima lagi nyari Mama…,” jawabnya dengan nada pelan yang dibuat setenang mungkin, tapi Alisha jelas dapat mendengar ada nada panik di sana. Anak lelaki ini berdiri dengan tidak nyaman, seolah ingin cepat-cepat pergi untuk kembali mencari lagi.
Alden yang berdiri di samping Alisha serta juga ikut mengamati interaksi keduanya, mengangkat kedua alis bingung serta terkejut. “Cari Mama kamu? Jadi maksudnya kamu terpisah saam Mama kamu?”
Anak kecil yang menyebut dirinya bernama Bima itu mengangguk ragu-ragu. “Iya.”
Alden amati lamat-lamat ekspresi anak kecil ini. “Ya ampun, kamu itu kehilangan mama kamu, tapi kamu sama sekalai gak panik atau nangis? Berapa sih umur kamu?” tanya Alden tak habis pikir.
“Hampir tujuh tahun.” Bima memainkan ujung bajunya dengan gugup.
Tentu hal tersebut tak luput dari perhatian Alisha. Ia jadi teringat sesuatu, dirinya kalau sedang dilanda cemas juga sering melakukan hal itu. Apa sebenarnya Bima ini sedang cemas namun berusaha untuk menutupinya? Kalau memang benar, astaga… usianya masih dini, tapi pengaturan emosinya baik sekali.
“Bima sebenernya takut. Tapi kata Mama, Bima harus kuat, gak boleh cengeng, jadi Bima gak mau panik dan nangis dulu. Bima mau cari Mama sampai ketemu dulu. Bima pasti bisa nemuin Mama,” ucap anak lelaki itu dengan lancar.
Tuh kan, benar dugaan Alisha. Bima ini sedang berusaha menutupi rasa cemasnya.
“Memangnya kenapa kamu bisa terpisah sama Mama kamu? Tadi kamu ke sini berdua aja sama Mama kamu?” tanya Alisha ingin tahu. Ada rasa ingin membantu yang begitu besar pada anak ini. Seolah Alisha ikut meraskaan rasa cemas yang sedang melingkupi anak lelaki ini.
“Oh ya, kamu jangan takut sama kami. Nama Kakak, Alden. Kalau Kakak yang cantik ini namanya Alisha,” ucap Alden santai memperkenalkan diri, berusaha agar suasana tidak terlalu tegang.
Bima mengangguk sebagai tanda jawaban atas pertanyaan terakhir Alisha. Sebenarnya ia tidak ada rasa takut terhadap dua orang di depannya ini. Bima pun mulai bercerita. “Tadi kami lagi jalan-jalan di sini. Mama ketemu sama temannya. Mereka sibuk ngobrol, tadi… tadi Bima liat ada acara ramai di sana,” Bima menunjuk ke arah yang memang cukup ramai karena ada sedang ada sebuah acara anak-anak di mal ini dengan menampilkan beberapa badut sebagai pemikat anak-anak.
“Karena penasaran, Bima ke sana. Bima sempat bilang ke mama kalau mau ke sana, terus langsung pergi.” Bima mengakhiri ucapannya dengan nada lesu. Kali ini anak itu mulai menunjukkan ekspresi cemasnya.
__ADS_1
“Kamu ingat terakhir Mama kamu di mana?” tanya Alisha yang sedari tadi menyimak cerita Bima.
“Tadi Mama ngobrol sama Tante Shila di depan restoran. Tapi Bima gak tau nama restorannya apa,” ucap Bima polos.
Alden menggut-mangggut mengerti. “Ya udah yuk kita cari aja restorannya. Sekarang kita ada di lantai satu. Restoran itu ada di lantai berapa Bim?”
“Restorannya di lantai satu juga kok,” jawab Bima yakin, karena seingatnya ia tidak ada menaiki atau menururni lift untuk mengikuti arah keramaian tadi.
“Oke, yuk kami bakalan nemenin Bima nyari Mama dulu.” Alisha lalu menggandeng pergelangan tangan Bima. “Gak apa kan Al kalo kita bantuin dia dulu?” Alisha menoleh ke Alden meminta persetujuan, karena mereka kan sebenarnya ada rencana belajar pulang ini.
Alden mengangguk santai. “Gak apa dong, justru keterlaluan kalo kita gak bantu Bima.”
“Makasih ya Kak.” Bima menampilkan senyumnya, tak menyangka akan bertemu dengan dua orang baik seperti Alisha dan Alden. Terlebih lagi Alisha, di mata Bima, Alisha juga ikut khawatir seperti dirinya. Menyadari kalau ia didampingi oleh dua orang baik, Bima jadi tidak takut lagi, ia yakin pasti bisa menemukannya mamanya.
Mereka lalu mulai berjalan mengitari mal tersebut. Beberapa restoran yang terletak di lantai satu mal ini mereka hampiri. Saat sudah sampai, mereka minta pendapat Bima, saat anak lelaki itu menggeleng, mereka terus lanjut berjalan mencari. Hingga akhirnya mata Bima melebar bersemangat. Ini restorannya. Di depan restoran inilah ia tadi bersama mamanya.
“Ini restorannya Bim?” tanya Alisha memastikan.
“Iya.” Lalu mata Bima mulai melihat ke sekitar, tepatnya ke tempat di mana terkahir ia melihat mamanya. “Kok… nggak ada?” gumamnya lesu.
“Kamu jangan nangis ya, kita pasti bakalan nemuin Mama kamu kok,” timpal Alden berusaha menghibur dengan nada santainya.
Bima merengut. “Bima gak mau nangis kok,” ucapnya setengah sebal. Bima lihat, walau kakak yang bernama Alden ini baik, tapi tetap dari sikapnya selama tadi, Bima bisa melihat sikap menyebalkan yang sering keluar.
Bima…!” Sebuah pekikan dari arah belakang mereka tiba-tiba terdengar, membuat mereka bertiga sontak membalikkan tubuh. “Ya ampun kamu ke mana aja? Mama tadi nyariin kamu di kerumuman acara itu.” Seorang ibu-ibu tiba-tiba datang dan memeluk Bima. “Mama kira kamu hilang, ya ampun….”
Melihat sosok yang tiba-tiba hadir itu, tanpa sadar membuat kesepuluh jari Alisha menggenggam kuat samping rok abu-abunya. Sepasang matanya menatap lurus ke wanita yang mengaku sebagai mama Bima. Jantung Alisha tiba-tiba berdegup kencang, sampai membuat rongga dadanya menjadi sesak.
Untuk pertama kalinya… dari jarak sedekat ini, Alisha melihat kembali sosok ini, sosok yang selama tujuh tahun ini telah pergi dari hidupnya. Dari jarak sedekat ini yang saling berhadapan, dapat ia pastikan kalau yang dilihatnya bukan sekedar delusi semata, melainkan benar-benar nyata. Mama. Satu kata yang telah lama jarang meluncur dari mulutnya.
Seketika Alisha membeku. Jemari tangannya yang menggenggam roknya kini berganti saling menggemgam tangan satu sama lain, menggengam begitu kuat hingga buku-buku jemari tangannya memutih. Dikatupkannya kedua rahangnya kuat-kuat. Seluruh giginya saling menekan. Berusaha keras mengalahkan sesak di dada dan sakit di tenggorokan.
__ADS_1
“Mama…?”
Wanita yang tengah memeluk Bima itu mematung mendengar sebuah suara pelan yang seperti memanggilnya. Segera ia melepas pelan pelukan pada anak lelakinya. Kini wanita itu menegakkan posisinya yang tadi berlutut untuk memeluk Bima. Matanya seolah terkunci saat menatap tepat manik mata Alisha. Mata yang sama dengan suaminya….
Dan Alisha melihat sosok perempuan itu dengan sangat jelas, perempuan hampir setengah baya yang sangat cantik dengan mata hitam yang begitu ia ingat dan rindukan. Perempuan itu tersenyum lembut meski ada binar terkejut di wajahnya, senyum penuh kasih, membuat hati Alisha dibanjiri emosi aneh yang tak terkendali.
“Alisha,” gumamnya pelan dengan pandangan lurus melihat Alisha.
Alden dan Bima sama-sama dibuat bingung akan sikap mereka berdua. Alden menatap mereka silih berganti, berusaha mencerna kejadian apa yang sedang terjadi saat ini. Lalu saat mendengar Alisha mengucapkan satu kata, ‘Mama’, berangsur-angsur ia mulai paham, mengerti kenapa Alisha bisa bersikap sedemikian.
Tak lagi sadar, Alisha melangkah lebar dan menghambur mendapati sang mama. Dipeluknya wanita itu kuat-kuat. Dalam rasa yang berkecamuk. Dalam luap kerinduan. Dalam titik akhir penantian. Sekuat tenaga Alisha tahan mati-matian air mata yang berushaa menyeruak, namaun kali ini, pertahanannya runtuh, setetes air mata suskses keluar.
Sang mama membalas pelukan anaknya itu sama kuatnya. Anak perempuannya. Satu-satunya anak perempuan yang ia punya. Anak perempuan yang telah lama ia tinggali, yang membuatnya nyaris kehilangan kendali untuk melanggar batas yang telah ditetapkan mertuanya.
Alisha menenggelamkan wajahnya pada salah satu bahu mamanya. Menumpahkan air matanya di sana. Mengiris batin dan membuat sang mama harus menekan kuat-kuat luapan emosinya. Menekan kuat-kuat rasa bersalah yang kian memuncak.
Ketika semua luapan perasaannya tuntas, Alisha menguraikan pelukannya. Sambil tersenyum kecil, cewek itu menyeka sisa-sisa air matanya dengan lengan baju.
“Akhirnya… akhirnya Alisha ketemu sama Mama juga,” ucap Alisha dengan suara serak menahan tangis. Cewek itu terus menyeka air mata yang berusaha terus keluar di pelupuk matanya. Beruntung saat ini di sekitar mereka sedang tidak ramai, sehingga tidak banyak yang melihat.
Sang mama hanya mampu mengangguk, berusaha meredam segala emosi yang berkecamuk. Tidak disangkanya akan bertemu puterinya di sini. Dari semua tempat yang ia hindari untuk bertemu, ternyata tempat keramaian ini yang malah memaksa mereka untuk bersinggungan.
“Mama sehat?” tanya Alisha lagi dengan suara paraunya.
Sang mama mengangguk-angguk. Kedua matanya masih menatap anaknya lekat-lekat dan menyeluruh. Kali ini ia bisa terang-terangan melihat keadaan puterinya, tanpa harus bersembunyi lagi di balik pilar.
“Kamu juga sehat kan?” tanya mama setelah berhasil mengendalikan gejolak emosi dan suaranya.
“Sehat, Ma.” Alisha mengangguk.
Sang mama menatapnya dengan pandang sedih, juga penyesalan. “Alisha sekarang udah besar. Mama nggak merhatiin. Mama minta maaf. Maafin Mama ya, Nak, nggak bisa nemenin.”
__ADS_1
Air mata itu kembali tumpah di mata Alisha. Ditatapnya sang mama dengan pandangan berkabut. “Mama selama ini ke mana aja? Kenapa gak pernah pulang lagi ke rumah? Kenapa gak nemuin Alisha lagi? Kenapa?” runtutan pertanyaan pilu itu terdengar dari mulut Alisha, pertanyaan yang pada akhirnya membuat sang mama kembali dibendungi rasa bersalah.
Bersambung**