(Not) Love Triangle

(Not) Love Triangle
Akhirnya Bertemu(1)


__ADS_3

     “**Kalo lo masih gak enak badan, mending balik ke UKS aja Sha,” saran Lani sambil mengamati keadaan Alisha sekarang. Meskipun wajahnya tidak sepucat tadi saat ia membawa Alisha ke UKS, tapi tetap saja Lani masih khawatir.


     Saat ini mereka sedang berjalan di koridor menuju kelas. Tadi selesai jam olahraga, Lani cepat-cepat kembali ke UKS untuk menjenguk Alisha. Dan karena Alisha yang meminta agar ia bisa kembali ke kelas, Lani pun membawanya keluar.


     “Gue udah baikan, Lan. Lagian gue udah minum obat juga kok,” ucap Alisha meyakinkan. Sakit akibat maag yang kambuh sudah tidak terasa lagi, dan pusing di kepalanya yang terkena tendangan bola juga sudah tidak terasa lagi.


    Lani menghela napas. “Makanya lain kali jangan lupa sarapan. Apalagi pas jam olahraga. Eh tapi kok ada Alden di sana? Dia sakit?” tanya Lani yang langsung mengubah topic pembicaraan.


     “Enggak, dia di sana bukan karena sakit.” Alisha pun menjelaskan kenapa Alden bisa ada di ruang UKS bersama dia. Dia juga cerita tentang kebaikan Alden yang membantunya.


     “Oh gitu….” Lani manggut-manggut saja mendengar cerita Alisha yang disampaikan secara padat tersebut. Sebuah senyum penuh makna pun muncul di bibirnya saat Alisha selesai berbicara. “Sha?”


     “Hem?”


     “Gue perhatiin akhir-akhir ini lo sama Alden jadi cukup deket ya? Dia juga kayak perhatian gitu sama lo,” komentar Lani langsung menyampaikan pendapatnya.


     “Masa?” Salah satu alis Alisha ternagkat.


     “Iya. Buktinya aja dia mau nungguin lo di UKS, bantuin lo juga di sana…. Gue gak nyangka lo kalo kalian bisa jadi deket kayak sekarang.”


    Kalau boleh jujur, Alisha pun sebenarnya tidak menyangka. Dia yanga awalnya berniat membangun tembok tingggi-tinggi untuk membatasi diri dengan Alden, malah kini menjadi lebih dekat dengan cowok itu. Mungkin… tidak ada salahnya kalau ia mulai berteman dengan Alden?


     “Ini karena lo yang jadi mentornya kali ya Sha,” tebak Lani.


    Alisha diam, tidak membenarkan dan juga tidak menyangkal. Mungkin tidak sepenuhnya benar. Karena kalau diingat-ingat lagi, mereka mulai sering berkomunikasi saat insiden perjodohan tersebut. Alisha melirik Lani ragu. Apa ia harus mulai cerita ke Lani tentang perjodohan dia dan Alden? Detik selanjutnya Alisha menggeleng pelan.


     ‘Nanti deh… nanti,’ batin Alisha meyakinkan diri sendiri, merasa belum siap untuk mengatakannya sekarang


***


    Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Alisha kini berjalan di koridor sendirian. Seperti jadwalnya hari ini, dia akan kembali ke rumah Alden untuk belajar matematika bersama. Tetapi sebelum itu, sepertinya Alisha harus pergi ke toko buku dulu. Ada buku berisi tentang kumpulan rumus fisika yang harus ia beli. Buku itu menurut Alisha cukup penting untuk menunjuang pemahaman materi nanti.


    Saat Alisha akan melangkahkan kaki ke belokan koridor yang menuju untuk menuruni tangga, Yuda yang juga terlihat baru keluar dari kelas menyapa Alisha.

__ADS_1


     “Lo pulang bawa motor Sha?” tanya Yuda kemudian.


    “Enggak, tadi dianter sama Kakek.” Pagi ini ia memang diantar oleh mobil kakeknya. Karena Kakek tau kalau Alisha akan belajar bersama di rumah Alden, maka ia menyarankan agar Alisha diantar saja. Dan pulangnya nanti bisa diantar sama Alden. Hem… sepertinya kakeknya itu sangat mendukung kedekatan cucunya dengan Alden.


     “Mau gue anter balik?” tawar Yuda langsung. Pulang sekolah ini ia juga tidak ada kegiatan lain.


    Alisha berpikir sejenak. Tawaran yang menggiurkan…. Tapi buru-buru ia menyadarakan diri. Tidak, ia tidak boleh kembali larut dalam perasaan tersebut. “Enggak usah Yud. Gue pulangnya bereng Alden, soalnya kami mau belajar dulu di rumah dia.”


    Alis Yuda sedikit terangkat saat mendengarnya.“Jadi pulang ini kalian langsung ke ruamh Alden?”


     “Enggak juga sih. Gue mau ke toko buku dulu,” jelas Alisha. Tadi pagi saat ia berpapasan dengan Alden di parkiran, ia sempat bilang kalau sepulang sekolah akan mampir ke toko buku dulu. Alden menyetujui dan bilang kalau ia mau menemani Alisha.


     “Sama Alden?”


     “Iya,” jawab Alisha pelan. Dia agak ragu untuk mengatakannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa ia harus ragu? Yuda kan sudah tau kalau dia dengan Alden mulai dekat, jadi kalau dia terlihat bersama dengan Alden, seharusnya tidak aneh lagi kan untuk Yuda?


    Dan lagipula, semenjak kejadian di UKS waktu itu, atau yang lebih tepatnya tentang Yuda yang menegaskan kata teman di antara mereka, Alisha semakin berusaha membangun tembok kokoh untuk menjaga hatinya. Ia meyakini diri agar tidak terlalu banyak berharap lagi pada Yuda.


    Mereka berdua kini sudah sampai di daerah parkiran sekolah. Tepat saat Alisha berbelok untuk menelusuri jalanan, Alisha menemukan Alden yang berdiri bersandar pada tembok di belakangnya. Ternyata Alden sudah menungguinya daritadi. Cowok itu segera menegapkan badannya saat melihat Alisha.


     “Iya jadi kok,” jawab Alisha yang melegakan Alden.


     “Ya udah, yuk.” Alden lalu mengalihkan perhatian pada Yuda yang berdiri di samping Alisha. “Yud, kita duluan ya,” ucap Alden sambil mengangguk singkat pada Yuda.


     “Gue pergi dulu Yud,” pamit singkat Alisha yang dibalas anggukan oleh Yuda.


    Lalu Alisha dan Alden pun mulai berjalan menuju tempat di mana motor Alden terparkir. Mereka berdua berjalan ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang untuk melihat Yuda, melihat Yuda yang menatap mereka dengan perasaan yang berkecamuk.


***


     “Lo beneran mau nemenin gue masuk?” tanya Alisha memastikan saat dilihatnya Alden terus berjalan di sampingnya menuju pintu toko buku. Saat ini mereka sudah berada di sebuah mal yang di dalamnya juga terdapat toko buku.


    Alden mengangguk yakin. “Iya. Kalo gue gak ikut masuk, berarti gue di luar dong sendirian? Masa datengnya berdua tapi pas di sini sendirian?”

__ADS_1


     “Ya udah terserah lo aja.”


    Mereka lalu berjlan masuk ke toko buku tersebut. Alisha lalu mulai mencari buku yang ia incar. Ternyata Alden benar-benar melaksanakan apa yang ia ucapkan, buktinya cowok itu juga ikut masuk ke dalam dan menemani Alisha mencari buku, tanpa ada gerak-gerik dari Alden kalau ia ingin segera keluar.


     Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Alisha menemukan juga satu buku yang menurutnya pas. Ia ambil sebuah buku kecil tapi tebal itu untuk dibeli. Tapi walau sudah mendapatkan apa yang dicari, cewek itu belum juga melangkaahkan kaki untuk keluar dari toko buku. Langkah kakinya malah membawa ia ke jajaran rak yang menampilkan berbagai novel yang menarik perhatian Alisha.


    Seolah lupa akan tujuan awalanya kemari, Alisha malah sibuk memilih bebebrapa novel untuk dipilih. Memang kalau sudah berada di tempat ini, Alisha suka kebablasan, dia jadi lupa waktu dan juga mungklin lupa sekitar. Ia sibuk dengan kegiatannya, hingga tidak sadar kalau Alden sudah mengamatinya dari tadi. Alden bahkan tadi sempat menggeleng kecil lantaran melihat Alisha malah membelokkan arah menuju rak jajaran novel.


     “Gue heran, cewek yang suka ngabisin waktu buat baca novel kayak lo kok masih tetep pinter di pelajaran ya?” gumam Alden yang berdiri di samping Alisha sambil mengamati cewek itu lurus-lurus.


    Alisha tersadar dan menoleh ke samping. Tapi saat mendapatinya Alden tengah menatapnya lurus-lurus, ia alihkan kembali pandangan ke novel yang ia pegang tadi. Ditatap begitu membuat ia jadi kicep sendiri. Entah sudah berapa kali Alisha menangkap basah Alden mengamatinya seperti itu. Dan juga sudah berapa kali ia berusaha mengabaikan hati saat ditatap seperti itu.


    Alisha berdeham sebentar. “Mungkin karena gue bisa ngebagi waktu antara belajar dan baca novel?”


    Alden tersenyum kecil. “Hm mungkin juga.” Ia lalu alihkan pandangannya ke arah lain, yang tanpa sadar membuat Alisha mendesah lega karena berhenti ditatap seperti tadi.


    Alisha lalu mengambil novel yang tadi menarik minatnya. “Ya udah yuk pulang,” ucapnya sembari melangkah menuju kasir.


     “Udah cari novelnya?” tanya Alden yang mengikutu langkah Alisha.


     “Iya. Pulang ini kita mau ke rumah lo kan, takutnya kalo gue lanjut di sini, gue bisa lupa waktu.”


    Mendengar Alisha menjelaskan cukup panjang, Alden jadi tersenyuum lebar. “Lo akhirnya mulai terbiasa juga ya ngomong panjang lebar sama gue.”


    Alisha sontak mengerutkan dahi. Masa sih? Dia yang tidak terlalu memperhatikan, atau Alden yang selalu meperhatikan apa yang Alisha lakukan? Menepis pikiran aneh yang mulai muncul, Alisha memilih untuk terus melangkah ke arah kasir.


    Setelah keluar dari toko buku, mereka berdua lalu berjalan di mal tersebut ingin menuju pintu keluar. Tetapi, tepat saat di belokan sebuah etalase toko, Alisha tak sengaja menabrak seseorang. Untung hanya tabrakan ringan yang membuatnya keduanya sama-sama tidak tersungkur jatuh ke lantai.


    “Duh, maaf, Kak,” ucap seorang anak kecil yang bertabrakan dengan Alisha. Bocah laki-laki itu sempat mundur selangkah akibat bertabrakan dengan Alisha.


     “Ah iya gak apa Dek, Kakak juga minta maaf ya,” balas Alisha tak enak hati. Ini semua karena ia yang berjalan cepat tadi, hingga tidak terlalu awas terhadap sekitar. Alden yang berjalan di samping Alisha pun ikut menghentikan langkahnya. Merasa ada yang aneh, Alden berganti mengamati Alisha dan bocah lelaki itu.


    Alisha memperhatikan bocah laki-laki itu. Tinggi badan anak lelaki itu sekitar setinggi perut Alisha. Alisha mengira umur anak ini mungkin sekitar enam atau tujuh tahunan. Merasa tak asing akan wajahnya, Alisha sekan terperangkap untuk mengamati wajah itu baik-baik. Entah mengapa ia merasa begitu mengenali bentuk wajah itu. Mata, alis, hidung, bibir, semuanya nampak begitu tak asing. Terutama matanya, Alisha merasa seperti melihat ke dalam mata seseorang yang lama ia rindukan secara langsung saat melihat mata anak lelaki itu.

__ADS_1


    Alisha menyadari kalau raut wajah bocah itu terlihat kebingungan. Mata bocah itu terlihat melihat-lihat ke sekitar. Lalu setelah mengucapkan kata permisi, anak lelaki itu bersiap ingin melangkah pergi. Tapi dengan cepat, gerakan yang bahkan Alisha sendiri tanpa sadari, ia menahan langkah anak lelaki itu.


Bersambung**


__ADS_2