(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Tentang Patah Hati?!


__ADS_3

    “Pasti rasanya kayak lo makan sayur pare, terus minumnya juga jus pare tanpa gula dan tanpa susu. Bener kan?”


    Neola sempat ternganga mendengar omongan Alden tersebut. Detik selanjutnya ia mendelik tajam dan melempar sebuah bantal sofa tepat ke muka Alden. Ia yang tadi serius memikirkan jawaban, kini malah tidak minat lagi menjawab dengan serius.


     “Apaaan sih?” seru Alden tak terima wajah gantengnya dilempari bantal.


    Di sore hari ini, mereka berdua kini sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Alden yang tadi tiba-tiba datang langsung mengajak ribut Neola dengan mengganti channel tv kesukaannya. Untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama karena Tante Riani segera menyudahi keributan mereka. Tapi tak cukup sampai di situ, Alden melontarkan sebuah pertanyaan, yang belum sempat Neola jawab, eh sudah dijawab sendiri olehnya.


     “Gak gitu juga kali Al. Enggak sepahit itu kok rasanya,” dumel Neola lalu kembali menatap layar tv di depannya.


     “Ah masa? Tapi lo nangis kejer lho waktu itu…,” ucap Alden memancing ingatan masa lalu Neola.


     “Itu kan naluri wanita, Al!”


     “Serah lo deh, serah.” Alden memilih untuk mengalah dan menyandarkan badannya pada sofa dan memeluk bantal yang tadi dilemparkan Neola.


    Ia ikut menatap acara tv yang sedang menayangkan sebuah acara kecantikan, entah apa namanya, Alden tidak terlalu memperhatikan. Toh sedari tadi ia berusaha membujuk Neola agar mengganti channel tv menjadi acara yang disukainya, seperti acara kartun misalnya. Sore-sore begini kan banyak acara kartun yangs sedang tayang. Tapi saudara kembarnya itu sama sekali tidak mau mengalah, sibuk menonton acara tv yang menurut Alden sama sekali gak menghibur.


    Saat tak sengaja Alden ikut memperhatikan acara tv tersebut, sebuah komentar meluncur mulus dari mulutnya. “Cewek itu maunya apa? Alis dicukur, terus dilukis lagi,” ucapnnya saat melihat layar tv menayangkan seorang perempuan tengah berusaha mempercantik dirinya dengan ‘bermain-main’ dengan alisnya.


    Neola yang untuk beberapa saat tadi tidak fokus menatap layar tv, kini ikut melihat kea rah tatapan Alden. Pikirannya tadi masih sibuk mencari jawaban akan pertanyaan yang dilontarkan Alden saat cowok itu pertama kali datang.


    Belum sempat Neola menjawab, Alden kembali berucap. “Kalian pernah liat cowok cukur kumis, terus kumisnya dilukis lagi? Pernah? Pernah?” tanya Alden menyebalkan yang entah sebenarnya ia bertanya pada siapa. Yang jelas bukan pada Neola, karena cewek itu sama sekali tidak pernah mencukur alisnya atau ada niatan untuk melakukannya.


     “Lo ngoceh terus dari tadi deh Al,” ucap Neola tapi tak urung membuatnya geli juga akan argument Alden tersebut.


     “Gue itu pengen ganti channel-nya. Lo tau kan? Makanya siniin remote-nya,” sebal Alden.


     “Nanti, tunggu iklan,” putus Neola yang tidak menerima tawar-menawar.


    Alden mendengus. Lalu mereka pun akhirnya sama-sama diam. Alden lalu mengeluarkan ponselnya dan sibuk akan benda persegi tersebut.


     “Tapi rasanya emang sakit sih Al…,” ucap Neola tiba-tiba dengan pandangan menerawang. Dari tadi dia memang sudah tidak fokus lagi menatap ke tv. Tapi tak dibiarkannya rasa itu kembali hadir, Neola lalu melirik tajam kea rah saudara kembarnya itu.


    Alden mendongak ke samping. “Lo ngomong sama gue?”


     ‘Enggak, sama tembok!”


     “Oh.”

__ADS_1


     “Ya gue ngomong sama elo lah! Kan lo yang tadi nanya gimana rasanya diselingkuhi Dion waktu itu,” ucap Neola sebal sendiri, dia ingin melempar lagi sebuah bantal ke Alden, tapi buru-buru cowok itu merebut bantalnya dan menyimpannya di samping badannya.


     “Lagian lo ngapain sih nanya-nanya hal begituan?!”


     “Iseng aja,” jawab Alden santai, sama sekali tak terpengaruh akan neola yang mulai mengeluarkan tanduknya. Kembali ia memainkan game di ponselnya, mengacuhkan Neola.


    Neola mengehela napas berat lalu kembali menatap tv di depannya. Tadi saat setelah acara rebutan remote tv selesai, tiba-tiba saja Alden bertanya bagaimana rasanya diselingkuhi. Hal tersebut kontan sempat membuat Neola bingung karena Alden bertanya hal yang sudah cukup lama berlalu.


    Masalah ia dengan Dion kan sudah selesai, gak perlu diungkit-ungkit lagi tentang cowok itu yang pernah menyelingkuhi Neola. Neola juga udah gak ada hubungan lagi sama Dion. Ya berterima kasihlah ia pada Alden yang sempat menghajar cowok itu, sehingga Dion tidak mempunyai keberanian lagi untuk mendekati Neola.


    Hening yang menyelimuti ternyata tak berlangsung lama saat Neola kembali bersuara. “Atau jangan-jangan… lo ada niatan buat selingkuh ya Al?” tanya Neola tiba-tiba dengan mata menyipit curiga.


    Kali ini giliran Alden yang mendelik tak setuju. Ia mengangkat wajah yang sedari tadi menunduk menatap layar ponsel. “Enggak lah! Gue mah tipe orang yang setia.”


     “Lah terus ngapain lo nanya-nanya hal itu?”


     “Kan udah gue bilang cuma iseng aja. Eh tapi pasti lo patah hati kan waktu itu? Gimana rasanya?” tanya Alden kembali ingin tau.


    Neola terdiam sejenak. “Gue rasa lo tau gimana rasanya patah hati Al. Gak perlu gue jelasin, toh lo udah pernah ngerasainnya kan?” tanya Neola dengan maksud tersirat, tapi sama sekali tak bermaksud untuk mengungkit masa lalu Alden saat itu. Baginya semua itu adalah masa lalu, dan sepertinya Alden dapat mengatasi hal tersebut dengan baik.


***


    Gimana rasanya suka sama sahabat sendiri, tapi orang tersebut gak sadar-sadar?


    Yang pasti rasanya sakit. Tentu saja menyakitkan jika menyukai seseorang yang tidak sadar kalau disukai. Terlebih lagi jika menyukai sahabat sendiri, tetapi oramg tersebut malah menyukai sahabatnya yang lain. Seperti menyukai orang yang terjebak friend zone, sedangkan ia sendiri berada dalam friend zone tersebut. Alisah sendiri contohnya.


    Alisha menelan ludahnya susah payah. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Benar-benar tidak tau ingin menjawab apa, atau lebih tepatnya tidak tau ingin menjelaskan seperti apa. Takutnya kalau ia berusaha menjelaskan, dinding yang selama ini ia pasang untuk melindungi hatinya akan runtuh, sehingga bisa menampakkan perasaannya yang sebenarnya pada sahabatnya ini. Ia takut Yuda bisa melihatnya jika ia mencoba menjelaskan, dan juga takut ia bisa menjadi keceplosan sehingga akan membuatnya tak lagi sama.


    Dalam diam Alisha berpikir, tak tahu kah Yuda akan efek pertanyaan yang ia buat? Selama ini ia mati-matian menjaga perasaanya sekaligus menjaga perasaan sahabat-sahabtanya. Tapi kenapa di sore hari ini, dengan suasana yang bisa dibilang cukup damai, Yuda melontarkan pertanyaan yang memporak-porandakan hatinya?


    Keheningan menyelimuti mereka cukup lama. Keduanya sibuk akan pikiran masing-masing. Angin berembus pelan, menciptakan sensasi menenangkan untuk kedua manusia itu. Alisha mengembuskan napas pelan sebelum menoleh ke samping, menatap Yuda yang kembali menengadahkan wajahnya menatap langit.


    Tanpa disangka Alisha, Yuda yang semula bersandar, kini menegapkan punggungnya dan matanya tidak lagi menatap langit. Ia berdeham sebentar untuk menormalkan suasana hening yang sempat tercipta. “Duh kok pertanyaan gue melow gini ya, hehe,” ucap Yuda tiba-tiba disertai kekehan yang kentara sekali kalau dipaksakan.


    Untunglah tidak ada lagi manusia yang berada di lapangan tersebut, sehingga tidak bisa melihat bagaimana kondisi mereka saat ini dengan suasana hati yang berusaha untuk ditegarkan. Keduanga sama-sama terluka, tapi tetap luka Alisha yang lebih dalam.


    Yuda menoleh ke samping. “Sha, kok bengong?”


    Alisha tersadar dari lamunannya saat Yuda menyenggol pelan lengannya. Dia tergagap sebentar sebelum akhirnya bisa bersuara. “Ah sori Yud, gue bingung gimana mau jawabnya,” ucap Alisha dengan ekspresi yang berusaha dibuat senormal mungkin.

__ADS_1


    Yuda tersenyum getir. “Gak usah terlalu dipikirin Sha. Tanpa lo jawab pun gue tau pasti rasanya meyakitkan.”


    Nah! Itu Yuda tau gimana rasanya. Sakit menyukai sahabat yang gak peka-peka. Rasanya ingin sekali Alisha berteriak seperti itu di depan wajah Yuda. Tapi, lagi-lagi ditahannya mati-maian keinginan tersebut.


    Kalau Alisha boleh meminta dan jika ia mampu, ingin sekali rasanya rasa suka terhadap Yuda itu menghilang dari perasaannya. Atau kalau tidak bisa seperti itu, ia sangat berharap Yuda bisa balik menyukainya, bukan Lani. Tapi detik selanjutnya Alisha mendengus samar, menertawakan keinginannya yang tidak mungkin menjadi kenyataan.


     “Sha….?”


    Lagi-lagi Alisha tersadar dari lamunannya saat Yuda memanggilnya. “Ehm ya Yud?”


     “Kalo menurut lo, Lani itu sebenernya suka gak sama Kak Panji? Ehm maksud gue suka lebih dari sekedar kagum,” tanya Yuda agak ragu. Memang mereka berdua sahabatan sudah cukup lama, tapi kalau untuk menayakan tentang perasaan, Yuda merasa sedikiit canggung jika mau membicarakannya.


    Alisha lagi-lagi bingung mau manjawab apa. Menurut penglihatannya Lani jelas suka sama Kak Panji, apalagi mengingat tingkah Lani saat membicarakn kak Panji, bersemangat dan selalu tersenyum lebar. Tapi kalau suka lebih dari sekedar kagum, Alisha tak terlalu yakin. Karena kalau menyangkut tentang perasaan, hanya orang tersebut saja yang tahu kebenarannya.


     “Gue juga kurang tau, Yud. Tapi yang jelas Lani selalu semnagat kalau menyangkut Kak Panji,” jawab Alisha jujur.


    “Hem… gitu,” Yuda mengangguk-angguk paham, lalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk beberapa saat.


     “Suka sama sahabat sendiri emang sulit ya Sha….”


    Dengan cepat Alisha membenarkan dalam hati. Sangat sulit, tegasnya lagi dalam hati.


    Yuda lalu berdiri, bangkit dari posisi nyamannya yang sedari tadi duduk menikmati angin yang berembus. “Pulang yuk.”


    Alisha mengangguk. Hah, akhirnya Yuda menyudahi juga pembicaraan ini. Pembicaraan yang sedari tadi membuatnya tanpa sadar keringat dingin.


     “Kita makan dulu ya Sha,” ajak Yuda sambil menggandeng tasnya.


     “Oke.” Tentu Alisha tidak mungkin menolaknya. Menghabiskan waktu berdua dengan Yuda sudah pasti menjadin hal favorit untuknya.


     “Kok lo kayak keringet dingin gitu?” tanya Yuda yang ternyata memperhatikan kondisi Alisha.


     “Ah masa sih? Enggak kok.”


    Yuda memperhatikan Alisha lagi sebentar, lalu kembali berjalan menuju keluar sekolah. “Lo pasti keringeten karena nahan laper kan? Hehe,” ucap Yuda setengah bercanda.


    Alisha tersenyum kecil mendengarnya, beruntung Yuda tak bertanya lebih jauh lagi.


     “Sayang Lani udah puluan duluan, jadi gak bisa ikut makan bareng.”

__ADS_1


    Senyum Alisha luntur. Lagi-lagi Lani. Baru saja Alisha merasa senang, Yuda kembali mematahkan hatinya.


__ADS_2