(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Mulai Peduli Dengan Sekitar


__ADS_3

Alden segera memarkirkan motornya saat sepasang matanya melihat Alisha yang juga baru sampai di parkiran sekolah. Cewek itu hanya melirik Alden sekilas yang berhenti tepat di samping motor matic-nya. Hari masih pagi, belum banyak murid yang terlihat di daerah parkiran ini.



“Pagi, Alisha,” sapa Alden ramah. 



“Pagi.” Alisha menjawab singkat tanpa repot-repot menoleh si penyapa.



    Alden mengeryitkan dahi. Balik dingin lagi dia. Pagi ini sepertinya Alisha kembali ke sosok aslinya. Dingin dan irit bicara plus irit senyum. Gak ada kesan manis-manisnya pagi ini. Beda banget saat makan malam semalam.



    “Jutek amat sih. Ini masih pagi lho,” komentar Alden.



    Alisha menaruh helmnya. Sekarang ia berdiri di samping motornya dan menatap Alden yang masih setia duduk di atas motor hitamnya.



    “Gak usah urusin gue,” ucapnya malas.



    Alden sontak mengerutkan dahi. Kok gitu sih?



     “Jangan bersikap seolah-olah kita saling kenal. Bersikap aja kayak biasa,” ucap Alisha dingin yang membuat dahi Alden semakin mengerut dalam.



    Baru satu langkah Alisha melangkah pergi, ia kembali membalikkan badan menghadap Alden. “Dan oh iya, gue rasa soal perjodohan ini cukup kita aja yang tau. Sampai perjodohan itu dibatalin, bersikaplah seolah kita gak ada hubungan apa-apa.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alisha berjalan pergi menuju gedung sekolah. 



    Alden pandangi punggung cewek itu sampai hilang dari pandangan. Detik selanjutnya ia menggeleng tak habis pikir. Harga dirinya seperti tersentil. Baru kali ini ada cewek yang terang-terangan ingin menjauh dari dia. Yang terang-terangan kayak eneg liat mukanya. Padahal muka Alden masih ganteng kok, masih enak dilihat. “Apaan deh tuh cewek. Dibaikin kok sikapnya kayak gitu. Oke, gue gak bakal peduliin dia juga kok. Emang dia aja yang bisa bersikap kayak gitu? Dasar puteri es.” 


*** 



    Suasana kelas XI Ipa 5 masih cukup ramai akan penghuninya. Bahkan bel istirahat yang berbunyi beberapa saat yang lalu pun tak membuat mereka untuk pergi keluar kelas. Terang saja. Saat ini mereka semua sibuk dengan catatan masing-masing dan fokus pada tulisan yang ditulis Mila –si sekretaris kelas– di papan tulis. Tempat duduk sekarang pun sudah tak tersusun rapi lagi, dikarenakan yang duduk di belakang ikut memajukan kursi mereka ke depan agar dapat melihat isi papan tulis dengan jelas. Ada juga yang membentuk gerombolan kecil, jadi bisa sambil bergosip di sela-sela mencatat.



    Tak terkecuali Alden. Cowok itu sama seperti yang lainnya. Tetap duduk di tempatnya sambil menulis cepat. Meskipun bisa dibilang tulisannya gak rapi-rapi amat, tapi asal menurutnya masih terbaca, hal tersebut bukan maslaah. Yang penting ia mengerjakan.



“Yang ini udah dicatet belom? Mau gue apus,” ucap Mila lantang di depan kelas.



    Serempak hampir seisi kelas menjawab belum. Sudah beberapa kali Mila menghapus papan tulis dan kembali menulis lagi. Hah, Bu Yuni memang benar-benar keterlaluan meberi mereka tugas, sampai-sampai jam istirahat pun diembat. Padahal sudah dua jam pelajaran dihabiskan hanya untuk sekedar mencatat materi.



“Kalian cepet dikit dong nulisnya. Masih ada yang mau ditulis ini.”



“Biarin, gak usah ditulis aja. Pegel nih tangan gue,” celetuk salah satu siswa yang disambut persetujuan dari yang lain.


“Jangan! Entar kita kena marah. Udah cepetan aja nulisnya. Gue juga capek tau,” balas Mila.



     “Dek Mila capek ya? Sini deh abang pijitin,” goda Dimas yang langsung disoraki seisi kelas. Bukan rahasia lagi kalau Dimas ini naksir sama Mila. Dan juga bukan rahasia lagi kalau Mila menolaknya mentah-mentah.



“Modus lo, Dim!”


“Cari kesempatan dalam kesempitan.”


“Sejak kapan lo jadi tukang mijit?”


“Daripada mijitin Mila, mending pijitin gue aja, gimana?”



    Kelas yang tadi hening kini mulai ramai akan sorak-sorak menggoda mereka berdua. Mila yang di depan kelas pun cuma diam dengan wajah memerah menahan malu.

__ADS_1



     “Udah diem. Tulis aja yang Mila tulis. Ini catetan mau dikumpul abis istirahat.” Sang ketua kelas angkat bicara. Kalau sudah begitu, kelas pun kembali menjadi hening.



    Alden yang mendengar keributan, tidak menggubris. Dia asyik mendengar lagu dari earphone yang mencatol sebelah di telinga kanannya. Sebelahnya lagi? Ada di telinga Dito yang duduk di samping Alden.



     “Dit, ganti lagu dong. Bosen denger lagu ini mulu dari tadi,” celetuk Alden.


     “Iye iye.” Dito mulai men-scroll layar ponselnya untuk mencari lagu yang lain.



    Tak lama kemudian terdengar lagu Julia Perez yang berjudul Belah Duren. Alis Alden langsung menyatu saat mendengarnya. Ia hentikan sejenak gerakan tangannya yang asyik menulis dari tadi. “Eh lagu apaan nih?”



    Sepertinya Dito salah memasang lagu, kelihatan dari lagaknya yang langsung didera panik dan menekan asal layar ponselnya agar lagu segera berganti.



     “Astaga! Kenapa tuh lagu ada di hp gue?’ tanya Dios horor sendiri.



    Alden memainkan alisnya nakal. “Sejak kapan lo koleksi lagu begituan, Dit?”



     “Anjir lah. Gue salah teken. Gue gak tau kenapa bisa ada tuh lagu di hp gue. Ini pasti kerjaan Nyoman nih. Hp gue kan kemarin dipinjem dia,” bela Dito cepat sambil mencari-cari sosok Nyoman yang dimaskud. Saat tatapan mereka bertemu, Nyoman hanya nyegir saja. 



    Alden hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja mendengarnya. “Periksa lagi deh tuh hp, Entar ada yang aneh-aneh lagi.”



    Alden kembali melanjutkan catatannya. Asli dia dari tadi udah bosan setengah mati. Kalau saja bukan karena ancaman akan dihukum menulis satu buku penuh jika tak menurut, sudah dipastikan Alden akan melenggang pergi keluar kelas. Sama sekali tidak berminat untuk mencatat. Guru biologi satu itu memang sering membuat Alden kesal. Suka tidak masuk jam pelajaran, eh ditambah tugas catatan yang menumpuk pula. 



     “Alden, gue bawain brownies nih buat lo. Gue buat sendiri lho” Tau tau Nadia udah berdiri aja di dekat Alden. Kelas yang tadi hening, kini kembali akan bunyi grasak-grusuk ingin tau. Bisa juga si Nadia, ambil kesempatan. Padahal tugas belum selesai, udah begerak aja. 




    Pipi Nanda segera memerah mendengarnya. 



     “Tau aja lo kalo kita-kita lagi laper. Bener gak bro?” sambung Alden lagi sambil menghadap badannya ke sekumpulan cowok di dekatnya.



     “Yoi. Mana sini, Al, lempar juga ke kita,” sahut salah satu cowok tersebut. 



    Alden dengan entengnya mengoper kotak kue tersebut ke mereka, membuat Nadia yang semula sudah terbang setinggi langit, kembali jatuh ke bawah. Bahkan Alden tak repot-repot mencicipi dulu kue tersebut.



     “Eh, gak apa kan browniesnya gue bagi-bagi ke mereka?” tanya Alden sok polos disertai senyum manisnya. Ditatapnya cewek di dekatnya yang sepertinya menahan amarah. Ah, cowok ini benar-benar sadar pesona.



     “Ah iya, gak apa kok.” Nadia yang hendak marah, jadi gak jadi. Gak kuat akan senyum tersebut, Nadia manggut saja. Lagian siapa sih yang gak luluh kalau disenyumin cogan sekolah? “Al,” panggil Nadia. 


     “Hem?” 


     “Pulang sekolah nanti nonton yuk! Ada film bagus baru tayang,” ajak Nadia langsung.



    Seketika kelas langsung heboh. Mereka yang memang sudah memasang kuping rapat-rapat untuk mendengar, kini mulai berkomentar.



     “Ciyee suit suit. Alden diajakin nonton guys!” 


     “Wah rejeki lu banyak amat Tong!” 


     “Eh, Al, bukannya lo udah ada cewek ya? Maruk amat lo. Satu aja cukup, Al. Bagi yang lain juga kali. Gak kasihan lihat temen yang banyak jones di sini?” Nyoman ikut berkomentar seperti yang lain. Komentar Nyoman disambut tawa dari seisi kelas. 

__ADS_1


     “Hah? Pacar maksud lo?” Alden mengangkat sebelah alis. 


     “Iya. Eh, tuh orangnya,” tunjuk Nyoman ke arah pintu. Di sana ada Rana yang baru hendak masuk ke kelas. Biasa… setor muka ke Alden. Padahal kelasnya bukan di sini. 


     “Hai, Rana,” sapa Alden manis. 


    Disambut baik, Rana tersenyum bangga. “Hai.” 


     “Emang kapan kita pacaran, ya? Kok gue gak inget sih pernah nembak lo?”



    Jeger! Kebanggan diri Rana yang sempat melambung tadi kini dihempaskan Alden kuat-kuat. Kini cewek dengan tampilan modis tersebut membeku di tempatnya. Alden mengucapnya di depan umum! Benar-benar membuatnya malu.



     “Hah? Jaid kalian gak pacaran ya?”


     “Bener, Ra? Tapi kok lo bilang….?”


     “Wah lo juga sama kayak yang lain nih, suka ngaku-ngaku jadi ceweknya Alden.”



    Komentar-komentar mulai terdengar. Apalagi dari kalangan cewek yang mengenal Rana, si cewek modis yang begitu menyukai Alden.



     “Kita gak pacaran kok, bener kan Ra?” Alden bertanya dengan wajah meyakinkannya. Ditatapnya Rana lurus-lurus sekaligus memberi peringatan.



    Sebal, Rana meninggalkan ruang kelas XI Ipa 5 sambil menghentakkan kaki. Dia tidak mau jawab apa. Kalau dijawab iya, habis sudah harga dirinya di kelas itu.



     “Sadis juga lo, Al,” komentar Dito sambil terkekeh.



    Melihat kenyataan kalau Alden terang-terangan menolak Rana, Nadia tersenyum senang di tempatnya. “Jadi, Al, mau gak nonton bareng gue?”



    Alden menoleh ke sumber suara. Ia bahkan hampir lupa dengan kehadiran Nadia di sampingnya. “Eh, lo mau nonton?”



    Nadia mengangguk.



     “Del, Nadia nyari temen buat nonton nih. Lo mau gak?” seru Alden keras memanggil Fadel, cowok di kelas yang terkenal karena jomblo akut.



     “Wah jelas mau dong. Pulang sekolah nanti ya, Nad?” sahut Fadel mengikuti permainan Alden.



     “Gue bukan ngajak elo! Gue tuh ngajak Alden,” ketus Nadia menatap Fadel tak bersahabat.



     “Wah sori gue gak bisa. Sibuk. Mending sama yang lain aja. Oke?” ucap Alden enteng lalu kembali melankjutkan catatannya, mengabaikan Nadia yang amsih bergeming. 



    Nanda pun kembali ke tempat duduknya dengan geram. Ia tadi sudah girang bukan main karena Rana yang dipermalukan, tapi kok dia juga kena sih? Padahal gak biasanya Alden kayak gini. Itulah sebabnya dia jadi berani ambil tindakan. Alden kan terkenal welcome sama cewek. Tapi kok sekarang jadi negini?



     “Ada apaan nih, Al? Tumben lo depak semua cewek yang deketin?” komentar Dito geli yang dari tadi diam saja melihat tingkah Alden.



     “Gak apa, Cuma kayaknya gue mulai risih sekarang.”



     “Risih? Tumben? Selama ini kayaknya lo seneng-seneng aja.”



     “Ya soalnya kemaren-kemaren gue gak peduli mereka mau ngapain. Tapi sekarang gue gak bisa gak peduli lagi.”


__ADS_1



__ADS_2